
Hari semakin siang bahka sudah menjelang senja. Rara masih terbaring di ranjang rumah sakit, menunggu antrian di suatu ruangan untuk operasi sesar.
Seperti yang Baihaqi katakan tadi kepada Rara. Banyak berdzikir. Setelah memutuskan untuk pindah keyakinan, Baihaqi menyaerankan setelah melahirkan Rara akan di minta untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.
Seharian ini selama puasa dan menunggu waktu untuk jadwal operasi, Rara mencurahkan semua keinginannya secara terbuka kepada Baihaqi.
Baihaqi mengajarkan dan memperkenalkan agama islam secara umum kepada Rara. Dengan pembelajaran ini, Rara benar-benar antusias untuk belajar dan mendalami ilmu agama islam.
"Ajari aku, Mas," ucap Rara pelan penuh harap.
"Dari tadi kan juga sudah diajari. Tapi kamu cukup cepat menghapal semuanya, apa sebelumnya kamu juga pernah belajar, Ra?" tanya Baihaqi dengan suara pelan.
Rara menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku tidak pernah belajar, tapi entah mengapa aku senang mengenal agama islam sejak kecil. Belum lagi keluarga besarku yang mayoritas beragama islam jadi membuatku sudah terbiasa dengan ini semua," ucap Rara dengan suara pelan.
"Bagaimana? Kamu sudah siap untuk operasi? Kamu harus banyak berdzkir dan bersholawat. Mau coba seperti apa?" tanya Baihaqi dengan pelan.
Rara pun mengangguk pelan tanda setuju.
"Aku mau Mas Bai. Ajari aku semuanya. Hatiku lebih tenang sekarang, dan aku sepertinya lebih pasrah dengan ini semua," ucap Rara pelan.
"Aku ke mushola dulu ya, lalu maubeli makanan. Kamu aku tinggal tidak apa-apa, Ra?" tanya Baihaqi dengan suara pelan. Jujur tidak tega rasanya meninggalkan Rara sendirian di ruangan itu, tapi adzan dzuhur sudah sejak tadi dan Baihaqi sudah terlambat untuk sholat wajib dan sudah mau memasuki waktu ashar.
"Aku baik-baik saja kok," ucap Rara dengan lembut menjawab.
Rara memang sudah terbiasa dan sudah leih baik serta tenang. Rasa mulas dan nyeri itu hanya dirasakan dan ditahan tanpa meringis dan tanpa mengeluh.
__ADS_1
"Yakin? Kamu tidak apa-apa?" tanya baihaqi pelan lebih memastikan jawaban Rara.
"Beneran Mas Bai. Doain aja aku, semoga semuanya lancar, Mas," ucap Rara pelan lebih berbesar hati.
Baru juga akan berbalik arah meninggalkan Rara di ruangan besar itu sendirian. Ada seorang perempuan yang masuk ke ruangan itu untuk mendapatkan peraatan intensif. Perempuan itu ditemani oleh seorang laki-laki yang kemungkinan besar adalah suaminya. Tapi, perutnya tidak sebesar Rara, padahal ruangan ini adalah ruangan khusus ibu hamil, atau mungkin perempuan itu habis terkena musibha keguguran atau hal lain.
Pandangan Bihaqi bertemu dengan pandangan lekat lelaki yang mengantarkan istrinya ke ruangan itu. Keduanya saling menyapa lewat senyuman. Rara menatap lelaki itu yang sekilas juga lelaki itu menatap Rara dan memberikan senyum manisnya.
Baihaqi menoleh ke arah Rara yang masih menatap lelaki itu dengan penasaran.
"Kamu kenal? Kenapa menatapnya sampai seperti itu?" tanya Baihaqi pelan menunggu awaban Rara. Ada sedikit rasa cemburu saat perempuan yang disayanginya begitu terlihat menarik impati lelaki lain.
Rara pun menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak kenal, Mas. Cuma kayak pernah lihat, tapi dimana, aku juga lupa," jawab Rara dengan jujur.
"Aku gak kenal. Ya sudah, katnya mau ke mushola," ucap Rara pelan mencari topik pembahasan lain.
Rara memang tidak mengenalnya, tapi pandangan itu seprti pandangan berarti. Ada rasa yang aneh bergetar di dalam hati Rara kepada lelaki itu. Benar kata Baihaqi tadi, kalau tatapan keduanya seolah terasa hangat dan terasa sudah mengenal dan akrab.
Setelah kepergian Baihaqi. Rara hanya bisa meatap jendela ruangan itu yang menghubungkan ke arah luar. Waanita yang berada tepat di bed seelahnya sudah beberapa kali ini berteriak dengan histeris. Beberapa perawat dan dokter berusaha membuat wanita itu tenang.
Rara menyimak obrolan singkat antara dokter kandungan dengan beberapa prawat yang ditugaskan untuk membantu memegang wanita itu hingga dokter kandungan itu memberikan suntikan penenang kepada wanita tersebut.
Tampak lelaki, yang sepertinya suami dari wanita yang sedang di rawat di bed sebelahnya itu memegang ponsel di dekat telinganya. Terlihat sangat serius sedang menelepon dan berbicara dengan sangat tegas. Kedua matanya nampak berputar dan menatap ke sekeliling rumah sakit itu seperti sedang kebingungan. Satu tangannya lagi sedang menggandeng seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia sekita tiga tahun.
Rara hanya menatap serius kepada laki-laki yang tepat ada di depannya dan hnaya terhalang oleh kaca tembu pandang antara ruangan rawat inap itu dengan koridor selasar rumah sakit itu.
__ADS_1
sayu-sayup terdengar pembicaraan lelaki itu denga seseorang di sambungan teleondiseberag sana.
"Aku juga tidak tahu, tadi Fatar ke kamar mandi dan jatuh, pas dilihat ada flek. Panik dong, malah jadi histeris dia. Bingung kalau begini keadaanya," ucap lelaki itu dengan lantang.
Ada kepanikan yang terlihat jelas di wajahnya. Lelaki berwajah sabar dengan penuh ketulusan itu terlihat sedang cemas dengan keadaan istrinya.
Rara membalikkan tubuhnya dan berganti menyamping ke arah kanan sambil menatap wanita yang sedang terpejam di sebelhanya melalui celah kain yang digunakan sebagai sekat untuk menutupi antara bangsal yang satu dengan yang lain.
Seolah tahu dirinya sedang ditatap dengan lekat oleh makhluk cantik yang berada di bed sebelahnya. Fatar pun menoleh ke arah Rara, lalu tersenyum. Wajahnya sudah tidak histeris dan nampak lebih tenang.
"Mbak mau melahirkan?" tanya wanita itu tiba-tiba kepada Rara yang masih menatap wanita itu dengan pandangan kosong. Entah kemana pikiran Rara saat itu melayang.
"Eh ... Maaf saya melamun. Iya saya menunggu jadwal antrian untuk operasi sesar," jawab Rara dengan lembut.
Satu tangan Rara menggapai kain panjang yang menyekat keduanya hingga terbuka lebar dan mereka berdua bisa saling betemu mata dan berkomunikasi dengan baik.
"Oh .. Mau sesar? Sudah waktunya melahirkan?" tanya wanita itu dengan antusias.
Rara dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Usia kandunganku saja belum genap tujuh bulan dan ini sebenarnya mengandng banyak resiko tinggi dan besar, tapi memang keadaan yang tidak memungkinkan. Berharap semuanya baik-baik saja," ucap Rara pelan menjelaskan tentang keadaannya.
"Masya Allah. Maafkan saya ya, mbak. saya tidak tahu, jika pertanyaan saya membuat hati mbak semakin sedih," ucap wanita itu pelan.
Fatar menjadi diam dan tidak berani untuk bertanya hal lain yang bersifat pribadi.
"Tidak apa-apa, Mbak. Saya justru senang jika bisa berbagi pengalaman agar perempuan-perempuan di luaran sana jangan sampai mengikuti apa yang sedang saya alami," suara Rara begitu sangat lantang hingga dadanya terasa esak mengingat kembali kekecewaan yang dirasakan di dalam hatinya.
__ADS_1
"Maafkan saya, Mbak. Nama saya Fatar, dan itu suami saya, Rafli," ucap fatar pelan sambil menunjuk ke arah Rafli yang duduk termenung menemani anak lelakinya di dekat taman.