MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
101


__ADS_3

Baihaqi mengangguk pelan, mengiyakan permintaan Rara.


"Ridwan, tolong pesankan kamar untuk Rara beristirahat. Nanti aku yang urus semua administrasi, bawa kemari kunci kamarnya, biar Rara aku antar ke kamar dan biarkan istirahat dahulu," titah baihaqi kepada Ridwan.


Ridwan hanya mengangguk pasrah. Baru saj aterkejut dengan sifat kekanakan keduanya. Kini Ridwan kembali terkejut, mlihat bungan hangat dan akrab keduanya yang sudah tidak canggung lagi.


"Baik Pak Baihaqi. Saya pesankan kamar untuk Rara, saya akan segera kembali," ucap Ridwan pelan dengan wajah panik melihat Rara yang tampak lesu.


Ridwan pun langsung pergi. Dengan segera memesan kamar sesuai perintah Baihaqi. Senyumnya terbit, usahanya kali ini pasti berjalan mulus. apalagimelihat Baihaqi yang begitu mendamba Rara. Tatapan cinta seorang laki-laki kepaa perempuan tidak bisa di bohongi. Tatapan tulus mencinta dan menyayangi dari Baihaqi kepada Rara.


Baihaqi kembali menatap sendu ke arah Rara. Wajah Rara semakin pucat dan terlihat sangat lemah.


"Kalau sudah tahu sakit, kenapa masih keras keala untuk berangkat? Kamu naik mobil sendiri?" tanya Baihaqi pelan.


Rara mengangguk pasrah.


"Mana aku tahu, akan seperti ini," ucap Rara dengan suara pelan.


"Sudah, setelah ini kamu istirahat. Biar Mas yang urus proyek ini. Sejak pertama Mas suka dengan proyek Kafe ini. tapi jujur Mas tidak tahu, Agatha itu namamu?" ucap Bihaqi dengan tawa yang melengking.


"Huft ... Aku juga tidak tahu, kalau Mas investor proyek ini. Kalau aku tahu, pasti sudah nebeng di mobil Mas," ucap Rara dengan lirih.


Tidak lama pesan makanan Rara pun datang. Baihaqi langsung menyiapkan makanan itu untuk Rara.


"Mas suapin ya. Kamu duduk bersandar saja," ucap Baihaqi dengan suara pelan.


"Iya Mas," jawab Rara dengan suara lirih.


Baihaqi pun mulai menyuapi Rara dengan perlahan. Wajahnya begitu tenang dan adem. Rara hanya sesekali mencuri pandang menatap wajah tampa Ustad Baihaqi yang sudah berkali-kali melamr dirinya, namun tetap saja Raramenolak dengan alasan belum siap.


Disela-sela makan paginya, Baihaqi pun mulai mengajukan beberapa pertanyaan dan memastikan jawaban dari pertanyaan yang selama ini membuat Baihaqi gundah gulana.


"Apa kabar Rafli, Kekasih Idamanmu itu?" tanya Baihaqi pelan sambil menyendokkan nasi goreng untuk di suapkan kepada Rara.


Rara menerima suapan itu dengan senyum kecut. Rara tahu, Baihaqi sedang menghinanya karena Baihaqi tahu tentang Rafli, kekasihnya itu sudah memiliki keluarga kecil, lebih tepatnya sudah memiliki satu istri dan empat orang anak.


Rara memang pernah bercerita tentang Rafli. Rasa sayang Rara kepada RAfli yang sangat besar hingga Rara pun mau banyak berjuang dan berkorban demi lelaki yang dicintainya itu.


Kedua mata Rara menatap lekat ke arah Baihaqi.


"Apa Mas sedang menghinaku?" tanya Rara dengan polos. Mulutnya masih terus mengunyah hingga sedikit demi sedikit rasa lapar dan perih di perutnya pun berangsur menghilang.


Mendengar pertanyaan Rara yang terkesan aneh itu pun Baihaqi menatap Rara dengan lekat.


"Bisa-bisanya kamu berpikir Mas sedang menghinamu, Ra? Mas ini bertanya dengan benar dan ingin tahu, bukan menghina? Kamu terlalu sensitif untuk masalah ini?" ucap Baihaqi pelan.

__ADS_1


"Secara Mas Bai adalah orang yang paling tahu tentang masalah ini. Aku hanya bercerita tentang Mas Rafli kepada Mas Bai, bahkan Dyah, sahabatku pun tidak mengetahui hal ini, karena apa? Karena aku tahu, posisisku ini salah dan sangat salah. tentu aku yang disalahka dan pasti saran kalian untuk tetap meninggalkan Mas Rafli," ucap Rara kesal. Pearsaannya tak menentu dan pikirannya terus saja buruk dengan orang lain.


"Bicara apa kamu, Ra? Mas tidak pernah berpikir jauh ke arah san.mas pikir cinta itu tulus, dan cinta itu anugerah yang tidakbisa dipaksakan, karena kehadirannya kepada orang yang kita sendiri belum tentu tahu awalnya," ucap Baihaqi menjelaskan.


"Dari tatapanmu Mas, seolah mengejekku," ucap Rara pelan.


"Sama sekali tidak, Ra. Itu semua hanya perasaanmu dan pikiran negatif kamu saja. Mas itu memang mencintai kamu, tapi Mas tidak pernah memaksa. Kalau pun masih masih ada jodoh dengan kamu, tentu akan selalu di pertemukan," ucap Baihaqi pelan.


Rara memandang ke atas gedung apartemen. Air matanya tiba-tiba saja sudah mengumpul di sudut matanya. HAri ini dirinya memang sedang mellow sekali. Rasaya sangat sesak menahan air mata ini agar tidak tumpah, sesak di dadanya semakin terasa. Terkadang melihat Baihaqi, Rara menjadi ikut terlika krena tidak bisa mencintai lelaki yang selamaini sudah baik dan banyak membnatunya. Terkadang Rara meras, kenapa cinta ini tidak hadir untuk Bihaqi yang jelas-jelas sudah di kenalnya dengan baik, kenapa harus mencintai orang yang salah dan tidak tepat untuk dirinya.


Ibu jari Baihaqi pun megusap lembut wajah Rara dengan air mata yang baru saja menetes di pipi Rara.


"Jangan di biasakan menangis karena itu akan membuat hati kamu semakin terluka dan bersalah," ucap Baihaqi pelan.


Rara mensejajarkan tatapannya dengan Baihaqi. Wahanya terlihat emnahan tangis dnegan mata yang sudah emmerah penuh dnegan air mata yang sudah menbendung di pelupuk matanya.


"Aku hanya merasa bodoh. Posisi ini sulit Mas Bai tapi aku terlanjur mencintainya," ucap Rara pelan.


"Siapa yang bisa melawan takdir? Ini takdir bagian dari perjalanan hidupmu, Ra. Hadiah teridah dan kejutan dari Allah SWT. Kamu akan banyak kejutan setiap menjalani takdirmu dengan penuh ketulusan dan keikhlasan," ucap Baihaqi pelan.


Ilmu kehidupan selalu seimbang, ada suka pasti ada duka, ada senyuman pasti ada tangisan, ada luka pasti ada kbahagiaan, ada kiri pasti ada kanan, dan masih banyak lagi contohnya.


"Terima kasih Mas Bai. Mas Bai selalu ada untuk aku, dan aku perhatikan, kita selalu di pertemukan saat berada di peristiwa yang genting. Lebih tepatnya saat aku sealu membutuhkan pertolongan, dan Mas Bai selalu ada buat aku," ucap Rara dengan lirih.


"Ini semua bagian dari doa Mas, Ra. Mas tidak bisa memiliki cinta dan ragamu, tapi Mas akan selalu ada setiap kamu membutuhkan Mas. Dan itu semua terbukti, Allah selalu mengabulkan doa-doa terbaik Mas tapi tidak untuk memilikimu. Mas rasa , Allah memberikan waktu untuk menetapkan hati ini kepada siapa sebleum semuanya terlambat dan salah memilih," ucap Baihaqi pelan.


Rara mengangguk pelan dengan paham. Mengerti semua apa yang di jelaskan oleh Baihaqi. Makanan yang ada di mulut Rara sudah di kunyah dengan lembut dan di telan.


"Pak Baihaqi, ini kunci kaarnya," ucap Ridwa pelan sambil mngatur napasnya yang terlihat sangatngos-ngosan itu.


Ridwan memberikan kunci kamar itu kepada Rara. Ridwan juga ikut cemas dan panik bahkan sangat cemas sekali saat melihat Rara yang benar-benar pucat bagaikan melihat hantu.


Baihaqi menerima kunci kamar itu sambio mengedipkan satu matanya kepada Ridwan.


"Ra? KAmu sudah lebih baik?" tanya Ridwan lirih saat menatap ke arah Rara yang wajah pucatnya muali memudar.


Rara mencoba tersenyum ke arah Ridwan temannya itu.


"Alhamdulillah, sudah lebih baik setelah makan.Mungkin emmang benar, aku belum makan sejak pagi sebelum berangkat dari Bogor hingga membuat tubuhku pun lemah," ucap Rara pelan sambil tersenyum.


"Mau istirahat sekarang? tapi minum vitamin dulu ya, biar tubuh kamu cepat pulih," ucap Baihaqi pelan menyarankan.


baihaqi menyodorkan satu tablet multivitamin untuk menjaga stamina tubuh.


"Terima kasih ya Mas," ucap Rara pelan lalu meminumtablet multivitamin pemberian Baihaqi itu.

__ADS_1


sekarang Ridwan benar-benar hanya sebagai pelengkap berada disana. Harus melihat suasana yang hangat walapun tidak terlihat mesra dan romantis.


"kalian berdua sebenarnya ada hubungan apa sih?" tanya Ridwa pelan dnegan penuh keragua.


Tidak bertanya, Ridwan penasaran. Tapi bertanya malah membuat Ridwan malu sendiri dan keki.


Rara dan Baihaqi serentak menatap ke arah Ridwan yang juga menatap keduanya secara bergantian.


"Pertanyaanmu bisa di ulang?" tanya Rara pelan dengan wajah bingung.


Pertanyaan macam apa yang di lontarkan Ridwan kepada kedua rekan kerjanya ini. Seolah kedua rkan kerjanya ini memiliki hubungan fair yang membuat mereka berdua semakin terlihat mesra.


"Ekhmmm ... Tidak apa-apa ra. Sufah lupaka saja pertanyaan tidak penting itu," ucap Ridwan pelan sambil meringis malu.


"Tapi, aku malah penasaran dengan pertanyaanmu tadi? Aku dan Mas Bai memang sudah kenal lama, tapi hanya sebatas guru kepada muridnya saja dan bukan yang lain," ucap Rara pelan menjelaskan.


Baihaqi hanya tersenyum lebar dan edikit mengangguk mengiyakan ucapan Rara. Biarlah cinta ini tetap di pendam agar terus utuh tak termakan usia.


"Kami memang sudah mengenal sejak empat tahun yang lalu, saat itu Rara sedang mengandung. Tapi, kini hubungan kami tetap baik walaupun sudah jarang berkomunikasi. Makanya tadi sempat kaget, karena sudah lama kita tidak bertemu," ucap Baihaqi pelan.


"Makanya kita sempat kaget tadi," ucap Rara menambahkan dan beralasan.


Padahal sejujurnya Rara dan Baihaqi memang menyimpan persoalan pribadi yang memang tidak di ketahui khalayak umum.


Ridwan hanya bisa menyimpan rahasia itu dan segaja mengangguk pelan agar dianggap mengetahui jelas hubungan kedua rekan kerjanya ini yang memang tidak ada apa-apa.


Baihaqi sudah bejalan lebih dulu menuju kamar yang di pesan oleh Ridwan di lantai delapan.


"Kamu sendiri?" tanya Baihaqi ambigu.


"Aku sendiri? Bukankah memang aku sendiri," ucap Rara pelan.


"Ekhmm maksud Mas. kamu sendirian di kamar tidak pa-apa?" tanya Baihaqi pelan.


Keduanaya sudah sampai di depan kamar yang di pesan Ridwan untuk Rara.


"Tidak apa-apa. Lalu bagaimana dengan pertemuan hari ini?" tanya Rara pelan.


"Mas akan segera membereskan dan memulai pembangunannya besok. Lebih cepat lebih baik kan? Biar cepat beroperasi kafenya. Apalagi pemilik Kafe itu, kamu, Ra," ucap Baihaqi pelan sambil membuka pintu kamar itu dengan anak kunci yang di pegangnya.


Rara menatap Baihaqi dengan rasa tidak percaya.


"Secepat itu? Tunggu aku sehat, Mas?" ucap Rara pelan dengan nada memohon.


"Ra ... percayakan pada Mas. Kamu itu perempuan, seharusnya tinggal duduk manis saja," ucap Baihaqi pelan.

__ADS_1


__ADS_2