
''Dan, jangan pernah menjalin hubungan dengan pria mana pun itu. karena kamu sudah berstatus seorang istri. Sudah paham apa belum Kiana.?'' Tanya Kenzo tegas.
''Apa, itu juga berlaku sama Kakak.?'' Tanya Kia ragu-ragu.
''Apa pertanyaan mu itu perlu aku menjawab nya.?? Bukannya kamu sudah tau jawabannya.'' Ujar Kenzo dengan suara rendah, dan menatap lekat manik mata Kia.
Kia yang mendengar jawaban dari Kak Kenzo yang tidak seimbang. Memberanikan diri membalas balik tatapan dari kak Kenzo ke pada nya.
''Perlu Kak, bahkan sangat perlu. Kita ini orang asing yang harus bersatu, demi sebuah pernikahan yang tidak di sengaja. Bahkan kita ini tidak tau satu sama lain nya.''
''Bagaimana caranya kita saling memahaminya Kak.?'' protes Kia yang tidak terima dia di larang memiliki hubungan dengan pria mana pun. Sedangkan dia, memiliki perempuan yang bernama Aurel. tidak seimbang bukan, pikir Kia lagi.
''Dari awal, aku ini sudah ragu Kak. Melanjutkan pernikahan ini, kenapa kita ini tidak berpisah saja, kan gak ada yang tau soal pernikahan kita, kecuali kita berdua. Dan ini hanya sebuah pernikahan siri saja Kak.''
Kenzo yang mendengar kalimat yang terakhir. membuat rahang nya mengeras, kedua tangan nya sudah mengepal begitu sempurna.
Kia yang menyadari perubahan dari Kak Kenzo. Dia menelan saliva nya dengan kasar.
''Bagaimana dengan orang tua kita,?kalau pernikahan ini tetap di lanjutkan. Yang tidak cukup dengan hidup kita berdua saja Kak.'' Ucap Kia yang sudah berkeringat dingin.
''Kita, bisa memulai dengan.''
''Dengan ada nya, saling terbuka di antara kita berdua, bukan. Aku juga tidak bisa terus menerus membohongi keluargaku,'' Keluh Kia.
''Apa lagi di antara kita, sudah ada orang ketiga sebelum kita menikah.? Dan, menurut ku ini tidak mungkin, untuk kita melanjutkan pernikahan ini lagi.'' Usul Kia dengan lega.
Yang sudah mengeluarkan semua yang mengganjal di dalam hati nya. Sudah kepala tanggung, membuat Kak Kenzo marah, sekalian saja yang sudah terlanjur marah. Biar cepat selesai dan tuntas masalah sekarang ini. Pikir Kia.
''Orang ke tiga.''
''To the point.'' Ucap Kenzo singkat.
Sebelum menjawab, Kia menarik nafas sedalam mungkin. Mengurangi sesak di dalam dada nya.
Drtt
Drtt
Handphone Kia bergetar di dalam saku seragam nya.
__ADS_1
''Sebentar Kak.''
''Hmm.'' Jawab Kenzo.
Kia berdiri dan melangkah menjauh dari Kak Kenzo tersebut.
''Hallo Chik, ada apa.?'
''Kamu dimana jam segini belum pulang Ki.?''
Kia melirik sekilas arloji di tangan nya, lalu Kia tersenyum begitu senang mendapatkan seorang sahabat yang sangat peduli dengan nya sekarang ini. Pantesan Chika sudah menelfon nya berulang kali. Dengan sengaja tidak aku angkat tadi. ''Kamu tenang saja, setengah jam lagi aku sudah sampai di rumah. Tidak perlu khawatir dengan berlebihan seperti itu.'' Meyakin kan Chika.
''Baguslah, aku sudah khawatir kalau kamu akan seperti dulu, Ki. Yang tidak pulang -pulang. Tau-tau nya kamu sedang sakit.''
''Iya, aku mengerti Chik. Ya sudah aku tutup dulu, bye Chik.''
''Bye Ki, hati-hati di jalan ya.''
Kia kembali berjalan ke ruang tamu, ketika dia sampai sudah tak mendapati sosok Kak Kenzo di sofa. ''Apa dia masuk ke dalam kamarnya, ya?'' Lirih nya.
Kia berjalan bolak-balik di depan pintu kamar tersebut. Yang di duga kamar milik Kak Kenzo sekarang ini. sambil melirik sesekali arloji di tangannya.
''Hhuuff,'' Tangan Kia terangkat untuk mencoba mengetuk pintu.
Tok
Tok
Tok
''Kak, Kak Kenzo apa kamu ada di dalam tidak?''
Kenzo yang baru saja, selesai berendam di dalam bathtup beberapa menit. Dan belum sempat juga berganti pakaian, telinga nya sudah mendengar panggilan dari balik pintu.
"Masuk saja, tidak di kunci.?'' Jawab Kenzo dari dalam.
''Tidak Kak, Kia di sini saja. Masih lama gak?'' Teriak Kia di depan pintu.
"Ceklek,''
__ADS_1
"Kenapa tidak masuk kedalam saja.?''
Mata Kia melebar sempurna, saat kedua mata nya melihat pemandangan di depan sekarang ini. Dengan rambut yang masih basah, yang belum sempat di keringan kan. Sedangkan satu tangannya memegang kaos rumahan yang belum dia pakai, satu kata dari Kia. Tampan. Kia mencoba menormalkan detak jantung nya yang sudah berdetak lebih cepat dari biasa nya.
Oh ****... kalau di biarin kelamaan bisa tertarik sama dia. Gerutu kesal dengan ke bodohannya.
Kia menggeleng pelan kepala nya, untuk menghilangkan pikiran yang tak mungkin.
Pemandangan yang belum pernah dia lihat selama ini, dengan dada bidang yang kotak-kotak, ish.
''Fiuuuh.''
''Apa yang kamu pikirkan.?'' Sambil
memakai kaos yang dia pegang.
''Mau pulang kan, biar aku anter.''
🍃
🍃
🍃
Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada yang membuka obrolan di antara mereka. Mereka hanyut dalam pikiran nya masing-masing.
Kenzo berpikir, langkah apa yang dia ambil sekarang ini.? Dia ingin mempertahankan pernikahan ini. Ia pikir, Kia lebih baik dari pada Aurel. Meskipun sangat sulit mencari biodata nya belakangan ini. Sedangkan Kia yang ingin mengakhiri semua ini.
''Huuf.''
Kia melirik Kak Kenzo sebentar,
''Ada apa.?''
Kenzo yang di tanya, langsung menoleh kesamping. ''Tidak ada apa-apa.''
''Ki,'' Panggil Kenzo.
''Ya.''
__ADS_1
''Bisa tidak, kita lanjutin semua nya ini. Beri aku waktu buat serius sama kamu. Kita belum mencobanya, bukan.''