MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
50


__ADS_3

Seiring waktu yang berjalan tak terasa usia anak Rara sudah menginjak dua tahun lebih. Anak laki-laki prematur yang dianggap tidak akan mungkin bertahan hidup dan harus dirawat secara intensif dalam inkubator itu, kini tumbuh menjadi anak laki-laki yang sangat tampan dan lucu.


"Ma ... Buya mau main sama Mama," ucap Abuya dengan suara polos yang terdengar sangat manja dan menggemaskan.


Rara yang masih memasak menyiapkan makanan untuk sarapan pagi berdua pun hanya menoleh ke arah abuya dan tersenyum lebar. Abuya yang duduk diam dengan tenang di kursi makan sambil menatap punggung Mamanya dari belakang.


"Abuya, makan nasi sama telur dadar mau?" tanya Sang Mama sambil meletakkan telur dadar besar di piring untuk di bagi menjadi dua bagian.


Abuya mengangguk pasrah. Usianya memang belum genap tiga tahun, tapi cara berpikirnya seolah sudah dewasa dan cara bicaranya menyerupai orang dewasa d sekitarnya yang sering mengajaknya berbicara.


Rara sengaja diam dan meletakkan piring kesayangan Abuya yang sudah dilengkapi dengan nasi putih dan telur dadar serta tidak lupa di beri kecap manis kesukaannya.


"Sekarang makan dulu ya. Nanti baru boleh bicara. Ayok kita berdoa sebelum makan, Abuya yang berdoa," titah Rara, Sang Mama.


Abuya langsung mengangkat kedua tangannya di depan dada dengan gaya orang dewasa yang sedang berdoa. Setelah selesai, Abuya pun mulai memakan sarapan paginya yang telah di siapkan Sang Mama.


Suasana pagi itu begitu sangat hening. Baru satu minggu ini, Rara pindah ke rumah barunya. Banyak alasan yang membuat Rara berpikir dan akhirnya memutuskan pindah dari Rumah Bambu milik Baihaqi, orang yang selama ini sudah baik dan banyak membantu Rara.


"Non Rara, mobilnya sudah di panaskan oleh Mang Udin," ucap Aneng, asisten pribadi Rara.

__ADS_1


"Baiklah, Kalau Mang Udin mau berangkat sekarang silahkan. takutnya konsumen sudah menunggu, ini sudah jam tujuh pagi, " ucap Rara dengan suara pelan.


"Iya, Non Rara. Saya bilang ke Mang Udin sekrang," jawab Aneng dengan sopan dan pergi kembali untuk menemui Mang Udin sesuai perintah Nonanya itu.


Sama seperti pagi-pagi kemarin bahkan semuanya sama seperti hari-hari kemarin yang selalu di lalui oleh Rara dan Abuya.


Rara hanya ingin hidup lebih mandiri bersama Abuya tanpa ada campur tangan Baihaqi. Selama ini Rara menumpang di Rumah Bambu dan membantu Baihaqi untuk memberikan les privat gratis bagi ketiga anaknya.


Rasa sayang Rara yang tumbuh sempurna untuk ketiga anaknya dan untuk Baihaqi ternyata tidak bisa berubah menjadi satu perasaan cinta yang utuh. Semua yang dirasakannya hanya datar dan bersifat umum saja sebagai saudara dan keluarga tidak bisa lebih dari itu.


Untuk itu Rara memutuskan pindah dari Rumah Bambu itu dan melanjutkan hidupnya sendiri sebagai single parents bagi Abuya dengan usaha dan hasil jerih payahnya sendiri.


Abuya masih mengunyah sarapan paginya dan mengangkat wajahnya menaap Sang Mama yang memanggil dan menatap ke arahnya. Kepalanya mengangguk pelan.


"Abuya mau main sama Mama," jawab Abuya pelan dengan sangat polos. Wajahnya yang terlihat lugu membuat Rara semakin gemas kepada putra semata wayangnya itu.


Selama ini waktu Rara memang habis untuk mencari uang demi bisa membiayai hidup Rara dan Abuya, anaknya. Setelah melahirkan Rara nekat mencicil mobil dan menjalankan bisnis rental mobil dengan dirinya sebagai supir pribadi bila diperlukan. Keahliannya hanya itu saja, menurut Rara mencicil mobil adalah usaha yang pas, dan bisa diandalkan.


Di mulai dari menjadi supir antar jemput sebuah sekolah swasta yang ada di daerah Bogor hingga menerima tawaran untuk mengantarkan keluarga yang hendak ke luarkota untuk urusan bisni ataupun mudik.

__ADS_1


Dengan tabah, tega, tegar dan kerelaan hati yang lapang, Rara meninggalkan Abuya yang masih bayi untuk di jaga oleh Aneng, asisten khusus yang masih kerabat Baihaqi.


Sungguh miris menatap Abuya yang terlihat manja pagi itu. Tadi malam, Rara pulang larut setelah dua hari ke luar kota daerah Jwa Timur untuk mengantrakan seorang Bos Besar yang sedang menangani sebuat\]h proyek disana. Pagi ini, Mang Udin sudah hrus mengantarkan kembali satu keluarga yang ingin berlibur ke daerah Bandung, sedangkan Rara sudah ada job untuk mengantarkan satu keluarag untuk acara family gathrng di daerah Pangandaran.


Rara bangkit berdiri dan memangku Abuya, putra kecil kesayangannya itu. Tidak banyak menuntut dari seorang Abuya selain waktu bermain bersama Sang Mama. Kerinduan Abuya terhadap belaian lembut kasih sayang seorang Mama untuk dirinya. Abuya memang masih kecil, namun anak kecil pun sudah memiliki hati, pikiran dan rasa. Rasa sayang terhadap Mamanya, rasa kasihan bila melihat Mamanya yang terlihat lelah dan kecapekan, rasa rindu setiap melihat Mamanya harus bekerja dari pagi sampai malam hingga harus menginap di tempat lain dan tidak bersama Abuya.


"Sini Mama pangku, Mama cium," ucap Rara lirih sambil memeluk dan mencium kedua pipi anaknya itu secara bergntian.


Abuya hanya diam dengan pasrah menikmati moment bersama Mamanya itu yang sangat jarang di lakukan, bukan karena Rara lupa atau tidak sayang, tapi karena memang Rara terkadang tidak ada waktu untuk melakukan itu kepada Abuya.


Seringkali, Abuya mash tertidur pulas di tempat tidur saat Rara harus berangkat pagi-pagi buta dan pulang larut malam dimana Abuya juga sudah tertidur kembali di tempat tidur kesayangannnya itu. Komunikasi mereka paling hanya lewat telepon atau video call, atau sesekali Aneng mengirimkan video Abuya yang sedang melakukan aktivitas sehari-harinya seperti, makan, bermain, tidur, atau belajar.


"Abuya mau main apa?" tanya Rara pelan kepada anak semat wayangnya itu. Rara tahu kalau Abuya sedang ingin bermanja padanya dan merajuk ingin diperhatikan lebih.


Mendengar ucapan Mamanya yang sangat dinantikan oleh Abuya, kiniAbuya tersenyum lebar dan turun dari pangkuan Mamanya dan berlari ke kamar tidurnya untuk mengambil sesuatu.


Abuya membongkar keranjang mainannya dan mengambil kertas gambar dengan gambar aneh yang hanya Abuya yang mengerti dengan segala halusinaninya sebagai an kecil. Abuya berlari ke arah Rara, Sang Mama dan memberikan kertas gambar itu.


Rara menerima kertas gambar itu lalu menatap dengan wajah bingun dan penasaran. Di sana hanya ada dua garis panjang tegak lurus berdiri, yang satu lebih panjang dan yang satu garisnya lebih pendek. Lalu ada garis bengkok yang menghubungkan satu garis pang tadi dengan garis yang pendek hingga saling menyambung dn bertautan.. pandangannya kini beralih kepada Abuya yang sudah tersenyum lebar, karena menganggap sang Mama mengerti maksud dan tujuannya.

__ADS_1


__ADS_2