MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
110


__ADS_3

Sejak awal, Rafli juga sudah berada di tempat itu. menatap kedua wanita kesayangannya itu beradu argumen satu asma lain.


Rafli saat ini merasa terpojok, dan memutar otak untuk mencri solusi terbaik. Keduanya kini telah resmi menajdi istrinya, yang membedakan Fatarani sudah SAH secara agama dan hukum, sedangkan Rara hanya SAH di mata agama saja. dan kini, keduanya juga sedang mengandung daah dagingnya.


Rafli benar-benar bingung. saat ini benar-benar dihadapkan pada hal yang sulit. Rasanya ingin memeluk kedua wanita kesayangannya itu secara bersamaan tapi tidak mungkin Rafli lakukan. Rara masih bisa menerimanya karena sejak awal Rara sudah bisa menerima dirinya akan dijadikan yang kedua, tetap Bunda Fatarani adalah prioritas Rafli.


Satu tarikan napas panjang mengisi semua rongga paru-paru yang terasa sesak dan berat. Oksigen yang di hirupnya mengisi semuanya hingga rasanya sedikit rterasa lega.


Rafli mencoba untuk menerima takdirnya dan pasrah pada semuanya. Saat ini, adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya dengan jujur. Bila ada tindakan di luar dugaan Rafli, amak itu sudah menjadi resiko besar dan konsekuensi Rafli yang menikahi Rara dengan diam-diam.


Langkah kaki Rafli pun berjalan dengan sangat tegas. Hari ini prahara rumah tangganya akan terkuak, kisah cintanya kepada Rara akan di ekspos di depan umum. Sudah tidak ada lagi yang harus di tutupi. Semakin di tutupi dengan rapat, Rara akan semakin terpojok, padahal ini semua keinginan keduanya, baik Rafli atau pun Rara.


"Ada apa ini!! Tidak malu berteriak di tempat umum seperti ini? Bunda seperti wanita tidak berepndidikan saja. Lihat semua pasang mata menatap ke arah kalian berdua!! Kalian tidak sadar!!" tegas Rafli dengan suara lantang.


Kedua perempuan hamil itu menatap ke arah Rafli. Suara berat dan khas dari Rafli, dengan mudah keduanya langsung mengenali.


Fatarani menoleh sekilas ke arah Rafli dengan mendapat balasan tatapan kesal karena sudah di bohongi. Rara pun menunduk dan tidak berani menatap ke arah Rafli.

__ADS_1


"Sini, Mamah dekat sama Papah," panggil Rafli lembut kepada Rara. Nada siaranya lembut dan tetap terdengar tegas.


Fatarani pun mentap tajam ke arah Rafli dan kemudian berpindah kepada Rara yang masih diam mematung tanpa ada pergerakka sedikitpun.


"Kesini Mah! Berdiri dekat Papah," panggil Rafli lagi dengan suara yang lebih keras.


Rara pun menolh ke arah rafli dan Rafli memanggilnya dengan anggukan. Tanpa ada perdebatan Rara pun berjala ke arah Rafli sambil membawa tasnya.


Dengan gerak cepat pun Rafli menangkap lembut tangan Rara dan di genggamnya dengan erat. Semua perlakua Rafli kepada Rara tidak luput dari penglihatan Fatarani, sebagai istri SAH Rafli. Sudah tentu tahu bagaimana perasaannya sekarang seperti apa. Bukannya membela istrinya dan mempertahankan rumah tangganya demia anak, tapi ini malah secara terang-terangan membela Sang Pelakor. Apa lebihnya wanita yang ada dihadapannya kini.


"Apa-apaan ini!! Memanggil dengan sebutan Mamah dan Papah!! Kamu pikir, kamu itu siapa!! Hah!! Hanya pelakor saja meminta perlakuan istimewa!! Ayah juga!! Kenapa harus memanggil Pelakor ini dengan paggilan Mamah!! Ada apa sebenarnya ini!! Apa yang aku tidak ketahui dari hubungan kalian!! Apa kalian masih berselingkuh di belakangku!!" teriak Fatarani yang terliha marah dan frustasi.


"Cukup Bunda. Jangan buat masalah ini menjadi besar. Dari awal Ayah sudah bilang ingin menikahi Rara sebagai istri kedua Papah. tapi, Bunda selalu mengelak dan marah-marah jika Ayah membahas ini terus. Tapi, seiring berjalannya waktu, Ayah juga butuh Rara untuk mendampingi Ayah. Jujur, saat ini Ayah tidak bisa memilih bila harus memilih salah satu. Ayah sangat sayang dan cinta dengan Bunda, di samping ada hati lain yang selalu Ayah rindukan karena selalu memberi kenyamanan," uca Rafli pelan menjelaskan dengan jujur.


Tatapan Fatarani semakin tajam saat mendengar ucapan Rafli yang begitu lolos dari bibirnya tanpa bisa memfilternya.


Hatinya sakit sekali seperti berulang kali di hujam oleh batu besar dan dadanya terasa nyeri dan perih seprti ditusuk-tusuk oleh jarum yang begitu runcing. Rasa sakit hati luar biasa yang di rasakan oleh Fatarani, rasa sakit tapi tak berdarah. Luka yang tadinya hanya goresan kini terbuka lebar.

__ADS_1


"Mudah sekali Ayah bilang mencintai keduanya?!! Apakah Ayah sanggup bersikap adil?!!" tanya Fatarani dengan ketus dan menahan sesak di dadanya yang semakin terasa sakit.


Air mata Fatarani lolos begitu saja jatuh membasahi pipinya. Untuk kesekian kalinya masalah ini yang selalu membuat pikirannya menjadi tidak baik-baik saja. Kandungannya pun di awal tri semester pun sempat ada kendala karena Bundanya terlalu takut dan stres. Tapi, Rafli selalu mensupport dan memotivasi hingga Fatarani pun merasa dihargai dan merasa menjadi wanita satu-satunya yang disayangi oleh Rafli. Tapi, kenyataannya kini berbanding terbalik. Ada wanita lain yang bisa membuat Rafli, suaminya itu merasa butuh, nyman dan aman bisa terus bersama wanita itu.


"Dengarkan Ayah, Bunda. Kita duduk dulu agar tenang. Bunda minuma dulu. Kita juga duduk, Mah. Tetap di dekat Papah," ucap Rafli pelan dan begitu tegas.


Semuanya sudah duduk dan saling bertatap tajam dengan suasana yang begitu memanas.


"Jelaskan semuanya Bunda ingin dengar," tanya Fatarani dengan suara lembut dan berbeda sekali cara bicaranya yang ketus dan kasar seperti tadi.


"Baik Ayah akan menjelaskan semuanya. Dan kamu, jangn pernah menjadi provokator buruk bagi istriku!!" tegas Rafli dengan suara lantang kepada teman Fatarani yang sejak tadi memang ikut mencecar Rara dan memojokkan Rara sebagai pelakor murahan.


Teman wanita Fatarani pun hanya menunduk pasrah. Memang selama ini Fatarani banyak bercerita tentang kehidupan rumah tangganya termasuk ad wanita lain yang masuk dalam kehidupan rumah tangganya dan membuat keutuhan rumah tangganya pun sedikit demi sedikit terkikis. Dan benar saja, Rafli suami Fatarani kini dengan jujur malah membela wanita yang ada di seblahnya, sudah jelas wanita itu adalah perusak rumah tangga dan terlihat hanya ingin memeras apa yang di miliki oleh Rafli.


"Jelaskan smeua, dan jangan ada yang ditutup-tutpi lagi. Bunda ingin dengar, termasuk gaji Ayah yang semakin lama semakin sedikit saat Bunda terima gaji Ayah di awal Bulan," ucap Fatarani dengan tegas.


Nada suaranya pelan bahkan lirih kareana menhaan rasa sakit dan perih di dadanya serta perutnya.

__ADS_1


"Ayah mencintai Rara. Rasa sayang Ayah kepada Bunda dan Rara itu sama, tidak ada yang beda. Selama ini Ayah selalu berusaha bersikap adil dalam hal memberikan perhatian dan pengertian. Tidak ada sedikitpun perbedaan, bahkan Ayah masih lebih condong memprioritaskan Bunda dibandingkan Rara, karena memang Ayah memiliki tanggung jawab yang lebih banyak kepada Bunda dan ana-anak. Untuk masalah keuangan, Ayah tidak mau banyak bicara, jik Ayah bicara dan menjelaskan maka yang ada Bunda, akan bilang Ayah mencari pembelaan. Silahkan Bunda datang ke tempat kerja Ayah dan tanya kepada Bos Ayah, berapa uang yang Ayah terima setiap bulan selama satu tahun ini. Malahan selama ini Rara yang selalu membantu perekonomian Ayah, membantu membeli susu si bungsu, membantu Ayah untuk keuangan lain yang mendadak, termasuk bantuan dana untuk mudik Bunda kemarin ke rumah Abah. Semua Rara yang membantu!!


__ADS_2