
Lelaki tua itu langsung pergimeninggalkan meja Rara hingga Rara tersadar maksud ucapan lelaki tua itu.
Rara merasa dirinya kini terpojokkan. Entah yang salah siapa tapi seoalh-olah dirinya yang salah dan patut di salhkan.
Selama ini banyak orang juga sudah tahu, kalau Rara telah memiliki kekasih. Bahkan Rara seringkali di antar dan di jemput oleh kekasihnya itu. Tapi kedektannya dengan Pak Udin seolah disalahgunakan.
"Makanya jangan pernah mencintai dan ingin memiliki Pak Udin. Istrinya seperti singa, aumannya itu bisa memecahkan gendang telinga," ucap Mbak Mega, wanita paling suka menggosip di Kantor.
Rara langsung menoleh ke arah Mega yang sudah berdiri di samping meja kerjanya.
"Mbak Mega," ucap Rara kepada Mega pelan. Jantungnya kembali berdetak dengan kencang.
"Itu semua karena kamu, Ra. Anak kecil yang sudah berani bermain api dan merusak rumah tangga orang lain dengan mencintai suami orang," ucap Mbak Mega begitu nyinyir dan penuh kebencian kepada Rara.
Rara menatap lekat dan tajam.
"Jaga ucapanmu Mbak Mega!!' tegas Rara dengan nada yang mulai meninggi. Tatapan Rara kini tajam karena kesal.
"Kalau memang fakta, kamu jangan marah!! Dasar wanita penggoda!!" ucap Mbak Mega setengah berteriak.
Cukup menyakitkan dikatakan sebagai wanita penggoda. Padahal Pak Udin yang selalu menggoda dirinya dan mencoba melamar Rara untuk dijadikan istri kedua Pak Udin dengan alasan ingin memiliki keturunan anak laki-laki, maklum ketiga anak Pak udin semuanya perempuan.
Rara bangkit berdiri sambil membereskan pekerjaannya yang telah selesai dan mematikn komputernya lalu mengambil tas cantiknya dan melenggang pergi begitu saja ke luar ruangan itu.
Tatapan tajam dan sinis dari semua karyawan perusahaan itu membuat Rara benar-benar tidak betah berada di antara mereka semua.
"Dasar wanita penggoda!!' teriak Mbak Mega dengan suara semakin lantang saat Rara sudah menjauh melangkah ke arah luar kantor.
Teriakan itu begitu keras dan terngiang di telinga
Hidupnya kini hancur dan terpuruk. Baru saja Rara ditawari untuk mengikuti test untuk menjadi karyawan tetap disana atas rekomendasi Pak Udin. Jujur Rara sendiri tidak pernah menyangka, semua kepedulian dan perhatian Pak Udin itu ada maksud dan tujuan tertentu.
__ADS_1
Tangisan Rara pecah begitu saja sambil berjalan menuju parkiran motor untuk mengambil sepeda motornya dan mengendarai motor tersebut sampai tempat kosnya.
Sudah dua jam Rara menangis di dalam kamar kosnya dan meratapi kekecewaanya yang berujung pada tangisan penyesaan tiada arti.
TOK!! TOK!! TOK!!
Suara pintu kamar kos Rara di ketuk oleh seseorang yang berada di depan. Rara hanya mnedengarkan tanpa menyahut. Kedua matanya menatap ke arah jam weker yang ada di atas meja rias itu.
Pukul 15.00 WIB itu tandanya baru saja mau menjelang sore hari tapi seperti sudah lama sekali.
Suara ketukan di pintu kamar itu semakin keras. Namun, tidak ada panggilan dari arah luar. Biasanya bila itu kekasih Rara yang datang tentu akan memanggil namanya atau menelepon melalui ponselnya.
Rara membuka tas cantiknya dan berusaha mengambil ponsel dari dalam tas untuk mengecek beberapa notifikasi yang masuk.
"Buka pintunya atau aku dobrak dari luar!! Aku tahu kamu ada di dalam!! Buka pintunya Rara!!' teriak Hera, istri Pak Udin.
Rara cukup terkejut dengan teriakan Hera. Tubuhnya yang tadimasih terlentang pun langsung terduduk dengan cepat. Semua korden masih tertutup, tapi alas kaki Rara memang ada di luar dan motor maticnya belum di masukkan ke dalam garasi kos. Jadi amat mudah mengetahui keberadaan Rara.
Nomor itu tersambung dan langsung menyambung pada Teddy kekasih Rara.
"Hallo, kenapa Ra?" jawab Teddy dari arah seberang sambungan telepon itu.
Suara di belakang Teddy nampak sangat ramai, sudah bisa di apstikan Teddy tidak sedang berada di rumah.
"Teddy ... kesini sebentar. Ada Bu Hera, istrinya Pak Udin," ucap Rara pelan setengah berbisik.
"Ada apa? Kenapa Bu Hera ke kos kamu? Kamu ada masalah?" tanya Teddy ikut cemas.
Teddy sendiri pernah memergoki Rara sedang makan siang berdua dengan Pak Udin di sebuah restoran swikee.
"Nanti aku ceritakan," jawab Rara dengan cepat.
__ADS_1
"Tunggu, aku kesana. Aku lagi di warung angkringan, tidak jauh dari kos kamu. Satu menit!!"ucap teddy cepat.
Teddy merasaka ada sesuatu yang tidak beres pada Rara hingga Bu Hera, istri Pak Udin rela datang untuk menemui Rara.
Tidak sampai lima menit. Motor bebek Teddy sudah terparkir di depan kos Rara. Teddy masuk ke dalam lorong kos dan melihat ada seoarng wanita paruh baya yang masih menggedor pintu kamar kos Rara.
Kos itu masih tampak sepi karena kebanyakan masih bekerja dan belum pulang ke kos.
"Ada perlu apa Anda dengan Rara, Nyonya?" ucap Teddy di belakang Bu Hera.
Bu Hera nampak terkejut dan berbalik badan menatap Teddy yang juga menatap tajam Bu Hera.
"Siapa kamu, anak muda?" ucap Bu Hera dengan ketus.
"Kenalkan saya Teddy, calon suami Rara," ucap Teddy dengan mantap dan penuh keyakinan.
Bu Hera nampak tersenyum sinis, bukan kaget atau bingung.
"Oh, kamu juga korbannya Rara? Sama seperti suamiku yang telah menjadi korban pesona Rara!!" teriak Bu Hera dengan suara keras.
"Saya calon suaminya!! Bukan korban pesona Rara. Kita sudah lama menjalani hubungan, sekitar lima tahun kami berpacaran," ucap Teddy memberikan informasi tentang kepemilikan Rara atas dirinya.
"Masih kecil masih saja mengurusi cinta. Lihat kelakuan Rara yang yang terus saja menggoda suami saya dan memeloroti uang suami saya," tegas Bu Hera.
"Maaf sebelumnya Nyonya. Saya tahu dan kenal baik, bagaiman sifat Rara. Rara bukan wanita penggoda dan bukan wanita penguras harta lelaki kaya. Saya tegaskan sekali lagi, Rara bukan wanita tidak baik, sepert apa yang andasebutkan tadi!! Rar wanita baik-baik yang akan menajdi istri saya di masa depan!! Paham!! Silahkan anda pulang!!" tegas Teddy.
Teddy tidak mau berlama-lama agar Bu Hera segera angkat kaki dari kos Rara dan berheti menghakimi Rara yang terus saja di pojokkan sebagai wanita penggoda atau wnaita simpanan Pak Udin.
Bu Hera terlihat nampak kesal. Seharusnya Bu Hera datang untuk mempermalukan Rara di depan teman-teman se kosnya. Tapi kali ini, rencana Bu Hera tidak berjalan dengan mulus. Bu Hera pergi dan berjalan menuju ke arah luar kos. Teddy terus mengekor kepergian Bu Hera, agar kejadin seperti ini tidak terulang kembali.
Kini Teddy malah dilema dihadapkan pada keadaan. Putus atau Terus!!.
__ADS_1