
Terdengar suara langkah kaki di lorong kamar 111 yang beriring-iringan. Sepuluh menit yang lalu di info kan kalau ada membutuhkan pelayan kesehatan di kamar tersebut.
''Apa kita masuk saja Dok? kebetulan tidak terkunci.'' Ujar pelayan wanita.
''Baiklah,'' Saat mereka memasuki ke dalam kamar 111, kedua nya terkejut melihat kondisi dalam kamar nya.
''Coba, cek ke kamar mandinya.''
'Terdengar di perintah, seorang pelayan Hotel segera berlari ke kamar mandi.
''Aaaaaaaa Dokter, tolong ada mayat di sini.'' Teriak pelayan wanita, ketika melihat tubuh wanita di dalam air bathtub di kamar mandi.
🍃
🍃
🍃
Dret, dret dret
Handphone di atas nangkas terus berbunyi. Tanpa harus bersusah payah membuka mata, tangan kekar tersebut meraba-raba di mana letak Handphone milik nya yang berbunyi.
''Ya, hallo.'' Suara serak khas bangun tidur.
Apa Aurel bersama mu
''Tidak om.''
__ADS_1
Bukan nya malam ini kalian sedang makan bersama
''Iya om, tapi tadi_..''
Jangan bilang kamu, meninggalkan nya dan tidak mengantar ia pulang Kenzo. teriak di seberang telepon, cukup geram tau kelakuan nya Kenzo. siapa lagi kalau bukan papa nya Aurel, om Alex.
Cari, dan bawa pulang putri ku sekarang juga. pokok nya Om gak mau tau alasan mu.
Tut.. tut... tut
''Ah, sial.'' Melirik jam di atas nakas yang sudah pukul sebelas lebih. Sedangkan makan malam di Restoran sekitar pukul delapan lebih. Kira-kira dia pergi kemana.? Apa dia ke Club malam? Kenzo mengotak-atik handphone nya mencari kontak Dito, beberapa minggu ini Dito kerja di Club yang biasa dia datangi.
Benar dugaan ku, dia pergi ke Club malam. Tapi posisi nya dia sekarang ada di sebuah Hotel C. Mau ngapain ke Hotel? batin nya.
Kenzo beranjak dari tempat tidur, menyambar kunci mobil milik nya. Tidak melupakan membawa jaket yang sering ia pakai. Berjalan tergesa-gesa menuju ke garansi mobilnya.
Kenzo menuju receptionist, memastikan lagi kamar atas nama Aurel Sanjaya. Nomer 111 benar atau tidak. Setelah dapet, Kenzo bergegas cepat memasuki ke dalam lift menuju ke atas.
Ting
Posisi Kenzo sekarang, sudah berada di depan pintu kamar nomer 111. Mencoba menekan tombol kamar tersebut.
''Apa aku masuk saja ya? Bukanya tadi seceptionist bilang kondisi nya sedang sakit. Bahkan tadi meminta di datangkan seorang Dokter juga.'' Pikir nya.
Ceklek, ''Syukurlah tidak di kunci.''
''Rel, Aurel kamu di mana.?'' Kenzo melirik ke kanan dan kiri sekilas mencari sosok perempuan itu. tatapan nya mengarah ke tempat tidur. ''Tidak ada, kemana dia?''
__ADS_1
Kenzo menoleh, ketika telinga nya mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi .
Huufft
''Dia di dalam kamar mandi,'' Gumam Kenzo lalu menjatuhkan tubuh nya di atas sofa di dekat ia berdiri saat ini. Raut wajah yang lelah sembari memijat pangkal hidungnya. Lelah fisik nya dan juga batin nya.
Aurel, keluar dari kamar mandi dengan penuh hati-hati. Karena salah satu tangan yang sedang di infus oleh Dokter. Kondisi nya cukup sangat lemah sekarang ini. Mungkin akibat minuman beralkohol di campur dengan obat gila di dalam minuman nya.
Aurel tak menyadari, kalau di kamarnya ada sosok seorang yang sedari tadi memperhatikannya dari dia keluar kamar mandi. yang berjalan tertatih -tatih menuju ke tempat tidurnya. Tapi tak sedikit pun ada niatan dalam diri Kenzo untuk membantunya berjalan.
Justru kini Kenzo terus bertanya-tanya pada diri nya sendiri. Waktu makan bersama tadi dia baik-baik saja. Baru sekitar tiga jam berpisah kondisi nya sudah separah seperti ini. Kini yang ada di dalam pikiran Kenzo.
"Kenapa kamu tidak langsung pulang ke rumah Aurel? Kenapa harus bermalam di Hotel dulu.?'' Suara beriton Kenzo yang cukup kesal. ''Bisa gak, Tidak usah menyusahkan orang lain seperti ini.''
''Astaga, sayang. kenapa mengagetkan aku seperti ini.?'' Tangan kiri sembari mengelus dada nya yang rasanya ingin mau copot. Mata nya mendelik ke arah Kenzo.
Alih-alih minta maaf, justru Kenzo menatap tajam bak elang ke arah Aurel.
"Apa kamu tidak bisa memberi kabar pada orang yang di rumah, supanya mereka tidak membangunkan aku hanya untuk mencarimu. Aku baru saja beristirahat Aurel. Pekerjaanku tidak cuma memantau kamu terus. Kamu dimana,? Dengan siapa,? Pulang jam berapa,?'' Sesar Kenzo
''Huuf, ingat dengan satu hal Aurel Sanjaya, kita ini baru, baru mau bertunangan, jadi jangan mengekangku dalam urusan pribadi mu.'' Hilang sudah kesabaran Kenzo untuk menghadapi sikap Aurel belum juga dengan Papa nya Om Alex.
"Sayang, apa kamu gak melihat kalau aku ini sedang sakit.? Jangan marah - marah terus ke aku, dengerin dulu penjelasan aku.''
''Ini juga tidak sepenuh nya salah aku semua nya. Ini salah kamu juga, coba saja tadi kamu mau menemani aku untuk jalan-jalan sebentar. Tidak akan berakhir jadi begini bukan. Tidak akan sampai ke Hotel ini juga. Sebab utama nya berasal dari kamu loh, kenapa jadi kamu yang melimpahkan ke aku.?'' Ujar Aurel tak mau kalah.
''Urusan Papa, wajar sih kalau Papa sangat marah kepadamu. Aku ini kan anak gadis nya yang belum pulang, apa lagi ini sudah malam banget sayang. Dari pada marah-marah terus, mending menemani aku tidur, sini.'' Menepuk- nepuk kasur yang kosong di sampingnya dengan senyuman manis di bibir nya.
__ADS_1