
Rara dan Abuya sudah dalam perjalanan kembali ke rumah. Abuya yang meminta kembali sosis bakar untuk di bawa pulang pun di turuti oleh Rara.
Rara sadar, sebagai Ibu masih banyak kekurangan dan belum bisa menomorsatukan Abuya. Maka dari itu, hanya denagn menuruti hal-hal sederhana yang menjadi keinginan Abuya selagi Rara mampu pasti akan dikabulkan.
"Kamu senang?" tanya Rara, Sang Mama sambil menggandeng tangan Abuya dengan sangat erat.
"Senang sekali. Mama mau kerja?" tanya Abuya lirih dengan biar wajah yang bahagia itu berubah sendu kala Sang Mama sudah menggandengnta menuju pulang ke rumah.
Rara menggandeng Abuya, dn tersenyum saat menoleh ke arah Abuya. Rara mengangguk pelan dan mencoba tersenyum walaupun Abuya tidak suka dengan senyum Sang Mama yang akan pergi itu.
"Mama harus kerja, biar punya uang dan kita bisa beli sosis bakar lain waktu? Kamu mau?" tanya Rara, Sang Mama dengan senyum penuh kebahagiaan.
Abuya memalingkan wajahnya dan menatap jalan yang sedang di laluinya. Sebagai anak kecil, mungkin Abuya tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi harus protes kepada Mamanya untuk tidak bekerja hari ini.
"Hei, Abuya? Kenapa?" tanya Rara yang kini ikut berhenti dan berjongkok di depan Abuya. Rara sangat paham, anaknya itu sedang merajuk untuk tidak di tinggal pergi bekerja dan meemani Abuya sepanjang hari ini.
Bukan tidak mau, bahkan Rara akan sangat senang sekali jika memang ada waktu untuk itu, namun saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bersantai-santai, kalau memang ada job, mau tidak mau Rara harus bekerja keras untuk itu. Apalagi saat ini, beban Rara bertambah. Rara harus mencicil pembelian rumah secara kredit ini. Jadi, Rara harus bekerja lebih giat lagi, belum lagi harus membayar dua cicilan mobil sekaligus, walaupun satu mobilnya hanya tinggal beberapa bulan lagi saja sudah lunas.
"Mama temenin Abuya ya? Kita makan sosis bersama?" tanya Abuya sendu dengan wajah menunduk. Abuya takut Rara, Sang Mama akan marah dengan permintaanya kali ini yang sudah jelas-jelas tidak bisa dituruti oleh Rara. Bukan tidak mau menuruti tapi waktunya tidak tepat. Job ini sudah di pesan sejak satu minggu lalu, dan tida mungkin di limpahkan kepada orang lain, karena keluarga tersebut hanya ingin Rara yang mengendarai mobil itu.
Rara menggendong Abuya dan melanjutkan perjalanan menuju rumahnya. Salah satuhal yang membuat Abuya senang adalah di gendong Rara dan di usap di bagian punggung dengan lembut. Abuya itu sangat mudah didiamkan jika sedang merajuk.
"Mama harus bekerja, dan Abuya di rumah bersama Kak Aneng. nnati kalau Mama pulang, kita pergi ke Taman lagi, atau kita ke rumah Bude?" ucap Rara pelan di dekat telinga Abuya, saat lelaki kecil itu memeluk erat Rara, Sang Mama, seperti tidak mau kehilangan.
Abuya hanya terdiam dn tidak mnejawab ucapan Rara, Sang Mama hingga Abuya tertidur dalam gendongan Rara.
'Maafkan Mama, Nak. Hidup ini keras bukan? Mama harus mencari uang untuk melanjutkan kehidupan kita, dan membiayai semua kebutuhan kita,
Sesampai di rumah, Rara langsung merebahkan Abuya di tempat tidurnya. Rara bersip untuk pergi bekerja.
__ADS_1
"Aneng, itu sosis bakar untuk Abuya. Besok-besok kalau ke Taman, Abuya minta susu dan sosis bakar tolong belikan. Biarkan Abuya bahagia, dan dia berhak bahagia," ucap Rara menasihati Aneng. Rara mengambil tas kecil berisi pakaian ganti dan tas cantik yang menyelempang di lengannya.
"Ya, Bu," jawab Aneng singkat dan mengangguk dengan paham.
Hari ini, Rara harus segera mengantarkan sebuah keluarga menuju lembang untuk sebuah acara di suatu perusahaan.
"Jangan lupa, masak masakan yang di sukai oleh Abuya. Uang belanja ada di tempat biasa, beli nuget, telur, ayam dan agar-agar," titah Rara pelan.
Kebetulan di ujung depan Perumahan Kompleks itu ada supermarket yang cukup lengkap
"Iya, Bu," jawab Aneng singkat.
"Aku berangkat dulu ya, titip Abuya," ucap Rara pelan lalu mencium kening Abuya yang masih terlelap tidur.
Rara berjalan keluar rumah dan masuk ke dalam mobil. Aneng mengantarkan Rara hingga ke depan rumah dan menutup pintu pagar setelah kepergian Rara yang sudah menjauh dan berbelok di ujung gang jalan tersebut
Hati Rara semakin perih rasanya, harus meninggalkan Abuya di rumah. Tapi, job ini juga sama pentingnya dengan Abuya, anaknya.
"Assalamulaikum, Oh ... Iya ini sudah jalan ke arah sana untuk jemput," ucap Rara pelan.
Tidak lama ponsel itu pun ditutup dan diletakkan kembali di dekat porseneleng mobil.
TING!!
Suara notifikasi pesan singkat melalui aplikasi chat masuk, dan Rara mengambil kembali ponselnya lalu membuka laya dengan satu tangannya.
Pesan singkat itu berasal dari Rafli, teman dunia maya di aplikasi bernyanyi.
"Assallamualaikum, sedang apa? Sibuk kah?" tanya Rafli dalam pesan chat itu.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang dan tidak membalas chatitu, Rara langsung menelepon balik nomor baru itu. Gaya bahasa Rafli, lelaki yang telah mencuri hatinya itu sudah sangat dikenali dengan baik oleh Rara.
Nomor itu menyambung dan langsung diangkat oleh si pemilik nomor.
"Assalamualaikum, Mas?" panggil Rara pelan saat nomor itu sudah tersambung dan diangkat.
"Waalaikumsalam, Hai, Rara?" jawab Rafli pelan dan terlihat jika bahagia.
"Apa kabar?" tanya Rara pelan.
"Alhamdulillah baik, Kamu dimana? Kenapa ada suara musik?" tanya Rafli pelan dnegan rasa penasaran.
Rafli sendiri juga kagum terhadap Rara, wanita terhebat ang pernah di temuinya. Wanita mandiri dengan segala kelebihan atau multi talenta yang dimiliki Rara. Satu bulan lamanya dan berkomunikansi melalui chat dan mengenal satu sama lain secara pribadi membuat mereka berdua semakin mengenal dan nyaman hingga saling ketergantungan.
"Aku di mobil, lagi nyetir mau antar orang," jawab Rara dengan polos.
"Matikan ponselnya. Tidak baik, menyetir smbil memegang ponsel," titah Rafli dengan sedikit meninggi
Rafli khawatir, takut terjadi hal-hal yang tidak di inginkan nantinya terjadi kepada Rara.
"Mas, Aku pakai handset bloototh jadi aman," ucap Rara memberikan alasan.
Memang benar Rara selalu memakai handset bloototh jika berada di dalam mobil. Selain itu, Rara benar-benar bahaia bisa menelepon secara langsung dengan lelaki yang telah disayanginya walaupun di dunia maya.
"Yakin? Kamu pakai handset bloototh? Bisa video call?" tanya Rafli pelan dan berharap Rara mengabulkan permintaanya kali ini.
"Video call?" tanya Rara pelan sedikit tidak percaya.
Tentu saja Rara akan mengabulkan, Rara sendiri juga penasaran dengan sosok lelaki yang sudah mencuri hatinya itu.
__ADS_1
"Iya, Video call? Kalau keberatan ya tidak apa-apa, mungkin lain waktu," ucap Rafli singkt tampak sedkit kecewa dari nada suaranya.