
Pagi ini Rara sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Semalam Rara mencoba mengambil keputusan secara tekad bulat untuk melupakan Rafli, membuang semua perasaannya kepada Rafli, Sang Idaman. Sudah terlalu nyaman dengan perasaan ini, namun memang sulit untuk melepaskan semuanya dengan ikhlas.
"Assalamualaikum ... Rara?" panggil seorang lelaki dengan suara lembut.
Rara pun menoleh saat akan mengeluarkan motor maticnya dari garasi rumahnya.
"Waalaikumsalam ... Mas Bai? Ada apa? Tumben pagi-pagi datang ke rumah? Anak-anak mana?" jawab Rara pelan membalas sapaan Baihaqi.
Rentetan pertanyaan Rara membuat Baihaqi mengulas senyum manisnya yang berlesung pipi itu. Padahal Rara banyak bertanya karena kegugupannya saat melihat sosok baihaqi yang sudah berada tepat di depannya saat berbalik badan untuk melihat siap yang menyapa dirinya pagi-pagi buta seperti ini.
"Maaf telah mengejutkanmu? Kamu sibuk? Atau ada keperluan lain?" tanya Baihaqi dengan suara lembut.
Rara tersenyum dan menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Mau ke toko. tapi bisa aku tunda kok, Mas. Disana sudah ada yang menjagany, ada dua asisten yang membantu aku menjaga toko," ucap Rara pelan.
"Mas kesini ada perlu. Bisa bicara empat mata saja. Tapi ..." ucapan Baihaqi terhenti dan di tahan tidak dilanjutkan. Baihaqi sedikit ragu untuk mengungkapkan niatnya itu kepada Rara.
"Tapi apa? Aku bisa kok Mas. Mau bicara empt mata denganku kan?" tanya Rara pelan mengulang kembali pertanyaan Baihaqi kepada dirinya tadi.
Dengan malu-malu Baihaqi mengangguk pelan setuju dengan apa yang di ucapkan oleh Rara.
"Mas ingin mengajakmu keluar. Kamu bisa, Ra?" tanya Baihaqi dengan suara yang sangat lembut.
Rara terdiam menatap Baihaqi. Tidak biasanya Baihaqi mengajaknya untuk pergi. Seperti ada hal penting yang ingin di bicarakan. Perlahan Rara pun menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Iya. Aku bisa Mas. Kita mau kemana?" tanya Rara pelan.
"Ikut saja. Mas ingin membawamu ke suatu tempat yang sagat penting dan sakral," ucap Baihaqi dengan lembut namun trdengar sangat tegas.
DEG!
DEG!
DEG!
__ADS_1
Mendengar ucapan Baihaqi yang berucap ingin mengajak Rara ke suatu tempat yang sangat penting dan sakral membuat jantung Rara seperti terhenti tiba-tiba. Lalu saat sadar jantung itu langsung terpacu dan berdetak lebih cepat dari detakan normal biasanya. Rara cukup terkejut dnegan permintaan Baihaqi yang tidak biasa itu.
"Kalau boleh tahu kita mau kemana?" tanya Rara pelan dengan sedikit penasaran.
"Nanti kamu juga akan tahu. Boleh kan Mas rahasiakan?" ucap Baihaqi pelan dengan sengaja membuat Rara penasaran dan bingung.
Kedua mata Rara terlihat bingung namun kepalanya perlahan mengangguk tanda menyetujui keinginan Baihaqi.
"Ustad Baihaqi!!" teriak Abuya dari arah dalam berlari sangat kencang tanpa memakai baju dan memeluk Baihaqi dengan erat.
Baihaqi tersenyum lebar dan merentangkan kedua tangannya saat Abuya berteriak dengan sangat keras sambil berlari melepaskan gandengan dari Kak Aneng yang ingin memakaikan baju anak kesayangan majikannya itu.
"Abuya sayang!! Apa kabarmu, Nak? Kok tidak pakai baju?" tanya Baihaqi pelan sambil menggendong Abuya dan menciumi beberapa bagian wajah Abuya dengan penuh kasih sayang.
Abuya memang sejak kecil sangat dekat dan lengket dengan Baihaqi. Seringkali memang diajak bepergian hanya berdua menggunakan motor maticnya hanya untuk sekedar berjalan-jalan meleati kampung-kampung.
"Abuya lindu ...." ucap Abuya dengan manja dan dengan suara pelonya yang tidak bisa menyebut huruf R.
"Uhhh... Om Ustad juga lindu .... Makanya main kesini buat ketemu sama Abuya," ucap ABihaqi sambil menoel hidung Abuya dengan gemas.
Abuya pun memeluk Baihaqi dengan erat. Seperti sudah lama kehilangan dan baru di pertemukan lagi.
Abuya langsung mengendurkan pelukannya dan menatap ke arah BAihaqi lalu tersenyum lebar. Mendengar akan diberi hadiah tentu hati Abuya sangat senang sekali.
"Mana Ustad bai haduah untuk Abuya?" tanya Abuya menagih.
Baihaqi tertawa lebar.
"Abuya pakai baju dulu. Om Ustad mau ambil hadiahnya di mobil. Nanti Om Ustad kasih kau Auya sudah rapi. Lalu, Om Ustad pinjam Mama Rara ya, mau diajak kerja sama Om Ustad," ucap Baihaqi dengan suara pelan.
baihaqi menurunkan Abuya dari gendiongannya lalu diberika kepada Aneng yang sudah siap membawaAbuya ke dalam rumah untuk memaki baju dan menyisir rambutnya yang masih basah.
"Sebentar ya, Ra. Mas mau ke mobil. Ada hadiah kecil untuk Abuya," ucap Baihaqi pelan.
Rara hanya mengangguk dengan pasrah. Sebenarnya tidak perlu serepot itu untuk membaakan Abuya hadiah. Abuya sudah terlalu banyak baju dan mainan. Hampir setiap hari Abuya selalu meminta mainan untuk dibawakan setiap Rara pulang dari toko atau setelah bekerja menjadi supir sebagai oleh-oleh.
__ADS_1
"Seharusnya Mas jangan tlalu repot memanjakan Abuya. Abuya anak aku, Mas. Dan Mas sendiri juga sudah memiliki anak yang sudah seharusnya lebih prioritas untuk di perhatikan," ucap Rara pelan menjelaskan.
"Sudahlah. Abuya itu anak-aak, tahunya hadiah. tolong jangan kamu perbesar maslah ini," ucap Baihaqi pelan dan sambil berlalu pergi menuju ke arah mobilnya yang di parkir di depan rumah Rara.
Baihaqi sudah kembali dengan satu bungkus besar yang terbalut dengn kertas kado berwarna hijau.
"Om Ustad!!" teriak Abuya dengan suara keras sambil meloncat-loncat bagai kangguru yang sedang mencari mangsa.
"Hei ... Ini hadiahnya. Besar kan?" tanya Baihaqi kepada Abuya lalu menghampiri anak lelaki itu dengan senyum yang lebar.
Baihaqi menyodorkan hadiah itu kepada Abuya. Abuya menerima hadiah itu denga senang hati Wajahnya berbinar bahagia dan langsung duduk dilantai dan menyobek paksa bungkus kado itu yang menyelimuti kardus berisi hadiahspesial.
"Wah .... Mobil Belco," teriak Abuya dengan sangat keras dan ajah penuh kebahagiaan.
Rara hanya melihat kearaban Baihaqi dan Abuya. Baihaqi memang baik sejak dulu, sejak Abuya sedang berada dalam kandungan, hanya Baihaqi, teman satu-satunya yang peduli dan mau berteman tanpa ada apanya.
"Abuya suka mobil belco kan?" tanya Baihaqi pelan saat membantu Abuya untuk memainkan mobilnya
Abuya tidak menggubris pertanyaan dari Baihaqi dan langsung sibuk dengan mainannya.
Baihaqi hanya tersenyum lalu berdiri menghampiri Rara yang sejak tadi menatap kedua lelaki berbeda umur ini.
"Hei ... Lihat apa? Abuya? Dia sedang asyik. Kita pergi sekarang, bisa?" tanya Baihaqi pelan.
Rara mengangguk pelan dan berjalan lebih dulu menuju ke arah pintu pagar.
Keduanya kini sudah berada dalam satu mobil. Baihaqi yang fokus dengan jalanan dan setir mobilnya membuat lelaki alim itu pun hanya terdiam. Sedangkan Rara yang memang bingung dengan kepergian ajakan Baihaqi ini juga hanya bisa diam dan tidak banyak bertanya.
"Mas ini mau kemana?" tanya Rara pelan. Rara akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada Baihaqi kemana sebenarnya mereka akan pergi.
Baihaqi menoleh ke arah Rara yang terlihat penasaran.
"Lihat saja. Ini mau kemana?" jawab Baihaqi singkat.
Mobil Baihaqi pun berbelok di ujung jalan dan memasuki di tanah Tempat Pemakaman Umum. Lalu, mobil Baihaqi berhenti tepat di depan papan palng besar.
__ADS_1
Kedua mata Rara menyorot pada tulisan besar yang ada di plang besar itu. Lalu, menoleh ke arah Baihaqi yang masih sibuk mematikan mesin mobil dan keluar dari mobilnya.
Sadar sedang di perhatikan oleh Rara, sebelum membuka pintu mobil, Baihaqi menatap wajah Rara yang semakin hari terlihat sangat cantik. Apalagi sekarang Rara sudah istiqomah menggunakan hijab, makin cantik gadisnya itu.