
Mendengar rintihan keras Rara dari arah kamar tidur utama. Baihaqi pun langsung berlari menghampiri. Rasanya sangat panik dan cemas.
Rina menghela napas panjang dan di hembuskan perlahan, rasanya lega sekali hingga Rina bisa mengelus dadanya dengan lembut. Dirinya terasa keluar dari sergapan macan yang hendak memangsanya. Perlahan keringt dingin Rina pun menguap bersama angin yang berhembus menerpa tubuhnya.
"Kamu kenapa Ra?" cemas Baihaqi yang benar-benar terlihat sangat panik.
Baihaqi duduk di tepi ranjang dan bingung harus berbuat apa. Tidak ingin menyentuh Rara yang bukan mukhrimnya, akhirnya Baihaqi berteriak memanggil Emak Warti dengan suara keras.
"Emak Warti!!' teriak Baihaqi dengan bingung.
Emak Warti berlari tergopoh-gopoh masuk ke dalam kamar tidur utama dan menghampiri Baihaqi.
"Gimana Ustad?" tanya Emak Warti pelan dengan napas yang terengah-engah.
"Tolong bantu Rara, apa yang dirasakannya? Kenapa sampai kesakitan begitu, aku tidak tega melihatnya. Aku sedang memanggil ambulance untuk membawa Rara ke rumah sakit," titah Baihaqi yang masih sibuk menelepon rumah sakit.
Keadaan Rara tidak bisa di diamkan karena bisa saja fatal.
"Mas ... Tolong aku, ini mulas sekali. Rasanya kayak di peras-peras , sakit sekali," ucap Rara lirih menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Non Rara, yang sabar. Istigfar Non," ucap Emak Warti pelan mencoba menenangkan Rara. Emak Warti sendiri juga bingung harus berbuat apa.
"Sakit sekali, kenapa begini?" ucap Rra dengan suara lirih dan bergetar. Bibir bawahnya digigit dengan sangat keras untuk menahan rasa sakit di perut Rara.
__ADS_1
"Ra ... Sabar ya. Ambulans akan datang, kamu yang sabar dan minta yang terabik untuk kamu dan anakmu. Pasrahkan semuanya," ucap Baihaqi pelan sambil mengenggam tagan Rara.
Baihaqi secara spontan memegang tangan Rara. Bukan apa-apa dan tidak ada maksud serta tujuan lain selain memang ingin membantu wanita hamil itu agar tenang, kuat serta sabar.
Rara hanya bisa pasrah dan mengangguk peln. Keringatnya sudah mengucur deras di seluruh tubuhnya terutama di bagian kening dan lehernya. Entah bagaimana Rara bisa menahan rasa sakit itu dengan kekuatannya sendiri.
Rina berjalan gontai ke arah kamar tidur Rara. Ada perasaan bersalah menyelimutinya. Usia kandungan Rara baru memasuki enam bulan lewat seidkit, tapi dnegan teganya Rina memberikan suntikan perangsang hingga membuat Rara begitu kewalahan merasakan sakit.
Tubuhnya setengah menatap ke arah dalam kamar. Suara riuh yang terdengar sangat miris. Teriakan-teriakan histeris Rara yang membuat hati Rina pun merasa teriris. Nasi sudah jadi bubur, tidak ada yang bisa mngembalikan keadan seperti semula.
'Apa yang harus aku lakukan, ini pati sangat sakit seklai. Cepat atau lambat suntikan perangsang itu akan mengeluarkan bayi Rara secara paksa. Sudah pasti bayi itu akan terlahir prematur dan buruknya lagi akan ada kecacatan karena tubuhnya belum terbentuk dengan normal dan sempurna,' batin Rina di dalam hatinya.
Satu keinginan Rina adalah, orang-orang yang berada di dekat Bhaqi harus musnah dari muka bumi ini. Tidak peduli wanita itu siapa, Fatima pun bisa di singkirkan dengan sangat rapi.
Obsesi Rina untuk mendapatkan Baihaqi sudah tidak bisa di bendung. Rina sangat ingin sekali menyandang status istri SAH dari Ustad Baihaqi.
"Rina!!" teriak baihaqi keras saat melihat Rina yang akan pergi meninggalkan rumah baihaqi.
DEG!!
DEG!!
DEG!!
__ADS_1
Jantung Rina seolah berhenti berdetak, mendengar teriakan Baihaqi yang sangat keras dan lantang memanggil namanya. Detak jantungnya pun berdegup sangat cepat. Rasanya ingin pergi dengan pintu doraemon agar tidak di ketemukan dimana ia berada. Kedua kaki Rina terasa sangat berat untuk melangkah, seperti ada batu beasr yang etrikat pada pergelangan kakinya, hingga tidak bisa pergi untuk melarikan diri dan bersebuyi dari tatapan tajam Baihaqi yang bagaikan seekor elang hendak memangsa mangsanya.
"Berhent!! Aku bilang berhenti!! jangan kamu langkahkan kakimu lagi walaupun itu hanya selangkah," ucap Baihaqi dengan suara keras.
Dengan wajah yang berpura-pura tidak ada masalah. Rina pun berusaha membalikkan tubuhnya dan tersenyuum manis.
"Ada apa Bai?" tanya Rina dengan suara lembut, namun terasa sedikit bergetar takut. Ada kepanikan terlihat jelas di wajah Rina.
"Sudahlah tidak perlu bersikap manis. Aku tahu dengan semua kepura-puraanmu, pintar sekali kamu main drama?" sentak baihaqi kepada Rina.
Raut wajah Rina langsung berubah merah padam. Ada rasa malu, kesal, kecea dan sakit hati bercampur menjadi satu.
"Berpura-pura bagaimana? Aku tidak mengerti dengan semua ucapanmu Bai? Aku beneran tidak paham dengan maksud kamu," lirih Rina dengan suara yang dibuat sanagt lembut.
"Huh, Pintar sekali kamu memutar balikkan fakta. Mana tanggung jawabmu? Sampai terjadi sesuatu pada Rara dan bayinya, maka kamu akan aku cari hingga ke ujung dunia sekali pun!! Camkan kata-kataku Rina!! Aku tidak main-main dnegan hal ini!! Aku tidak peduli kamu paham dengan maksud dan ucapanku atau tidak!! Tapi aku tahu, kamu pasti mengerti maksud dan tujuanku, sama seperti aku mengerti dengan semua maksud dan tujuan kamu yang terlalu berobsesi itu!!" ucap Baihaqi keras dan terlihat sangat marah serta kasar.
Rina menundukkan kepalanya. Dirinya benar-benar sangat bodoh dan menyesali perbuatannya itu. Memang benar semua ucapan Baihaqi, Rina terlalu berobsesi untuk mengejar gelar istri SAH Sang Ustad. Tapi itu semua karena cinta, karena rasa sayang, karena rasa ingin memiliki, dan karena rasa takut kehilangan.
"Aku tidak mengerti maksudmu Bai," lirih Rina dengan menunduk. Hatinya telah mengakui semua kesalahannya tapi bibirnya tidak bisa berkata jujur. Ada rasa ketakutan tersendiri di dalam hatinya untuk mengakui semua perbuatannya termasuk apa yang telah dilakukan kepada fatima juga. Mungkin Baihaqi akan benar-benr murka dan tidak bisa memaafkannya. Bis jadi, Rina akan benar-benar di jebloskan ke penjara untuk memepertanggung jawabkan semua kejahatannya itu.
"Argh .... Aku sudah tidak kuat lagi, seperti ada yang mau keluar dari arah bawah, rasanya seperti ingin buang air besar. Bagimana aku bisa menahan ini semua," teriak Rara yang menahan napas untuk menahan bayinya agar tidak keluar sesuai petunjuk dokter kandungan yang telah di telepon oleh Baihaqi.
"Non Rara tetap sabar, tahan napas Non. Ya Allah, bagaimana Emak harus membantu, kalau bisa menggantikan tentu Emak akan menggantikan posisi Non Rara," ucap Emak Warti pelan yang ikut simpati melihat keadaan Rara yang sudah pucat dan lemas. Keringat dinginya sudah eklaura membasahi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Rara benar-benar berjuang dan bertarung dengan nyawanya. Rasanya benar-benar sangat sakit, dan tidak bisa ditahan lagi.