Menantang Cinta

Menantang Cinta
dilema


__ADS_3

sesuai dengan janji Rasya menjemput Eldira, terlihat lelaki yang duduk disampinya sudah segar tidak seperti orang yang pulang dari kantor.


"kamu tadi udah balik kerumah ya?" tanya Eldira menebak.


"iya, kelihatan ya?" tanya balik Rasya.


"jelaslah, memangnya ada acara apa habis anter aku pulang, ada janji sama siapa kamu?" tanya Eldira menyelidik.


"mau temenin kamu belanja temenin kamu makan malam, menikmati hari sama kamu!" jawaban Rasya membuat Eldira mengembangkan senyum.


"ya udah nanti aku buru-buru siap-siap kalau udah sampai rumah, skalian ya nanti kita beliin Hadian buat bang Hendi" Rasya sedikit mendelik bukannya Hendi mencintai Eldira batinnya.


"ada hubungan apa kamu sama Hendi sayang?" candanya lembut.


"hahahah, bang Hendi mana mungkin ada hubungan, tadi sisi minta ditemenin beli kado, cuman aku pikir daripada sisi menganggu kita lebih baik kita kan yang beli kadonya" jawab Eldira sambil tertawa.


"oke aku percaya sama kamu" jawaban Rasya melegakan hati Eldira, dia tidak akan meragukan calon suaminya lagi, Eldira tidak mau kesalah pahaman membuatnya menjaga jarak dari rasya, bagaimana kalau nanti Eldira didiamkan lagi mana bisa dia.


Tidak perlu waktu lama untuk Eldira bersiap setelah Rasya mengantarkannya pulang, rasya yang menunggu diruang tamu ada pesan singkat masuk ke ponselnya.


(aku ke mama Nonik ya) tulis gilska.


(ga usah aneh gilska! jangan sakiti mamaku) jawab Rasya.


(aku cuma mau temu kangen kok, atau kamu mau pulang ketemu sama aku skalian?) tanya gilska lagi.


(aku ada perlu, tapi awas aja kalau kamu temui mama) ancam Rasya.


Usai bersiap Eldira melihat Rasya mengernyitkan dahi.


"kenapa bang, ada masalah?" tanya Eldira.


"gilska mau kerumah ketemu sama mama!" Rasya menjawab jujur pertanyaan Eldira, dada Eldira seketika terasa panas.


"memangnya ada urusan apa? kemarin ketemu apa yang kalian bicarakan?" Eldira sedikit menaikan oktaf suaranya.


"aku bilang aku sudah punya calon istri, ya mengatakan apa yang harus aku katakan!" Rasya menjawab dengan nada datar.


"ya udah ayo kita kerumah Tante Nonik?" Eldira menarik tangan Rasya.


"apa maksud kamu Ra?" Rasya tidak siap jika harus mempertemukan Eldira dengan gilska, bisa-bisa gilska berbuat nekat.


"udah biarin aja, kita cari kado aja buat Hendi ya?" cegah Rasya.


"nggak aku mau kerumah kamu aja, aku mau tau apa alasan kamu masih mau ketemu sama gilska, aku mau kesana sekarang!" Eldira sedikit marah.


"bisa gak sih kamu nurut aja apa kata aku!" kali ini Rasya sedikit tidak nyaman dengan ajakan Eldira.


"kenapa? salah ya aku mau ketemu sama calon mertua?" Eldira tetap saja memaksa.


"Tujuan kamu bukan itu!! tadi kita ada janji kan beliin hadiah buat Hendi, masih berniat beli hadiah atau gak?" tanya Rasya membuat Eldira mendengus kesal.

__ADS_1


"itu tadi sekarang aku mau kerumah kamu?" Eldira tak menyerah.


"ya sudah aku pulang aja, kamu tenangin diri kamu susah ya ngomong sama orang yang susah mengontrol emosi!" Rasya beranjak berdiri dan Eldira menarik pergelangan tangannya dengan cepat.


"ok! kita cari kado buat bang Hendi" Eldira tidak ingin hubungannya dengan Rasya bermasalah.


Sikap Rasya berbalik dengan Delon, Delon yang mencoba mengerti jika Eldira marah, setidaknya tidak ingin meninggalkan Eldira dengan masalah yang menggantung, didasar hatinya ingin Eldira berontak berkata "bisakah kamu hargai aku!!!" tapi apalah daya, jika Rasya marah dan tidak menghubunginya lagi bagaimana dengan Eldira, pasti hatinya lebih sakit dari ini. Inikah jalan hidup yang Eldira pilih dengan ketidaknyamanan tapi terbalut cinta, ya mungkin cinta buta yang kini dirasakan Eldira.


Dengan berat hati Eldira tetap memutuskan untuk mencari kado untuk bang Hendi sesuai dengan kesepakatan awal mereka. sudah dua jam keluar rumah Hati eldira tak tenang sedangkan ponsel Rasya selalu berdering dan tak diangkat sejak berangkat dari rumah sampai kado sudah ada ditangan.


"kenapa gak dimatikan aja hp nya bang?" dengan sinis Eldira melihat raut wajah Rasya.


"gak biarin aja, ada lainya yang mau dibeli kah?" Rasya mengalihkan obrolan


"gak ada, kenapa?? buru-buru mau balik kamu?" kali ini Eldira sedikit melotot.


"Ra, jangan gitu dong! aku anter kamu pulang ya?" tawar Rasya.


"terus!!! kamunya mau kemana???" tanya Eldira tak tenang.


"ya balik lah Ra" dengan santainya Delon menjawab pertanyaan Eldira.


"ok anter aku pulang dan kamu juga pulang" jawab Eldira putus asa.


membuat Rasya sedikit kaget dengan jawaban calon istrinya yang sedari tadi terlihat tak enak hati. Dengan cepat Rasya mengantarkan Eldira pulang, wajah Eldira nampak sedih dia mencium tangan Rasya saat pamit.


Ada kegundahan dalam batin Rasya apa yang dilakukan gilska, dan untuk apa dia menemui mama banyak tanya dalam benak Rasya, sayangnya dia tidak mampu menghentikan apa yang dilakukan gilska.


****


"iya ma" Rasya menengok ke kanan dan kekiri mencari keberadaan gilska dan mencari tau apa yang dikatakan gilska pada mamanya.


"kenapa kamu kaya orang bingung aja?" tanya Tante Nonik heran melihat anaknya tak seperti biasa.


"tadi ada yang kesini ga ma?" tanya Rasya penasaran.


mamanya menggeleng pelan, dan Rasya lega karena gilska tidak nekat, dan kelegaannya hanya berlaku hari ini lalu bagaimana jika esok gilska akan memberikan ancaman yang sama, bagaimana bisa dia menghentikan gilska.


(aku didepan rumah, kamu mau kesini atau aku yang masuk?) pesan singkat dari gilska membuat Rasya menghela nafas panjang.


"ma aku keluar sebentar ya?" pamit Rasya ke mamanya, meskipun Tante Nonik bingung dengan tingkah anaknya beliau hanya mengangguk membolehkan Rasya pergi.


***


"kamu masih nurut ya sama aku?" tanya gilska dengan penuh tawa.


"apa mau kamu gilska?" tanya Rasya melihat gilska nampak ceria, dengan potongan rambut baru gilska tampak lebih segar, hatinya masih saja belum bisa berpaling dari wanita didepannya.


"mau aku??? kamulah!! kenapa harus bertanya lagi, Rasya ayolah menikah itu harus pakai cinta?" lagi-lagi gilska ingin memanipulasi perasaan Rasya.


"ayo kita segera pergi dari sini, kamu gak mau kan mama Nonik lihat kita berdua disini!" gilska berjalan kearah mobil dan membuka pintu depan mobil Rasya.

__ADS_1


Rasya masuk kedalam mobil tidak ada pilihan lain, kembali menerobos keramaian malam. hening beberapa saat didalam mobil bahkan Rasya tidak tau kemana arah mobilnya berjalan.


"Sya, apa sih yang bikin kamu gak mau melepaskan calon istri kamu itu siapa??" tanya gilska dan Rasya hanya terdiam tanpa menjawab.


"kenapa harus membohongi hati kamu? kamu masih cinta kan sama aku, ayolah sya kamu jelaskan sama dia, kalian tidak bisa lagi bersama!" gilska masih saja berusaha mendapatkan kembali Rasya.


"kamu turun ya gilska?" tanya Rasya setelah menepikan mobilnya.


"kenapa?" suara gilska melemah.


"aku gak mau bertengkar sama calon istri aku, aku gak mau dia salah paham sama hubungan kita" jawaban Rasya membuat gilska menunduk sekuat apapun usaha gilska sekuat itu pula Rasya menolak.


"kamu anter aku ke RS aja ya?" tanya gilska membuat Rasya sedikit kaget.


"kenapa harus ke RS?" tanya Rasya.


"mama sakit, kamu juga gak mungkin kan jenguk mama, kamu anter aku didepannya aja ga perlu masuk kok, maaf ya aku ganggu kamu malam ini, setelah ini aku gak akan ganggu kamu lagi"


mendengar jawaban gilska ada separuh jiwa Rasya serasa pergi, bukankah ini yang Rasya mau gilksa meninggalkan dia, tapi kenapa justru hatinya terasa kelu.


"aku temani kamu ketemu mama kamu ya?" pertahanan Rasya melemah.


"apa!! kamu beneran mau temui mama?" gilska seakan tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"iya tapi bukan berarti aku menerima kamu ya, aku sudah punya calon istri!" tegas Rasya lagi.


Gilska tak peduli dengan jawaban rasya, baginya Rasya mau menemui mamanya itu sudah selangkah


maju untuk usahanya.


****


Melihat mama gilska yang terbaring tak berdaya Rasya merasa kasihan dengan mantan calon mertuanya, Rasya berjalan masuk disambut senyum dengan mama gilska terlihat wanita itu ingin mengatakan sesuatu.


"Rasya maafkan Tante ya?" tanya mama gilska lirih dengan anggukan Rasya menjawab tanpa suara, diciumnya tangan mama gilska sebagai ucapan salam.


"jagain gilska ya, kamu ga usah jawab, Tante percaya sama kamu, Tante menyesal!"


"Tante sembuh ya jangan banyak berfikir" jawab Rasya.


Beberapa menit setelahnya mama gilska tak sadarkan diri, disitu gilska menangis berbeda dengan tawa yang dia tujukan saat kerumah Rasya, matanya sembab dan rasa berusaha menenangkannya.


(kamu udah tidur belum bang?) pesan singkat dari Eldira bahkan tak sempat Rasya jawab.


"kamu yang sabar ya?" Rasya menenangkan gilska.


dengan cepat gilska memeluk tubuh Rasya, seakan badannya melemas melihat kondisi mamanya, bahkan dokter mengatakan kesempatannya sembuh sangat kecil. Rasya tak mampu menolak pelukan gilska orang yang teramat dia cintai dan saat ini membutuhkan kehadirannya.


"aku membutuhkanmu Rasya setidaknya sampai mama sembuh, hanya kamu orang yang bisa aku percaya saat ini!" tangis gilska membuat Rasya semakin tidak tega.


Jika dipikirkan kembali tidak pernah ada masalah yang berarti antara mereka berdua, hanya mama gilska lah yang saat itu berusaha memisahkan mereka, berpisah bukan karena keinginan adalah sesuatu yang berat bagi insan yang saling mencintai. Tapi keadaan sekarang sudah berbeda, Rasya terlanjur merajut kisah baru dalam hidupnya.

__ADS_1


Rasya hanya mematung mendengar ucapan gilska, dia merasa menjadi manusia tidak berguna saat ini, tak berguna bagi gilska maupun bagi Eldira.


__ADS_2