MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
91


__ADS_3

Dering telepon beberapa kali berbunyi dengan nyaring. Rara yang baru saja keluar dari kamar mandi pun sampai tergopoh-gopoh berlari menuju nakas di sebelah ranjang untuk melihat siapa gerangan yang meneleponnya.


'Fatarani ...' batin Rara lirih terucap di dalam hatinya.


Rara hanya menatap layar ponsel itu. Rara bingung bagaimana harus bersikap terhadap Fatarani nantinya, jika harus mengangkat telepon.


'Ada apa sepagi ini menelepon aku?' lagi-lagi Rara membatin tanpa mengangkat sambungan telepon itu yang terus saja berdering.


Satu tarikan napas terdalam yang terasa sesak di dadanya pun mulai melega di seluruh rongga parunya.


Dengan penuh keraguan Rara pun mengangkat sambungan telepon itu sebagai tanda suatu kewajiban.


"Assalamualaikum ... Ya, Bunda, ada apa?" tanya Rara pelan yang berusaha akrab dan hangat.


"Waalaikumsalam, Mbak Rara. Mbak Rara maunya apa?" tanya Fatarani pelan, namun terdengar sangat tegas.


"Maunya apa? Maksud Bunda apa?" tanya Rara pelan.


"Masih tanya maksud saya apa? Katanya wanita pintar!! Masa tiffdak bisa mencerna pertanyaan saya?" kesal Fatarani sambil berdecih.


Kedua mata Rara mengerjap kaget sambil menatap arah jendela kamarnya. Sedikit tegang saat pertanyaan itu terucap dari pihak Fatarani, dan kini Rara malah kalang kabut mencari jawabannya.


"Saya tidak menginginkan apa-apa," hanya itu kata-kat yang bisa terucap dari bibir sexy Rara.


"Tidak menginginkan apa-apa!! Tapi mencari celah bagaimana tetap bisa menghubungi Ayah Rafli, suami saya. Dia itu suami sah saya, dan selamanya akan tetap menjadi suami saya!!" teriak Fatarani dengan sangat murka. Hati Fatarani lega telah mengungkap itu semua kepada Rara.


Sebenarnya Fatarani sudah tidak ingin membahas ini, beberapa bulan ini Fatarani memang tidak melihat pergerakan Rara yang melakukan komunikasi pada Rafli, suaminya. Entah kenapa feeling Fatarani selalu tepat,tidak sengaja berkeliaran di dunia maya dan menemukan dua akun yang sangat dikenalnya walaupun menggunakan nama lain.

__ADS_1


Dari situ Fatarani mulai murka kembali dan tidak bisa mempercayai ucapan Rafli, suaminya.


"Maafkan saya Bunda," hanya ucapan itu yang tercelos dari bibir Rara. Rara sudah tidak bisa berkata lagi. Semua sudah jelas, hanya permintaan yang tulus bisa terucap.


"Mudah ya, kamu bilang minta maaf. Kata-kata itu sudah sering saya dengar dari dulu!!! Tapi apa!! Kamu mengulang dan mengulang kembali!!" teriak Fatarani frustasi.


"Sabar Bunda. Saya memang tidak meginginkan apapun dari hubungan ini. Bunda jangan murka," ucapan Rara pun terhenti karena Fatarani sudah menyela terlebih dahulu sebelum Rara menyelesaikannya.


"Jangan murka katamu, Ra!! Mudah sekali kamu bicara begitu!! Kamu lupa!! Kamu itu perempuan hina, kamu itu pelakor, kamu itu perempuan perebut suami orang dan kamu itu bukan wanita terhormat apalagi wanita yang masih punya harga diri!! Perempuan yang punya harga diri itu, perempuan yang bisa menjaga kehormatannya? Bukan malah menjadi-jadi dan terang-terangan ingin merebut suami orang!!" tegas Fatarani dengan suara yang semakin lantang.


Rara makin tersulut emosinya. Rara pun merasa kesal, kenapa harus dirinya saja yang terpojok.


"Tolong bicarakan masalah ini dengan Rafli, suami anda juga, Bunda. Jangan seolah-olah saya yang di dzolimi dan seolah saya yang bersalah disini," ucap Rara menjawab dengan keras.


Rara pun tidak mau kalah menghadapi Fatarani. Pernytaan fatarani seolah menyudutkan Rara dan membuat Rara yang berslah dalam masalah ini.


Suasana pagi yang dingin mulai menghangat dan kini semakin memanas bukan karena sinar matahari tapi karena hati dan pikiran yang ikut meledak-ledak tak karuan.


"Saya menggoda Ayah Rafli, suami Bunda? Coba mana Ayah Rafli? Ijinkan saya bicara sebentar, boleh?" tanya Rara pelan dan agak ragu.


Rara bersikeras mempertahankan jawabannya. Memang pada kenyataanya hubungan yang di jalani oleh Rara saat ini memang atas dasar suka sama suka, bukan cinta sendiri apalagi cinta yang bertepuk sebelah tangan.


"Sebentar, Ayah Rafli masih tidur," ucap Fatarani dengan jujur. Fatarani pun mendekati tubuh Rafli, suaminya dan membangunkan lelaki itu.


"Iya," jawab Rara singkat sambil menunggu Fatarani membangunkan Rafli, suaminya. Terdengar suara sedang lirih Fatarani sedang berusaa membangunkan suaminya.


"Ayah ... Bangun. Ini Bidadarinya telepon, mau bicara," panggil Fatarani membangunkan Suaminya. Tubuh Rafli di goyang-goyang agar Rafli bisa terbangun dan membuka kedua matanya.

__ADS_1


"Euh ..." suara erangan Rafli yang terdengar pelan. Suara itu cukup terdengar sampai ke telinga Rara.


"Ayah ... Ini bidadarinya telepon," ucap Fatarani mengulang sambil mengoyang-goyangkan kembali tubuh itu dengan kedua tangan Fatarani.


Kedua mata Rafli pun perlahan terbuka. Tubuhnya masih terasa pegal-pegal.


"Ada apa sih Bunda? Ayah itu baru tidur suah dibangunkan," ucap Rafli lirih. Suaranya terdengar sangat parau dan bergetar, sepertinya memang sangat lelah.


"Ini!! Rara!! Bidadari Ayah telepon, katanya rindu dan mau bicara," ucap Fatarani dengan ketus. Fatarani dengan sengaja menambah-nambahi ucapannya agar terdengar oleh Rara, bahwa ini adalah suatu bentuk kekecewaan dan sakit hati.


Rafli pun menatap ke arah Fatarani dengan tajam. Pandangannya lekat bercampur bingung tapi tidak ada kepanikan sedikit pun, hanya binging saja. Kok, bisa-bisanya Rara menelepon di waktu pagi seperti ini, ada masalah apa? Tidak mungkin kalau bukan Ftarani yang memulainya. Rafli pun tidak mau terjebak dengan ucapan Fatarani dan berusaha tetap dingin dan cuek.


"Ayah mau ke kamar mandi dan minum kopi. Bunda saja yang telepon, Ayh tidak merasa menelepon," ucap Rafli pelan menjelaskan.


Rafli pun bangkit dari tidurnya dan ngeloyor begitu saja ke arah kamar mandi lalu ke arah dapur untuk membuat segelas kopi di cangkir kesukaannya. Sudah beberapa hari ini Fatarani tidak membuatkan kopi untuk dirinya.


Rasa kecewa Fatarani begitu teramat sangat mendalam. Ini sudah kesekian kalinya hubungan gelap antara Rafli dan Rara terungkap oleh Fatarani.


"Tuh, dengar sendiri kan? Ayah Rafli itu cuek dan dia sudah tidak memiliki perasaan apapun kepada Mbak Rara. Jadi, tolong Mbak Rara sadar diri untuk tidak teap menerjang kesalahan dan tetap bersikeras menggoda Ayah Rafli, suami saya untuk bisa Mbak Rara miliki," ucap Fatarani menasihati.


Rara hanya mendengarkan ucapa Fatarani tanpa membantah. Mungkin benar ucapan Rafli kemarin yang memberikan masukan untuk tidak menggubris dan memperdulikan Fatarani bila memulai memberikan pesan singkat ataupun meneleponnya.


"Sudah selesai Bunda?" tanya Rara singkat yang mulai malas mendengarkan celotehan hati dari Bunda Fatarani.


" Selesai apa?" jawab Fatarani makin kesal.


"Sepertinya sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Lihat saja, Mas Rafli saja, malah pergi," ucap Rara lembut tanpa bersalah.

__ADS_1


"Itu karena Ayah Rafli sudah muak dengan kamu!! Dan hanya mencintai saya, istri sahnya. Jadi Mbak Rara jangan terlalu percaya diri dan bangga kalau merasa diperhatikan oleh Ayah Rafli, karena itu salah satu bentuk rasa tidak enak terhadap Mbak Rara, bukan karena mecintai. Paham!!" kesal Fatarani.


__ADS_2