
Di depan Rara kini sudah ada Fatarani yang di temani salah satu teman perempuannya. Rara hanya bisa diam membisu dan mempersilahkan Fatarani dan temannya itu untuk duduk dan memesan makanan serta minuman kesukaannya.
"Sudah saya tidak mau berbasa-basi denganmu," ucap Fatarani ketus sambil meletakkan tasnya di atas meja.
Tatapan Fatarani sungguh luar biassa tajam bagai elang yang ingin mencengkeram magsanya saat itu juga.
mendengar ucapan ketus seperti itu, Rara hanya berusaha menarik napas dalam dan berusaha tenang agar tidak ikut larut dalam emosi.
"Pesanlah makan dahulu Bunda. Lihat kandunganmu semakin besar, dan bayimu sangat butuh asupan makanan," ucap Rara menasehati.
"Apa pedulimu!! Bahkan kamu saja sudah tidak peduli lagi dengan perasaanku!! Sakit hatiku dan kecewaku!!" teriak Fatarani dengan keras yang tidak bisa mengontrol emosinya.
Teman wanita yang ada disampingna berusaha menenangkan Faarani dan mengusap bahu Ibu hamil itu dan menyuruhnya agar duduk kembali karena sempat menghentakkan kakinya dan melempar buku menu dengan keras ke atas meja.
BRAK!!
Suara buku menu yang di lempar tepat di depan Rara. Rara hanya bisa menunduk diam, saat ini pun Rara juga sedang mengandung darah daging Rafli. Usia kandungannya masih terbilang muda baru satu bulan lebih sejak saat pernikahan siri itu terjadi.
__ADS_1
"Maafkan saya, Bunda," ucap Rara lirih. Ada perasaan bersalah disini yang dirasakan oleh Rara. Rasa yang menusuk-nusuk hatinya dengan sangat tajam dan rasa berat serta sesak, tubuhnya seolah di hempas oleh batu yang sangat besar.
"Maaf!! Mudah kamu bilang maaf!! Berapa kali aku mengingatkan kamu, Ra. Jauhi Rafli, suamiku. Jauhi perasaan nyamanmu terhadp suamiku. Jauhi akun karaokenya dengan tidak mengdeti semua lagu-lagunya. Abaikan Rafli, suamiku jika terus menghubungi. Tolong tegas untuk tidak mau!! Tapi, kamu selalu mengulangnya dan tidak prnah kapok dengan ini semua!! Aku kurang bagaimana mempertahankan Rafli, suamiku. Semua tenaga, jiwa dan raga aku pertruhkan agar suamiku tetap bersamaku dan tidak bersamamu. Tapi, akhir-akhir ini Rafli, suamiku sellau mengigau dalam tidurnya dan menyebut nama kamu di daam tidurnya. Pelet apa yang kamu kasih kespada Rafli, suamiku sampa-sampai sumiku tidak bisa berpaling dari kamu!!" teriak Fatarani emakin berapi-api. Teman wanita yang duduk di sebelahnya semakin caanggung dan hanya bisa mengusap lembut punggung Fatarani agar ibu hamil itu semakin tenang dan bisa mengontrol emosinya.
"Aku dan Mas Rafli saling mencintai. Apa itu salah?" ucap Rara lirih yang dengan berani membela dirinya.
Rara hanya ingin Fatarani tahu. Hubungan ini ada karena keduanya sama-sama mau, bukan salah satu, ataupun ada unsur pemaksaan.
Ucapaa Rara bagai petir yang menggelegar di siang bolong. Telinga Fatarani semakin panas mendengar pernyataan sang pelakor yang terus-menerus mencari pembelaan dan tidak mau disalahkan.
"Apa!! Coba tolong di ulang perkataanmu tadi? Apa tadi yang kamu katakan!! Apa!! Kamu sadar gak bicara apa tadi!! Kamu dan Mas Rafli, kalian berdua saling mencintai!! Itu kata kamu!! Tahu apa kamu soal cinta!!" teriak Fatarani semain kasar. Satu tetes air matanya sudah menetes di pipi tanpa terasa. sakit rasanya mendengar ucapan Rara yang begitu polos lolos begitu saja dari bibirnya. Mereka berdua, Rara dan suaminya saling mencintai.
"Aku memang sudah mencintai Mas Rafli sejak awal berkenalan. Setelah tahu, Mas Rafli pun sudah memeiliki keluarga kecil, memiliki Bunda Fatarani dan empat orang anak. Aku hanya ingin bisa mencintai dan dicintai, tanpa harus memiliki. Seiring berjalannya hubungan ini. Mas Rafli menginginkan hubungan yang lebih, karena rasa sayang dan cintanya kepadaku. Lalu, aku menyanggupi bila harus menjadi istri keduanya, tapi dengan satu syarat, bahwa jka ingin serius denganku, mintlah restu Bunda Fatarani, da aku tidak ingin pernikahanku dilakukan secara diam-diam," ucap Rara pelan menjelaskan. Dadanya kembali sakit dan sesak. Ucapannya semua berbalik dnegan kenyataanya. Rara sudah lebih dulu menikah siri dengan Rafli tanpa ada restu dari Bunda Fatarani karena suatu insiden malam di apartemen itu.
Seharusnya Rara tidak perlu pusing dan galau lagi. Rafli sudah ada dalam genggamannya. Istilah pelakor pun tidak mungkin di sematkan pada diri Rara yang memang tidak pernah menggoda Rafli sebelumnya. Hubungan mereka selama ini sehat, namun semakin berjalan lama, mereka menginginkan suatu hubungan yang lebih dan setingkat satu level dalam keseriusan.
"Apa itu cinta!! Dasar wanita gila!! Wanita pengganggu rumah tangga orang!! kamu itu pelakor dan selamanya nam itu pantas untuk kamu!! Sampai kapanpun aku tidak akan ridho, dan tidak akan pernah memberikan ijin kepada kalian untuk menikah dan mengucapkan ijab kabul. Sampai kapanpun!! Kalau kalian ingin seperti itu, biar Ayah Rafli menceraikan aku terlebih dhulu," ucap fataani mengancam.
__ADS_1
Teriakan dan suara keras Fatarani semakin membuat para pengunjung menoleh ke arah meja yang sedang di tempati oleh Rara dan Fatarani. Pandangan yang terliha nyinyir, dan penuh ketidak sukaan terhadap Rara. Mungkin sedikit atau banyak mereka sejak tadi mendengar amukan Fatarani yang tidak bisa di kontrol.
Pandangan Rara mengedar di seluruh restoran itu sambil menatap satu per tau pengunjung yang menatapnya tanpa rasa takut. Tindakannya tidak ada yang salah, Rafli mencintainya dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan.
"Aku tidak gila dan ingat aku bukan PELAKOR seperti apa yang kamu katakan!! Aku wanita baik-baik yang hanya dekat dengan suamimu. Kalau cinta itu tumbuh dalam hati kita berdua, apa itu salah!! Cinta ini anugerah dan cinta ini sesuatu yang tidak bisa di paksakan kepda siapa akan berlabuh!!" tegas Rara yang mulai kesal dengan ucpan sembrono Rara.
"Apa bedanya kamu dnegan wanita murahan di jalan yang mengemis cinta!! Apa yang kamu pertahankan dari Ayah Rafli, suamiku!! Apa!!" teriak Fatarani yang semakin frustasi. fatarani sudah lelah, harus bagaimana lagi bicara dengan Rara. Rasanya akan percuma, karena ucapannya akan diabaikan, masuk dari kuping kiri dan keluar dari kuping kanan.
"Dia lelaki yang baik, selama aku kenal. Lelaki yang bisa menghargai wanita. Lelaki penyayang dan pemerhati. Hanya itu, selebihnya sama seperti lelaki alin pada umumnya. Satu lagi, Mas Rafli itu tulus bila sedang bersamaku,' ucap Rara pelan dan tegas.
Kedua mata Fatarani menatap Rara dengan nyalang. Apa mksud dengan ucapan Rara?
"Apa maksudmu!! Ayah Rafli, Tulus bila sedang bersamamu!! Apa maksud dari ucapanmu!! Apakah kalian sudah pernah bertemu sebelumnya!! Brengsek!!!" teriak FAtarani semakin frustasi medengar ucapan Rara yag lagi-lagi malah membuatnya kesal dan sakit hati.
Merasa bersalah, Rara pun menutup bibirnya degan rapat dan mengunci bibir itu. Tadi, sebelum Fatarani datang, Rafli suami sirinya itu meneleponnya untuk tidak tersulut emosi dan jangan sampai berita pernikahan sirinya itu terkuak di saat yang kurang tepat.
Rafli hanya memohon kepada Rara, untuk tetap baik dan menghargai fatarani sebagai istri SAH Rafli.
__ADS_1
Satu tangan Fatarani memukul-mukul meja dengan sangat keras, hingga pelayan yang ingin mengantarkan makanan dan minuman yang di pesan oleh Rara pun berjalan mundur sambil mentap Rara menunggu komandinya.
Rara hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada pelayan itu dan memberikan kode untuk tetap meletakkan beberapa makanan dan minuman yang cukup bnayak. Rara dengan sengaja memesan makanan yang begitu banyak agar pembicaraannya dengan Fatarani semakin enak dan nyaman. Namun, semuanya berbanding terbalik. Fatarani sudah meletuskan pelurunya dari awal kedatangannya tanpa basa-basi, maklum kekesalannya sudah di pendam sejak lama, dan baru hari ini Fatarani bertemu langsung dengan Rara, wanita pengganggu rumah tangganya.