
"Mas, Aku tutup dulu. Kita bahas lagi lain waktu. Aku hanya tidak ingin muncul masalah baru, dan aku yang terkena sasarannya," ucap Rara pelan.
"Baiklah. Kamu hati-hati, tolong kabar-kabari Mas tentang keadaan kamu, Mas selalu khaatir dengan keadaan kamu, Ra. Baik-baik disana dan jaga kesehatan kamu," ucap Rafli pelan memberikan nasihat.
Kata-kata nasihat yang selalu membuat Rara tidak bisa move dari rasa nyaman dengan Rafli. Cinta dan kasih sayang yang malah makin tumbuh subur kepada suami orang yang sudah jelas-jelas tidak akan mungkin bisa Rara raih. Kalaupun bisa tentu akan banyak rintangan dan ujian, belum lagi makian dan hinaan yang satu paket malah akan membuat Rara senidiri tersakiti, kecewa dan bahkan menyesali jika rasa itu selalu tumbuh hingga sulit untuk melepaskan.
"Aku pasti berkabar dnegan Mas. Mas juga hati-hati dan jaga kesehatan, Assalamualaikum," ucap Rara pelan mengakhiri teleponnya dengan mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam," jaabrafli dengan lembut.
Suara khas milik Rafli selalu nyantol dan terngiang-ngiang di telinga Rara. Seolah gelombang suara Rafli mampu menembus gendang telinga Rara hingga menusuk hati Rara yang paling dalam. Perasaan Rara yang halus seperti terbius dengan semua yang dimiliki oleh Rafli tanpa terkecuali telebih soal suara.
Suara khas, yang lembut, enak di dengar dan selalu tepat dalam pnggunaan nada. tarikan napasnya yang selalu pas membuat irama lagu itu semakin membuat Rara terpesona.
Rara mematikan layar ponselnya dan masih tetap bersanadar di jok mobilnya. Hatinya semakin tidak karuan rasanya. Entah harus bagaimana Rara menyikapi perjalanan cintaya kali ini. Seolah Rara mengulang kejadan masa lalu yang juga salah, yang membuat berbeda adalah letak rasa cintanya kini ke Rafli benar-benar tulus, kalau dulu Rara tidak pernah mencintai bosnya sendiri.
Jadi, beberapa tahun yang lalu saat Rara masih duduk di bangku kuliah semster akhir dalam penggarapan skripsi. Rara magang di sebuah perusahaan jasa telekomunikasi di kota kelahiran Sang Mama. Tiga bulan lamanya Rara menerapkan sebuah sistem yang akhirnya membuat slah satu bos sekaligus pendamping skripsi di kantor itu menyukai Rara.
Saat itu, Rara sama sekali tidak menyadari dengan rasa cinta bosnya kepada dirinya itu beneran serius, dan bukan sekedar cinta dalam masa puber kedua. Secara terang-terangan bosnya meminta Rara untuk menjadi istri keduanya.
TOK!!
TOK!!
TOK!!
__ADS_1
Suara ketukan di kaca jendela samping membuat lamunan Rara pun buyar. Rara menoleh ke arah sumber suara dan membuka kedua matanya dengan lebar.
Konsumen yang memesan jasa renatl mobil dan supir itu sudah siap dan ingin berangkat saat ini juga agar tidak terllau siang. Rara membuka kaca jendela mobil lalu tersenyum kearah konsumen.
"Silahkan Pak, Barang-barangnya bisa di masukkan ke dalam bagasi, biar nanti saya bantu merapikannya," ucap Rara dengan suara pelan memberikan bantuan.
"Iya Mbak. Kita berangkat sekarang saja, biar datang lebih awal dan bisa beristirahat di hotel dahulu sebelum acara di mulai," ucap konsumen itu keapda Rara.
Konsumen itu, langsung berbalik dan pergi masuk ke dalam rumahnya untuk memanggil keluarganya, istri dan ketiga anaknya yang akan ikut family gathering di kantor.
Rara turun dari mobilnya da membantu keluarga itu merapikan semua tas dan kopernya di bagasi mobil.
"Sudah semua, kita langsng berangkat sekarang?" tanya Rara pelan.
Siang itu, Rara dan satu keluarga yang menyewa jasa rentalnya pun berangkat dari Bogor menuju daerah lembang Bandung. Siang itu tampak sangat cerah dan indah. Entah bagaimana suasana lembang saat ini, apakah masih sama seperti bebrapa tahun lau terakhir Rara bermain ke kota itu bersama Cantas.
'Ahhh ... Lagi-lagi harus kepikiran lelaki yang sudah membuatku seperti ini. Tapi memang semua kenangan itu banyak saat aku bersama cantas,' batin Rara dalamhati sambil fokus menyetir di daerah tol cipularang.
Beberapa jam kemudian Rara dan keluarga tersebut sudah masuk ke daerah lembang. Saat ini sedang mencari lokasi tujuan, ada taman straberry dan di sebelahnya ada villa yang sudah di sewa oleh perusahaan untuk menginap dan mennampung seluruh karyan dan keluarga yang ikut dalam acara family gathering.
"Itu sepertinya tempatnya?" ucap Sang Istri yag sejak tadi melihat-lihat area yang akan dimasukinnya.
Sang Suami menatap ke arah jari telunjuk Sang Istri yang menunjuk ke sebuah lokasi taman straberry yang memiliki ciri-ciri yang sama persis dengan lokasi dan tempat yang di share oleh perusaaan dimana suaminya bekerja.
Tanpa banyak bicara, Rara pun membelokkan mobilnya masuk ke dalam villa tua yang sudah modernisasi dan bergaya eropa minimalis.
__ADS_1
Semua orang yang berada di dalam mobil, Bapak, Ibu, dan ketiga anaknya langsung turun dan masuk ke dalam villa tua itu lalu mencari kamar tidur yang sudah disiapkan.
"Mbak Rara, mau tidur dimana? Gabung dengan kita? Atau bagaimana? kebetulan kita hanya mendapatkan satu kamar saja disini," ucap Sang Istri dengan lembut saat menurunkan beberapa barang dari bagasi mobilnya.
Kedua mata Rara memandang berkeliling mencari tempat penginapan yang ada di sekitar sini mungkin yang dekat dengan lokasi sekalian tempat aman untuk mermarkir mobilnya.
"Mungkin saya akan menginap di tempat lain saja, atau itu di seberang villa ini, ada tempat penginapan seperti hotel. Saya disna saja, termasuk mobil saya parkir disana, nanti jika ada apa-apa? Bisa langsung kesana atau bisa chat dan telepon saya," ucap Rara menjelaskan.
Rara tidak mungkin bergabung menginap bersama dengan satu keluarga itu. Ini acara perusahaan,itu alasan pertama, lalu, mereka adalah satu keluarga, sedangkan Rara hannyalah supir atau orang lain, tidak mungkin ikut bergabung menjadi satu.
Sang Istri itu memandang ke arah seberang dan membaca plang besar yang ada di depan bertuliskan dengan besar. Hotel Mandiri, begitu nama hotel tersebut.
"Hotel Mandiri itu, maksud kamu?" tanya Sang Istri itu pelan sambil menunjuk ke arah bangunan indah yang ada di seberang jalan.
Rara mengangguk pelan dn tersenyum.
"Tidak apa-apa kan? Kalau saya memisahkan diri dan menginap disana? Banyak alasan, tentu anda tahu dan paham maksud saya," ucap Rara pelan.
Sang Istri itu tersenyum lebar dan mengangguk paham.
"Tapi, Ra, Suamiku bukan tipe lelaki seperti itu. Tidak mudah, karena dia setia," ucap Sang Istri membelanya. Tentu Sang Istri akan ters membela karena sudah mengenal Sang Suami dnegan baik.
"Semua itu bisa hadir karena ada kesempatan bukan niat atau keinginan. Jadi, jangan berikan celah untuk ada kesempatan yang bisa membuat seseorang merasa ada kelonggara dan berbuat iseng," ucap Rara pelan menjelaskan perlahan.
Maksud Rara itu baik, ingin mengubah meanset seseorang terutam para istri, kaum perempuan yang takut kehilng seorang lelaki atau suami. Apalagi, kita sebagai istri yang pasif dan tidak mandiri, yag hanya mengurus anaka dn tidak bisa menghasilkan uang sendiri, hanya mengandalkan uang dari seorang suami, karena meanset perempuan, dalam keluarga yang wajib mencari uang atau nafkah itu suami atau lelaki.
__ADS_1