MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
22


__ADS_3

"Terima kasih Emak Warti. Pasti ini juga salah satu perintah Pak Ustad?" ucap Rara pelan dengan memberikan senyuman ramah kepada Emak Warti.


"Beliau adalah lelaki terbaik dan sangat perhatian Nona Rara," ucap Emak Warti menejelaskan.


"Oh Iya? Bisa ceritakan sedikit tentang Pak Ustad, sekali-kali kita membicarakn beliau biar tersedak," gurau Rara sambil terkekeh saat melirik Baihaqi yang tampak malu dengan wajah memerah.


"Ya, Memangterkadang kebaikan memang perlu diungkapkan bukan hanya dibalas dengan kebaikan saja. Ustad Baihaqi adalah orang yang membantu tanpa pilih kasih. Siapapun pasti dibantu, baik dari kalangan manapun, mau kaya atau miskin. Mau sesama umat beragama atau bukan, siapapun yang membutuhkan pertolongannya pasti akan dibantu," Jelas Emak Warti pelan.


"Wah, Sungguh sikap terpuji. Anak-anakmu kemana MAs? Aku belum berkenalan?" ucap Rara pelan lalu menatap Baihaqi yang jug sedang menyimak ucapan Emak Warti.


"Ada di Rumah Utama. Nanti malam, makan malam disana bersama Emak Warti, akan aku perkenalkan kamu dengan ketiga anakku," ucap Baihaqi pelan.


"Baiklah. Aku sudah mulai nyaman dan betah di tempat ini. Rumah ini seolah membuat aku bersemangat lagi menjalani hidup. Begitu fresh dan seperti menjadi orang baru," ucap Rara pelan dengan senyum manisnya yang selalu merekah di wajahnya yang sangat cantik.


"Aku harap, Kamu mau tinggal di rumah ini selamanya," ucap Baihaqi berharap. Maksud ucapan Baihaqi sangat jelas, bahwa Baihaqi sangat menginginkan Rara untuk menjadi pendamping Baihaqi.


"Aku gak bisa janji. Aku juga ingin punya rumah sendiri," ucap Rara pelan sambil menyelesaikan makan sorenya.


"Ini bisa menjadi milikmu, Ra?" ucap BAihaqi penuh harap.


Rara menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku paham dengan maksud kamu, Mas," ucap Rara.


"Lalu, Kamu tidak ingin mencobanya? Kamu ingin menyerah sebelum mencoba?" tanya Baihaqi pelan.


"Bukankah kita sudah membahas ini tadi. Aku ingin sendiri. Tolong jangan paksa aku dan membuatku tidak nyaman lagi bersama kamu, Mas," ucap Rara pelan.


"Pak Ustad, saya ijin ke rumah utama dahulu. Mau memasak untuk anak-anak," ucap Emak Warti yang berpamitan dengan Ustad Baihaqi.

__ADS_1


"Eh, Kita kesana bareng. Tidak mungkin, Saya hanya berdyaan dengan Rara disini. Bisa jadi fitnah. Sebentar saya selesaikan dulu makan saya," ucap Baihaqi pelan.


Baihaqi segera menyelesaiakn makannya. Begitu juga dengan Rara yang ikut cepat menghabiskan maknnya dan meminum susu putih hangatnya hingga tak bersisa.


Emak Warti sudah membereskan piring-piring kotor ke dapur. Rara juga sudah berada di dalam kamar yang cukup luas dengan ornamen bambu yang unik dan lucu.


"Ra, Mas pamit dulu. Kmau istirahat saja. Nanti ke rumah utama, biar di jemput Emak Warti untuk makan malam," ucap Baihaqi pelan.


Rara hanya mengangguk pelan dan duduk di tepi ranjang yang sangat empuk. Setelah kepergian Baihaqi dan Emak Warti, Rara hanya seorang diri di rumah bambu itu.


Rara mencoba melepas lelah dan mandi dengan air hangat yang tadi sudah di siapkan oleh Emak Warti seelum pergi.


Mandi di bathup dengan air hangat, Rara sangat menikmati keheningan dan kenyamanan dalam hidupnya. Perutnya yang semakin besar, diusap dengan pelan.


Dua puluh menit sudah Rara berendam di dalam air hangat. Kini tubuhnya sudah terbalut pakaian terusan yang khusus dipakai oleh Ibu hamil. Sebulan yang lalu, Rara dan Dyah sempat mengunjungi beberapa mall dan membeli beberapa pakaian untuk Rara. Pakaian lamanya sudah tidak bisa dipakai lagi, karena kekecilan. Tubuhnya kini lebih berisi dengan perut yang semakin membuncit.


'Pantas juga pakai terusan pendek begini. Ternyata benar kata orang-orang, kalau hamil itu pasti terlihat sangat seksi,' batin Rara di dalam hatinya sambil berkaca di depan kaca rias untuk mematut diri.


Di tempat lain, setelah sholat mghrib bersama dengan para santri. baihaqi kembali ke rumah utama dan duduk di sofa ruang tengah menemani ketiga anak-anaknya mennton televisi.


"Abi ..." ucap Putri, putri pertama Baihaqi. Putri menhampiri Baihaqi dan mencium punggung tangan kanan Ayahnya.


"Sudah mengerjakan PR, Nak?" tanya Baihaqi kepada ketiga anaknya yang serius menonton teevisi.


"Sudah Abi," ucap Putri menjawab dengan suara lantang.


"Sudah makan?" tanya Baihaqi dengan pelan.


Ketiganya menggeleng dengan serempak.

__ADS_1


"Kenapa belum makan?!" tanya Baihaqi pelan lalu mematikan televisinya.


"Ahh ... Abi lagi seru juga. Kenapa dimatikan? Kami sudah sholat maghrib," rengek Fathur yang paling suka sekali menonton film kartun.


"Remote ini Abi simpan. Abi tidak suka, waktu kalian habis untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Sampai lupa makan bahkan tidak makan, Abi juga belum bisa meastikan kalian sudah mengerjakan PR atau belum!" ucap Abi dengan suara yang tegas.


Ketiga anaknya hanya menunduk. Mereka sudah sangat hapal jika Abi sudah marah tentu akan banyak ceramah yang di dengar. Ceramah yang baik, bukan sekedar ceramah kosong yang hanya memarahi dan menyudutkan anak-anaknya.


"Kak Ratna tidak datang untuk memberikan les hari ini. Jadi, kami belum mengerjakan PR. Kami tidak bisa," ucap Putri lirih. Ada ketakutan tersendiri saat menatap wajah Abinya.


"Terus?! Kalian tidak belajar? Malah menonton TV?" ucap Baihaqi kesal kepada ketiga anaknya. Hari ini moodnya benar-benar sedang tidak baik. Permintaan Baihaqi untuk menjadi teman dekat Rara pun terjawab tidak memuaskan untuk dirinya.


Baihaqi meletakkan remote TV diatas lemari kaca dan masuk ke dalam dapur untuk minum. Mungkin dengan minum, Baihaqi bi amengontrol emosinya dengan sangat baik.


Baihaqi mengambil satu gelas berisi air putih dan menghabiskan hingga tak bersisa.


"Mau dipersiapkan sekarag makan malamnya?" tanya Emak Warti pelan yang muncul tiba-tiba dari arah dapur menuju ruang makan.


"Astagfirullah, Saya kaget Emak," ucap Baihaqi yang terkejut setengah mati sambil memegang dadanya.


"Maafkan saya Pak Ustad," ucap Emak Warti terkekeh pelan saat melihat Sang Majikan begitu terkejut dengan kehadirannya.


"Tidak apa-apa. Anak-anak kenapa belum makan? Ini sudah malam,"


tanya Baihaqi pelan kepada Emak Warti.


"Saya baru selesai memasak. Sepertinya mereka lagi fokus menonton TV, dan bukankah lebih baik, nanti makan bersama dengan Non Rara, biar lebih akrab. Biasanya wanita akan luluh dengan kedekatan bersama anak-anak. Pak Ustad bisa lihat ketulusannya dengan cara bagaimana Non Rara bersikap terhadap anak-anak," ucap Emak Warti memberikan saran.


"Makan bersama? Rara sepertinya tetap tidak mau menerima saya, Emak," ucap Baihaqi pelan.

__ADS_1


"Kenapa pesimis Pak Ustad?" tanya Emak Warti pelan.


"Bukan pesimis. Tapi, keinginan Rara tetap harus saya hargai. Bukan begitu?" ucap Baihaqi pelan.


__ADS_2