MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
73


__ADS_3

Rafli menegakkan duduknya dan menggeser lalu mendekatkan tubuhnya ke arah Fatarani.


"Apa sih yang sebenarnya Bunda ingin tahu?" tanya Rafli dengan lembut. Satu tagannya mengusap pipi chubby Sang Istri dengan pelan. Rafli benar-benar bersikap tennag walaupun ia sadar akan kesalahan yang telah di buatnya.


"Ayah masih mau berkilah?! Masih mau tidak jujur dengan semua ini?! Bunda punya bukti semuanya dari sini!!" tegas Fatarani sambil menunjukkan ponsel milik Sang Suami itu.


Rafli berusaha tersenyum, namun tertahan di tenggorokannya yang kering kerontang karena menahan rasa hausnya. Rafli lebih memilih mendengarkan ocehan Sang Istri dan menelan pil pahit karena memang satu kesalahan fatal telah di buatnya.


"Apa Ayah pernah berkilah dengan Bunda? Hal apa yang tidak pernah Ayah jawab dengan jujur?" jaab Rafli dengan begitu tenangnya tanpa ada rasa panik.


"Ada hubungan apa Ayah dengan Rara?!" tanya Fatarani mengulang kembali pertanyaanya karena rasa penasaran.


"Baik. Ayah akan jawab dengan sejujur-jujurnya semua pertanyaan Bunda agar tidak penasaran kembali. Tapi, Bunda harus janji untuk tidak emosi menanggapi ini semua. Adapun ada hal-hal yang membuat Bunda kecewa, itu semua harus Bunda terima dengan lapang dada," ucap Rafli pelan.


Kedua mata Fatarni melotot ke arah Rafli karena rasa tidak percaya dengan jaaban Rafli yang terdengar sangat jujur. Dan, bisa di rasakan bahwa semua ini memang suatu kebenaran. Sesuai keinginan Rafli, agar Fatarani siapmenerima kejujuran Rafli.


"Cepat jawab, jangan membuat Bunda semakin penasaran dengan ini semua. Bukti chat mesra Ayah kepada Rara sudah membuktikan kalau kalian berdua memang ada hubungan khusus bukan hanya sekedar teman ataupun sahabat atau teman curhat. Lebih mengarah teman tapi mesra, tidak salah kan kalau Bunda mencap Rara sebagai pelakor dalam rumah tangga kita?!" tegas Fatarani yang mulai tersulut amarah dan emosinya semakin meninggi dan meledak-ledak.


"Oke. Ayah jawab! Ayah memang punya hubungan khusus. Kita berdua saling jatuh cinta dan memang kita berdua saling berkomunikasi sekedar bertukar kabar ataupun ...." ucapan Rafli pun terhenti dan tidak dilanjutkan. Rafli sangat paham pengakuannya ini tentu akan menyakiti hati Sang Istri.

__ADS_1


Tangisan Fatarani seketika pecah saat mendengar pengakuan Rafli, Sang Suami. Fatarani sudah tidak kuasa menahan tangis dan sudah tidak anggap mendengar pengakuan yang membuat hatinya sakit bagaikan tertusuk jarum yang begitu runcing.


"Apa Ayah?! Kalian saling berbalas chat mesra? Iya kan? Kalian saling mengungkap rasa sayang dan kekaguman kalian satu sama lain. Bunda baca semua Ayah, Bunda baca chat kalian, dan itu membuat hati Bunda sakit," ucap Fatarani lirih dengan suara tertahan serak lalu menangis tersedu.


Rafli sedikit terhenyak menatap Fatarani yang nampak histeris kembali. Rafli kembali memeluk Fatarani dengan erat. Rasa bersalahnya kembali muncul, dan menatap sendu pada kedua mata sembab yang sedikit bengkak itu. Leleran air mata Fatarani telah bercampur dengan cairan dari hidung yang terus saja keluar dengan sendirinya.


"Maafkan Ayah. Maafkan Ayah, Bunda. Bunda mau memaafkan Ayah?" tanya Rafli pelan. matanya juga ikut basah. Tidak tega meliha Sang Istri menangis hingga sesegukan menahan sesak di dadanya karena rasa kecewa dan sakit hati yang terasa menghujam hati dan jantungnya. Rasanya begitu berat dan sangat pedih.


Fatarani menggelengkan kepalanya dengan pelan. Gelengan kepalanya sangat yterasa di bhau Rafli hingga membuat Rafli semakin mempunyai perasaan bersalah yang tak termaafkan.


Satu tangan Fatarani mendorong kuat tubuh Rafli agar menjauh dri tubuh fatarani dan melepaskan pelukan hingga tubuh mereka saling menjauh. Jujur, Fatarani sudah jijik dengan semua ini. Ini bukan kali pertamanya Rafli melakukan hal yang sama. dulu, beberapa tahun yang lalu, kejadian yang sma seperti ini pernah terjadi juga. Tapi, semua itu hanya sebatas chat. Namun, kali ini rasa cemburu Fatarani makin menguat saat mengetahui, Rara siap dengan segala kemungkinan termasuk menjadi istri kedua Rafli.


Rafli kembali menarik tubuh Fatarani dan memeluk tubuh mungil Sang Istri dengan sangat erat. Hatinya tidak akan mungkin bisa dan tidak akan mungkin sanggup melakukan itu semua. Rafli juga tidak mengambil keputusan sendirian dan semua itu perlu di rundingkan walaupun memiliki sitri dua itu di perbolehkan secara agama.


"Ayah tidak akan melakukan itu jika Bunda tidak mengijinkan," ucap Rafli dengan polosnya.


Fatarani pun mendorong tubuh Rafli dengan sangat keras hingga tubuh rafli terdorong ke belakang hingga akan terjatuh ke lantai.


"Ayah pikir Bunda ini mainan!! BUnda ini benda mati yang tidak punya perasaan!!" teriak Fatarani dengan suara keras. Kedua matanya terbuka lebar menatap tajam ke arah rafli bagaikan elang yang ingin memangsa magsanya dalam cengkeraman kedua kakinya.

__ADS_1


Rafli menggelengkan kepalanya dengan sangat cepat.


"Ayah tidak akan berbuat itu, walaupun Rara bersedia, Rara pun menunggu restu dari Bunda. Rara juga tidak pernah menyuruh Ayah berbuat tidak baik," ucap Rafli pelan menjelasakan sambil memegang kedua tangan Fatarani.


Fatarani mengehmapskan genggaman erat keduat tangan Rafli pada jari jemarinya yang lembut itu.


"Sekarang Ayah bisa bilang begitu!! Lama kelamaan, Rara tidak akan sanggup menunggu dan menunggu kepastian. Dan, Bunda yang akan menjadi korban dari Sang Pelakor!!" teriak Fatarani semakin keras dan tinggi.


Fatarani sudah tidak bisa menhan amarah dan emosinya. Ucapan Rafli, Sang Suami membuat murka dan menyuliut kemabli emosinya hingga berapi-api.


"Bunda jangan pakai emosi. Ayah bivcaa baik-baik dan jujur. Bukankah tadi Bunda minta Ayah untuk bicara jujur?" tanya Rafli dengan pelan.


"Hu ... Hu ... Hu ......" suara tangisan itu smeakin keras terlontar dari bibir Fatarani. Meyeyat hati suaranya. engah malam harus mendengarkan lengkingan suara tangis yang membuat hati rafli pun ikut sedih.


"Bunda ... Tolong diam. Tidak eak d dengar tetangga. Nanti dikira kita berdua punya maslah besar, padahal ini hanya slah paham," ucap Rafli pelan dan berusaha menarik tubuh dan kepala Fatarani untuk dipeluk dan di sandarkan di dadanya.


Rafli hanya ingin mendiamkan Fatarani, istrinya agar tidak smeakin histeris dan tidak menangis hingga seperti orng kesurupan.


Berkali-kali kening istrinya itu di cium penuh kelembutan dan kasih sayang. Rafli memang merasa bersalah, tapi apa yang dilakukannya tidak salah. Rafli dan Rara hanya saling menyukai, mengagumi dan mencintai. Bahkan Rara tidak pernah menuntut apapun juga, termasuk untuk dinikahi. Karena Rara tahu, posisi Rafli, sebagai orang yang dicintainya itu sudah memiliki istri dan berstatus suami orang.

__ADS_1


"Ayah, tidak akan pernah meninggalkan Bunda. Sampai kapan pun, kecuali Bunda melakukan kesalahan fatal," ucap Rafli lirih di dekat telinga Fatarani.


__ADS_2