MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
26


__ADS_3

Baihaqi menatap pintu rumah bambu yang di tutup dengan keras oleh Rara.


'Salahku apa, Ra? Kenapa kamu begitu marah kepadaku?' batin Baihaqi di dalam hatinya.


Baihaqi membalikkan tubuhnya dan kembali ke Pondok Pesantren dengan perasaan yang tak karuan. hari ini sudah beebrapa akli, ia menyakiti Rara, membuat kecewa wanita hamil itu. Langkahnya begitu gontai, antara logika dan perasaannya terasa mengganggu jiwa dan hatinya.


Sama seperti Rara yang sudah terbaring di tempat tidurnya, lampu kamarnya sudah dimatikan. Kedua matanya tidak mau terpejam. Hatinya merasa bersalah telah bersikap kurang baik terhadap Baihaqi tadi.


Cahaya lampu menyorot masuk ke dalam kamar tidur Rara melalui celah-celah jendela. Air mata Rara tiba-tiba saja sudah penuh di pelupuk matanya.


'Maafkan aku Mas Bai. Bukan maksudku untuk bersikap tidak baik kepadamu, tapi aku benar-benar tidak ingin membuatmu kecewa dengan aku nantinya,' batin Rara di dalam hatinya.


Rara berusaha memejamkan kedua matanya namun tetap saja tidak bisa, malahan air matanya menetes begitu saja luruh membasahi bantal yang dipakai untuk tidur. Tubuhnya menyamping, perut besarnya disangga oleh guling agar terasa nyaman dan tidak sakit. Satu tangannya mengusap lembut perut buncit itu penuh kasih sayang.


'Kamu terlalu baik untukku Mas. Perbedaan prinsip juga membuat kita akan semakin menjauh dan tidak akan mungkin bersama. Kamu itu ustad, tentu bisa mendapatkan yang lebih baik dari aku,' batin Rara semakin pedih.


Rasanya sudah campur aduk. Kebaikan yang selama ini diterima oleh Rara tentu bukan sekedar kebaikan semata. Rara merasa tujuan Baihaqi memnag untuk mendapatkan dirinya dan untuk menggantikan posisi Umi Fatima untuk ketiga anaknya.


Rara menggelengkan kepalanya pelan. Air matanya malah semakin luruh deras.


Tak terasa sudah menjelang pagi. Rara begitu pulas tertidur, setelah semalaman menangis hingga membuat kedua matanya bengkak. Tubuhnya terasa nyeri di bagian samping, karena tidurnya tidak berpindah dan terus menghadap ke kiri.


Sayup-sayup terdengar suara ketukan pintu yang dengar halus namun tegas. Langkah kaki seseorang berjalan menghampiri ke arah pintu depan yang diyakini Rara adalah Emak Warti dan tau yang datang pasti Baihaqi yang akan mengantarkan Rara untuk pulang ke kampung. Rara menyimak obrolan pagi itu dengan seksama.


"Assalamualaikum, Emak, Rara sudah bangun?" tanya Baihaqi pelan.


"Waalaikumsalam, belum Pak Ustad," jawab Emak Warti pelan.


Emak Warti menutup pintu depan setelah Baihaqi masuk kedalam dan duduk di teras samping yang sekaligus sebagai ruang makan dan bersantai.


Sarapan pagi sudah disiapkan di meja makan. Baihaqi duduk di kursi santai itu sambil menatap sawah yang mulai menguning terlihat saat cahaya matahari mulai menyorotkan sinarnya ke bumi.

__ADS_1


Rara sudah bangun dan bangkit dari tempat tidurnya yang masih memberikan kenyamanan.


"Apa perlu dibangunka Pak Ustad?" tanya Emak Warti pelan sambil membawakan teh panas untuk Pak Ustad.


"Tidak usah. Biarkan saja. Gimana bangunnya saja. Boleh saya minta kopi hitam manis yang panas," pinta Baihaqi.


Emak Warti hanya mengangguk pelan dan kembali ke dapur untuk menyiapkan kopi hitam manis permintaan majikannya itu.


Rara sudah keluar dai kamarnya dan sudah berada di dapur. Permintaan Baihaqi sudah di dengarnya, dan Rara mencoba membuatkan kopi hitam manis racikannya sebagai ucapan terima kasih.


"Lho Non Rara, sedang buat apa?" tanya Emak Warti yang terkejut melihat Rara sudah berada di dapur dan mercik kopi hitam ke dalam cangkir.


Rara menoleh ke arah Emak Warti dan tersenyum lebar.


"Bukankah Pak Ustad meminta kopi hitam?" tanya Rara memastikan kepada Emak Warti.


Emak Warti hanya mengangguk pelan, mengiyakan ucapan Rara.


Emak Warti menatap Rara. Seolah tidak percaya dengan apa yang dilakukan Rara saat ini. Menurut Pak Ustad Baihaqi, Rara adalah wanita manja yang tidak bisa melakukan pekerjaan rumah karena sudah terbiasa dan sibuk menjadi wanita karir.


Rara menoleh ke arah Emak Warti yang terdiam di sudut dapur.


"Kenapa? Kok malah diam? Sarapan pagi ini apa?" tanya Rara pelan kepada Emak Warti.


"Anu, itu Non, cuma roti tawar saja," jawab Emak Warti pelan.


"Hanya roti? Apa tidak ada nasi?" tanya Rara pelan.


"Ada, Non. Tapi nasi kemarin," ucap Emak Warti pelan.


"Tidak apa-apa. Mana? Aku akan buat nasi goreng," ucap Rara pelan.

__ADS_1


Emak Warti langsung menyiapkan nasi tersebut di piring. Memang tinggal sedikit hanya tersisa satu piring lebih.


Rara meletakkan dua gelas di nampan agak besar. Satu gelas susu putih untuk dirinya sendiri dan satu cangkir kopi hitam manis panas.


Dengan gemulainya, Rara memotong bawang merah dan bawang putih serta cabai rawit. Wajan untuk memasak nai goreng sudah berada di atas kompor gas, Rara mengambil mentega danmulai menumis semua isrisan bumbu dapur tadi hingga wangi lalu memasukkan dua butir telur denagn kocok lepas dan irisan daun bawang yang kemudia dia duk menjadi satu di wajan. Nasi putih itu kemudia dimasukkan ke dalam wajan, di beri saos samabal dan kecap serta bumbu instan lainya hingga matang.


Dua porsi ansi goreng sudah ada dia atas nampan besar itu. Rara mengangkatnya dan mengantarkan ke arah Baihaqi sedang melamun.


"Hai ... Mas Bai. Tidak baik melamun pagi-pagi," ucap Rara menyapa hingga mengagetkan Baihaqi yang sedang di alam bawah ar.


Baihaqi emenoleh ke asal suara dan emnatap leka Rara yang terlihat cantik alami tanpa polesan. Tubuhnya tampak seksi dengan balutan daster setengah betis yang menyembulkan perut buncitnya itu.


Rara meletakkan nampan dan memindahkan satu per satu kedua piring ansi goreng dan kedua gelas berisi minuman sesuai keinginan.


"Hai Ra, kamu ...." ucapan Baihaqi terhenti. Tidak pantas rasanya emmuji Rara secara berlebihan.


Rara meletakkan nampannya di temapt lain dan duduk berhadapan dengan Baihaqi. Tatapannya semakin lekat.


"Kenapa tidak diteruskan? Aku kenapa?" tanya Rara dengan sedikit pensaran.


Baihaqi hanya tersenyum dan menatap piring yag berisi nasi goreng sudah ada di depannya.


"Nasi goreng?" tanya Baihaqi pelan kepada Rara yang sudah mengaduk dan meniup nasi goreng yang ada di depannya.


"Iya. Kamu tidak suka?" tanya Rara yang sedikit kecewa.


"Apa kamu yang membuatnya?" tanya Baihaqi penasaran.


Rara mengangguk pelan.


"Iya, nasi goreng dan kopi hitam itu hasil racikan aku sendiri. Semoga Mas suka," ucap Rara yang antusia dn yakin dengan rasa masakannya itu. Aslinya Rara itu bis memasak, dan masakannya cukup enak, hanya saja, Rara suka malas dan mood kurang baik untuk melakukan hal-hal yng dipaksakan.

__ADS_1


Baihaqi langsung membenarkan posisinya dan mengambil sendok. Satu suapan besar di dalam sendok langsung masuk ke dalam mulutnya. Senyumnya langsung terbit dan cukup berdecak kagum dengan masakan sederhana yang dibuat oleh Rara.


__ADS_2