MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
75


__ADS_3

Keduanya duduk di sofa ruang tamu saling berhadapan. Keduanya tampak tegang dan memanas. Wajah Fatarani yang sudah nampak berapi-api, semua keputusannya sudah bulat dan tidak akan di rubah lagi.


Fatarani tetap meminta cerai dari Rafli, Sang Suami hari itu juga untuk menalaknya. Anak keempatnya itu sudah di letakkan di kasur lanti yang ada di ruang tamu itu. Tubuh montok bayi itu terlihat sangat menggemaskan, namun setelah ini ahrus berpisah dengan Ibu kandungnya sendiri yang lebih memilih untuk memisahkan diri dari anak yang masih membutuhkan ASI dan kasih sayang Sang Bunda.


"Coba pikirkan kembali!! Apa sih, yang sebenarnya ada di pikiran Bunda?!" tanya Rafli pelan dengan kepala dingin.


Sikap dan sifat Rafli memang tidak keras. Rafli lebih banyak mengalah dan diam. Rafli mencoba mengimbangi sikap dan karakter Fatarani, Sang Istri yang labil, ketus, keras kepala dan sedikit kasar. Bila Rafli menanggapinya dengan nada keras dan emosi, yang ada pasti terjadi keributan besar bukan meredam masalah atau mencari titik temu solusinya.


"Sudah sebulan ini Bunda memikirkan perceraian ini. Dan memang hasilnya Bunda ingin bercerai dari Ayah. Ayah jangan cari pembahasan lain, apa yang jadi masalah kita berdua. Coba Ayah berpikir, akhir-akhir ini kita berdua sering cekcok dan ribut dari masalah sepele hingga masalah besar, dan itu semua sudah mengarah bahwa hubungan kita sudah tidak ada lagi kecocokan. Betul kan? Apa yag Bunda bilang?" tanya Fatarani dengan lantang.


"Sebulan? Bunda memikirkan untuk meminta cerai atau tidak dari Ayah?! Berarti Bunda sudah merencanakan hal ini untuk di ungkapkan kepada Ayah. Sekarang Ayah tanya sama Bunda, apakah Ayah pernah melalaikan tugas dan tanggung jawab Ayah sebagai lelaki, sebagai Suami dan sebagai Seorang Ayah? Jawab Bunda?!" tanya Rafli dengan nada pelan namun tetap terdengar tegas.


Kini berganti, Fatarani yang terdiam. Memikirkan jawaban logis atas permintaannya untuk bercerai dengan Rafli, Sang Suami. Fatarani berpikir dengan keras. Intinya kedatangannya hari ini ke Jakarta harus membuahkan hasil dan Rafli mengiyakan permintaanya untuk segera menalak cerai atas dirinya.


"Intinya, Bunda ingin bercerai!! Bunda sudah tidak tahan dengan keadaan ini," ucap Fatarani dengan ketus dan bernada kasar.

__ADS_1


"Iya cerai!! Alasan Bunda itu apa? Kapan Ayah melalaikan tanggung jaab Ayah? Apa selama ini uang yang Ayah kirimkan ke kampung tidak pernah cukup untk memenuhi kebutuhan hidup Bunda dan anak-anak? Atau apakah Ayah pernah tidak datang untuk sekedar menjenguk kalian semua ke kampung? Atau Ayah tidak pernah memberikan kabar Ayah selama disini? Aya juga tidak mau dengan keadaan ini!! Ayah ingin kalian semua disini dan kita berkumpul bersama agar kalian tahu, betapa Ayah benar-benar berusaha untuk keluarga," tanya Rafli dengan suara pelan.


Fatarani masih saja terdiam. Mencerna semua ucapan Rafli, Sang Suami yang memang semuanya itu benar. Tidak ada keslahan atau kecacatan sedikit pun tindakan suaminya itu. Seharusnya Fatarani banyak bersyukur mendapatkan lelaki baik, sholeh dan bertanggung jaab tehadap istri dan anak serta keluarga kecilnya. Rafli ini adala sosok lelaki alim yang banyak di idamkan kaum hawa. Bukan hanya tampan sj, tapi pesona dan auranya itu tampak terpancar membuat para kaum haa ynag mengenalnya ingin dekat dan memiliki jiwa dan raganya.


"Kenapa Bunda diam? Sebenarnya Abah bicara apa? Apakah Abah meracuni pikiran Bunda? Apa kurangnya Ayah? Apa kesalahan Ayah?" ucap Rafli pelan sambil menatap sendu ke wajahFatarani.


Rafli sudah bersimpuh di depan Fatarani istrinya. Meminta istrinya itu untuk memikirkan kembali atas permintaan bodohnya itu. Tindakannya itu tidak masuk akal. Rafli sendiri masih bingung dan penasaran dengan permintaan yang secra tiba-tiba tanpa ada permasalahan sebelumnya.


"Karena Ayah sudah memiliki anita lain yang Ayah sayangi selain Bunda. Ustadzah irtu sudah menggeser sedikit posisi Bunda di hati Ayah," ucap Fatarani dengan lantang mencari-cari kesalahan Rafli, Sang Suami.


Hanya sebatas itu. Rafli memang kagum terhadap gadis cantik berajah aceh itu. Semuanya terasa indah dengan segala solusi yang dibrikan Ustadzah Zia untuk menjadi orang yang lebih baik dan lebih baik lagi. Jangan malu bertanya masalah ilmu agama agar penerapan dan amalannya pun tidak salah penempatan.


"Kenapa jadi Ayah?! Ayah dan Usatadzah Zi tidak pernah ada apa-apa? Bunda jangan mencari-cari alasan yang malah mencari kesalahn Ayah padahal itu bukan kesalahan, Bunda saja yang salah paham," ucap Rafli membela diri. Bukan membela diri tapi memang kenyataanya seperti itu.


"Ayah sudah terlalu lama berhubungan dengan Usatadzah Zia. Apalagi Ayah jauh dari Bunda, dan tidak pernah tahu, sampai dimana hubungan Ayah dengan Ustadzah Zia itu," ucap Fatarani semakin sengit.

__ADS_1


"Mulai pintar Bunda mencari kesalahan Ayah. Bunda bahkan sudah Ayah kenalkan dengan Ustadzah Zia, kalian berdua pernah mengobrol bersama," ucap Rafli pelan.


Rafli bangkit berdiri dan menggendong anaknya yang mulai menangis mendengar keributan kecil orang tuanya hingga tidur pulasnya sedikit terganggu.


"Bunda mau pulang!!" ucap FAtarani ketus dan segera bangkit berdiri dan ingin segera pergi dari rumah kontrakan ini kembali ke rumah saudaranya dan kembali ke kampungnya.


Satu tangan Rafli langsung mencekal kepergian Fatarani. HAti Rafli mulai panas merasa tidak dihargai dan tidak dihormati sebagai seorang Suami. Harga dirinya seperti di injak-injak karna di cari kesalahannya.


"Tidak ada yang boleh pergi!! Kalau mau pulang, Ayah akan antar puklang ke kampung dan bertemu Abah sekalian Ayah ingin bertemu Kakak dan Abang," ucap Rafli pelan memberikan pendapatnya.


Fatarani menggelengkan kepalanya pelan.


"Untuk apa ke kampung?! Tidak usash mencari masalah baru!! Semua sudah jelas, Kakak dan Abang akan bersama Bunda dan Aa akan tinggal bersama Ayah. Kepiutusan Bunda sudah bulat, Bunda ingin minta cerai!! Titik!!" teriak Fatarani dengan keras dan ketus. Fatarani langsung menerobos keluar rumah dan berlari mencari ojek untuk segera pergi dari hadapan Rafli menuju rumah saudaranya.


Hatinya tidak merasakan kelegaan setelah mengucapkan kata cerai sesuai yang Fatarani inginkan. Malahan hatinya makin tersiksa dengan keadaan ini. Nafsu dan rasa egoisnya sudah menutup semua solusi terbaik untuk keluarganya yang sebenarnya tidak pernah ada masalah. Hanya karena leaki baru yang di kenalnya di dunia maya mampu memporak-porandakan hati Fatarani hingga mampu meminta cerai kepada Rafli, sang Suami karena hanya ingin selalu bersama lelaki pilihan barunya itu yang sudah melesatkan banyak janji palsu dan rayuan gombalnya.

__ADS_1


__ADS_2