MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
105


__ADS_3

Tidak ada penyesalan dan tidak ada rasa bersalah. Rafli sudah selesai mandi besar dan masih polos hanya melilitkan handuk di bagian pinggangnya.


Rara sendiri masih asyik bermain ponsel di tempat tidur. Tubuhnya lelah sekali, padahal tadi Rafli sudah mengajak Rara untuk mandi bersama, namun Rara enggan beranjak dari tempat tidur itu dengan alasan lelah. Rara tahu, pasti Rafli akan meminta jatahnya lagi dengan gaya yang berbeda. Bukan tidak mau, Rara benar-benar sudah lelah sekali. Bayangkan saja, satu hari ini mulai dari jam dua siang hingga jam sembilan malam ini.


Rafli berjalan ke arah Rara. Melihat tubuh polos Rara yang hanya tertutup dnegan selimut pun membuat pikuran Rafli terus ingin menaklukan tubuh itu hingga terkulai lemas seperti yang sudah-sudah.


Satu kecupan di bibir Rara membuat Rara terkejut dengan bibir dingin seperti es batu itu. Wajah Rafli masih dekat dengan wajah Rara lalu tersenyum.


"Serius amat, sayangnya Papah? Lagi apa sih?" tanya Rafli pelan lalu megecup lembut bibir Rara dan ******* sedikit di bagian bawah bibir.


"Pah ... Sudah jam sembilan malam. Papah mau pulang jam berapa?" tanya Rara lirih dan melepaskan bibirnya yang bisa berujung pada hal lain lagi.


Rara menatap ke arah Rafli yang masih terlihat menginginkan.


"Mamah sudah membuat Papah kecanduan. Ingin rasanya berlama-lama disini dan menemani Mamah hingga pagi menjelang, tapi Papah punya aktivitas lain," ucap Rafli pelan dan menyesali semua yang terjadi pada dirinya.


Bertemu dengan Rara itu kan jarang, bahkan dalam kurun waktu satu bulan pun belum tentu Rara bisa menyempatkan satu hari untuk meluangkan waktunya untuk menemui Rafli. Apalagi moment hari ini adalah moment yang tidak sengaja di lakukan dan akhirnya menjadi moment hari yang bersejarah bagi Rafli dan Rara.


Hubungan mereka kini semakin dekat, dan hubungan ini semakin terikat satu dengan yang lainnya. Tidak ada penghalng di antara keduanya lagi, tujuan dari hubungan ini pun menjadi semakin sangat jelas, hanya menginginkan hubungan yang lebih serius dimana setiap hubungan dalam prosesnya harus ada peningkatan dan perjalanan waktunya. Mungkin awal saling menyayangi, kemudia rasa sayang itu berubah menjadi rasa cinta dan rasa takut kehilangan. Di saat hubungan itu semakin lama dan semakin serius, hubungan itu berubah menjadi hubungan yang harus saling memiliki ddan melengkapi satu sama lain, apalagi kalau bukan dalam ikatan pernikahan yang SAH.


Sama seperti keinginan dan harapan Rara saat ini, hanya butuh di akui bukan tuntutan lainnya.


"Bulan depan aku usahakan untuk kesini lagi. selain untuk melihat proyek pekerjaan, aku ingin menemuimu Pah. Bisa kan?" tanya Rara kepada Rafli yang sedang memakiaipakaian dalamnya.


Rafli menatap bahagia mendengar ucapa Rara. Ada sesuatu harapan lagi untuk bisa selalu berdekatan dengan Rara.


"Mamah benar ingin datang lagi kesini. tentu Papah senang. beri tahu Papah, Papah akan menjemput Mamah,' ucap Rafli pelan dan nampak sangat antusias dan bersemangat sekali.


"Lha iya dong Pah. Urusan bisnis Mamah kan masih berjalan dalam tahap pembangunan. Jika sudah mulai berjalan pun, Mamah akan fokus pada usaha disini lalu pindah ke sini," ucap Rara pelan menjelaskan.

__ADS_1


Rafli mengangguk paham.Kaos oblong dan celana panjang jeansnya pun langsung dipakai. Rafli berjalan lagi menghampiri Rara dan duduk di tepi tempa tidur sambil memegang kedua tangan Rara.


"Papah senang mendengarnya Mah. Bulan depan Papah berharap bisa betemu dengan Mamah kembali, untuk melepas rindu," ucap Rafli pelan. Tangannya memegang dagu Rara yang di angkat sedikit dan jempolnya mengusap bibir Rara dengan lembut.


"Mamah tahu, bibir ini selalu menjadi candu untuk Papah," ucap Rafli lalu mengecup lembut bibir itu untuk memberikan kenyamanan sebelum di tinggal pulang.


saat Rafli ingin melepaskan kedua tangan Rara, malah Rara memegang erat dan takut kehilangan. rasanya sanga sulit melepaskan malam itu. Ada perasaan tidak rela dan tidak ingin berpisah.


"Papah mau pulang sekarang?" tanya Rara lirih.


Rafli tersenyum dan menarik tubuh Rara lalu di peluk dengan erat.


"Sebenarnya juga masih ingin disini bersama Mamah. tapi Mamah tahu kan keadaan Papah?" lirih Rafli dengan nada kecewa dan menyesal.


Anggukan Rara di bahu Rafli pun terasa pelan dan tidak ikhlaas.


"Papah pulang ya? Mamah baik-baik di sini. Jaga kesehatan besok mau pulang. Besok pagi Papah kesini boleh? sebelum Papah bekerja?" tanya Rafli pelan kepada Rara.


Rara dengan pasrah mengangguk ikhlas. Rara hanya membatin dan menguatkan hatinya sendiri. Jiwamu, cintamu, sayangmu dan hatimu bisa aku miliki, namun tidak dengan agamu yang hanya bisa ku nikamti sewaktu-waktu, ragamu yang bisa menemaniku dengan keterbatasan waktu, ragamu yang ada bersamaku dengan kecemasan.


"Pulanglah Pah. Aku tidak apa-apa. Aku pasti baik-baik saja," lirih Rara kepada Rafli.


Susah untuk di jelaskan dengan kata-kata lagi. Bagaimana rasa yang sedang dirasakan oleh Rara. melepaskan lelaki yang baru saja satu hari ini menemaninya hingga melakukan aktivitas dramatis atas keinginan keduanya.


Rara pun turun dari tempat tidur dan mengantarkan Rafli untuk pulang sampai depan pintu kamarnya.


"Pah ...." panggil Rara lirih.


Rafli yang sedang memakai tasnya untuk di selempang ke tubuhnya pun menoleh ke arah Rara yang ada belakangnya.

__ADS_1


"Iya Mah?" jawab Rafli dengan lembut.


Rara hanya tersenyum lebar menampilkan senyum terindahnya kepada Rafli.


"Ekhemm ... Besok bawain sarapan ya?' ucap Rara sekenanya. Rara bingung harus bertanya apa, padahal bukan itu yang sebenarnya ingin di katakan.


"Mamah mau sarapan apa? Nanti Papah bawain?" tanya Rafli pelan.


"Apa saja Pah. Itu juga kalau Papah sempat?" ucap Rara pelan.


"Untuk Mamah, apa yang tidak bisa? Pasti Papah usahakan. papah bawakan nasi uduk saja, ya? Buatan Ibu Papah, tentu rasanya sangat istimewa," ucap Rafli pelan sambil mengedipkan satu matanya kepada Rara.


"Hati-hati di jalan ya Pah. Kabarin aku kalau sudah sampai di rumah," ucap Rara pelan.


"Iya sayang. Pasti," ucap Rafli pelan. Rafli pun membuka pintu kamar dan akan melangkahkan kakinya keluar.


Ada Baihaqi yang sudah berdiri tepat di depan pintu kamar Rara. Rara dan Rafli begitu terkejut. Terutama Rara yang hanya memakai pakaian mini dan setengah transparan dan tanpa memakai dalaman pun mears malu. Belum lagi tidak memakai hijab dan rambut yang sedikit berantakan yang hanya di ikat asal oleh Rara menampilkan leher indah miliknya yang sudah berjejak merah tanda kepemilikan Rafli.


Baihaqi pun menatap tajam ke arah Rafli dan berganti ke arah Rara.


"Ganti pakaianmu Ra!!" tegas baihaqi dengan suara lantang dengan tatapan membunuh.


Rara pun hanya bisa menunduk dan berbalik arah untuk mengambil jaket dan celana panjang lalu tidak lupa hijab instant yang langsung dipakai di untuk menutup kepalanya.


Kedua lelaki itu saling bertatap. Baihaqi menatap Rafli dengan sangat bengis. Rasa benci terlalu di kentarakan karena telah dianggap menodai Rara.


"Begini jadi lelaki. Setelah menghisap madu lalu dengan mudahnya keluar dan kembali pulang tanpa rasa bersalah?" tegas Baihaqi dengan suara keras.


"Apa maksud Anda? Anda siapa?" tanya Rafli dengan pelan masih dengan suara pelan dan tenang.

__ADS_1


__ADS_2