
"Iya kalau di maafkan? Kalau dosa itu tetap saja ada dan tidak terhapus, bagaimana?" tanya Rara pelan. Tatapannya nanar melihat ke arah depan.
"Kamu harus yakin? Kamu kenapa, Ra? Bukankah tadi kamu baik-baik saja, bahkan kamu sudah dengan mantap ingin mengawalinya semuanya dari awal. Lalu, kenapa sekarang begini? Ada apa sebenarnya?" tanya Baihaqi pelan.
"Aku ingin hidup tenang sepertimu, Mas? Apakah agamamu bisa membuatku tenang seperti itu?" tanya Rara pelan tanpa ada rasa beban.
Rara sendiri tidak tahu kenapa ingin sekali bertanya tentang hal ini kepada Baihaqi.
"Aku tidak salah dengar kan?" tanya Baihaqi pelan menatap Rara yang sedang menatap ke arah lain.
Rara sengaja tidak mau menatap Baihaqi agar pandangan keduanya tidak bertemu.
"Mas Bai tidak salah dengar. Tidak usah terlalu kaget juga. Memang pertanyaanku seperti melihat setan?" tanya Rara pelan berusaha menutupi rasa cemasnya.
Baihaqi hanya bisa mnggeleng pelan.
"Bukan itu Ra. Aku hanya takjub mendengar pertanyaanmu. Pertanyaan yang jarang di lontarkan seseorang yang berbeda prinsip yang menanyakan soal ketenangan?" ucap Baihaqi menjelaskan pelan.
"Aku ingin menjadi perempuan yang lebih baik lagi," jawab Rara pelan.
Bibirnya seolah bergerak sendiri dan pertanyaan itu lolos begitu saa dari bibirnya yang mungil.
Baihaqi sudah melajukan mobilnya pelan setelah menyelesaiakn makan malamnya. Dirinya cukup terkejut dengan pertanyaan Rara. Baihaqi senang jika itu emmang terjadi atas keinginannya sendiri lewat hidayah dan inayah yang didapatkannya selama ini. Bisa jadi, selama beberapa bulan ini Rara merasakan sesuatu hal yang berharga dari masalah yang sedang di hadapinya.
"Boleh aku menjelaskan sesuatu?" tanya Baihaqi pelan. Ingin rasanya memberikan sedikit pengertian kepada Rara tentang sesuatu hal yang di sebut hidayah dan proses hijrah.
Rara mengangguk pelan saat menoleh ke arah Baihaqi.
__ADS_1
"Silahkan saja," ucap Rara sambil membenarkan posisi duduknya dan bersandar pada jok kursinya.
"Banyak problema kehidupan yang sebenarnya bukan hanya dijadikan pelajaran atau pengalaman untuk perbaikan diri. Sekali-kali, kita harus merasakan dan berpikir lebih positif. anggap saja ujian dan cobaan itu sebagai hadiah terindah yang Tuhan berikan kepada kita. Tidak ada yang salah dengan ujian, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Sama seperti dengan datangnya suatu kebahagiaan, tidak ada yang salah dengan kebahagiaan karen asemua itu tergantung bagaimana menyikapinya. Maka dari itu, dibutuhkan iman untuk bisa menerima dengan lapang dada atau ikhlas," jelas Baihaqi dengan panjang lebar.
Rara menyimak dengan baik. Entah mengapa saran dan nasihat baihaqi kini terasa baik dan memang harus di terapkan dalam dirinya. Bukan ceramah omong kosong, tapi memang iman itu pondasi untuk kita dalam menjalani kehidupan yang semakin keras ini.
"Ujian itu kan identik dengan kesulitan? Bukankah wajar kalau kita marah dan kecewa kepada Tuhan kita?" tanya Rara dengan suara pelan yang masih belum paham dengan ini semua.
"Tidak semua begitu, Ra. Kadang ujian itu hadir sebagai batu loncatan menuju suatu kebahagiaan yang hakiki, tidak serta merta ujian itu bencana yang membuat kita lumpuh, malah sebaliknya ada hikmah dari sebuah ujian. Sama seperti hujan, selalu akan ada pelangi setelah hujn deras menggutyur bumi. Indah bukan?" tanya Baihaqi pelan.
Rara mengangguk pelan. Pemahaman arti kehidupan masih sangat minim. Sesekali Rara memang perlu seseorang yang bisa memberikan saran dan nasihat yang sangat berguna.
"Apa arti bersyukur untukmu, Mas?" tanya Rara pelan.
Arti bersyukur itu luas sekali. Bisa secara umum ataupun secara khusus. Semuanya tidak bisa di samaratakan.
"Bersyukur? Itu artinya menikmati. Menjalani kehidupan dengan ketulusan dan keikhlasan. Itu cara bersyukur, bukan sekedar mengucapkan alhamdulillah saja," ucap Baihaqi menjelaskan.
"Ya. Kenapa, Ra?" tanya Baihaqi dengan lembut.
"Kalau aku ingin hijrah, apa Mas mau membantu aku?" tanya Rara dengan ragu.
Saking terkejutnya, Baihaqi menginjak rem sangat kuat hingga mobil itu berhenti secara mendadak tanpa di tepikan ke pinggir jalan.
Mobil Baihaqi masih berada di tengah-tengah jalan raya. Baihaqi menoleh ke arah Rara, menatap wajah Rara dari arah samping dengan sangat lekat.
"Kenapa berhenti?" tanya Rara dengan suara plan sambil meoleh ke arah Baihaqi yang juga sedang memandangnya. Kedua pang mata itu bertemu dan terlihat sekali keduanya memiliki pertanyaan masing-masing yang tidak bisa i curahkan secara terbuka dan gamblang.
__ADS_1
"Maafkan aku, Ra. Aku hanya terkejut dengan ucapanmu tadi. Kamu todak sedang main-main kan, Ra. Hal seperti ini jangan di anggap sebagai lelucon," ucap Baihaqi menegaskan.
Rara menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku tidak sedang bercanda dan aku juga tidak sedang bermain-main," tegas Rara degan suara sedikit meninggi.
"Aku takut kamu melakukan ini karena suatu keterpaksaan atau intimidasi dari seseorang," ucap Baihaqi tegas.
"Tidak ada intimidasi atau paksaan. Semuanya aku lakukan karena hati. Jujur aku merasakan sesuatu hal yang berbeda," ucap Rara menjelaskan dengan tegas.
Baihaqi menarik napas panjang lalu berusaha menghembuskannya dengan pelan sambil menenangkan hatinya. Jantungnya yang tadi berdebar dengan sangat kencang kini sudah mulai berdetak dengan sangat normal. Lalu, mengemudikan kembali mobilnya adengan sangat pelan. Ada rasa senang dan bahagia, namun juga ada rasa khawatir dan cemas menyelimuti hati dan perasaannya hingga hatinya terasa campur aduk tidak karuan.
"Ra .... Maaf. Boleh aku menanyakan sesuatu yang sifatnya pribadi tapi masih dalam ikatan tema yang kita bicarakan tadi," tanya Baihaqi pelan.
"Tanya saja. Buatku tidak ada lagi yang sifatnya pribadi. Mas Bai itu sudah jauh lebih mengenal aku dan pribadiku," ucap Rara dengan jelas.
"Maksudnya, Kau mau menjadi seorang mualaf, untuk proses hijrahmu?" tanya Baihaqi dengan pelan.
Rara menganggukkan kepalnya dengan sangat mantap tanpa berpikir dua kali. Ada banyak hal, yang membuat Rara melakukan ini dengan sangat ikhlas, salah satunya saat melihat bangunan Masjid tadi dan melihat Baihaqi yang beribadah dengan tennag dan khsuyuk.
"Ya!! Ada yang salah dengan permintaanku ini?" tanya Rara yang malah menjadi bingung.
"Tidak ada yang salah. Tapi, semua itu tidak mudah, Ra. jangan hanya ikut-ikutan atau karena sesuatu. Lakukan semuanya karena memang itu campur tangan allah dan itu berasal dari hati kamu yang paling dalam," ucap Baihaqi pelan menjelaskan.
Baihaqi hanya tidak ingin, proses hijrah ini hanya sebagai pelarian Rara untuk bersembunyi dan mencari tempat kenyamanan. Jika memang semuanya benar dari dalam sanubarinya atau dari hati kecil yang paling dalam.
"Aku tahu, semua hal itu tidak ada yang mudah. Semua hal itu berproses dan kita harus menikmati proses itu dengan baik hingga memiliki tingkat kematangan dan kepercayaan diri yang pas," ucap Rara dengan jelas.
__ADS_1
Baihaqi hanya menggangguk pelan. Dirinya patut mengacungi keempat jempolnya untuk Rara karena cara berpikir Rara yang semakin bijak dan dewasa.
"Semoga saja ucapanmu itu, benar adanya," ucap Baihaqi lirih hingga Rara pun tidak mendengarnya dengan jelas.