
Hampir satu jam, Pak Andre adu argumen bersama sang menantu yang cukup pintar berkelit.
Percuma saja dia bersikeras mempertahan kan keinginan nya, untuk memisahkan putri nya bersama suaminya Kenzo Mahesa.
Ia baru sadar, siapa yang di hadapi sekarang ini. Meeting tender saja dia bisa menang, dengan banyak nya perusahan-perusahan yang besar ikut serta. Apa lagi dengan masalah seperti ini.? Kecil untuk dia memenang kan adu argumen dengan ku.
Pak Andre memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri beberapa waktu. Sebelum memutuskan sesuatu yang sangat besar. Dan masa depan putri kesayangan nya yang akan menjadi taruhan nya.
''Apa kamu yakin, bisa memperjuangkan putri ku ini.?''
''Aku sangat yakin, bahkan Mom ku sekarang ini ngin sekali bertemu dengan sang menantunya.'' Ujar Kenzo tersenyum geli, membayangkan sang Mom pagi-pagi sekali, datang ke Apartemen hanya mencari sang menantunya yang di kira malam itu tidur di Apartemen nya.
''Kenapa kamu bisa seyakin-yakinnya seperti ini? Mungkin saja Mom mu hanya ingin mencaci maki adik ku ini. Atau hanya ingin menyogok adik ku ini untuk menjauh dari kamu.'' Sinis Aldo.
Mendengar sang Mom di tuduh seperti ini, Kenzo tak terima. Rasa nya dia ingin sesekali membungkam mulut pedasnya itu. Kalau tidak ingat dia Kakak ipar nya sendiri. Sudah habis di tangan nya sekarang ini.
''Kau boleh menuduh ku sesuka hati mu, tapi jangan pernah menuduh Mom ku seperti itu, Mom ku tidak pernah sejahat yang kau tuduhkan.'' Terselib kemarahan yang memuncak.
''Aku ingin berbicara empat mata bersama Kenzo, kalian berdua keluarlah lebih dulu.'' Sela Pak Andre.
''Baiklah Pa,'' Ucap Aldo berlalu keluar.
''Ki,'' Panggil Papa Andre yang melihat, putri nya masih setia di tempat dia berdiri.
Kiana mendongak melihat sang Papa,
''Iya Pa,''
''Pa,'' Panggil Kia sebelum keluar dari ruangan tersebut.
''Jangan membuat jantung Papa kambuh lagi gara-gara Kia, dengan ada nya masalah ini.'' Pinta Kia sebelum berlalu keluar dari ruang yang mendominasi warna putih tersebut.
Dengan sekilas kedua mata Kia bertemu dengan manik mata Kenzo beberapa waktu. Dengan tatapan memohon kepada Kenzo suaminya. Supaya tidak membuat jantung Papa nya kambuh lagi.
Kenzo mengangguk, seolah-olah sudah tahu apa yang di ingin kan oleh Kia istrinya.
__ADS_1
🍃
🍃
🍃
Setelah Kia duduk di kursi tempat menunggu pasien beberapa waktu. Dengan pikiran bercampur aduk menjadi satu.
Dia sangat takut akan terjadi sesuatu di dalam sana. Beberapa kali Kiana terus menerus melihat pintu yang tertutup rapat dengan sempurna itu. Hampir satu jam, belum ada tanda-tanda akan di buka dari dalam.
''Ini minum dulu, tidak perlu cemas dengan mereka berdua.'' Ujar Aldo dengan membawa dua botol minuman dingin di tangan nya.
Dengan senang hati Kia meminum nya hingga tidak tersisa.
''Aku tahu Kak, hanya khawatir dengan kesehatan jantung Papa yang belum sembuh total.''
Aldo mengangguk-anggukan kepalanya pelan, membenarkan apa yang di bilang Kia.
''Hmm, Ki.'' Panggil Aldo.
''Tanya saja Kak,''
''Apa kamu pernah melakukan sesuatu dengan suami mu itu.?'' Bisik nya pelan. Karena ini di tempat umum tidak sepantas nya membahas hal pribadi di sini. Meskipun lorong yang di tempati mereka berdua sangat lah sepi,apa lagi di tengah malam seperti ini.
''Maksud nya, ''
''Ish, hubungan yang di lakukan oleh pasangan suami istri, Kiana.''
''Apa,'' Emang apa yang dilakukan oleh suami-istri, gumam nya pelan.
''Hubungan suami istri seperti apa sih, Kak.?''
''Mencetak Baby,'' Singkat Aldo ke inti nya.
''Iiih, Kakak pikiran nya mesum,'' Dengan menggeser menjauh dari Kakak nya duduk.
__ADS_1
''Kau, siapa yang di sini membuat mesum duluan? Sampai di nikahkan paksa.'' Sindir Aldo.
''Itu mah, beda Kak kasus nya.'' Bela nya.
''Kupikir itu sama saja bagi Kakak.'' Putus Aldo.
🍃
🍃
🍃
''Pasti nya kamu sudah tahu kan, apa yang terjadi di antara aku dengan Keluarga tunangan mu itu.?''
''Sudah, mereka berdua masih bersaudara, bukan.'' Kenzo.
''Lalu, kenapa kamu mengesahkan secara resmi pernikahan mu dengan Kia. Kalau kamu sudah tahu kalau mereka berdua bersaudara. Apa kamu sengaja ingin membuat dua bersaudara itu saling bermusuhan.'' Tuduh nya.
''Tidak, bukan itu maksud aku. Aku baru tahu setelah pernikahan itu terjadi. Mana mungkin aku melakukan nya dengan sengaja. Yang ingin membuat dua bersaudara itu bermusuhan.''
''Aku juga yakin, kalau mereka berdua belum mengetahui nya. Kalau mereka berdua memang bersaudara. Jadi ini tidak sepenuhnya nya salah aku, bukan.'' Menaikan kan sebelah alis nya.
''Terus apa yang kamu lakukan ketika semua nya ini terbongkar di keluarga tunangan mu itu.''
''Issh, aku kan sudah bilang berulang kali Papa mertua. Pertunangan itu sudah di batalkan secara baik-baik. Aurel sendiri yang membatalkan nya. Jadi, jika ini semua nya terbongkar, itu lebih bagus. Bahkan aku berharap itu terjadi sekarang juga tidak lain hari lagi.''
''Terserah kau saja,'' Putus nya.
''Jadi Papa mertua, sudah merestui aku gitu.'' Wajah Kenzo berseri-seri bahagia, yang sudah mendapatkan lampu hijau dari sang mertua.
''Tentu, asalkan kau bisa menepati janjimu itu. Yang mampu memperjuangkan Putri kecil ku.''
''Siap, Papa mertua.'' Dengan cepat memeluk Papa mertua begitu erat karena bahagia. ''Dari tadi kenapa, Pa. Tidak susah-susah adu argumen dulu baru di restui.'' Ejek Kenzo bercanda di sela-sela pelukan nya.
''Kau, berani sekali dengan mertua mu ini. Mentang-kentang sudah dapet kan restu dari ku.'' Geram Pak Andre.
__ADS_1
''