
"mereka sudah pulang?" tanya eldira saat rasya melangkahkan kakinya keruang tengah
Rasya hanya mengangguk tanpa suara.
"tunggu, kau mau kemana? bisa kita bicara!" eldira melipat kedua tangannya didada.
Rasya lagi lagi tak berkata apapun hanya duduk disofa dan menunggu eldira bicara, rasya hanya takut apapun yang akan dikatakannya akan melukai eldira. Dan rasya tak ingin menambah luka lagi.
"masih sabar kan menunggu aku melahirkan baru kita bercerai? Melihat tingkahmu kau sangat igin perceraian ini secepatnya terlaksana?" tanya eldira berapi api.
Entah kenapa hatinya sangat sakit melihat rasya seolah tak peduli lagi padanya, bahkan mengobrolpun dihindari rasya. Jika semua karena delon yang mengantar kekantor membuat rasya marah alangkah piciknya semua tak sebanding dengan apa yang dilakukan rasya pada eldira menyakiti lebih.
"apapun keputusanmu ra, aku menyetujuinya" jawab rasya singkat.
"itu tak menjawab pertanyaanku, apa kau ingin pernikahan kita berakir lebih cepat?" tanya dira.
"istirahatlah ra, jangan terlalu lelah, aku hanya mengiyakan apapun yang kau inginkan" jawab rasya datar.
sepertinya pertanyaan eldira sama sekali tak memancing perasaan rasya untuk jujur jika dihatinya juga sedih dengan kondisi saat ini, rasya hanya ingin berusaha terbiasa jika suatu saat benar benar harus kehilangan eldira.
"jika memang itu maumu, aku akan tinggal dirumah mama, untuk apa disini! Kita belum bercerai dan kau sudah memperlakukanku seperti musuh!" eldira sangat kesal.
"aku hanya ingin membuatmu nyaman ra, tidak ingin menganggumu dengan kehadiranku, bagimu aku kan sudah tidak berarti sampai kau mau berpisah, aku hanya menghargai keputusanmu" jawab rasya.
Eldira tidak tau harus menjawab apa, disisi lain memang eldira yang mengajak berpisah, tapi jauh didasar hatinya masih menginginkan rasya berjuang untuk mempertahankan rumah tangganya bukannya malah selalu mengiyakan apa yang dilontarkan eldira, jika eldira salah menjawab bisa dikira plinplan.
Ada ketukan dari depan rumah sebelum eldira menjawab perkataan rasya.
Tak lama kemudian ternyata ada mamanya eldira masuk kedalam rumah, wati sudah membukakan pintu, eldira tak menyangka mamanya datang.
"ra, mama merindukan kamu lama sekali refresingnya" mama memeluk anak kesayangannya.
Setau mama eldira berlibur sesuai apa yang dikatakan rasya.
"iya ma, sama siapa? Sendirian aja?" tanya dira.
"rasya apa kabar?" tanya mama tersenyum menatap rasya.
"baik ma" jawab rasya membalas senyum mertuanya.
Ya kan mertuanya, yang mungkin sebentar lagi akan jadi mantan mertua batin rasya kecut.
__ADS_1
"ma, sama siapa?" ulang eldira karena belum juga dijawab sang mama.
"iya ra, mama sendirian mau ngabari kalian ayo bersiap siap kita menginap dipinggir pantai pinggir kota"
"dalam rangka apa ma?" tanya dira.
"udah lama ga refresing mama maunya kamu sama rasya ikut, adam kan sekarang juga sudah jauh, kamu mau mengecewakan mama?" mendadak raut wajah mama sedih takut jika eldira menolak permintaannya.
"nggak dong ma, iya dira ikut" jawab eldira.
"ma maaf tapi rasya ada pekerjaan kantor ma" jawab rasya menolak.
Rasya takut jika dirinya ikut maka eldira akan membatalkan keinginannya ikut.
Banyak ketakutan dalam hati rasya, bagaimana jika eldira tak nyaman dan sebagainya.
"gak bisa! Harus ikut, mama gamau tau, ayo ra bujuk suamimu" ucap mama.
Kali ini eldira ingin tau apakah rasya menolak permintaannya atau tidak.
"memangnya pekerjaan apa yang tidak bisa ditinggal? Ayolah bang ikut kasihan mama?" ucap eldira memandang suaminya.
Rasya bingung harus menjawab apa, jika dijawab iya takutkan eldira hanya berpura pura didepan mamanya, jika dijawab tidak lalu bagaimana jika benar benar permintaan eldira.
"sya, masa kamu juga menolak permintaan istrimu, dia lagi hamil lo sya?" tanya mama meskipun ga ada hubungan kehamilan dengan keikut sertaan rasya.
"iya ma, baik" jawab rasya.
Eldira merasa lega setidaknya rasya masih mengiyakan permintaanya. Mungkin setelah ini akan ada permintaan permintaan eldira yang lain untuk menguji rasya.
"ya sudah mama pulang dulu ya" mama cipika cipiki dengan putrinya.
"mama hati hati, nanti dira sama bang rasya kerumah ya kita berangkat sama sama" ucap eldira tersenyum.
Senyum eldira kali ini bukan tanpa arti, jika menginap setidaknya dia tidur bersama rasya disatu tempat. Entah kenapa justru eldira yang merindukan suaminya.
"iya sayang bye" mama berlalu.
Sesaat setelah mama pergi rasya memandang eldira.
"kenapa bang?" tanya eldira dingin, eldira tak mau terlihat luluh didepan rasya.
__ADS_1
Meskipun hatinya mulai bergejolak melihat tatapan rasya.
"apa kau tak apa apa jika aku ikut ra?" tanya rasya, ingin memastikan pertanyaan eldira asli mengajak dirinya atau tidak.
"aku tidak ingin mengecewakan mama, dan satu hal sebelum anaku lahir dan kita berpisah, tolong bersikaplah seperti biasa didepan siapapun seolah kita baik baik saja, bisa bang?" tanya eldira sekalian menguji rasya.
"iya ra, aku bersiap dulu" jawab rasya.
"watii...siapkan bajuku dan bapak ya wati" teriak eldira membuat wati berlari mendekat.
"iya bu siap, mau pergi lagi?" tanya wati heran, takut majikan perempuannya pergi lama lagi.
"iya, tenang aja aku pergi sama bapak, kamu panik ya?" tanya eldira membaca kernyitan jidat wati
"iya bu, wati kawatir kalo ibu sendirian, tapi syukurlah kalo sama bapak, wati lega" jawab wati mengembangkan senyum.
***
Selama perjalanan kerumah mamanya eldira dan rasya tak saling berbicara.
Rasanya sangat aneh, eldira memutar otak agar ada obrolan, hal yang sangat membosankan.
Memangnya apa ya yang ada dipikiran bang rasya,batin eldira.
"bisa turun di toserba sebentar, ak ingin minum minuman soda?" ucap dira seolah ingin menguji rasya.
Rasya sepertinya tak menjawab pertanyaan eldira, masih serius menyetir.
"bang! Aku mau beli minuman soda" teriak dira.
"buat apa?" ucap rasya santai.
"kenapa memangnya?" eldira terlihat cemberut.
Melihat tingkah eldira entah kenapa rasya merasa istrinya ingin diperhatikan, apa mungkin eldira masih mencintainya, jika itu benar pasti rasya akan sangat bahagia, tapi mengingat kesalahannya rasanya tidak mungkin, apalagi eldira sangat bersikeras berpisah.
"sudah mau sampai rumah mama ra, nanti kamu minta sama mama saja ya?" ucap rasya, biar mamanya saja yang mengingatkan nika soda tak baik untuk ibu hamil batin rasya.
Kali ini eldira terdiam, kesal melihat rasya tak mencegahnya. Apa jangan jangan perasaan rasya untuknya telah menghilang, ada sedikit bulir diujung mata dira, tak sanggup jika harus berpisah dan mengurus anak seorang diri, terlebih sebelum pertengkaran eldira mengingat hubungannya dengan rasya sangat baik, bahkan merencanakan banyak hal untuk masa depannya.
Ciettt rem mobil rasya membuat mobil yang ditumpangi mereka berhenti.
__ADS_1
mereka sampai drumah mamanya, setidaknya rasya masjg masih membukakan pintu mobil untuk dira.