MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
17


__ADS_3

"Ingin ketemu kamu saja. Membawakan sarapan. Betul saja, sudah jam segini kamu tidak mebeli apa-apa untuk amunisi pagi hari. Aku lihat malam pu kamu tidak makan hanya minum susu. Kamu itu sayang dengan bayimu tidak?" ucap Baihaqi sedikit galak.


Baihaqi hanya ingin peduli dengan semua perhatian dan kasih sayang Baihaqi untuk Rara.


Rara menundukkan kepalanya pelan. Semua ucapan Baihaqi memang tepat dan benar. Tapi, bukan Rara tidak saynag pada bayinya, karena ada alasan lain yang membuat Rara tidak sering makan. JIka menyusahkan Dyah terus, juga tidak mungkin. Dyah juga butuh waktu banyak untuk mengurus Cantika dan suaminya.


"Mas kan tahu. Kondisi aku sekarang seperti ini. Perutku semakin buncit dan besar seiring pertumbuhan bayi di dalam perutku," ucap Rara pelan.


" Lalu? Kamu malu?" tanya Baihaqi pelan.


Rara menatap tajam ke arah Baihqi.


"Tentu saja aku malu!! Kenapa hal itu harus Mas pertanyakan? Lihat perutku sudah besar, dan aku harus menutupinya dengan susah payah," ucap Rara dengan kesal.


"Sabar. Allah akan menutup aibmu, jika kamu mau bertobat, Ra," ucap Baihaqi pelan.


"Apa maksudmu Mas?" tanya Rara bingung.


"Kenapa kmu harus risau dengan ucapan orang lain bahkan mereka tidak bisa membantumu di saat kamu terpuruk seperti ini. Tapi mereka malah mencari suatu kesalahan yang kamu buat. Jadi untuk apa dipedulikan? Mereka mungkin lebih banyak kesalahan, hanya saja kamu menutup mata dan tidak pernah ign tahu masalah mereka," ucap Baihaqi menjelaskan.


"Tapi?" ucap Rara lirih dan tampak ragu. Rara memang tidak pernah mau peduli dengan urusan orang lain, tapi jujur Rara itu terlalu pekadan sensitif terlebih Rara memiliki satu kesalahan yang fatal. Seolah seluruh isi dunia menertawakan dia.


"Tidak perlu ada kata tapi!! Hanya ada kata aku pasti bisa!! Itu semangat hidupmu. Pikirkan dirimu sendiri dan anak yang akan kamu lahirkan. Aku siap menerima kamau apa adanya, Ra. Menerima anakmu sama seperti anakku sendiri dan tidak akan pernah aku beda-bedakan," ucap Baihaqi dengan mantap.


Tekad Baihaqi semakin bulat untuk menikahi Rara nanti setelah Rara melahirkan. Sisa waktu yang ada sebleum Rara melahirkan akan digunakan untuk saling mengenal dan mempersiapkan diri untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Lebih baik lagi, jika Rara maubelajar agama dan memulai kehidupannya dengan lembaran baru dan semua dari nol.


"Seyakin itu kamu, Mas? Aku belum menjawab mau atau tidak? Aku bahkan tidak sedang ingin memikirkan itu," ucap Rara pelan. Selera makannya hilang begitu saja hingga piring itu di letakkan begitu saja oleh Rara.


"Habiskan. Anakmu masih lapar," tegas Baihaqi kepada Rara.

__ADS_1


Rara menggelengkan kepalanya pelan.


"Akusudah tidak selera makan. Mau minum susu saja," ucap Rara pelan sambil bangkit berdiri dengan susah payah. Tubuhnya yang sedikit berisi dengan perut membesar membuat Rara makin kesulitan untuk beraktivitas.


"Sudah biar aku saja yang membuatnya," ucap Baihaqi pelan dan dengan cepat berdiri lalu mengambil gelas dari arahdapur dan menuangkan beberaa susus bubuk khusus ibu hamil ke dalam gelas.


baihaqi mengisi gelas itu dengan air panas dari dalam dispenser. Lalu mengaduknya hingga rata.


"Minumlah," ucap Rara pelan.


"Terima Kasih, Mas Bai," ucap Rara pelan.


Baihaqi mengangguk pelan. Kedua matanya mengedar, melihat tumpukan baju di atas kasur dan koper yang belum tertata rapih.


"Kamu jadi ingin pulang?" tanya Baihaqi dengan suara lembutnya. Baihaqi menunjuk ke arah koper besar yang masih menganga dan belum terisi penuh dengan pakaian.


Rara yang baru sajamenghabiskan susu hamil itu mengangguk pelan dan menatap ke arah telunjuk Baihaqi yang mengarah pada koper besar yang masih terbuka.


"Aku antar saja? Maksudnya aku ikut pulang ke kampungmu?" jelas Baihaqi dengan nada memohon.


Rara tersenyum dan terkekeh pelan. Melihat senyuman itu, hati Baihaqi kembali merasakan desiran aneh yang terasa mengalir di dalam tubuhnya.


"Mas mau mengantar aku ke kampung? Lalu? Mau apa?" tanya Rara lembut.


Jujur, Rara senang ada yang peduli. Apalagi ada yang mau mengantarkan Rara pulang, tentu saja Rara tidak akan repot membawa barang ke stasiun kereta lalu berjalan ke gerbong. Sungguh melelahkan sepertinya.


"Ya, Aku akan bilang kalau aku calon imammu? Apa kamu keberatan?" tanya Baihaqi menatap lekat kedua mata Rara. Melihat apa yang sedang dipikirkan wanita hamil itu.


"Jangan Mas. Aku tidak mau kamu masuk ke dalam masalahku. Mas Bai orang baik, tentu akan mendapatkan wanita baik dan tidak hina seperti aku," ucap Rara pelan.

__ADS_1


"Kamu tidak hina, Ra. Kamu bahkan mulia di hadapanku. Kamu wanita tangguh dan tegar dengan segala kesempurnaan yang kamu miliki. Banyak lelaki menginginkanmu, Ra. Kamu cantik, baik, ramah dan tulus. Itu yang aku suka darimu sejak kita bertemu," jelas Baihaqi pelan.


"Sudahlah Mas. Jangan membuat aku senang," ucap Rara singkat meletakkan gelas yang sejak tadi masih di pegangnya.


"Aku tidak membuatmu senang. Tapi itu semua jujur dari hati yang paling dalam yang aku rasakan. Aku malah tidak tahu bagaimana harus mengupkpkannya," ucap Baihaqi pelan.


Suara riuh dari arah luar rumah kontrakan Rara. Ada beberapa ibu-ibu kompleks yang menggedor pintu kamar Rara dengan cukup keras.


DUG!!


DUG!!


DUG!!


"Rara!! Kamu harus keluar dari kontrakan ini. Wanita murahan seperti kamu tidak pantas berada di daerah ini!!!" teriak satu orang Ibu yang amat dikenal Rara.


'Itu suara Bu Sammy. Suarnya begitu keras dan sagat lantang,' batin Rara di da;am hatinya.


"Ra ... Kamu tidak apa-apa. Biar aku yang hadapi," ucap BAihaqi pelan berusaha melindungi Rara..


Mimpi apa semalam, kenapa kejadian buruk ini menimpanya kembali saat Rara berusaha bangkit dan memulai kehiduapnnya dengan lembaran baru.


Rara hanya terdiam, mendengar suara berisik dari arah luar dan gedoran pintu depan rumah kontrakannya.


"Aku takut, Mas. Aku harus bagaimana?" tanya Rara panik dan cemas. Wajahanya seketika memucat dan satu tangannya memegang perut besarnya yang terasa keram kembali karena setres.


"Biar aku yang hadapi. Kamu tetap diam disini. Jangan ikut keluar. Aku pastikan semua baik-baik saja. Asal kamu yakin kepadaku? Bagaimana?" tanya BAihaqi meminta persetujuan pada Rara.


Tidak ada lagi yang bisa lakukan kecuali mengangguk pasrah dengan permintaan Baihaqi yang begitu tulus ingin menolongnya.

__ADS_1


Mendapat jawaban anggukan kepala. Baihaqi pun menarik napas panjang dan menghembuskan pelan dari hidungnya. Dirinya juga panik, takut masyarakat itu murka dan tidak bisa diajak duduk bersama untuk sekedar emncari solusi. Tapi, Baihaqi memiliki cara sendiri untuk membungkam semua ocehan para tetangga dan orang-orang yang menghasut untuk mengusir Rara.


__ADS_2