MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
112


__ADS_3

Fatarani sudah berada di rumah orang tuanya di kampung. Sudah tiga hari ini, Fatarani hanya mendekam di dalam kamar tidurnya.


Tidak mengingat apapun termasuk keempat anaknya yang berada di Jakarta. Apalagi mengingat rafli, suaminya, sama sekali tidak. Malahan semakin mengingat Rafli, wajah Rara, Sang pelakor pun semakin jelas terbayang di otak Fatarani.


Frustasi? Susah jelas. Wanita mana yang tidak frusatasi dan trauma bila secara terang-terangan suaminya mengatakan mencintai dan menyayangi wanita lain? Bagaimana perasaan Fatarani saat ini. Jiwanya tentu terguncag, sudah bukan rasa sakit dan perih lagi yang dirasakan tapi rasa benci yang berlebihan kepada Rafli, suaminya dan wanita yang selmaa ini menjadi pelakor di daam rumah tangganya.


"Aku memang banyak kekurangan!! Tapi, bukan ini yang seharusnya kamu lakukan kepadaku, Ayah!! Kamu tidak hanya melukai persaanku, tapi juga melukai perasaan orang tuaku. Kamu tahu, aku sudah tidak memiliki ibu sejak kecil, saat aku tahu Abah menikah lagi dengan perempuan lain, aku benci!! Aku anggap Abah tidak setia dan tidak bisa menjaga keutuhan rumah tangganya, hingga anak-anaknya satu per satu pergi meninggalkan rumah. Saat itu aku baru sja keluar sekolah, dan Ayah siap menikahiku, tentu aku bahagia, bahkan sangat bahagia dengan ini semua. Tapi, menikahi Ayah sama saja menikahi artis karena terlalu banyak wanita yang mengagumimu, hingga di titik ini, Ayah sudah tidak bisa menjaga hati dan menikahi perempuan yang Ayah anggap sempurna itu," teriak Fatarani dengan histeris.


Tangisannya tidak berhenti sejak tiga hari yang lalu. Makanan dan minuman yang di antar ke kamarnya pun tidak pernah di sentuhnya. Fatarani benar-benar gila dengan kehidupannya. Tidak bisa menerima semua ini.


"Ceraikan aku saja!! Aku tidak mau Ayah gantung seperti ini. Aku tidak mau ada cinta lain di hati Ayah!! Aku tidak mau menjadi yang pertama karena aku ingin menjadi satu-satunya untuk Ayah. Tapi kalau kejadiannya sudah begini, ceraikan aku!! Untuk apa aku bertahan dan mempertahankan pernikahan ini, jika Ayah juga ingin mencari kesempurnaan di luar!!" teriakan Fatarani semakin keras.


Suara teriakan itu begitu meyayat hati orang tuanya dan saudara-saudaranya yang berada di rumah itu. Mereka semua tidak berani masuk ke dalam kamar Fatarani kecuali untuk mengirimkan makanan dan minuman saja.


Barang-barang yag ada di dalam kamar itu sudah berantakan, beberapa barangnya di lempar ke sembarang arah sesuka hati Fatarani yang pikirannya sedang kacau dan hatinya begitu hancur lebur bagaikan kaca yang terus di pukuli dengan palu, hingga menjadi bubuk dan serpihan yang mudah di terpa angin.


"Apa yang ada dalam pikiranmu Ayah!! Kenapa kamu tega memperlakukan aku seperti ini!! Mana janjimu dulu, untuk tetap setia sampai mati, menjalani pernikahan ini dunia akhirat!! Laki-laki brengsek!!" teriak Fatarani sambil menendang-nendang kakinya di atas kasur.


Beberapa kali bantal dan guling serta selimutnya digigit dengan gemas. Kebenciannya terhadap Rafli, suaminya semakin menjadi hingga rasa itu semakin hilang.


Di luar kamar Fatarani, Abah Fatarani yang sejak tadi mendengar rengekan,teriakan, jeritan, dan tangisan Fatarani pun menjadi tidak tega. Beberapa kali lelaki tua itu mondar-mandir dengan tangan di dilipat di belakang punggung.


Abah berpikir keras mencari solusi terbaik untuk putri bungsunya itu. Tanpa Fatarani bercerita, tentang masalah pribadinya yang sedang di hadapinya.

__ADS_1


Fatarani bukan kali ini saja nmenghadapi masalah yang sama. Dulu beberapa tahun yang lalu, Fatarani juga semapt menggugat cerai Rafli, suaminya karena Fatarani merasa Rafli, sumainya tidak bisa menfakahinya dengan baik hingga Fatarani memiliki pria idaman lain, yang di kenalnya melalui media sosial online dan berencana untuk melanjutkan hubungannya ke jenjang yang lebih serius.


"Abah ... Masuk saja ke kamar Fatar, mungkin jika Abah yang mengajaknya bicara, Fatar mau bicara. Sejak tiga hari yang lalu, Fatar datang ke rumah ini, Fatar hanya berada di kamardan menangis. Makanan pun tidak di sentuhnya, apalagi Fatar sedang mengandung dan usia kandungannya sudah menginjak tujuh bulan, tentu sangat rentan bila Sang Ibu mengalami trauma yang berakibat depresi. Atau, kita bicara baik-baik dengan rafli. Kita telepon dia untuk datang kemari? rafli kemarin sempat menanyakan keadaan fatarani, dan sepertinya nampak panik, tapi teleponnya cepat di tutup, si bungu sedang menangis, dan belum ada telepon lagi," ucap lembut Ibu Tiri Fatarani menasihati Abah, suaminya.


Abah Fatar hanya mengangguk paham dan membenarkan semua ucapan istrinya itu. Dengan cepat Abah pun, mengambil ponselnya dan mulai menekan nomor telepon Rafli, menantunya itu. Jujur saja, Abah dulu kurang merestui hubungan rafli dan Fatarani karena, Rafli berasl dari Jakarta. Menurutnya, lelaki jakarta itu brengsek dan suka mabuk-mabukan dan tidak bertanggung jawab menafkahi istrinya dengan baik. Tapi, seiring berjalannya waktu dan usia pernikahannya, Rafli mampu membuktikan aapa yang di ucapkan Sang Mertau itu salah besar.


Rafli mati-matian bekerja satu hari full time hanya untuk membahagiakan istri dan anaknya dan hanya ingin mencukupkan kebutuhan mereka tanpa kurang satu apapun.


Semua dilakukannya tanpa mengenal lelah, tanpa mengenal panas terik dan hujan badai.


Sambungan telepon itu telah tersambung, namun belum jugadiangkat oleh si penerima. tidak lam, Rafli mengangkat telepon dari Sang Mertua.


"Assalamualaikum ... Iya Bah. Fatar bagaimana keadaannya?" tanya Rafli dengan rasa penasaran.


"Waalaikumsalam ... Apa kamu tidak ada keinginan untuk datang ke kampung dan menjemput istrimu?" tanya Abah kembali tanpa menjawab petanyaan Rafli.


"Rafli tidak memiliki uang. Ini juga menunggu gajian beberapa hari lagi saat akhir bulan," ucap Rafli pela menjawab dengan jujur.


"Hah!! Menantu macam apa kamu!! Bertahun-tahun bekerja dan hanya sampai disitu saja gajimu, tidak pernah bertambah. Membeli rumah pun tidak mampu!!" ejek Sang Mertua yang memang padadasarnya kurang suka ada Rafli, menantunya itu.


Rafli hanya bsa menghela napasnya dan menahan rasa kesalnya di ejek oleh Sang Mertua seperti itu. Rasanya seperti tidak punya harga diri.


"Minimal Rafli masih berusaha mencari untuk menafkahi demi kebahagiaan Fatar, Abah," ucap Rafli membela dirinya untuk mempertahankan harga dirinya.

__ADS_1


"Kalau kamu memang berusaha!! Usaha jemput istrimu!! Jangan sampai menyesa dengan keadaanya. Fatar sudah tiga hari tigalam tidak makan dan minum!! Kamu tidak khawatir?" teraik Abah yang mulai emosi dengan sikap Rafli.


"Fatar tidak makan dan minum sudah tiga hari? Lalu bagaimana dnegan kandungannya. Baiklah, rafli akan pulang sekarang juga," jawab Rafli lalu menutup teleponnya dengan cepat.


Rafli segera keluar dari tempat kerjanya untuk mengejar Rara yang mungkin masih ada di parkiran mobil depan kantor tempat Rafli bekerja. Melihat mobil putih Rara yang masih terparkir di depan, rafli pun menghampiri namun Rara tidak ada disana.


Rafli mnegedarkan pandangannya dan mencari keberadaan Rara.


"Hei ... Kenapa Pah? Kayak lagi panik? sudah telepon Bunda? Bagaimana keadaanya?" tanya Rara dengan senyum manisnya yang selalu menjadi candu bagi Rafli.


"Mah .... Papah boleh minta tolong?" tanya rafli dengan ragu. Selama mengenal Rara semua kebutuhan hidup Rafli selalu di subsidi oleh Rara jika kurang. Maka dari itu, Rafli selalu tidak enak hati untuk terus meminta tolong kepada Rara, istri sirinya itu.


"Apa Pah? Katakan saja? Mamah pasti akan bantu Papah. mamah habis beli susu hamil," ucap Rara pelan sambil membuka kemasan susu kotaknya dan mulai menyedot susus kotak itu hingga habis.


Rafli tersenyum lebar melihat Rara yang begitu menjag kehamilannya.


"Papah mau ke kampung menjemput Bunda. Sudah tiga hari Bunda tidak mau makan dan minum, Papah khawatir dengan keadaanya dan kandungannya. Papah mau pinjam uang untuk ongkos pulang," ucap Rafli pelan sambil menunduk.


Mendengar ucapan Rafli, sontak Rara terkejut. Rasa bersalah itu tiba-tiba saja muncul apalagi sudah tiga hari ini, Rafli dan keempat anaknya sudah tinggal di apartemen Rara yang di sewanya untuk satu tahun ke depan.


Rara sengan membawa baby sitter untuk mengurus keempat anak Rafli dan Abuya tetap di urus pribadi oleh Kak Aneng.


"Papah butuh uang berapa? Atau aku antarkan saja Papah ke kampung?" tanya Rarapelan dan ikut panik.

__ADS_1


__ADS_2