MAHAR 33 RIBU

MAHAR 33 RIBU
52


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Tidak terasa sudah satu jam berada di taman Kompleks ini. Selama itu pula Abuya hanya menikmati permainan ayunan saja, tidak dengan yang lain. Padahal ada banyak berbagai macam permainan di Taman Kompleks itu.


Ada perosotan, pasir putih seperti di pantai, hingga patung kuda-kudaan yang bisa dinaiki oleh anak-anak pun juga ada.


"Sayang, Kita pulang yuk?" ucap Rara pelan kepada anaknya di sela-sela masih mendorong pelan mainan ayunan tersebut.


"Buya, Masih mau disini. Lihat itu susu sapi yang biasa Buya beli. Buya mau Ma, rasa coklat," ucap Abuya keras dengan penuh keriangan.


Hari itu menjadi hari bahagia Abuya. Binar dari kedua matanya dan wajahnya tidak isa dibohongi, karena terungkap semua kebahagiaannya. Sudah lama Abuya tidak bermain dengan Sang Mama apalagi pergi berdua lalu berjalan-jalan. Ada kerinduan di hati anak lelaki balita itu, saat menemui teman-teman seusianya yang selalu pergi bersama Mama atau dengan Papanya.


"Mau susu coklat? Ayok kita beli, sekalian itu ada apa lagi? Banyak yang jualan," ucap Rara, Sang Mama memberikan peluang utnuk Abuya bisa memilih makanan dan minuman yang disukainya.


Abuya menatap Rara, Sang Mama dengan penuh rasa kebahagiaan.


"Mau, Abuya mau sosis itu, boleh Ma? Sama Kak Aneng selalu tidak boleh, katanya tidak bersih dan Buya bisa sakit," ucap Abuya pelan dengan gaya khas yang mengikuti cara bicara Aneng.


Sontak Rara pun tertawa lepas mendengar ucapan Abuya yang begitu polos, jujur dan menggemaskan.


"Betul sekali kata Kak Aneng, dan sekarang Mama ijinkan, karena Abuya pergi dengan Mama, besok-besok tidak boleh kecuali susu coklat. Janji ya," ucap Rara pelan sambil memberhentikan laju ayunannya dan menurunkan putra semata wayangnya itu dari dudukan ayunan.


Abuya mengangguk pasrah dengan permintaan Rara yang tidak bisa dibantah. Tapi, paling tidak hari ini adalah harinya bagi Abuya, hari dimana Rara, Sang Mama akan terus memanjakannya dengan semua keinginannya.


Rara pun berpikir sama dengan Abuya. Hari ini adalah hari yang spesial, berharap bisa menjadi hari yang paling berkesan bagi Abuya.

__ADS_1


Sesuai dengan janji Rara kepadaAbuya, Rara pun membelikan satu susu cokelat dan sosis bakar kesukaan Abuya. Merek berdua duduk di kursi taman menghadap ke arah air mancur yang terlihat sederhana namun sangat segar saat memandang air yang jatuh dari pancuran ke kolam tersebut.


"Kamu senang Buya?" tanya Rara, Sang Mama kepada Abuya sambil membuka bungkusan sosi bakar yang akan dimakan oleh Abuya.


"Senang," jawab Abuya singkat sambil menyeruput susu cikelat dari gelas cup dan diletakkan di samping tempat ia duduk.


"Habiskan susu dan sosisnya kemudian, kita pulang ya," ucap Rara pelan sambil tersenyum.


Abuya mengangguk pelan dan mulai memakan makannannya itu.


Rara membuka ponselnya, dan membuka salah satu aplikasi favoritnya yang belakangan ini membuat ia kecanduan. Sebuah aplikasi yang menyalurkan hobinya hanya untuk menghilangkan rasa jenuh dan bosan saat berada di luar rumah ataupun sedang di dalam rumah. Aplikasi bernyanyi, salah satu apikasi kesukaan Rara, akhir-akhir ini aplikasi ini membuat Rara bahagia. Pasalnya bukan hanya bisa menyalurkan hobi bernyanyinya saja, tapi juga ternyata Rara bisa mendapatkan teman-teman baru walaupun hanya berada di dunia maya.


TING!!


"Assalamualaikum, sedang apa?" begitu kira-kira isi pesan singkat dari aplikasi tersebut. Dengan cepat Rara pun segera membalas pesan tersebut.


"Waalaikumsalam, sedang di taman bersama Abuya. Tadi minta jalan-jalan pagi dan kita bermain disini," jawab Rara dalam pesan singkat itu.


Sudah satu bulan ini, Rara dan Rafli berkenalan dan saling mengenal lebih dalam lagi tentang kepribadian masing-masing. Rafli yang jujur sejak awal teah memiliki istri dan lima orang anak itu tetap saja melanjutkan obrolan mereka di pesan singkat yang ada d aplikasi tersebut.


Begitu juga dengan Rara, sebagai wanita single yang telah memiliki anak merasa tidak ada beban untuk menanggapi setiap pertemanan baik sesama jenis ataupun lawan jenis sekalipun.


Perkenalan singkat di salah satu room bernyanyi dengan Rafli, membuat keduanya memiliki chemistry tersendiri hinggamelanjutkan obrolan mereka di salah satu pesan singkat di aplikasi itu.

__ADS_1


"Salam untuk Abuya. Kamu tidak ada acara?" tanya Rafli dalam pesan singkat itu.


"Nanti, kebetulan ada job untuk ke lia kota," jawab Rara sambil tersenyum sendiri.


Entah seperti apa, rupa wajah seorang Rafli, laki-laki yang dikenalnya di dunia maya ini, yang jelas semua ini membua Rara nyaman. Semua kepedulian, perhatian, ketulusan dan obrolan mereka pun membuat satu sama lain tidak bisa menghentikan pertemanan ini.


"Hati-hati di jalan saat bekerja. Tetap nomor satukan Abuya, dalam kesibukanmu," ucap Rafli memberi nasihat. Bapak dengan lima orang ini angat bijak dan sayang terhdp anak-anak. Jalan pikirannya sangat dewasa, walaupun usianya berada satu tahun di bawah Rara.


"Iya, siap. Terima kasih atas nasihtnya. Kamu juga hati-hati dan semangat bekerja mencari nafkah untuk keluargamu," ucap Rara saat membalas pesan singkat itu.


"Ra, Aku minta nomor ponsel kmau boleh? Maaf Aku agak lacang, maksudku biar agak mudah saja menghubungi kamu," balasan Rafli kali ini membuat senyum Rara pun terbit penuh rasa bahagia.


Setelah sekian lama mereka berdua berkenalan dan saling membalas pesan singkat di aplikasi bernyanyi, kini rafli meminta nomor ponselnya.


Sebelumnya, Rara pernah meminta nomor ponsel Rafli, tapi dnegan tegas Rafli menolak, dengan alasan tidak menyebarkan nomor ponselnya kepada teman-teman yang dikenalnya lewat aplikasi, dan alasan kedua karena menjaga perasaan istrinya yang sangat posesif dan pencemburu. Rafli dengan jujur berucap ada hati yang harus aku jaga dan selalu aku jaga agar tidak tersakiti.


Keputusan itu membuat Rara mengerti dan paham. Berteman dengan lelaki yang sudah beristri itu tidaklah semudah dengan lelaki yang tidak memiliki keuarga, yang bebas dan tidak memiliki komitmen aau ikatan sah dengan wanita yang sering dis ebut sebagai istri.


"Dengan sennag hati aku memberikannnya. Ini nomor aku, Mas. 08xxxxx," balas Rara dengan perasaaan bahagia melingkupi hatinya.


Entah bagaimana lagi Rara mengungkapkan rasa bahagianya, yang jelas memang ini yang diharapkan Rara sejak dahulu. Bisa berkomunikasi denga Rafli secara intens.


Jujur Rara merasa ada sesuatu yang berbeda dengan Rafli. Bisa jadi, Rara sudah jatuh cinta terhadap Rafli yang berawal dari kesukaannya mendengarkan Rafli menyanyi di salah satu room bernyanyi yang sering Rara buka untuk sekedar bersenang-senang.

__ADS_1


__ADS_2