
"Ini gambar apa, Nak?" tanya Rara dengan suara yang begitu lembut agar Abuya tidak merasakan kecewa karena Sang Mama tidak mengerti.
"Ini gambar Mama dan Buya," jawab ABuya dengan polos.
Rara pun langsung menatap gambar itu dengan baik dan seksama setelah mendengarkan jawaban Abuya yang begitu tulus menjawab.
Kedua matanya menerawang arti gambar garis panjang dan pendek itu dengan garis bengkok yang saling menyambung satu sama lain.
"Oh ... Ini gambar Mama? Lalu yang ini gambar Abuya? Lalu garis ini apakah kita sedang bergandengan tangan atau berjalan-jalan?" tanya Rara, Sang Mama yang masih belum juga paham.
"Ini kan gambar Mama dan Buya lagi bermain bersama, Ma," jawab Abuya pelan menjelaskan sambil menatap lekat wajah Mamanya yang terlihat cantik.
Ada rasa kecewa dalam diri Abuya karena Sang Mama tidak mengerti maksud dari gambar tersebut.
Rara pun mengangguk pelan tanda paham dan ber-oh-ria karena mengerti.
"Kita mau bermain apa? Ada sedikit waktu untuk kita bermain, sebelum Mama harus pergi bekerja mengantarkan Om Bagus dan Tante Yuni," tanya Rara pelan kepada Abuya.
Bertanya dengan anak lelaki kesayangannya yang cukup cerdas dan terlalu berinisiatif itu haarus hati-hati karena bisa terjebak dengan jawaban sendiri.
"Buya mau main ke taman komplek. Buya mau naik ayunan," ucap Abuya pelan dengan nada memohon.
__ADS_1
Selama ini setiap pagi, Aneng yang selalu mengajak Abuya ke taman komplek agar Abuya tidak jenuh berada di rumah. Berada di taman itu, abuya bisa bersosialisasi dengan banyak teman sebayanya sehingga bisa mengusir rasa kesepiannya saat Sang Mama sibuk berada di luar Rumah.
"Taman komplek yang ada disamping Masjid besar? Ada apa disana, Nak?" tanya Rara pelan kepada Abuya sambil mengusap kepala lelaki kesayangannya itu.
"Main ayunan," jawab Abuya dengan singkat. Wajahnya terlihat sendu menatap Rara, Sang Mama seperti memohon.
Tatapan Abuya membuat Rara tidak tahan untuk menuruti segala keinginan putra semata wayangnya itu lalu melihat ke arah jam yang melingkar di tangan kirinya.
"Oke, Kita ke Taman Komplek, tapi sarapannya harus dihabiskan? Setuju?" ucap Rara bernegosiasi dengan Abuya.
Senyum Abuya pun terbit dengan penuh kebahagiaan dan kegembiraan. Pelan kepalanya mengangguk setelah Sang Mama mengajukan permintaanya juga kepada Abuya sebagai tanda persetujuan.
Tanpa bicara kembali, Abuya yang masih berada dalam pangkuan Sang Mama pun langsung menyelesaikan sarapannya.
Abuya menghabiskan sarapannya dengan cepat, nasi putih dengan telur dadar itu pun sudah tinggal beberapa suap lagi dan habis dari pring makannya. Ingin rasanya Abuya cepat-cepat menyelesaikan sarapan paginya dan sesegera mungkin menggandeng tangan Sang Mama untuk segera ke Taman Komplek Perumahannya untuk bermain ayunan yang beberapa hari ini sudah menjadi candu bagi Abuya.
Permainan Ayunan yang di bawahnya terdapat pasir putih hangat bila terkena sinar matahari pagi. Berayun ke depan dan ke belakang hingga lama-lama terasa melayang ke atas dan merasakan hembusan angin pagi serta sinar mentari hangat yang menerpa seluruh tubuhnya. Abuya bisa merasakan getaran kebahagiaannya sendiri saat menaiki ayunan di taman itu. Dengan kedua mata terpejam, senyum di bibir yang melebar lalu merasakan ayuan yang membuat hati dan tubuhnya seolah berpikir bahwa ia memang sendiri dan hanya ditemani asisten yang sejak kecil mengurus dan merawatnya karena kesibukan Sang Mama.
Tidak ada yang salah dengan kehidupan dan perjalanan hidup seorang Abuya. Bukan berarti pula, Rara, Sang Mama tidak peduli dengan dirinya yang masih balita dan butuh kasih sayang itu. Bukan salah siapap pun, jika sampai hari ini Abuya tidak mengenal orang lain kecuali kepada Rara, Sang Mama dan Aneng, asistennya, bahkan Abuya tidak mengenal siapa sosok lelaki yang seharusnya dipanggil sebaai Ayah.
"Ayok Ma ..." ucap Abuya yang sudah berdiri di samping Rara, Sang Mama sambil menarik tangan kanannya untuk segera pergi menuju Taman Komplek Perumahan.
__ADS_1
Rara pun tersadar dalam lamunannya yang sejak tadi menatap Abuya di pangkuannya sambil menghabiskan sarapannya dan kini anak semata wayangnya sudah turun dari pangkuannya dan menarik tangannya untuk segera beranjak dari ruang makan dan pergi bermain bersama sesuai janji Rara, Sang Mama.
Keduanya sudah berjalan kaki sambil bergandengan tangan sangat erat hingga satu sama lain sangat takut kehilangan.
Taman Komplek Perumahan tidak jauh lokasnya dari rumah yang ditinggali Rara saat ini. Cukup berjalan kaki melewati gang membutuhkan waktu sekitar lima belas menit untuk sampai ke tempat itu. Taman itu masih kosong, karena mereka datang masih terlalu pagi. Waktu masih menunjukkan pukul tujuh, dn suasana hangat sudah sangat teraa di sertai kehangatan sinar mentari pagi yang menyorot ke seluruh isi TAman Komplek itu.
Abuya langsung berlari dan menyusuri jalan setapak Taman Komplek itu menuu ke arah tengah untuk menaiki Ayunan yang memang berada di tengah-tengah taman dan di kelilingi bunga-bunga cantik yang tumbuh kembang disana.
Rara sedikit kaku mengejar Abuya yang begitu aktif dan sangat hapal dengan ruang terbuka itu. Abuya menunjuk salah satu mainan ayunan favoritnya untuk minta dinaikki ke atas tempat duduk itu.
Sebagai orang tua, Rara sangat paham dengan semua keinginan Abuya. Tubuh mungil Abuya langsung di angkat dan di dudukkan di tempat duduk ayunan. Rara dengan pelan mula mengayunkan arah ayunan itu ke depan dan belakang. Lalu, Abuya sendiri tertawa lebar dan puas sambil memegang erat besi yang menghubungkan pada tiang penyangga.
Rasa bahagia da kegembiraan seorang anak sangatlah sederhana. Cukup ditemani bermain ke Taman Komplek saja, mereka sudah bisa meluapkan rasa senangnya begitu dalam. Tidak perlu berfoya-foya membahagiakan anak dengan mainan atu hadiah yang mahal, walaaupun memang orang tuanya bekerja untuk anak. tapi, yang terpenting adalah tumbuh kemabng anak secara psikisnya bahagia maka dalam menjalani sebuh kehidupan pun mereka akan tetap merasa bahagia. Karena kebahagiaan mereka tersalurkan dengan baik.
"Arghhh .... Makin kencang Ma," teriak Abuya dengan sangat bahagia.
Suara terikan keras dan lantang khas anak-anak yang merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
Rara ikut bahagia, tidak hanya tersenyum mendengar celotehan Abuya tapi juga tertawa dan bercanda dengan segala suasana hati mereka yang terluapkan.
"Nanti jatuh, Nak. Mama tidak mau terlalu keras dan kencang," ucap Rara, Sang Mama dengan suara pelan penuh rasa kekhawatiran yang besar.
__ADS_1
Rara begitu sayang dengan Abuya. Hidup dan matinya benar-benar dikerahkan saat melahirkan putra semata wayangnya ini. Kini, putranya sudah tubuh besar dan sehat, menjadi lelaki yang berani dan menurut kepada Rara, Sang Mama.