MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
31


__ADS_3

Dyah sudah berada dalam mobil Baihaqi. Dyah ingin ikut mengantarkan Rara dengan persetujuan Mas Hendra, Suaminya. Perjalanan ynag cukup lama dn jauh, bisa memakan waktu perjalanan selama delapan jam lebih.


Rara duduk di jok depan sebelah kemudi dan bersandar dengan sangat nyaman. Baihaqi sendiri fokus dengan setir mobilnya berbekal alat penunjuk arah yang sudah di setting sesuai alamat Rara di kampung.


"Mau makan, Ra? Kalau lapar bilang, ya? Jangan menunda, kasihan bayimu," ucap baihaqi pelan kepada Rara.


Baihaqi sempat melirik ke arah Rara yag sejak tadi hanya terdiam dan menatap lurus ke arah jalan.


Rara menoleh ke arah Baihaqi. Berusaha tersenyum walaupun hatinya sedang gundah gulana.


"Lagi gak kepengen apa-apa," jawab Rara dengan suara pelan.


"Kamu yakin baik-baik saja? Tidak sedang berbohong kan?" tanya Baihaqi sedikit penasaran.


Lebih tepatnya bukan penasaran tapi ingin tahu kejujuran Rara. Kalau dilihat dari wajah tidak bisa dibohongi. Rara seperti sedang tertekan, mungkin rasa khawatirnya ingin bertemu kedua orang tuanya dan keluarga besarnya.


"Aku baik-baik saja. Bahkan aku sedang bahagia sekali. Bukankah aku akan bertemu kedua orang tua dan keluarga besarku," ucap Rara pelan sambil memainkan kedua tangannya untuk menghilangkan rasa ragunya.


"Kamu sudah siap dengan segala resikonya, kan?" tanya Baihaqi memastikan.


Rara cukup lama terdiam, ada hal yang masih mengganggu hatinya dan tidak bisa menjawab pertanyaan semudah itu.


"Maksud Mas dengan resiko itu apa?" ucap Rara dengan tenang. Rara paling tidak suka jika kedua orang tuanya secara tidak langsung di hina.


"Ya, Resiko. Setiap kehidupan dan menjalani suatu perjalanan hidup tentu ada plus minus, kan? Sama juga dengan pilihan hidup atau keputusan seseorang yang diambil juga pasti akan ada sisi positif dan negatifnya," ucap Baihaqi pelan. Baihaqi sengaja tidak menjelaskan dengan gamblang. Baihaqi ingin Rara bisa dengan cermat menyimak ucapannya.


"Maksud Mas Bai, orang tuaku? Mereka bukan orang tua yang baik? Orang tua yang akan meninggalkan anaknya saat ada di masa sulitnya? Begitu? Betul begitu maksud Mas Bai?" ucap Rara pelan sambil menoleh ke arah Baihaqi yang masih fokus dengan jalanan.


Baihaqi mengangguk pelan sambil melepas kaca mata hitamnya yang sejak tadi di pakai untuk menghilangkan rasa silau dari arah depan karena sinar matahari menyorot langsung ke matanya.


"Ya, Maaf jika prediksi aku terlalu buruk dan berburuk sangka kepada kedua orang tuamu dan kelurga besarmu. Tapi memang itu yang sejak tadi aku tangkap," ucap Baihaqi pelan menjelaskan.

__ADS_1


"Aku lelah Mas, dan aku sedang tidak ingin berdebat yang malah memancing emosiku. Tolong mengerti perasaanku," ucap Rara lirih.


"Maafkan aku, Ra. Bukan maksudku untuk memojokkan keluargamu. Tapi, mereka tidak peduli denganmu. Itu yang Mas lihat, dari hal kecil tentang kedatangan Cantas. Orang tuamu biasa saja dan seolah pembatalan pertunangan itu hal biasa," ucap Baihaqi pelan menyimpulkan semuanya.


Diam-diam Baihaqi itu peduli dan memang menyimpulkan suatu kondisi yang sedang dihadapi Rara.


Perjalanan siang itu terasa lama walaupun sudah melewati jalan bebas hambatan yang bisa mempersingkat waktu. Degub jantung Rara semakin lama semakin kencang kala perjalanan sudah semakin dekat dengan tempat kediaman kedua orang tua Rara.


"Ini sudah mau sampai? Apa masih jauh?" tanya Baihaqi pelan sambil memperlambat laju mobilnya.


Sore itu terlihat sangat mendung. Awan hitam sudah mengumpul dan menutupi sebagian kota kelahiran Rara. Angin kencang terlihat berputar di atas.


Semesta seolah memberikan tanda yang tidak bisa di lukiskan.


"Ra ...." panggil Dyah yang sejak tadi diam dan tidak bersuara. Selama perjalanan Dyah berpura-pura memejamkan mata biar terlihat sedang tertidur. Padahal Dyah emnyimak semua pembicaraan antara Rara dan Baihaqi.


"Ya, Dy, Kamu lapar? Kita makan dulu saja? Gimana?" tanya Rara pelan. Wajahnya menoleh ke arah belakang.


"Tapi, Aku tidak bilang dengan orang rumah mau datang. Semua aku buat suprise," ucap Rara pelan.


"Nanti mereka malah terkejut dengan kedatangan kamu, Ra?" tanya Dyah yang ikut panik. Dalam hatinya merasakan bakal ada sesuatu besar yang akan terjadi.


"Biarkan saja. Kita makan saja dulu, sudah jam segini, sejak berangkat perut kita belum juga diisi," ucap Rara pelan lalu mencari rumah makan yang enak di sekitar kota kelahirannya.


Baihaqi melirik Dyah dan mengedipkan satu matanya. Kode keras itu sangat di pahami oleh Dyah.


"Jadi mau makan dimana?" tanya Baihaqi pelan saat Rara menunjuk salah satu tempat di arah depan.


"Itu yang disana, langsung parkir saja," titah Rara pelan.


"Siap tuan putri," jawab Baihaqi sambil terkekeh.

__ADS_1


"Jangan bucinan di depan aku," ucap dyah sambil mengulum senyum.


"Cintaku ditolak Dy," ucap Baihaqi sedikit menyentil Rara yang masih fokus pada rumah makan yang ditunjuk.


"Gak usah memberikan informasi yang tidak benar. Dyah itu gak bisa di ajak bercanda," tegas Rara sedikit kesal.


"Kalian sudah sama-sama dewasa. Aku tidak mau ikut campur, Mas Baihaqi itu sahaat Ms Hendra, dan Kamu, Ra, Sahabat terbaik Aku. Aku hanya bisa berdoa memohonkan yang terbaik untuk Kamu," ucap Dyha dengan suara pelan.


"Doakan kita berjodoh ya, Dy," ucap Baihaqi dengan tegas. Wajah Baihaqi terlihat serius, tidak ada senyuman dan tidak ada candaan. Kedua matanya fokus pada rumah makan yang ada di depannya dan memberikan sen mobil untuk bebrbelok ke arah kiri memasuki area halaman rumah makan itu.


Mobil Baihaqi sudah parkir di salah satu rumah makan. Ketiganya sudah turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah makan itu.


"Kita duduk lesehan saja. Kakiku sedikit keram," ucap Rara pelan.


"Ya, Tidak apa-apa. Ujung sana agak sepi," ucap Dyah pelan sambil menunjuk ke arah ujung.


Rara sudah memesan makanan dan minuman. Semua sudah tersaji dengan rapi di atas meja makan yang mereka pilih.


Ada dua pasang mata yang sejak tadi mengarah pada Rara. Tatapan tajam dan sinis itu tidak disadari oleh Rara.


"Ra, berasa di perhatiin orang gak sih? Itu meja seberang. Kamu kenal gak?" tanya Dyah setengah berbisik.


Rara mengangkat wajahnya dan menatap meja seberang sesuai apa yang di ucakan oleh Dyah. Pandangan Rarabertemu dengan kedua pasang mata itu yang kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Siapa, Ra?" tanya Baihaqi yang ikut menoleh ke blakang menatap pengunjung di meja yang dimaksud Dyah.


Rara menggelengkan keplanya pelan. Rara tidak kenal sama sekali. Wajar kalau Rara tidak mengenali siapapun di kota kelahirannya, karena Rara memang jarang sekali pulang untuk sekedar berkunjung. Tapi, jangan salah, Rara cukup di kenal di desanya sebagai peempuan yang cantik dan sukses di Kota.


"Aku tidak kenal, Mas," jawab Rara singkat seolah tidak peduli.


Jantung Rara berdegup kencang. Semua ini membuat tidak nyman, Rara lupa jika dirinya sedng mengandung. Tentu banyak orang akan menatapnya sini, Rara seorang wnaita yang belum menikah dan sudah mengandung dnegan perut sebesar itu.

__ADS_1


__ADS_2