MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
111


__ADS_3

Fatarani sudah tidak bisa menahan lagi rasa sakitnya. Air matanya sejak tadi terus saja turun tanpa ada rasa malu dari kedua matanya.


Ucapan Rafli, suaminya itu bagaikan petir di siang hari. Kejujurannya yang telah menikahi Rara secara siri pun sudah membuat Fatarani semakin sakit dan sakit.


"Ayah sudah menikahi wanita yang selama ini berusaha merusak rumah tangga kita!! Berulang kali wanita ini gatal menggoda Ayah dan ingin merebut Ayah dari Bunda!!" tegas Fatarani yang menunjuk ke arah Rara. Begitu bencinya Fatarani kepada Rara, bahkan sangat benci.


"Bunda tidak mengenal Rara. Dia wanita baik dan lembut, makanya Ayah memilihnya untuk jadikan sebagai istri kedua. Rara tidak pernahmengelak dan mengiyakan semuanya dengan posisinya sebagai yang kedua. Rara tidak pernah menuntut apapun dari Ayah, bahkan Rara selalu ingin memberikan Bunda dan anak-anak yang terbaik," uca Rafli melembut menjelaskan semuanya hingga tidak ada lagi yang di tutup-tutupi.


Kedua mata Fatarani menatap tajam ke arah Rafli. Pandangannya terus semakin lekat ke dalam dua bola mata rafli yang juga menatap Fatarani.


Rafli pun berdiri dan berjalan menghampiri Fatarani. setelah sebelumnya Rafli mengusap lembut genggaman tangannya di punggung tangan Rara seolah memberikan kode keras untuk memberikan ijin ingin mendekati Fatarani.


Rafli memeluk Fatarani dari arah samping dan mengusap lembut punggung fatarani dengan lembut. Wajah Fatarani dibawa ke dada Rafli agar Fatarani semakin tenang dan nyaman. Perutnya yang semakin membunct pun membuat Fatarani agak kesulitan dalam duduknya yang sambil di peluk Rafli, suaminya.


"Ayah tidak akan pernah meninggalkan Bunda, karena Ayah sangat sayang dan mencintai Bunda. Bunda harus percaya dan yakin kepada Ayah. Waktu Ayah akan tetap untuk Bunda, mungkin hanya sesekali Ayah meminta waktu untuk bisa bersama dengan Rara," ucap Rafli dengan suara pelan sambil mengecup kening dan kedua pipi Fatarani.


Fatarani hanya terdiam dan menahan sesak di dadanya. Walaupun Rafli, suaminya sudah bicara akan tetap bersamnya dan memprioritaskan dirinya, tapi ujung-ujungnya meminta waktu untuk bisa bersama Rara.

__ADS_1


"Bunda diam saja? Tidak mau bicara baik-baik dengan Ayah?" tanya Rafli pelan.


Fatarani menggelengkan kepalanya di dada Rfali. Hatinya sudah kacau, dan tidak ada lagi yang ingin di pertanyakan atau di tuntut. Percuma saat ini bila Fatarani marah-marah dan mengatai Rara sebagai pelakor dan perusak rumah tangganya, padahal Rafli, suaminya malah menikahi perempuan yang dianggapnya baik itu.


"Ayah sudah kenal Rara? Apakah Ayah sudah tahu sifatnya seperti apa?" tanya Fatarani dnegan lirih namun tetap terdengar hingga ke telinga Rara yang duduk persisi di depan Fatarani dan Rafli.


Rara menatap Rafli dengan wajah sendunya. Rafli tahu, Rara pun sakit hati melihat hal ini. Pernah suatu hari, Rara berkat, bahwa dirinya pun cemburu sekali pun dengan Fatarani, istri SAH Rafli.


Kedua tangan Rara berada di atas meja dan Rafli menggapai tangan itu. Fatarani melirik apa yang dilukan oleh Rafli, suaminya. Terasa ada pergerakan poada tubuh Rafli, ternyata Rafli sedang memegang erat tangan Rara dengan erat saat Fatarani beada dalam pelukan Rafli.


Senyum Rara terbit dengan sangat manis. Wajahnya yang tulus epnuh damba kepada Rafli pun terlihat sangat jujur tanpa ada kemodusan.


"Bunda Fatarani, bisa sharing tentang apapaun dengan Rara," ucap rara pelan mencoba membuka percakapan baik dengan Fatarani.


Fatarani hanya tersenyum kecut di dada Rafli, allu menegakkan duduknya.


"Aku tidak perlu sharing denganmu. Perempuan hina dan nist yang tidak bisa mencari lelaki single untuk kamu nikahi!! Kamu telah sukses membuat aku sakit hati dan membuat aku dan hidupku hancur berantakan dan kacau. Semua ini karena kamu, ulah kamu, keinginan gila kamu yang terus menginginkan lelaki yang telah beristri. Kamu itu perempuan gila!!" ucapan Fatarani begitu menohok kepada Rara.

__ADS_1


Rara hanya bisa terdiam dan menunduk, remasan pada kedua tangan Rara yang dilakukan oleh Rafli begitu terasa. Rafli berusaha memberikan kekuatan untuk Rara agar tetap tenang dan sabar.


Rfali sengaja mendiamkan dengan apa yang dilakukan Fatarani, bukan tida ma membela Rara, tapi membiarkan wanita hamil itu berteriak dan mengolok Rara sesuka hatinya. Sampai pada akhirnya, Rafli akan menutup rapat bibir Fatarani dengan tangannya agar tidak terus mengoceh di depan umum.


Apa yang dilakukan Fatarani saat ini adalah suatu bentuk kekecewaannya, kekesalannya dan sakit hatinya.


"Sudah Bunda. Semuanya sudah jelas. Rara kini juga istri Ayah, tidak sepantasnya Bunda berbicara seperti itu. Bila Bunda kesal, kecewa dan benci dengan Rara, itu hak Bunda. Tapi Bunda harus ingat, Rara juga istri Ayah, sudah sewajarnya Ayah akan membela istri Ayah yang di pojokkan oleh orang lain, sekali pun oleh Bunda," ucap Rfali dengan suara tegasnya.


Tatapan Fatarani lekat kepada Rafli. Lelaki yang sudah menemani hidupnya berpuluh tahun, kini dengan mudahnya malah melupakan semua kenangan dan proses perjalanan hidupnya selama bersama.


"Ayah .... Masih membela dia!! Wanita yang baru saja Ayah kenal dan dengan mudah Ayah langsung menikahinya. Bunad tidak habis pikir dengan jalan pikiran Ayah," ucap Fatarani melemah.


Sepertinya sudah tidak ada gunanya lagi, dirinya membela diri dan mempertahankan Rafli, suaminya. Semua harapannya sudah pupus, semua keinginannya untuk tetap menjadi satu-satunya pun sudah hancur lebur. Nasi sudah menjadi bubur. Tidak akan mungkin bisa di benahi lagi atau ditanak lagi menjadi nasi. Kini hanya bisa pasrah pada takdir. Peringatan-peringatan Fatarani kepada Rara untuk menjauhi Rafli pun tidak di gubris dan hanya dianggap angin lalu oleh Rara. Dan kini, ketakutannya benar-benar terjadi, Rafli menikahi perempuan itu tanpa persetujuannya sebagai istri SAHnya yang pertama.


"Ayah tidak membela siapa-siapa. Ayah sudah bicara baik-baik pada Bunda, dan memberi tahu kepada Bunda tentang pernikahan siri Ayah. Ayah hanya ingin, Bunda bisa meneriam semua ini dengan lapang dada. Apapun jalan yang Ayah pilih, Ayah anggap semuanya terbaik untuk Ayah dan semuanya. Bunda hanya prlu bisa menyikapi ini semua dengan bijak dan dewasa. Ayah akan tetap bersama Bunda dan anak-anak. Ayah tetap akan pulang ke rumah Bunda setiap malam, itu sdah menjadi komitmen antara Ayah dan Rara. Betul kan, Mah?" tanya Rafli sambil menatap Rara.


Rara mengangguk pelan. Itu adalah hal yang diminta Rara kepada Rafli. Rara hanya ingin Rafli tetap fokus pada keluarga kecilnya yang sudah lama dijalaninya. Rara tidak ingin merenggut kebahagiaan Fatarani dan anak-anak Rafli.

__ADS_1


__ADS_2