MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
81


__ADS_3

Posisi Rara saat ini memang tersudut. tapi, bukan berarti Rara dalam posisi bersalah. Sejak awal berkenalan dengan Rafli pun, Rara sudah tahu rafli memiliki hati yang sedang di jaga. Rafli sudah memiliki istri dan empat oarng anak.


Tapi, memang Rara sudah nyaman dengan Rafli. Mulai saat itu perasaan suka dan kagumnya harus berhenti cukup samapai disana agar tidak terpupuk dengan subur hinggan perasaan sayang dan cinta hingga perasaan saling memiliki satu sama lain dan sulit untuk melepaskan.


"Omong kosong!! Cinta tetap cinta!! Sayang tetaplah sayang!! Saya pernah merasakan hal yang sama seperti ini dan saya tidak mau terulang pada Ayah Rafli, Suami saya!! Cukup saat itu menjadi keretakan rumah tangga saya, dan jangan sampai terulang lagi," teriak keras Bunda FAtarani menghentak.Wajahnya sudah memerah karena marah dn kesal bercampur menjadi satu. Mungkin kalau Bunda Fatarani dan Rara ssaling berhadapan, sudah di pastikan keduanya akan gelut dan saling menyakiti satu sama lain mempertahankan harga dirinya masing-masing.


"Bunda yang meminta saya untuk jujur. Saya sudah jujur. Saya memang mencintai Mas Rafli, saya sangat sayang pada mas Rafli. Tapi, memang saya tidak punya niatan untuk merebut Mas Rafli dari Bunda Fatarani atau saya berniat memiliki Mas Rafli tanpa seijin Bunda Fatarani. Saya tidak segila itu, dan saya tidak mau seperti itu. Bunda Fatarani seharusnya menghargai saya. Jujur saya nyaman berkeluh kesah dengan Mas Rafli. Banyak hal positif yang diberikan oleh Mas Rafli sebgai nasihat dan wejangan bagi saya. Saya hanya butuh support, butuh dukungan, butuh dihargai agar mental saya semakin kuat!! Hanya itu!! Jadi, tolong lepaskan semua beban Bunda Fatarani yang berpikir jelek bahkan negatif tentang diri saya. Saya memang wanita single, tpi saya masih punya harga diri sebagai perempuuan. Dan sayang lebih mnegharagi perasaan Bunda Fatarani," ucap Rara panjang lebar menjelaskan keadaan yang sebenarnya.


Bukan tidak mau di salahkan atau tidak menerima kenyataan pahit yang di berikan Bunda Fatarani kepada Rara, sebagai wanita penggoda dan perusak rumah tngga orang lain.


"Seharusnya kamu bisa menjauhi Ayah Rafli, Suami saya. Abaiakan suami saya bila terus menghubungi kamu. Kalau perlu blokir nomor ini, dan tutup semua akses media sosial yang tetaut agar sAyah rafli, suami saya tidak bisa lagi menghubungi kamu!!" ucap Bunda Fatarani memohon.


"Maaf saaya tidak bisa melakukan itu. Lebih baik anda saja yng blokir semuanya, karena saya tidak ada masalah dengan mas Rafli, suami anda. Sepertinya pembicaraan kita cukup samapai disini. Banyak hal yang harus saya kerjakan. Saya harus mencari uang untuk anak saya. Terima kasih atas semua diskusi ini dan saya putuskan untuk tetap mencintai Mas Rafli dalam diam. Maafkan saya jika telah menyakiti dan membuat Bunda Fatarani kecewa untuk ke sekian kalinya," ucap Rara dengan tegas.


Rara pun langsung menutup sambungan telepon itu tanpa banyak kata lagi. Cukup jelas dan cukup sudah menjelaskan tentang keadaan yang sebenarnya.

__ADS_1


Hati Rara kini yang malahan menjadi bimbang dengan beberapa kata-kata Bunda Fatarani tadi. Mas Rafli bisa saja hanya mempermainkan perasaannya karena tidak enak atau sungkan jika harus menjauhi Rara.


Tapi pikiran jelek itu dihempaskan begitu saja oleh Rara. Rara lebih percaya kepada Mas Rafli yang sudah di kenalnya dari hati ke hati beberapa bulan ini. Mas Rafli termasuk laki-laki jujur dan apa adanya. Mas Rafli tidak pernah berbohong. Jika 'Ya', maka dia akan berkata 'Ya' dan jika 'Tidak' maka ia akan berkata 'Tidak'.


Mood Rara pagi itu makin tidak karuan. Suasana hati yang semual sudah di bangun dengan bahagi dan rasa semangat pun. Semuanya kini berbalik arah menjadi perasaan yang kacau dan was-as. Pikiran Rara yang dikatakan sebagai wanita penggoda dan wnaita perusak rumah tangga orang cukup membuat hatinya perih seperti teriris pisau.


Mungkin memang rasa khawatir dan ketakutan Bunda Fatarani sebagi istri sekaligus sebagai ibu dari empat orang anak yang kadang emosinyatidak stabil karena stres atau pikiran yang terus saja menjadi momok di otaknya.


Sarapan paginya suda di letakkan di meja makan. Abuya yang sejak tadi di urus oleh Aneng pun akhirnya datang menghampiri Rara yang ada di meja makan sambil merenungi kejadian yang baru saja terjadi.


Lelaki kesayagannya itu memang terkadang sangat manja sekali kepada Rara. Maklum, mungkin efek terlalu sering di tinggal oleh Rara untuk bekerja.


"Hei, Uluh ... Anak mama yang paling ganteng. Mau makan sendiri atau di suapin? Mama buat nasi goreng sosis dan bakso sama nugget, kesukaan Abuya," ucap Rara dengan suara pelan sambil mengangkat tubuh mungil anak lelakinya itu untuk di poangku di atas pahanya dan menjawil hidung pesek anaknya itu dengan gemas. Wangi khas anak kecil dengan taburan bedak dan minyak telon di sekujur tubuh Abuya membuat mood Rara kembali sedikit membaik. Aroma terapi wewangian rempa-rempah itu begitu menusuk indera penciumannya hingga mengguggah selera nafsunya kembali, seprti ada sesuatu yang membuat Rara kembali bergairah ingin meleati hari ini dengan baik.


"Suapin sama Mama," pinta Abuya sambil menatap wajah Rara dan menampilkan senyum bahagianya.

__ADS_1


Rara pun membalas senyuman hangat dari Abuya dan mengusap lembut kepala anak itu. Ada perasaan bersalah dalam diri Rara seumur hidupnya. Rara memang tidak mau mengungkap atau memeperkenalkan secara langsung antara Abuya dengan Cantas, Ayah kandungnya.


Sau piring malkan sudar terisis nasi goreng sosis dan bakso serta beberapa nugget ayam di pinggirnya. Rara mulai menyuapi anak kesayangnyannya itu dengan perlahan.


Suasana pagi itu begitu hangat dan nyaman, walaupun sempat berada di posisi yang sedikit membuatnya tegang tadi. Tapi, semuanya bisa di atasi dengan baik.


Setelah selsai sarapan pagi, Rara bersiap untuk ke Toko yang sudah beberapa bulan ini dibuka di ujung jalan kompleks perumahan sebelah. Kebetulan saat itu, membantu saudara jauh yang sedang kesulitan keungan dan mengoper semua usahanya mulai dari ruko hingga semua isi yang masih tersisa.


"Mama berangkat kerja dulu ya? Abuya sama Kakak. Baik-baik di rumah. Nanti kalau Mama pulang, Abuya mau di bawain apa?" tanya Rara lembut sambil mengecup kedua pipi gembil abuya dan kening Abuya dalam gendongannya.


Sejenak Abuya terdiam dan tampak berpikir, emncari sesuatu hal yang sedang diinginka untuk di pintakan kepada Rara, Sang Mama yang berjanji akan membelikannya.


"Buya, mau ayam chiken, sama tayo," pinta Abuya yang sangat sederhana.


permintaanya tidak pernah aneh-aneh dan sellau mudah untuk di dapatkan. Senyum Rara mengembang sempurna mendengar permintaan Abuya yang cukup sederhana itu.

__ADS_1


__ADS_2