MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
14


__ADS_3

"Kalau Mas sudah punya istri, cintai istri Ms dengan pebuh ketulusan. Tidak usah mencari alasan lain, karena iba atau kasihan kepadaku," ucap Rara yang sudah di penuhi dengan rasa emosi.


Rara seperti orang pintar namun bodoh. Tidak menyimak setiap ucapan Baihaqi yang menjelaskan secara gamblang, malahan mengambil kesimpulan sendiri berdasarkan pemikirannya sendiri padahal semua itu salah.


Mendengar ucapan Rara yang tidak singkron dengan penjelasannya pun membuat Baihaqi juga nampak bingung.


"Aku tidak paham dengan maksudmu, Ra? Maksudmu apa?" tanya Baihaqi pelan mencerna setiap kaa yang dilontarkan oleh Rara.


"Kenapa bisa tidak paham? Sudah jelas Mas Baihaqi sudah punya istri! Kenapa masih berusaha mendekati Rara?" ucap Rara dengan suara lantang. Suara keras diiringi dengan tatapan lekat dan tajam ke arah Baihaqi.


Baihaqi tertawa keras mendengar penjelasan Rara. Baihaqi baru tahu, kalau Rara salah paham dengan maksud Baihaqi. Mungkin memang Rara tidak fokus dan sudah terbawa emosi karena pikirannya yang terlalu negatif.


"Astagfirullah, Ra. Kamu salah paham. Kamu tidak menyimak ucapanku tadi. Aku emmang sudah punya istri tapi sudah meninggal beberapa tahun yang lalu," ucap Baihaqi menjelaskan.


Rara menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya. Malu. Tentu saja. Salah paham membuat Rara tidak berani menatap Baihaqi.


"Maafkan Rara yang berbicara lantang kepada Mas Baihaqi. Rara hanya takut dan kecewa untuk mmebuka hai. Apaagi kondisi Rara yang sedang mengandung, mungkin akan menjadi hinaan dan cemoohan orang lain," ucap Rara lirih.


Baihaqi duduk lagi di pinggiran temapt tidur rawat inap itu. Baihaqi mengangguk paham dengan semua yang dirasakan Rara. Tidak mudah bagi seseorang yang terpuruk untuk bangkit dalam waktu singkat tanpa ada motivasi daro orang-orang terdekat yang berada di sekitarnya. Menumbuhkan rasa percaya diri juga tidak mudah, karena pikirannya selalu dihantui rasa bersalah dan berdosa setiap waktu. Malahan yang ada hanya penyesalan, kecewa dan kesedihan. Hal itu yang membuat seseorang tidak bisa bangkit dari kterpurukan di masa lalu. Bukan menjadikan suatu kesalahan sebagai pelajaran hidup.


"Aku ingin menjadi temanmu, Ra. Sahabatmu, sama seperti Dyah. Kalau di ijinkan aku ingin mengenalmu lebih dekat lagi," ucap Baihaqi pelan meyakinkan Rara.

__ADS_1


Hati Baihaqi sudah tertambat. Bukan hanya rasaiba dan kasihan saja, tapi kini Baihaqi ingin lebih peduli lagi kepada Rara. Hatinya tergerak begitu saja untuk membantu Rara, rasanya pun leih sayang dan ingin lebih memahami Rara.


Rara mendongakkan kepalanya menatap Baihaqi yang ada di depannya. Rara cukup terkejut dengan permintaan Baihaqi yang menurutnya terlalu cepat. Baru hari ini mereka berkenalan, tidak mungkin rasa cinta dan sayang itu timbul sekejap dalam waktu singkat. Dulu, Rara membutuhkan waktu hampir setahun untuk bisa menerima Cantas, yang juga memiliki banyak perbedaan karakter.


Dengan Baihaqi pun pasti akan sama. Apalagi, Baihaqi sudah pernah berkeluarga, tentu akan sangat hati-hati dalam beriskap dan bertindak.


"Kenapa diam?" tanya Baihaqi yang etia menunggu jawaban Rara.


Rara sendiri masih bingun harus menjawab apa. Rasanya egois bila menolak sebelum mencoba, tapi perbedaan prinsip sudah terbentang jelas menjadi penghalang bia suatu hubungan ini akan dilanjutkan dalam keseriusan.


"Kamu masih belum yakin sama aku? Aku tidak mempermasalahkan semua masa lalu kamu, Ra. Kubur semua masa lalu kamu yang mengganggu hidup kamu. Kini hanya ada aku dan kamu, dan harapanku akan menjadi kita," ucap Baihaqi pelan.


"Tapi ...." ucapan Rara terhenti karena masih bingung dan Ragu.


"Tapi apa? Apa yang membuatmu ragu? Apa kamu belum yakin padaku? Aku siap menunggu sampai kamu benar-benar yakin. Aku siap menjadi sahabatmu dahulu, sebelum kamu benar-benar bisa menerimaku sebagai seseorang yang berarti di dlam kehidupanmu," ucap Baihaqi pelan.


Rara menyimak dan mendengarkan semua kata yang terucap dari Baihaqi. Rara menarik napas dalam dan mengehmbuskannya pelan. Jujur, hatinya sennag sekali, masih ada seseorang yang mau peduli kepadanya. Tapi, disisi lain memenag banyak perbedaaan diatara mereka berdua. Satu hal lagi yang terpenting, Rara takut di kecewakan lagi. Masalah hati adalah kekahwatiran yang utama, kalau masalah prinsip, mungkin Rara masih bisa toleransi dan mengikuti Baihaqi.


"Kita mengenal saja dulu. Biar takdir yang membawa hubungan kita nanti ke arah mana. Tidak semudah itu bagi aku untuk membuka hati. Banyak hal yang harus aku pertimbangkan untuk urusan keseriusan. Sebentar lagi aku melahirkan, itu tandanya aku akan memiliki anak. Tentu, tidak akan mudah bagi Mas Baihaqi untuk menerima kehadiran buah hatiku dari lelaki lain. Aku utuh soosk suami dan seorang Ayah yang bertanggung jawab, bukan hanya cinta atau materi yang aku butuhkan tapi kenyamanan dan hubungan yang hangat untuk saling mengisi satu sama lain," ucap Rara menjelaskan panjang lebar dengan pelan dan tenang.


Rara berusaha tenang dan menampilakn senyum terbaik yang paling manis penuh ketulusan kepada Baihaqi.

__ADS_1


"Aku mengerti. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik selama kamu masih mau au dekati, Ra," ucap Baihaqi pelan dengan nada berharap.


Rara mengangguk pelan, menegerti dengan semua keinginan Baihaqi. Tapi, semua itu butuh proses tidak perlu terburu-buru atau tergesa-gesa. Malahan nanti akan buruk penilaiannya.


"Kita bersahabat saja Mas. Buktikan saja, kalau memang kamu yang terbik untuk Rara," ucap Rara pelan.


Baihaqi mengangguk paham dengan keingina Rara yang sudah menjadi keputusan bulatnya.


"Baiklah, kalau itu semua menjadi keputusanmu, Ra. Aku hanya bisa menunggu dan berharap akan ada pelangi indah untuk hatiku. Jangan sungkan jika ingin bercerita atau meminta saraan kepadaku. Aku senang jika kamu sering membutuhkan aku, itu tandanya aku dibutuhkan dalam kehidupanmu, Ra," ucap Baihaqi pelan kepada Rara.


"Iya Mas Bai. Rara pasti akan banyak menyusahkanmu nanti," ucap Rara terkekeh.


"Aku malah bahagia kamu susahkan, Ra. Aku akan meluangkan waktuku hanya sekedar untuk melihat senyumanmu saja," ucap Baihaqi yang ikut terkekeh menyadari ucapannya yang terlalu lebay dan seperti anak muda yang sedang kasmaran.


Mereka berdua beradu pandang. Ada pesan tersembunya dari kedunay yang tidak bisa terucap dari bibir dan hanya hati mereka yang tahu apa yang sebenranya terjadi. Perasaan yang terus membuat mereka saling bahagia dan bisa tertawa dengan lepas saat masalah yang masih terus menghantui kehiduapn mereka masing-masing.


Saat tatapan itu saling bertemu, mereka hanya saling melempar senyum satu sama lain tanpa ada kata yang terucap.


"Kamu mau istirahat? Atau ma makan lagi? Biar aku belikan lagi. Ingat kesehatanmu dan bayi yang ada dalam kandunganmu," ucap Baihaqi pelan menasehati.


"Aku ingin istirahat saja. Pembicaraan ini cukup menguras pikiran dan hatiku. Biar aku tenangkan semuanya sejenak," ucap Rara lirih.

__ADS_1


__ADS_2