MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
103


__ADS_3

Rara sudah mengirimkan lokasinya saat ini. Kepalanya masih sedikit pening dan memang butuh istirahat.


'Apa yang akan aku lakukan menerima laki-laki yang bukan mukhrimnya di dalam kamar. Walaupun hanya mengobrol tetap saja akan menjadi fitnah. Belum lagi kita hanya berdua, sudah tentu yang ketiganya pasti setan,' batin Rara di dalam hatinya.


Detak jantungnya berdegup dengan sangat keras sekali.


'Rasa apa sebenarnya ini?' lirih Rara di dalam hatinya.


Rara merebahkan tubuhnya sambil memejamkan kedua matanya. Berusaha menenangkan hatinya juga dengan merebahkan diri di atas kasur empuk dan beristirahat.


Rafli akan datang sekitar satu jam kemudian sesuai petunjuk aplikasi map.


Kedua matanya sudah terpejam dan muali terbuai ke dalam alam mimpi yang menghanyutkan. Kisah romantis mulai membuka awal mimpi Rara hingga wajah Rafli terpampang jelas di bola matanya yang tertutup.


Suara ketukan pelan pada pintu kamar dan nyaring dari nada dering yang di pasang dalam telepon genggamnya pun tidak merubah posisi tidur Rara yang masih pulas dan begitu nyaman sehingga senyaring dan sekeras apapun suara tidak membuat Rara terganggu sama sekali.


Ketukan pada pintu kamar semakin keras karen atidak ada jawaban dari dalam kamar itu. Rafli yang berada di depan kamar pun makin keki, karena tidak ada jawaban dan pergerakan dari Rara yang berada di dalam kamar.


Getaran dari ponsel Rara pun terdengar nyaring hingga ponselnya pun terjatuh dari nakas akibat getaran yang membuat ponsel itu sedikit demi sedikit bergesar dari letak sebelumnya.


PYAR .... Ponsel tersebut jatuh dan terlepas bagiannya satu sama lain. Rara terkejut dengan suara ponsel yang terjatuh. Tubuhnya lamgsung bangkit dan menatap kearah bawah sambil terdengar samar-samar suara ketukan dan panggilan dari arah luar yang pelan.


Baihaqi yang ingin keluar sebentar untuk menemui seseorang di luar bangunan apartemen pun sedikit terkejut melihat pria asing yang berdiri di depan kamar Rara. Rasanya cukup was-was dan Baihaqi tidak mengenali sosok lelaki itu. Tidak mungkin Baihaqi menyapa lelaki itu, kehidupan privasi sangat di junjung tinggi.


Baihaqi berjalan menuju lift dengan perasaan yang cukup cemas. Pikirannya terus tertuju pada Rara.


'Siapa lelaki itu? Kenapa aku malah penasaran dengan sosok lelaki itu? Aku harus mengabaikan, siapa pun lelaki itu tentu mengenal Rara. Tidak mungkin Rara memberikan alamatnya jika tidak mengenalnya. Apakah itu yang namanya Rafli? Mereka punya janji apa? Kenapa harus janji bertemu di kamara? Sedangkan aku saja, memilih tidak masuk ke dalam kamar, karena takut menjadi fitnah,' lirih Baihaqi di dalam batinnya dengan perasaan panik, cemas dan bingung serta penasaran yang akhirnya malah campur aduk.


Rara membuka pintu kamar itu dan seulas senyum manis terbit di sekitar bibirnya.


"Papah?" panggil Rara dengan suara lirih.


"Mamah ..." jawab Rafli pelan yang sedikit kaget melihat pintu kamar itu terbuka secara tiba-tiba.


"Masuk Pah," ajak Rara sambil menarik tangan kanan Rafli dan mencium punggung tangan lelaki itu dnegan sanga hormat.


Rara menarik lelaki itu masuk ke dalam kamarnya dan mengunci kamar itu kembali. Rafli pun menurut dan meletakkan tasnya di meja serta melepaskan alas kakinya.


Sejujurnya Rafli pun agak canggung masuk ke dalam kamar apartemen Rara. Rasanya agak sedikit was-was dan cemas, namun rasa rindunya mengalahkan semua kepanikannya sejak tadi.


Bisikan setan pun mulai beraksi dn memberikan bisikan-bisikan negatif yang sellau membuat Rafli terngiang-ngiang dan berpikir ke hal-hal yang tidak baik.


Rara mengambil satu botol air mineral yang ada di akmar itu dan memberikan nya kepada Rafli yang sudah duduk di tepi ranjang sambil mengedarkan pandanganny ake segala arah.


Kamar bercat putih secara keseluruhan menampilkan kesan bersih dan lapang, ditambah dnegan hordeng berwarna cokelat tua campur keemasan membuat aksen kamar itu terlihat mewah dan elegan. Pilihan lampu tidur pun terlihat unik dan lucu, terkesan klasik serta tempat tidur dengan motif kuno sehingga terlihat menjadi kamar yang nyaman untuk di tiduri.


"Ini Pah, minum dulu. Aku tidak punya apa-apa karena tadi juga buru-buru untuk segera pesan kamar. Kepalaku benar-benar sangat pusing," ucap Rara pelan menjelaskan.


"Tapi, Kamu sudah sembuh?" tanya Rafli yang terlihat cemas sambil menerim botol mineral itu dan meminumnya.


Tidak haus, tapi lebih menghargai pemberian Rara sebagai tamu spesial.

__ADS_1


Rara mengangguk pelan.


"Sudah lebih baik," jawab Rara dengan singkat.


Keduanya tampak sangat canggung sekali, dan keduanya hanya saling bertatap dan saling mencuri pandangan. Tidak tahu harus bicara apa lagi, karena sudah banyak yang mereka bahas selama ini.


"Boleh Papah memeluk kamu, Mah? Papah sangat rindu," ucap Rafli tiba-tiba dengan satu permintaan yang membuat terkejut sekaligus membuat Rara sennag.


Pelikan yang selama ini sudah menjaadi candu karena beberapa kali Rara bertemu dengan Rafli, hal itu yang sellau dilakukan Rafli kepada dirinya. Mmeluk tubuh Rara dengan erat dan meletakkan kepalanya di ceruk leher Rara dan mengendus aroma tubuh wanita kesayangannya itu dengansangat dalam. Terakhir Rafli patsi mencium kedua pipi gembil Rara yang menurut Rafli memiliki daya tarik sendiri hingga berulang kali Rafli selalu ingin menciumi pipi yang nampak seperti bakpau itu.


Rara mengangguk dan memberikan senyum terbaiknya untuk Rafli. Rara hanya menunjukkan rasa tidak keberatannya dengan permintaan wajar Rafli yang begitu merindu Rara.


Rafli pun berdiri menghampiri Rara dan berjongkok di depan wanita kesayangannya itu. Kedua tangannya melingkar di pinggang Rara dan kepalnya di letakkan pada kedua paha Rara. Perahan kedua mata Rafli terpejam dan menikmati setiap moment kejadian bersama Rara.


Entah kenapa, rasanya mulai saat itu, Rafli sangat takut kehilangan wanitanya ini. Terdengar tarikan napas yang begitu berat dari sela-sela lubang indera penciumannya yang tertekan diantara kedua paha Rara.


"Pah ..." panggil Rara pelan sambil mengusap rambut rafli dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.


"Ya sayang ..." jawab Rafli lirih dan mendongakkan kepalanya menatap Rara dengan wajah sendu menggemaskan.


Akhir-akhir ini, mereka lebih tampak lugas dalam pembicaraan seolah tidak ada tembok yang menghalagi untuk tema pembicaraan yang akan mereka bicarakan.


"Papah sudah makan?" tanya Rara dengan bibir sedikit bergetar. sebenarnya bukan hal ini yang ingin ditanyakan. Jujur Rara malu jika diciumi pipinya oleh Rafli. Bukan hanya malu saja, tapi juga ada rasa berdosa. Tapi, jika menuruti kata hati, Rara ingin lebih dari ini. Begitu pula dengan Rafli yang juga tidak ingin sekedar memeluk, mencium Rara, tetapi ada hasrat lain yang membuat tubuhnya terasa panas dan menginginkan lebih dari itu. Rafli berusaha menhan itu semua, menunggu respon Rara yang nampak sangat biasa saja.


Bisikan setan itu memang terlalu kuat. Iman kita benar-benar di uji saat hanya berduaan seperti itu. Rafli menguatkan hatinya dan berdiri lalu melepaskan pelukan di pinggang Rara. Pelukan itu berpindah dari pinggang lalu memeluk tubuh Rara dengan erat.


Posisi Rara masih duduk di tepi ranjang, sedangkan rafli sudah berdiri dan memeluk wanita kesayangannay hingga Rara pun menyandarkan kepalanya pada bgian perut Rafli sambil membalas pelukan Rafli di bagian pinggang.


Wajah rafli sudah mendekt apada wajah Rara. Tidak ada sejengkal, bahkan tidak ada seinchi pun karena sudah sangat dekat dan benar-bnear sangat dekat. Kedua bibir itu sudah bersentuhan tanpa ada pergerakan apapun hanya merasakan kedua bibir itu saling menyentuh dan memebrikan getaran aneh yang mampu mneingkatkan birahi keduanya.


Aroma mulut keduanya tercium di masing-masing indera penciuman pasangannya dan membuat kedua bibir mereka saling membuak dan ingin terus masuk lalu saling bertautan dengan sangat lembut.


Rafli membuka bibirnya dan mulai merasakan bibir kenyal Rara yang sudah mendingin karen sudah sejak tadi pun ingin merasakan sapuan bibir Rafli.


Bagian bawah keduanya terasa bergetardan muali terasa ada yang menyengat dan geli.


Rara mulai berani membalas tautan itu danmenarik lidah Rafli yang sudah lebih dulu absen di dalam rongga mulut Rara, menyapu semua gigi Rara dan menggoda lidah Rara untuk saling bermain lebih dalam dengan keduannya.


"Eungh ...." leguhan nikmat Rara tk terasa terucap lolos begitu saja dari bibirnya saat Rafli menekan tengkuk leher Rara untuk memperdalam ciumannya.


Rara pun terbuai dan mengikuti alur ciuman yang di berikan Rafli kepadanya. Hingga satu tangan Rafli pun dengan reflek menyentuh bagian keyal yang tepat berada sejajar dengan perutnya.


Rara terdiam merasakan sentuhan itu, malahan sensasinya membuat Rara semakin pasrah dan menginginkan lebih dari itu.


Rafli sengaa melepaskan ciuman itu dan menatap Rara yang masih memejamkan kedua matanya. rasa nikmat itu belum hilang hingga Rara tersadar ciuman itu telah berakhir beberapa detik sebelumnya dan Rafli sukses membuat Rara kecanduan dengan kegiatannya barusan.


Senyum Rafli terbit penuh dengan semangat dan kepuasan. melihat wajah Rara yang masih terlihat galau saat pertautan itu di lepas dan mimik wajahnya trlihat kecewa, semua itu membuat Rafli pun semakin bergairah.


Sebagai laki-laki berada di temoat sepi dan nyaman bersama dnegan wanita yang di cintainya. Apa mungkin mreka akan diam saja dan bercerita tentang apapun tanpa melakukan aktivitas seksualnya sebagai bagian dari keintiman dari hubungan keduanya.


"Mamah suka?" tanya Rafli dengan senyum penuh arti lalu mengecup bibir it dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Rara pun mengangguk pelan dan begitu sangat pasrah. Hati dan pikirannya suda jelas mengnginkan hubunga lebih dari ini.


"Papah butuh jawaban bukan hanya sekedar anggukan. Jika jawaban adalah sesuatu kesediaan maka kita akan melakukannya karena memang kita saling mencintai dan menyayangi," ucap Rafli menjelaskan dengan pelan.


"Aku suka Pah. Sangat suka sekali. Jika saat ini Papah bilang ingin menitipkan benih cinta pun, dengan sadar aku akan menjawab mau," jawab Rara dengan penuh kemantapan dan keihklasan.


Kini giliran Rafli yang cukup kaget dibuat oleh Rara. Jawaban itu cukup membuatnya sedikit galau. Ingin rasanya menjaga kehioormatan dan harga diri Rara sebagai perempuan. Tapi, hati tidak bisa di pungkiri, Rafli begitu menginginkan tubuh Rara untuk memenuhi hasrat seksulnya dan kepuasan batinnya.


keduanya saling bertatap lekat dan semakin dalam. Tidak ada keraguan sama sekali dari sorot kedua mata Rara yang dilihat oleh Rafli. Tapi, sebgai laki-laki yang sayang dan tidak ingin bermain-main pun membuat Rfali memikir dua kali untuk melakukan hal tersebut.


Jujur saja, siapa yang tidak ingin menikmati tubuh yang sudah disiapkan untuknya dengan kepasrahan. Sama seperti perihal, mana ada kucing yang megelak bila di beri tulang ayam di depannya. Pasti akan di endus dan kemudian aan di makannya tanpa pikir panjang. Kucing itu pasti melahap tulang ayam itu dengan sangat nikmat, tanpa tahu resiko setelah itu.


"Kalau aku menjawab iya. Apkah Papah akan memberikan benih cintaitu kepadaku?" tanya Rara lirih.


Rafli pun mengangguk pelan.


"Mamah yakin dengan semua ucapan Mamah? Mamah yakin dengan semua keinginan Mamah? Mamah sudah siap dengan resiko semuanya?" tanya Rafli pelan mengingatkan.


Suatu hubungan dua sejoli tidak hanya memikirkan sesuatu hal yang enak dan membuat keduanya nikmat dan emnikmati satu sama lain. tapi juga harus memikirkaan sebab akibatnya, resikonya, atau apa yang akan terjadi setelah ini yang kita sendiri tidak tahu.


Rara pun menyorot dalam kedua matanya kepada Rafli.


"Apa kamu berniat untuk meninggalkan aku?" tanya Rara lirih. tenggorokannya terasa sanagt panas saat mengucap kata itu.


Rafli menggelengkan kepalanya dengan sangat cepat.


"Sama sekali tidak. Bahkan Papah amu bertanggung jawab jika benih cinta itu berubah menjadi anugerah terindah berupa malaakat kecil," ucap Rafli lembut.


"Papah yakin mau bertanggung jawab dan menikahiku?" tanya Rara dengan perasaan cemas.


"Seakarang pun Papah mau menikahi Mamah. Tapi, Mamah selalu meminta restu dari Bunda. Papah sedang memperjuangkan Mamah untuk menuju SAH dan ingin menjadikan Mamah menjadi prioritas Papah," ucap Rafli lembut lalau memeluk Rara dengan menarik kepala Rara dan di dekatkan pada perut Rafli.


Satu tangan Rafli mengusap lembut rambut Rara yang begitu lembut dan wangi dengan aroma wangi yang khas.


Rara pun hanya menurut. Degub jantungnya tiba-tiba berdetak semakin keras dan kencang. rasa sesak pelukan itu membuat makin nyaman dan semakin intim ingin terus dalam dekapan Rafli dan tidak ingin melepaskannya.


Suara lirih Rafli berbisik lembut membuat Rara semakin keki dan bergetar di seluruh tubuhnya. Mereka berdua benar-benar sedang merasakan jatuh cinta.


"Mamah, mau memberikanya untuk Papah saat ini, dan hanya untuk Papah saja, tidak untuk yag lain," ucap Rafli dengan tegas.


Rafli harus lebih posesif. hubungannya dengan Rara bukan sekedar sama-sama ingin dan sebagai pelampiasan. Tapi, memang hubungan ini di bangun dengan pondasi rasa sayang dan rasa cinta yang sangat kuat sekali.


Kedua mata Rara mengerjap di balik perut Rafli. Kata-kata yang di ucapkan oleh Rafli suatu bukti keseriusan Rafli kepada dirinya. Rara menunggu kepastian ini, hingga Rara benar-benar tidak merasa bersalah jika harus mencintai suami orang.


Rafli pun selalu menunjukkan rasa cinta dan rasa penuh damba kepadanya. Rafli termasuk laki-laki yang jarang untuk melakukan rayuan maut untuk pasangannya. semua terasa sangat datar dan biasa saja.


"Papah yakin dnegan semua ucapan Papah? Papah yakin dengan semua keinginan Papah. Bukan Papah hanya ingin sekedar tidur bersamaku?" lirih Rara dengan perasaan cemas dan kearguan


"Mamah bicara apa? Tidak sedikit pun papah ingin bermain-main dengan Mamah," ucap Rafli tegas.


Rafli pun masih berusaha untuk meyakinkan Rara agar wnaita kesayangannya itu tahu, bahwa Rafli itu memang setia, tulus dan tidak pernah modus.

__ADS_1


__ADS_2