
Kia duduk di pinggir ranjang nya, dengan satu kaki yang bertumpu. Sesekali melirik ke arah pintu kamar mandi nya beralih jam tangan kecil yang sekarang dia pakai.
Baru sekarang ini, Kia melihat suaminya benar-benar marah kepadanya. Biasanya juga marah tapi tidak semarah dengan sorot mata sedingin itu.
''Issh menyebalkan, kenapa dia tidak keluar-keluar sih?''
Kreek
Kia terlihat menegang sesaat, penampilan suaminya sekarang ini cukup menghiyurkan untuk di sentuh.
Kia berdiri menghampiri suaminya, yang sedang mengeringkan rambutnya sendiri.
''Biar ku bantu Ken, '' Meraih hair dryer yang di Pegang suaminya.
''Tidak perlu, pergilah bukan nya tadi kamu sudah bersiap pergi? Kenapa masih ada di sini.?'' Dengan muka datar Kenzo.
''Marah,''
''Maaf, aku tidak bermaksud untuk menolak mu. Aku hanya belum siap saja Ken.'' Ucap Kia merasa bersalah. Dia berhak atas diri ku ini, batin nya.
__ADS_1
''Aku tau, tidak perlu di bahas lagi.'' Acuh Kenzo. ''Nanti tidak perlu mengantar aku ke bandara.'' Mengambil jaket dengan kunci mobil nya.
Grep
Kia memeluk erat suaminya dari belakang. ''Please, jangan pergi kalau sedang marah seperti ini. Aku takut kamu kenapa-napa di jalan. Jika kau menginginkan aku, aku akan berikan kepadamu sekarang juga.'' Putus Kia yang mengalah.
''Kamu serius,'' Dengan jantung yang sudah tidak menentu. Kenzo mendongakkan kepalanya ke atas dengan mata tertutup, menunggu jawaban dari sang istri yang kemungkinan setengah terpaksa. Dia tidak bermaksud memaksa istrinya untuk memenuhi biologis nya. Entah kenapa dia ingin melakukan nya sebelum dia berpisah, demi melanjutkan pendidikan nya ke luar negeri. Ada rasa takut kehilangan istrinya saat ini.
''Serius,''
''Terpaksa, '' Tebak Kenzo.
''Tidak bisa menjawab.'' Kenzo terkekeh. ''Sudah ku duga.'' Melepaskan pelukan tangan Kia dari pinggang nya.
''Please, jangan berpikiran buruk dulu tentang aku.'' Lirih nya dengan suara serak nya. Mengencangkan kembali pelukan nya yang sempat longgar karena suaminya melepaskan nya.
''Itu memang kenyataan nya Kiana Maulia Sanjaya.'' Membuat Kia menggeleng kan kepalanya pelan. ''Tidak, itu tidak benar Ken.'' Belanya.
''Yang benar itu di sebelah mana.? Hati kamu belum ada rasa cinta untuk ku. Mungkin selama ini kamu hanya___''
__ADS_1
''Aku hanya takut, kalau aku hamil di usia muda, Kenzo.'' Dengan terisak pelan di punggung suaminya.
''Kalau aku hamil bagaimana dengan kuliah aku? Bagaimana nantinya kalau aku hamil tidak ada kamu di sisiku.? Aku, aku takut di gosipkan hamil di luar nikah di kampus, pastinya akan di bully, itu sangat mengerikan untuk ku.'' Lirih nya yang hampir tidak terdengar.
Beberapa waktu ruangan tersebut hening seketika. Kenzo yang masih mencerna ungkapan dari istri nya yang sungguh mencengangkan. Takut hamil di usia muda, bukan nya ada alat pencegah kehamilan sudah ada sedari dulu.
Apa benar istrinya tidak tahu soal alat kontrasepsi, yang bisa mencegah kehamilan, sepolos itukah istrinya di zaman sekarang. Di luar sana banyak seumuran dia berhubungan *** bebas tanpa ikatan resmi.
''Ehem,'' Kenzo berdehem membasahi tenggorokan nya yang terasa kering. Berbalik arah kebelakang menatap istrinya yang masih menangis di punggung nya. Kenzo tidak tega, membiarkan orang yang sangat di cintai mengeluarkan air mata nya dan dia lah penyebab nya.
''Walau pun kamu sudah tahu, kalau menolak seorang suami itu dosa.'' Tanya Kenzo menurunkan nada suara nya.
''Iya, aku sudah tahu.''
''Lalu, kenapa kamu tetap melakukan itu.?'' Protes Kenzo.
''Karena dosa seorang istri, suami yang akan tanggung Kak.'' Jawab Kia polos.
Damn
__ADS_1
****