MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
70


__ADS_3

Mas Hendra sengaja menutup ponselnya terlebih dahulu tanpa aba-aba, membuat Rara semakin kesal dibuatnya.


Rara jadi benar-benar ikut terhanyut dalam masalah ini dan ingin berteriak dengan sangat keras.


'Apa sih yang sebenarnya terjadi!!' teriak Rara dalam hatinya dengan sangat keras bertanya-tanya.


Sikap Mas Hendra yang terkesan cuek dan seolah tidak ada apa-apa pun semakin membuat Rara bingung dan penasaran.


Tubuh Rara masih bersandar nyaman di sofa itu. Wajahnya yang cantik menatap ke arah jendela besar di ruangan itu dan menatap ke arah langit yang terlihat cerah penuh dengan taburan bintang.. Lampu di ruang tengah itu sengaja di padamkan hingga sorotan temaran rembulan malam pun memantulkan cahanya hingga masuk kedalam ruangan tengah itu.


Ponsel Rara yang masih berada dalam genggaman pun kembali berbunyi dengna nyaring. Nada dering itu terus saja berbunyi hingga membuat Rara kembali menoleh ke arah ponselnya. Kali ini nama Rafli tertulis dengan besar di layar depan ponselnya. Dengan segera Rara mengangkat telepon itu dan menyapa lelaki yang sudah menemaninya selama beberapa bulan ini.


"Assalamualaikum ... Ra, belum tidur?" tanya Rafli dengan suara yang khas lembut sekali.


"Waalaikumsalam, belum Mas. Habis terima telepon dari Mas Hendra, kebetulan Dyah, sahabatku yang juga istri Mas Hnedra pergi dari rumahnya dan malam ini menginap di rumahku. Tadi suaminya tanya keadaan Dyah dan minta tolong untuk menjaga Dyah," ucap Rara pelan menjelaskan.


Rafli adalah lelaki yang selama ini menjadi teman curhat Rara. Apapun masalah yang sedang dihadapi Rara, secara otomatis Rara ceritakan langsung kepada Rafli. Entah kenapa dari awal mengenal sosok lelaki baik itu, hati Rara merasa aman dan nyaman.


"Mereka sedang ada masalah? Atau memang sengaja ingin bermain menemui kamu?" tanya Rafli sedikit menyelidik.


"Ekhem ... Ya, mereka sedang dalam masalah. Padahal sebentar lagi Dyah itu berulang tahun, dan ini adalah hadiah terburuk yang akan di terimanya selama menikah dan bersama dengan Mas Hendra," ucap Rara spontan.


"Dyah mau ulang tahun? Kapan?" tanya Rafli kemudian.


"Lusa," jawab Rara singkat tanpa ada rasa curiga sedikit pun.


"Jadi lusa, dyah ulang tahu. lalu, Mas Hendra beralibi apa tentang masalahnya?" tanya Rafli dengan tenang dan suara lmbutnya.


Rara cukup terkejut dengan nada bicara Rafli yang seperti mengetahui sesuatu apdahal Rara belum sedikitpun bercerita tentang permasalahan yang sedang di alami oleh Dyah dan Mas Hendra.

__ADS_1


"Mas? Kok sepertinya kamu tahu sesuatu? Memang kamu kenal dengan Mas Hendra?" tanya Rara yang bingung dan penasaran.


Rafli tertawa lepas.


"Mana ada Mas kenal dengan teman-teman kamu?" jawab Rafli pelan.


Rara mengangguk pelan membenarkan ucapan Rafli. Tentu saja Rafli tidak akan mungkin kenal mas Hendra ataupun Dyah dan teman-teman Rara lainnya. Rara sendiri kenal Rafli hanya secara online atau dari dunia maya saja. Bertemu dan bertatap muka saja belum pernah.


"Memang tidak kenal. Siapa tahu sudah kenal tanpa aku ketahui," jawab Rara dengan polos.


"Demi Allah, Mas tidak mengenal semua teman-teman kamu, kecuali teman-teman aplikasi kamu," ucap Rafli pelan.


"Iya Mas. Tapi, Kok, Apa yang Mas ucapkan tadi hampir semuanya benar," tanya Rara yang semakin penasaran.


"Ha-ha-ha ...." gelak tawa Rafli semakin keras dan tidak bisa berhenti. Rasanya memang sangat konyol dan tidak patut untuk di percayai, tapi memang setiap ucapannya selalu tepat dan benar-benar terjadi.


"Kok malah tertawa sih. Kamunini suka aneh, Mas," kesal Rara.


Rara terdiam, sedikit pun tidak kepikiran bahwa ini semua hanya akal-akalan Mas Hendra. Pantas saja, alibinya terkesan menggantung dan seperti mengada-ada, tapi memang semua bukti tidak ada yang mengarah pada bukti perselingkuhan.


"Aku kok tidak kepikiran sampai kesana, Mas. Ya, bisa jadi banget ini semua memang sandiwara Mas Hendra. Tapi, ini semua keterlaluan. Kasihan Dyah yang begitu terpuruk selama satu bulan ini," ucap Rara dengan lirih.


"Biarkan saja. Mungkin akan ada surprise besar untuk Dyah. Lebih baik kamu tidak terlalu mencampuri urusan mereka, dari pada malah membuat masalah itu semakan berat bagi Dyah," nasihat Rafli kepada Rara.


"Tapi, Mas tidak lihat betapa terpuruknya Dyah. Tidak mungkin kan, aku sebagai sahabatnya hanya diam dan tidak membantunya," ucap Rara membela diri.


Dalam hatinya masih bimbang, jika masalah itu nyata maka Rara akan benar-benar menyesal telah mengabaikan Dyah.


"Ya, sudahlah. Kamu sudah makan belum?" tanya rafli penuh perhatian.

__ADS_1


"Sudah Mas. Mas sendiri sudah makan malam?" tanya Rara kembali.


"Sebentar lagi Mas pulang. Mas terbiasa makan di rumah, bersama istri dan anak-anak. Ra, sudah malam, Mas mau pulang sekarang," ucap Rafli pelan.


"Iya, Mas. Sudah malam, tentu kamu juga sudah lelah Mas. Pulanglah, kasihan anak dan istrimu pasti sudah menunggu kedatangan suami dan ayahnya," ucap Rara pelan menasehati.


"Iya. Terima kasih, Ra. Mas pulang ya. assalamualaikum," ucaprafli memberikan salam terakhir.


"Waalaikumsalam," jawab Rara pelan.


Rafli sudah menutup sambungan telepon itu terlebih dahulu. Ponselnya diletakkan di nakas tempat ia bekerja. Kedua tangannya memegang kepalanya yang terasa semakin berat. Baru kali ini Rafli merasakan berat di kepalanya dan begitu merasakan sayang dan sulit mengakhiri ini semua. Perasaannya terhadap Rara semakin hari semakin bertambah sayang, hingga Rafli sendiri merasa kesulitan untuk melupakan sosok wanita yang telah memberikan kenyamanan.


Selama ini, Rara bukan hanya saja dijadikan teman bercerita bagi Rafli, tetapi juga dijadikan sebagai temapt untuk mencurahkan kasih sayangnya yang selama ini dirasakannya.


Hubungan mereka adalah hubungan yang dewasa, hubungan yang tidak saling menuntut, cukup saling mengerti dan memahami serta saling mengetahui perasaan satu sama lain.


Keduanya hanya bisa saling mendukung akvitas masing-masing pasangannya. Kesibukan Rara sebagai pembisnis dan kesibukan Rafli sendiri yang fokus bekrja untuk mencari nafkah bagi keluarganya.


'Kalau memang Tuhan memberikan jalan jodoh untuk kita, maka jalan kita pun akan semakin terbuka lebar,' batin Rafli di dalam hatinya.


Rafli menarik napasnya dalam hingga seluruh rongga dadanya terisi penuh oksigen baru. lalu dihembuskan pelan.


Pikirannya mulai tenang. Rafli meraakan akhir-akhir ini hubungannya dengan istri sedikit merenggang. Beberapa kali, sang istri mendapatkan chat yang mengarah sedikit kemesraan di ponsel rafli bersama Rara.


Selama ini, Rafli masih bisa menutupinya dengan baik. Namun, entah sampai kapan semua ini akan berakhir.


Teringat permintaan Rara aktu awwa perkenalan mereka.


"Mas, aku mau kok jadi istri kedua kamu. Tapi, harus ada ijin dari istri kamu," ucap Rara saat itu dengan tegas.

__ADS_1


Rafli yang sudah merasa kagum dengan Rara semakin puas mendengar keinginan Rara mau dijadikan yang kedua.


__ADS_2