MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
41


__ADS_3

Sudah sepuluh menit berlalu, Bidan yang memeriksa Rara belum juga keluar dari kamar Baihaqi.


Baihaqi mondar mandir di depan kamar tidurnya dengan cemas.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Bidan pun menolak untuk aku masuk ke dalam sesuai permintaan pasien," lirih Baihaqi sambil mengusap wajahnya dnegan kasar.


Wajahnya tidak hanya panik dan cemas. Tapi juga Baihaqi seolah merasakan penderitaan batin Rara yang tengah dirasakan Rara.


"Tenang saja Pak Ustad. Non Rara pasti baik-baik saja," ucap Emak Warti lembut mencoba menenangkan hati dan pikiran Baihaqi, majikannya itu.


Pintu kamar itu terbuka. Bidan yang memeriksa Rara pun keluar dari ruangan itu dan menutup kembali pintu kamar itu.


Tatapannya langsung bertemu pada Ustad Baihaqi saat kakinya melangkah keluar kamar itu.


"Bagaimana keadaan Rara?"tanya Baihaqi yang terlihat sangat cemas.


"Rara ini siapa kamu, Ustad Baihaqi?" tanya Rina, Bidan desa yang bertugas di desa tersebut.


"Dia sahabatnya, sahabatku," ucap Baihaqi pelan kepada Rina.


Rina adalah sepupu Fatima, istrinya.


"Tapi wajahmu cemas, Ustad. Apakah wanita ini spesial untukmu? Sama spesialnya dengan Fatima?" tanya Rina pelan seolah memojokkan dengan rasa penasarannya.


"Jangan tanyai aku seperti itu Rina. Fatima tetap istriku dan selamanya aku akan tetap mencintainya," jawab Baihaqi lantang.


"Lalu wanita yang ada di dalam? Dia sempat mengigau nama kamu Bai," ujar Rina dengan suara pelan.


"Aku hanya kagum akan ketulusan dan kebaikannya. Hanya itu, tidak ada yang lain," ucap Baihaqi menjelaskan.


"Tatapan matamu itu tidak bisa bohong Bai. Ada cinta dan kasih sayanguntuk wanita itu, dari dalam hatimu. Jujur saja padaku, Bai," ucap Rina yang terus emmojokkan Baihaqi hingga lelaki alim itu menjawab dengan kata ya atau membenarkan.


Baihaqi menggelengkan kepalanya pelna.

__ADS_1


"Kita berdua hnaya adik dan kakak saja," ucap Baihaqi pelan.


"Adik Kakak? Tapi mengigau nama Baihaqi, itu tidak ada hubungan?" tanya Rina dengan sedkit kecewa karena Baihaqi seolah sedang menutupi hubungannya dengan Rara.


"Sudahlah janagn di bahas. Bagaimana keadaanya, saat ini?' tanya Baihaqi yang masih terlihat cemas. Raut wajah cemasnya tidak bisa dihilangkan atau berpura-pura tidak cemas.


Rina tertawa lebar dan tersenyum kecut.


"Semua laki-laki sama kan? Tidak ada yang setia pada satu wanita, sekalipun wanita halalnya itu telah meninggal dunia," ucap Rina pelan menjelaskan.


Rina adalah sepupu terdekat Fatima. Selama ini Fatima selalu menceritakan kebaikan Baihaqi, suaminya.


"Cukup Rina, aku sedang tidak ingin berdebat masalah ini. Kalaupun aku menginginkan Rara untuk menjadi istriku dan menggantikan posisi Fatima, tidak ada masalah kan?" tanyaBaihaqi kepada Rina.


"Kamu lupa? Wasiat yang tertulis, pesan terakhir istrimu?" tanya Rina mengingatkan.


"Aku ingat. Aku hanya diijinkan menikah kembali, jika wanita itu adalah kamu?" ucap Baihaqi pelan tanpamerespon ucapannya sendiri.


"Sudahlah. Aku cuma heran dengan kamu, Rin, kenapa kamu begitu terobsebsi dneganku. Kamu tahu, Fatima meninggal saat melahirkan putra bungsuku, ajdi tidak akan mungkin sempat membuat wasiat. Kecuali emang bertahun-tahun istriku itu sakit dan menahan rasa sakitnya, mungkin saja sempat membuat urat wasiat. aku hanya tidak habis pikir dengan ini semua. Lalu, jika terjadi sesuat kepada Rara, kamu orang pertama yang aku cari, Rin" tegas Baihaqi pelan lalu masuk ke dalam kamarnya.


Baihaqi menatap Rara yang masih memejamkan kedua matanya sambil terbaring lemah di atas kasur empuk itu. Langkah kecilnya begitu pelan menghampiri Rara dan duduk di tepi tempat tidur miliknya itu.


Wajah Rara masih nampak pucat. Setiap inchi wajah Rara di tatapnya dengan penuh kerinduan. Ya, Baihaqi rindu ... rindu sosok Rara yang selalu ceria dan tidak pernah menangis kecuali rasa sakit hatinya tidak bisa terslurkan kembali.


"Sembuh Ra. Aku akan tetap menjagamu, apapun yang terjadi. Aku juga akan merawat anakmu nanti jika sudah lahir," ucap Baihaqi lirih.


Rina menatap punggung Baihaqi dari arah luar kamar tidur utama milik Baihaqi. Celah hati Baihaqi yang kosong memang sudah terisikan oleh wanita lain.


'Ternyata, Aku hanya dianggap sebagai orang lain dan bukan sebagai sebagai calon pengganti ibu ketig anakmu.


"Ra ...." panggil Baihaqi pelan.


Rara perlahan membuka keduamatanya dan menatap lekat Baihaqi yang sudah ada di depannya.

__ADS_1


"Mas Bai. Maafkan aku, tadi aku pusing seklai, dan perutku sangat sakit seklai. Tadi di suntik apa oleh Bu Bidan? Kenapa tubuhku rasanya sakit seklai, dan perutku terasa mulas berputar," ucap Rara lirih sambil meringis kesakitan.


Ini kehamilan pertamanya dengan segudang permasalahan dalam kehidupannya.


"Suntik apa? Aku tidak tahu. COba aku ke depan untuk menemui Bidan Rina. Apa yang di suntikkan kepadamu," ucap Baihaqi semakin cemas dengan kondisi Rara dan kandungannya.


Baihaqi langsung keluar kamar dan mencari Rina, sepupu Fatima.


"Rina?!" panggil Baihaqi dengan suara keras.


Rina masih berada di ruang tamu dan duduk sambil menikmati teh manis hangat buatan Emak Warti. Panggilan keras Baihaqi dari arah dalam membuatnya tersentak kaget hingga tersedak.


Tatapannya langsung bertemu dengan tatapan bengis Baihaqi.


"Rina?! Ada masalah apa kamu dengan Rara? Kenapa kamu begitu tega dengan Rara!! Apa yang kamu suntikkan kepada Rara?" tanya Baihaqi lanatang.


Rina yang merasa terpojokkan pun hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Dalam hatinya berkata, padahal Rara sedang tertidur pulas tadi, kenapa tahu akusuntikkan sesuatu ke tubuhnya.


"Jawab!! Apa yang kamu suntikkan ke tubuh Rara!! Aku tidak peduli lagi, mau kamu sepupu Fatima, atau apapun!! Kalau kamu salah maka kamu harus tanggung jawab!!" ucap Baihaqi dengan suara keras dan lantang.


"Aku tidak melakukan apa-apa, Bai?! Kenapa kamu tidak percaya padaku?" ucap Rina yang terlihat cemas namun berusaha tetap tenag seolah tidak bersalah.


"Rara yang bilang, kamu menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuhnya dan kini perutnya terasa mulas dan sakit!! Lalu, kamu tadi juga tidak mengijinkan aku untuk menemani kamu, itu alasan dan bukti kalau kamu tidak ingin di ganggu dengan segala aktivitas burukmu!! Kamu cuma Bidan, tidak ada rahasia jika memeriksa seorang wanita hamil," teriak baihaqi yang mulai kesal dan kecewa terhadap Rina.


Tubuh Rina bagai di hantam batu besar. Gelas yang berisi teh manis itu diletakkan kembali ke atas meja ruang tamu. Tangannya terlihat bergetar, walaupun Rina berusaha untuk tetap tenang karena menyembunyikan sesuatu yang buruk.


Rina berusaha tertawa lalu tersenyum, padahal keringat dinginnya sudah membasahi sekujur tubuhnya.


"Bisa kamu tertawa, seolah tidak ada apa-apa?! Kamu lihat apa yang terjadi dengan Rara kini!! Mau dilaporkan kepada Polisi?" ancam Baihaqi dengan lantang.


"Kamu sudah gila!!" jawab Rina dengan suara tak kalah keras.


"Arghh ... Mas Bai!!" teriak Rara dari dalam kamar tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2