MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
76


__ADS_3

Fatarani membuang jauh-jauh rasa penyesalannya atas apa yang telah di ucapkannya tadi kepada Rafli, Sang Suami. Anak keempatnya sudah berhasil di berikan kepada Rafli untuk di jaga dan di rawat.


Sepanjang perjalanan menuju rumah saudara Fatarani. Fatarani semapt melamun dan berpikir bagaimana kelanjutan hidupnya. Dirinya benar-benar mapu atau tidak berpisah dengan Rafli, Sang Suami yang sudah jelas-jelas sayang kepada dirinya.


Rafli duduk terdiam di atas sofa ruang tamu itu sambil menggendong anaknya yang masih berusia sekitar tiga bulan itu. Wajah bayi itu yang terlihat masih polos dan tanpa dosa membuat hatinya semakin pedih. Mengingat kejadian beberapa menit yang lalu, perdebatan dengan Fatarani, Sang Istri yang menginginkan berpisah dan melontarkan kata cerai dengan sangat mudahnya.


Dosa apa yang telah di perbuat Rafli hingga tidak pernah terpikirkan dalam benaknya jika Fatarani akan senekat itu menginginkan cerai.


'Apa salahku?! Mimpi apa aku semalam, hingga hal ini terjadi begitu cepat dan nampak menyakitkan sekali,' batin Rafli di dalam hatinya.


Orang tua Rafli datang menghampiri rumah kontrakan Rafli setelah tadi mendengar ada keributan dan suara tangisan bayi.


"Lho, Anakmu ada disini, Raf? Bundanya kemana?" tanya Syakir, Ayah Rafli.


Rafli pun mengangkat wajahnya, lamunanya seketika buyar saat kedua matanya tadi menatap lekat wajah sayu dan polos bayi kecilnya itu.


Ibunda Rafli pun langsung mengambil alih, bayi yang ada di dalam gendongan Rafli. Wajah Rafli terlihat murung dan tersirat rasa kecewa yang sangat besar.


"Kamu kenapa Nak? Istrimu mana?" tanya Ibunda Rafli sambil menggendong tubuh mungil cucunya itu.


Ayah Rafli pun masih menunggu jawaban dari Sang Anak yang masih saja bungkam. Sudah jelas-jelas semua orang juga tahu, beberapa waktu lalu, suara Fatarani, sang Istri Rafli mampu membuat suasana hening di sekitar rumah kontrakan itu.


Kedua mata Ralfi pun mulai basah. Matanya sudah meemerah menahan kekecewaan yang teramat mendalam. Rafli hanya masih tidak habis pikir dengan apa yang baru saja terjadi dan di alami oleh dirinya.

__ADS_1


"Kalau orang tua bertanya itu, dijawab. Bukan malah diam?!" ucap Sang Ayah pelan dan menasehati. Sang Ayah tahu, jika Rafli sedang bingung, dan sedang tidak baik-baik saja. Usahanya baru saja bangkrut dan tidak bisa melanjutkan kontrakan untuk usahanya karena tidak ada uang.


"Fatarani meminta cerai," jawab Rafli dengan jujur. kata-kata itu begitu lolos dengan mudahnya dari bibirnya.


"Cerai?!" ucap Sang Ibunda setengah berteriak karena kaget. Sang Ibunda tidak mneyangka gadis yang pendiam seperti Fatarani berani meminta cerai kepada Suaminya.


Rafli mengangguk pelan mengiyakan ucapan Sang Ibunda.


"Istrimu itu sudah gila?! Datang membawa anak, lalu diberikan kepada kamu dan meminta cerai. Tidak ada ke rumah Bapak dan Ibu untuk sekedar silaturahmi dan bertegur sapa," ucap Sang Ayah pelan sambil menggelengkan kepalanya dengan rasa kecewa.


Hubungan Fatarani, istri Rafli dengan keda orang tua Rafli memang kurang baik, karena memang sifat dan karakter Fatarani yang kasar dan keras membuat kedua orang tua Rafli dan saudara kandung lainnya malas untuk sekedar berbicara hal-hal yang kurang penting begitu sebaliknya hubungan Rafli dengan Ayah Fatarani juga kurang baik, karena ketidak sukaan Sang Ayah mertua terhadap Rafli. Ayah mertua Rafli menganggap bahwa orang Jakarta itu seperti preman dan tidak baik, tapi yang jelas, Rafli bisa membuktikan dengan baik bahwa dirinya benar-benar sayang dan bisa membuat Fatarani bahagia.


"Entahlah, Ayah. Rafli sendiri tidak tahu. Kenapa bisa secara tiba-tiba meminta cerai tanpa ada masalah. Baru tiga hari yang lalu, Fatarani meminta uang untuk membeli susu dan jajan untuk Kakak dan Abang. Rafli berusaha menyanggupinya dengan baik jika permintaan itu untuk drinya dan anak-anak, itu suatu bentuk tanggung jawab Rafli terhadap keluarga kecil Rafli," ucap Rafli menjelasakan.


Rafli hanya bisa mengagguk kepalanya pelan. Tidak ada yang bisa Rafli lakukan setelah ini, rasanya sudah campur aduk dan tidak bisa berpikir dengan sangat jernih. Kini dirinya akan lebih fokus mengurus putra keempatnyaitu yang sudah berada di tangannya.


Kedua orang tua Rafli saling berpandangan dengan bingung melihat sikap dan reaksi Rafli yang terlihat biasa saja, cuek dan dingin.


"Nak, Kamu tidak mencari istrimu? Mengajaknya tinggal bersama di rumah kontrakan ini?" tanya Sang Ibunda sambil mengayun-ayunkan cucunya itu agar tetap tertidur pulas tanpa ada gangguan.


"Biarkan saja. Biarkan Fatarani melakukan apapun yang di sukainya. Rafli hanya akan diam, karena posisi Rafli tidak salah, bahkan tidak ada yang disalahkan," tegas Rafli dengan sikap dingin.


Hatinya yang kecewa dan sedikit sakit hati telah membuat Rafli menjadi semakin dingin dan beku. Tatapannya kosong ke depan mencari solusi lain yang lebih baik.

__ADS_1


Di tempat lain, Fatarani sudah berada di kamar tidur sepupunya. Cukup termenung mengingat kejadian sedikit konyol tadi. Suasana hatinya tadi siang memang sempat memanas dan sudah malas melihat wajah Rafli, Suaminya itu.


Ponsel Fatarani berdering dengan sangat keras. Fatarani melirik ke arah ponsel itu dan menatap nama yang tertera di layar ponselnya itu.


Nama lelaki idamannya itu sudah muncul dengan huruf besar yang telah di bold sebagai tanda kekhususan.


"Assalamualaikum, Abang?" ucap faarani memberikan salam.


"Waalaikumsalam, Cantiknya Abang. Lagi apa?" tanya Fadly kepada Fatarani. Pasangan saling mencinta itu sudah tidak malu lagi mengungkapkan rasa sayangnya secara vulgar.


Kedekatan mereka selama beberapa bulan ini, sudah mengenal dengan baik sikap dan karakter masing-masing secara umum saja bukan secara khusus.


"Lagi mikirin Abang, emmangnya sedang apa?" ucap Fatarani sambil sedikit terkekeh menanggainya.


"Gimana? Cantiknya Abang sudah meminta cerai pada Suami? Kalau sudah, kan Abang datang ke kampung kamu dan langsung melamar kamu untuk segera menikahi kamu," ucap Fadly pelan.


Hati Fatarani cukup tersentak kaget. Ada rasa percaya dan tidak percaya yang jelas Fatarani saat itu benar-benar senang. Bagamana tidak, ucapannya untuk meminta cera pun telah membuktikan Fadly mau lebih serius dengannya.


Fadly yang mengaku single dan bujangan serta memiliki beberpa usaha yang tersebar di beberapa kota berpura-pura sedang mencari jodoh yang setia dunia akhirat. Padahal tipuan modus seperti ini sudah menjadi modus operansi yang terlalu biasa. Hasil akhirnya pun juga terlihat, hingga lelaki itu menghilang tiba-tiba dan ternyata semua itu hanyalah ghosting saja, dan pnuh kepur-puraan.


"Abang benar aan menikahi Fatarani kan?" tanya Fatarani pelan.


"Iya. Jangan pernah ragu sama Abang. Abang serius menjalani sama kamu, Fatar," ucap Fadly pelan.

__ADS_1


__ADS_2