
Rara tinggal menunggu satu antrian lagi. Setelah ini, dirinya yang masuk ke meja ruang operasi untuk operasi besar sesar.
Usia kandungannya belum genap tujuh bulan, namun mau tidak mau harus dipaksa untuk mengeluarkan bayinya karena ada hal yang bisa membuat kedua nyawa itu melayang jika tidak di tindak lanjuti dengan baik dan waktu yang tepat. Intinya tidak boleh sampai terlambat.
Baihaqi berada di luar ruangan operasi. Sejak tadi dirinya mondar mandir di sekitar ruangan itu dengan debaran jantung yang tidak menentu dan hati yang begitu sangat cemas.
"Hei, Baihaqi ..." pnggil Karin dengan suara pelan dari arah ruangan operasi itu namun keluar dari pintu yang berbeda. Pintu khusus untuk dokter dan perawat serta tim medis lain yang berkepentingan.
Baihaqi langsung menoleh ke arah karin yang sudah berdiri tepat di belakangnya masih lengkap menggunakan pakaian khusus untuk tugas melakukan tindakan operasi besar di ruang operasi.
"Hei, Karin," jawab Baihaqi lirih yang sedikit kaget dengan kedatangan Karin.'
"Kamu cemas, Bai?" tanya Karin dengan suara pelan.
Baihaqi mengangguk pelan dan begitu pasrah.
"Aku tidak hanya cemas dan khawatir tapi aku takut," lirih Baihaqi dengan bibir sedikit kaku dan bergetar.
"Takut? Takut kenapa? Apa yang kamu takutkan?" tanya Karin pelan sambil membuka sarung tangan plastik yang dipakainya lalu di buang di tempat pembuangan sampah medis yang telah di khususkan.
"Takut ada sesuatu yang tidak baik terjadi kepada Rara dan bayinya," ucap Baihaqi pelan.
"Rara itu bukan siapa-siapa kamu, dan bahkan dia hanya orang lain yang baru saja kamu kenal. Kamu membawa dia saja dan menolongnya itu sudah cukup karena rasa kemanusiaan tapi kamu tidak perlu se-khawatir ini," ucap Karin dengan sedikit kesal karena kecewa dengan sikap baik dan ramah Baihaqi terutama untuk Rara.
"Aku mencintainya Karin. Rara itu berbeda dengan wanita lainnya yang pernah aku kenal, bahkan dengan Fatima pun sangat berbeda. Rara itu unik," ucap baihaqi dengan tegas.
Karin hanya menatap lekat kedua mata Baihaqi. Dia tidak kaget hanya sedikit kecewa daan kesal. Langkahnya dan pendekatannya selama ini hanya dianggap biasa dan tidak ada sesuatu yang spesial.
"Secinta itu kamu dengan Rara, Bai?" tanya Karin yang mengepalkan tangan kanannya dengan sangat erat.
__ADS_1
Baihaqi menganggukkan kepalanya pelan dan berusaha bersikap ramah dan baik kepada Karin.
"Bukan hanya sayang saja tapi juga aku sangat mencintainya. Jadi seharusnya kamu bisa paham dengan apa yang aku rasakan saat ini, Karin," tegas Baihaqi yang memang terlihat frustasi.
Karin hanya bisa menarik napas panjang lalu berlalu meninggalkan Baihaqi sendirian di lorong rumah sakit tepat di depan ruang operasi Rara. Jawaban Baihaqi hanya akan membuat Karin semakin sakit hati dan tersiksa karena kecewa.
Baihaqi hanya menatap aneh punggung Karin yang tiba-tiba berlalu dan semakin jauh tanpa berpamitan atau mengucap kata hanya sekedar basa-basi.
Bibir Baihaqi terus saja bergerak-gerak mengucap asmaul husna dan berdoa untuk kelancaran persalinan Rara.
Sudah dua jam Baihaqi menunggu di depan ruangan operasi itu untuk menunggu Rara. Cemas, panik, takut, bingung, penasaran dan lelah campur aduk menjadi satu.
Rara sudah masuk ke dalam ruangan operasi. Kini tubuhnya sudah berada di ranjang meja operasi. Tubuhnya sudah polos dan hanya menggunakan baju operasi berwarna hijau.
Ada satu dokter kandungan yang bertugas untuk memimpin jalannya operasi sesar tersebut mdengan dibantu oleh empat asisten dokter lainnya termasuk perawat.
Satu perawat bertugas untuk membantu dokter kandungan tersebut untuk melayani kebutuhan jalannya operasi.
Satu perawat lainnya bertugas untuk membawa bayi yang sudah diangkat dari dalam perut Ibu.
Rara sudah menerima suntikan anestasi sebagai bius total untuk menjalani operasi sesar. Tubuhnya sudah kaku, dan sudah tidak bisa merasakan apapun bila ada sesuatu hal yang menyentuh kulitnya, baik sentuhan lembut maupun sentuhan yang kasar sekalipun.
Kedua mata Rara terbuka lebar menatap kaca yang ada di atasnya sambil menatap ke arah perutnya yang buncit yang sebentar lagi akan di bedah.
"Nyonya Rara, apakah sentuhan ini terasa?" tanya seorang perawat wanita kepada Rara yang sudah terdiam merasakan sakit di punggungnya setelah mendapatkan suntikan anestasi sebanyak tiga suntikan.
Rara yang memang masih tersadar dengan kondisi tubuh yang masih stabil pun hanya bisa mengangguk pasrah. Tubuhnya seolah berat bagaikan batu dan tidak bisa di gerakkan dengan bebas.
"Kalau cubitan ini? Apakah masih terasa?" tanya perawat wanita itu kembali kepada Rara.
__ADS_1
Lagi-lagi Rara hanya menjawab dengan gelengan kepala saja.
"Kalau pukulan ini?" tanya perawat wanita itu kebali bertanya sambil memukul kedua paha dan kaki Rara dengan sangat keras.
Rara pun hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Sama sekali tidak terasa. Semuanya terasa sangat kebas dan seperti keram di gigit semut saja. Tidak bisa merasakan sakit, tidak bisa merasakan gatal, dan tidak bisa merasakan apapun kecuali rasa dingin," ucap Rara lirih menjawab pertanyaan perawat wanita itu.
Jawaban yang sangat jujur dan polos dengan apa yang dirasakan oleh Rara saat ini.
Rara memang sudah siap secara lahir dan batin. Sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi di hati dan pikirannya.
Dokter Kandungan itu sudah siap, satu tim nya baru saja berkumpul di sudut ruangan untuk membagi tugas dan berdoa bersama sesuai dengan kepercayaan mereka masing-masing agar semua yang dilakukan dan di kerjakan oleh satu tim itu dapat berjalan dengan baik dan sangat lancar.
Dokter kandungan itu tersenyum lebar ke arah Rara yang sejak tadi hanya terdiam karena merasakan sesuatu hal yang tidak biasa.
"Kamu sudah siap? Jangan takut, semuanya akan berjalan sesuai tahapan dengan baik dan lancar. Jangan ada yang kamu takutkan dan tetap tenang. Bismillah kita mulai sekarang," ucap Dokter Kandungan itu dengan sangat mantap.
Rara mencoba tersenyum dan mengangguk pelan. Di dadanya mulai terasa mual dan eneg karena efek samping dari suntikan anestesi itu.
"Nyonya Rara, Kalau merasakan sesautu hal yang tidak biasa bisa bilang pada saya, termasuk ingin mengeluarkan isi perut atau apapun itu," ucap perawat laki-laki yang berdiri di samping Rara smabil membawa satu baskom dan handuk kering bila diperlukan nanti.
"Iya, ini saya aga sedikit pusing dan mual," ucap Rara lirih yang mulai merasakan keplanya berputar.
Menurut mensin pengukur kondisi tubuh seseorang. Kondisi Rara sangatlah stabil, namun efek samping dari suntikan anestasi itu memang berbeda-beda kepada setiap pasien.
Mungkin Rara yang sempat stres karena pikiran membuat kondisinya sedikit menurun.
Dokter Kandungan itu sudah mulai membedah perut Rara dengan pisau khusus bedah. Rara menatap sinar lampu dan kaca yang menyorot persis di atas perut besarnya itu.
__ADS_1