
Rafli menyimak dengan baik ucapan Rendi hingga dia sendiri terhanyut dengan pikirannya sendiri. Andaikan Rara mau dinikahi secara diam-diam tentu Rafli akan sangt bahagia bisa mendapatkan wanita pujaanya itu.
"Cukup rumit ternyata, ya? Lalu masalah finansial bagaimana? Cara mengatur supaya adil?" tanya Rafli semakin penasaran dengan Rendi yang sepertinya bisa membagi dengan baik dan adil kepada kedua istrinya. Padahal Rendi hanya bekerja sebagai tukang ojek online yang penghasilannya tidak bisa di pastikan.
"Rumit, tapi bahagia. Sepertinya kamu sedang mempelajari kehidupan aku, Raf? Apa kamu punya niatan untuk berpoligami juga?" tanya Rendi menatap tajam ke arah Rafli yang terlihat gugup.
Tapi dengan cepat Rafli menggelengkan kepalanya.
"Tidak Ren. Aku belum segila itu. Mungkin jika harus berbuat itu aku harus meminta ijin dan restu secara baik-baik pada istriku. Biar bagaimana pun aku ingin semuanya baik-baik saja tanpa ada masalah," ucap Rafli menjelaskan.
Kedua mata Rendi menatap tajam dan semakin dalam dengan ucapan jujur Rafli.
"Sepertinya ada bu-bau kamu ingin berpoligami? Kamu menyukai wanita lain?Aku bisa lihat dari sorot matamu yang terlihat bingung dengan keadaanmu sekarang," tanya Rendi pelan.
Rafli menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan.
"Kamu itu dari dulu sukanya menfitnah. Sok tahu dengan urusan orang lain. Ini yang kita bicarakan apabila? Seumpama? Betul kan? Jadi bukan berarti aku memiliki wanita lain selain istriku? Jangan ghibah. Aku pulang dulu, lihat pesanan nasi goreng aku sudah selesai," ucap Rafli pelan lalu bangkit berdiri dan mengambil lalu membayar pesananya dan kemabli pulang dengan sedikit lega karena tidak di cecar berbagai pertanyaan aneh yang kadang membuat Rafli bisa berkata jujur dengan keadaanya sendiri.
Sesampai di rumah Fatarani sudah duduk di ruang tengah sambil memainkan ponselnya dengan asyik.
"Assalamualaikum ... Bunda sudah bangun?" tanya Rafli saat melihat istrinya sedang duduk sambil senyum-senyum manis menatap layar ponselnya.
Mendengar suara Suaminya sudah kembali. Kedua mata Fatarani menatap ke arah Rafli dan kemudian fokus kembali pada ponselnya, tidak lama ponsel itu dimatikan.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, darimana?" tanya Fatarani dengan ketus sambil menatap keji ke arah Rafli.
"Mau makan bareng Ayah? Ayah cuma beli satu bungkus nasi goreng. Takutnya Bunda tadi sudah tidur," ucap Rafli dengan lembut lalu berjalan ke arah dapur untuk mengambil dua sendok dan dua gelas air putih.
Rafli memang sangat menghargai perempuan. Dalam hidupnya paling malas harus berdebat dan cekcok jadi Rafli lebih baik memilih diam dan mengurus dirinya sendiri dan anak-anak. Rafli sendiri sangat sayang kepada Fatarani, sebisa mungkin Rafli selalu menjaga perasaannya.
Satu bungkus nasi goreng itu di buka dan mulai dimakan oleh Rafli. Menatap satu sendok untuk Fatarani sama sekali tidak di sentuh membuat Rafli dengan peka menyuapi istrinya, tapi fatarani tetap menutup mulutnya rapat tidak membuka sama sekali.
"Bunda kenapa? Makanlah? Ayah ingin elihat Bunda makan. Ayah suapin ya?" ucap Rafli dengan suara lembut.
Fatarani hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Rafli. Tanganya nampak mengeratkan genggamannya pada ponselnya denagn kesal.
Rafli menatap bingung dengan sikap istrinya itu.
"Bunda kenapa sih? Ditanya diam? Di suruh makan pun diam malah menutup rapat bibirnya. Bunda kenapa? Cerita sama Ayah? Bukankah masalah kemarin sudah selesai?" tanya Rafli dengan pelan takut membuat Fatarani, Sang istri marah besar.
"Bunda benci dengan Rara. Tadi Bunda chat Rara!! Ayah mau bela Rara silahkan?!!" teriak Fatarani dengan suara yang sangat keras.
Rafli mneggelengkan kepalanya sambil menyuapkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya. Perutnya sanagt lapar karena sejak siang belum juga makan.
"Sudahlah Bunda. Jangan terlalu membenci Rara," ucap Rafli lembut. Rafli sudah tidak ingin membahasi masalah ini. rafli tidak ingin Fatarani stres berat memikirkan masalah ini. Fatarani sangat mudah tertekan dan stres bila memikirkan masalh yang begitu berat.
"Oh ... Membela wanita perusak rumah tangga!! Ayah sudah di kasih apa sama Rara sampai membela Rara seprti itu!!" teriak Fatarani semakin keras dan tampak sekali sedang murka.
__ADS_1
PRANG ....
Ponsel yang berada di genggamannya tadi di lemparkan begitu saja ke arah tembok hingga pecah terbelah-belah dan berantakan di lantai.
Rafli sangat terkejut dengan sikap Fatarani yang terlihat sangat konyol dan tidak dewasa. Ponsel itu umurnya belum genap setahun yang lalu dibeli oleh Rafli secara kredit karena Fatarani ingin mengganti ponselnya dengan yang lebih bagus dari ponsel sebelumnya yang dimilikinya.
Tatapannya sendu menatap Fatarani. Rafli hanya bisa menarik napas panjang dan menunda makan malamnya walaupun perutnya masih terasa sangat lapar.
"Istighfar Bunda," ucap Rafli pelan sambil memberikan air minum kepada Fatarani.
Air minum di dalam gelas itu diambil dengan kasar oleh Fatarni dan dilemparkan kembali ke arah tembok hingga memeberikan suara nyaring pecahan kaca di sekitar kasur tempat peraduan mereka berdua.
"Bunda ... Itu bisa kena anak-anak. Lihat si bungsu sudah menangis karena tidurnya terganggu," ucap Rafli tetap tenang dengan suara yang sangat lembut.
Kalau Fatarani sedang kumat seperti ini, Rafli tidak mau lebih menguji keberanian dan kenekatan Fatarani, San Istri yang bisa berbuat apa saja tanpa memikirkan akibatnya nanti.
"Terus saja Ayah bela pelakor itu!! Terus!! Ucap terus nama pelakor itu!! Kalau Ayah ingin melihat Bunda dan bayi ini mati perlahan di depan Ayah," teriak Fatarani semakin berapi-api.
Kedua mata Fatarani melotot ke arah Rafli. Rafli segera memeluk Fatarani agar tenang dan tidak terbawa emosi. Rafli sendiri tidak tahu, bila Fatarani sedang mengandung kembali buah cintanya.
Pelukan Rafli begitu erat hingga Fatarani yang bertubuh mungil itu tidak bisa melepaskan diri dari pelukan Rafli.
"Bunda sedang mengandung anak kita? Anak yang kita buat dengan cinta? Harus kita jaga, tolong jaga emosi Bunda," ucap Rafli dengan lembut berbisik di telinga Fatarani.
__ADS_1
Rafli pun mencium kepala dan kening Fatarani dengan mesra lalu mencium kedua pipi dan bibir mungil itu. Suhu tubuh Fatarani tampak sedang menghangat dan sepertinya sedang sakit karena beban pikiran yang begitu mengganggu pikirannya selama ini. Belum lagi kelelahan bekerja di rumah dan mengurus empat orang anaknya yang mungkin semakin membuat Fatarni juga ikut stres. Keempat anaknya masih kecil-kecil dan harus di perhatikan semuanya dengan baik, dari makan, mandi dan semuanya harus di urusi oleh fatarani tanpa ada yang membantu.
Fatarani mendorong keras tubuh tegap Rafli ke belakang hingga Rafli pun mengendurkan pelukan itu dengan paksa dan berjalan mudur beberapa langkaah ke belakang karena terhuyung dari dorongan Fatarani.