
Rara sudah meninggalkan Kafe itu dan duduk di dalam mobilnya. Hari ini Rara benar-benar kesal dan kecewa.
'Kenapa harus bertemu dengan dia!! Dia yang sudah merusak kehidupanku dan menjadiakn anakku dianggap sebagai anak haram karena perbuatan biadabnya!!' teriak Rara dalam hatinya sambil memukul setir mobil dengan sangat keras.
Kepala Rara tertunduk dan di letakkan di atas setir mobil itu. Kedua mataya telah basah dan menitikkan air mata perlahan hingga membasahi pipi dan sebagian wajahnya.
Hatinya terlalu sensitif menerima suatu kekecewaan berulang kali yang membuat rasa sakit itu terbuka kembali dan muncul di saat yang tidak tepat.
TOK!!
TOK!!
TOK!!
Kaca jendela mobil diketuk keras oleh Istri penyewa jasa rental.
"Ra ..." panggil Sang Istri itu dengan lembut .
Wanita muda itu mengetuk pelan kaca jendela sambil tersenyum lebar dan memberika satu kotak makanan untuk Rara saat kaca jendela mobil itu telah dibuka. Rara berusaha menyembunyikan rasa sedih dan kecewanya. Air matanya juga sudah di hapus dengan punggung tangannya.
"Ya, Maaf aku tertidur," ucap Rara sedikit membela diri.
"Kamu menangis? Ada apa Ra?" tanya Sang Istri itu kepada Rara yang melihat sisa air mata yang masih membekas di sekitar wajah Rara.
Rara menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa. Cuma kangen sama anak saja. Ngomong-ngomong makasih ini makan siangnya sampai diaterin segala," ucap Rara pelan.
"Iya, Ra. Sama-sama. Kalau ada sesuatu, Kamu bisa cerita sama aku, anggap saja aku sahabat kamu," ucap Sang Istri itu pelan sambil tersenyum ke arah Rara.
"Iya, pasti. terima kasih sudah mau menjadi temanku. Tapi, beneran, aku cuma kangen sama anak, tadi malam sempt telepon dan Abuya tidak mau tidur tanpa Mamanya. Aku terlalu sibuk di luar dan mencari uang, padahal yang aku lakukan ini untuk mencukupi kebuytuhan hidup dan membahagiakan anakku," ucap Rara pelan mencari alasan.
"Kamu hebat Ra. Kamu masih bisa bangkit dan move on untuk anak kamu. Aku tidak tahu, bila itu terjadi padaku, aku akan seperti apa?" ucap Sang Istri itu dengan perasaan kagum kepada Rara.
"Kamu tahu, kita dewasa bukan karena umur, tapi kita dewasa karena ujian hidup yang selalu mendampingi setiap langkah kita. Aku bisa kuat dan setegar ini juga karena terbiasa, awalnya sama, aku pasti terpuruk dengan keadaanku, eolah dunia ini runtuh dan terhenti. Seluruh tubuh ini rasanya kaku dan ingin mati saja, atau mengakhiri hidup sebagai keputusan final. Tapi, ternyata tidak semudah itu, masih banyak solusi yang dihadapkan pada kita, tinggal kita mau memilih jalan yang mana," jelas Rara dengan pelan.
"Sebenarnya aku pun sedang dilema. Akhir-akhir ini suamiku seperti berubah kepadaku. Bukan hanya itu saja, tapi aku juga memiliki kenyamanan dengan lelaki lain yang aku kenal di media sosial. Harusnya hari ini kita meet up di tempat ini, tapi aku takut," ucap Sang Istri itu dengan suara pelan dan bingung.
Rara cukup tercengang mendengar kejujuran Sang Istri tersebut.
Sang Istri itu menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Tidak Ra. Ini nyata dan fakta. Aku mengenal seseorang di dunia maya, saat aku merasakan kesepian. Kini, aku benar-benar nyaman dengan lelaki itu. Lelaki itu kebetulan sekali sedang berada di kota ini juga, dan kami berdua sepakat untuk bertemu," ucap Sang Istri itu pelan dan menunduk.
Malu rasanya harus membuka aibnya sendiri. Tapi, Sang Istri tersebut tidak memiliki teman untuk berbagi hingga kenyamanan lelaki lain yang di kenalnya di dunia maya itu malah mampu membuat Sang Istri itu merasakan sesuatu yang berbeda di hatinya.
Perempuan itu selalu memakai hati saat bertemu, berkenalan dan berteman. Berbeda dengan laki-laki yang menggunakan logika saat mengenal lawan jenisnya.
"Jangan teruskan. Seorang wanita yang sudah menikah tidak boleh memiliki kenyamanan dengan lelaki lain kecuali dengan suaminya sendiri," ucap Rara menasehati.
Rara hanya menasehati dan memberikan saran saja. namun tidak mengintimidasi, semua keputusan kembali kepada masing-masing orang. Kita tidak bisa mendikte seseorang untuk menjadi seperti apa yang kita inginkan. tapi, paling tidak kita bisa memberikan pandangan-pandangan baik dari segi positi dan negatif dri suatu permasalahan yang sedang di hadapinya.
__ADS_1
"Tapi, Ra. Rasa itu sudah tumbuh, dan aku beneran nyaman," ucap Sang Istri itu lirih.
"Coba hubungi lelaki itu dan ajak ketemu. Lihatlah dari kejauhan, apakah dia sesuai dengan ekspektasimu? Terkadang semuanya tidak sama. Apa yang kita lihat secara online dan pada akhirnya bertemu dan bertatap muka, biasanya banyak orang yang mundur teratur karena tidak sesuai ekspektasi. Coba hubungi lelaki itu," ucap Rara menyarankan.
Sang istri itu mengangguk pelan dan berusaha menghubungi lelaki yang dikenalnya secara online itu dari ponselnya.
Beberapa kali mencoba menghubungi dan akhirnya lelaki itu memberikan jawaban. mereka berdua sepaat untuk bertemu di Kafe depan villa tua itu. kebetulan lelaki itu sedang berada tidak jauh dekat dengan area tersebut.
Sang Istri itu mencoba meminta tolong Rara untuk menemaninya braa di dlam Kafe tersebut dan memberikan penilaian terhadap lelaki yang dikenalnya itu.
Setengah jam kemudian, lelaki yang ditunggu telah dtang dan telah dduk di salah satu meja yang terletak di pojok. Sedangkan Sang Istri duduk di tempat yang berbeda bersama Rara. Sang istri menunjukkan kepada Rara lelaki yng baru datang itu adalah lelaki yang selama ini menjadi teman online Sang IStri.
Rara menatap lekat lelaki itu sambil mengucek kedua matanya antara percaya dan tidak percaya. Lelaki itu adalah Cantas, mantan kekasih Rara dan Ayah kandung Abuya, putra semata wayangnya.
"Dia? Cantas?" ucap Rara pelan smbil menutup mulutnya dengan satu tangan kanannya.
sang Istri itu menatap Rara dengan penasaran. Rara mengetahui nama lelaki itu, padahal ia belum menyebutkan nama lelaki itu.
"Kamu kenal Ra?" tanya Sang Istri itu pelan sambil menatap Rara. Rara membalas tatapan Sang Istri dan mengangguk pelan.
Mau tidak mau, suka tidak suka, Rara harus menceritakan semuanya. Lagi pula hubungan mereka berdua adalah hubungan yang salah dan harus di hentikan.
"Bukan kenal lagi. Aku tahu siapa Cantas. Dia mantan kekasihku, lebih tepatnya mantan tunanganku yang berjanji akan menikahi aku, namun kenyataannya dia meninggalkan aku di saat aku tengah berbadan dua," ucap Rara dengan sengit.
Cukup sakit mengungkap kebenaran dan mengorek kembali luka lamanya itu. Bukan hanya rasa kecewa atau sakit hati saja yang dirasakan Rara, tapi rasa trauma terhadap laki-laki membuat Rara makin dingin dalam menjalani suatu hubungan. Rara akan menganggap semua laki-laki itu sama dan hanya berpura-pura bersikap manis. Namun, kenyataannya semua itu hanya sebuah kepalsuan untuk tujuan tertentu.
__ADS_1