
Satu pelajaran pun berakhir. Sang Istri pun mempercayai semua ucapan Rara. Cerita pertemanan online bersama Cantaas pun harus di akhiri tanpa sempat saling bertatap muka.
Siang itu Rara dan satu keluaga itu pun kembali pulang ke Bogor. Acara family gathering telah selesai dan semua karyawan perusahaan yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dari awal hingga akhir pun telah di beri reward sebagai karyawan yang loyal terhadap perusahaan.
Perjalanan pulang dari Lembang ke Bogor terasa sangat cepat dan menyenangkan. Rara menatap Sang Istri yang semakin terlihat manja kpada suaminya, mencoba menumbuhkan kembali rasa cinta dan rasa sayangnya yang sebagian telah hilang karena kesalahannya sendiri.
Hari ini, merupakan hari yang spesial bagi Rara. Bisa membantu seseorang yang salah arah dan kembali ke jalan yang benar.
Beberapa jam kemudian Rara sudah sampai di rumah setelah mengantarkan rombongan satu keluarga itu untuk pulang ke rumahnya.
Sang Istri itu berbisik kepada Rara sebelum Rara kembali pulang.
"Terima kasih telah banyak membantuku, Ra. Dan terima kasih sudah menjadi sahabat terbaik walau hanya satu hari. Semoga tali silaturahmi kita tetap terjalin. Salam untuk Abuya," ucap Sang Istri pelan kepada Rara dengan memberikan senyuman terbaik yang begitu ikhlas dan tulus.
Rara mengangguk pelan dan membalas senyuman itu dengan manis.
"Sama-sama. Mainlah ke rumahku bila ada waktu senggang," ucap Rara pelan.
"Aku pasti main suatu saat nanti," jaab Sang istri itu meyakinkan.
"Aku tunggu kedatanganmu. Aku pulang ya. Terima kasih sudah menyewa jasa rentalku," ucap Rara pelan lalu menginjak gas dan berlalu dengan mobil hitamnya.
Pikiran Rara mulai tidak tenang. Entah apa yang dirasakannya saat ini, seperti ada kejadian besar yang akan terjadi.
Mobil hitam Rara sudah masuk ke dalam garasi rumahnya. Aneng sudah menutup rapat garasi mobil itu.
"Non Rara, ada Non Dyah," ucap Aneng pelan.
"Dyah?" tanya Rara mengulang ucapan Aneng.
__ADS_1
Rara menatap Aneng lalu mengedarkan pandangan mencari mobil milik Dyah yang tidak terparkir di depan rumanya. Seolah Aneng tahu apa yang sedang di cari Rara.
"Non Dyah naik taksi online, tidak membawa mobil," ucap aneng kemudian sebelum majikannya itu bertanya tentang mobil Dyah.
Rara menganguk pelan dan berjalan cepat masuk ke dala rumah. saat kakinya sampai di halaman teras, tubuh Rara berbalik begitu saja hingga Aneng yang brada di belakagnya pun hampir menabrak majikannya itu karena mendadak berbalik arah.
"Abuya? sedang apa dia?" tanya Rara pelan.
hari ini sangat lelah dan Rara tidak membelikan Abuya oleh-oleh seperti yang di mintanya tadi malam. Bukan lupa, tapi memang tidak sempat dan tidak ada.
"Sedang tidur, tadi habis makan siang," ucap Aneng dengan sopan.
"Ohh ... Baiklah, soalnya ku tidak membawa bis telolet pesenannya," jawab Rara sambil menjelaskan kekhaatirannya.
Rara sangat hapal karakter Abuya, yang akan menagih janjinya. Ingatan bocah balita itu cukup bagus hingga Rara kadang tidak bisa mencari alasan lain yang tidak masuk akal, karena Abuya akan memberikan pertanyan yang lebih nyeleneh hingga Rara tidak bisa menjawab lagi.
Rara membalikkan tubuhnya lagi dan masuk ke dalm rumah. Sudah ada Dyah yang sudah dduduk di sofa empuknya dengan tubuh bersandar dengan sangat malas.
"Biasa aja lihatnya, jadi kayak lihat hantu," ucap Rara dengan suara pelan.
"Aku kaget Ra. Lagi serius nih," ucap Dyah dengan sedikit kesal lalu menatap layar ponselnya lagi.
"Bentar, itu mata kenapa? Bengkak gitu? Kamu habis nangis Dy?" tanya Rara pelan kepada Dyah.
Dyah tetap terdiam dan tetap fokus kepada layar ponselnya.
Satu menit, dua menit, tiga menit hingga sepuluh menit Dyah pun hanya diam dan mengabaikan Rara. Rara tahu, jika seperti ini Dyah hanya butuh teman dan sendiri untuk mengontrol emosinya.
"Aku mandi dulu deh. Kalau mau ke kamar, sambil rebahan di kamar aku, ayok," ucap Rara pelan mengajak Dyah untuk berbicara di kamar saja.
__ADS_1
Dyah hanya mengangguk pelan tanpa menatap Rara. Rara pun bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar tidurnya.
Setengah jam berada di dalam kamar mandi sambil berendam air hangat membuat tubuh Rara semakin rileks. Rara keluar dar kamar mandi dan Dyah sudah berada di atas tempat tidur Rara sambil memeluk guling. Pandangannya begitu kosong dan wajahnya terlihat sedikit lesu.
Rara naik ke atas ranjang dan duduk di sebelah Dyah. Rara mencoba membuka percakapan sekedar bertanya hal-hal yang basa basi.
"Makan yuk? Makan di luar atau mau pesen aja? Biar aku pesenin lewat online," tanya Rara pelan sambil mengenggam tangan Dyah dengan erat.
Dyah menggelengkan kepalanya dan tia-tiba, Dyah langsung memeluk Rara dengan erat dan menangis dalam pelukan Rara. Rara cukup terkejut bingung dengn hal yang tidak biasa ini. Dyah bukan tipe wanita cengeng atau mudah menangis karena sesuatu hal. Jika itu terjadi maka ada sesuatu hal yang benar-benar membuat hati Dyah kecewa dan sakit hati.
"Ra ..." lirih Dyah sesegukan dengan suara bergetar.
Rara pun mencoba mengusap pelan punggung Dyah dengan lembut berulang kali hingga membuat nyaman Dyah saat berada dalam pelukan Rara.
"Iya Dy ... ceritalah, kalau itu bisa membuatmu lebih tenang. Ada apa sebenarnya?" tanya Rara dengan suara lembut dan halus.
Jujur, hari ini mood Rara sebenarnya sedang tidak baik. tapi, seja siang Rara selalu dihadapkan pada masalah baru yang begitu pelik dan saling keterkaitan dengan dirinya.
"Mas Hendra, Ra," ucap Dyah bergetar dan tidak bisa melnjutkankan kata-katanya. Wajah Dyah dibenamkan ke ceruk leher Rara dan mencari kenyamanan disana sambil menangis sesegukan hingga hatinya yang sakit bisa merasakan kelegaan.
Terasa jelas anggukan Rara yang paham dengan kondisi Dyah saat ini. Mungkin saja, sama saat beberapa tahun lalu, Rara juga berada di posisis seperti ini. Posisi sebagai pesakitan yang sudah tidak bsa berbuat apa-ap lagi kecuali hanya menangis, menangis dan menangis.
Kata-kata Dyah cukup membuat Rara bingung. Permasalahan yang di ucapkan Dyah adalah Mas Hendra, bukan hal lain. ada apa sebenarnya ini?
"Iya Dy. Mas Hnedra kenapa?" tanya Rara lembut dan tetap bersikap sangat tenang.
Tangisan Dyah semakin keras mendengung saat pertanyaan Rara terlontar lolos begitu saja dengan polosnya.
"Dy, Ada apa sebenarnya. Kamu harus tenang, jangan menangis terus. Ini buat aku malah bingung, khawatir dan cemas," ucap Rara pelan menasehati Dyah.
__ADS_1
Rara hanya ingin Dyah lebih tenang dan menceitakan semua masalahnya kepada Rara saat ini.