
Selesai menyegarkan diri eldira mendengar klakson mobil, sepertinya rasya sudah pulang. dira mendekati jendela dan menyibak gorden melihat arah bawah, ya itu mobil rasya.
Eldira keluar kamar, meski hatinya masih kesal, ketika sampai dirumah eldira kangen moment2 kebersamaan mereka.
Eldira menuruni anak tangga sebelum rasya masuk kedalam rumah, dira duduk disofa depan. Beberapa detik setelah dira duduk rasya membuka pintu. Barulah menuju ruang tengah dimana ada eldira.
Mereka saling menatap, tapi tak ada kata yang terucap, eldira terdiam begitupun dengan rasya.
Rasya naik ke lantai dua sepertinya menuju kamar. Hampir lebih dari limabelas menit baru terlihat rasya keluar kamar.
"ra aku pindahkan beberapa baju ke kamar tamu, aku ingin kamu bisa beristirahat tanpa tekanan, satu lagi ijinkan aku mengantarkanmu setiap kamu kontrol ke dr kandungan" ucap rasya terbata sambil mendekati eldira.
Eldira hanya mengangguk tanpa suara. Melihat tak ada respon dari eldira rasya masuk ke kamar tamu. Rasya berpikir eldira sudah sangat muak dengannya.
Eldira hanya ingin rasya berusaha mengajaknya berbicara setidaknya sampai amarahnya mereda, tapi sayang rasya tak melakukan apa yag diharapkan.
Justru semakin menjauhkan jarak diantara keduannya, entah apa yang ada dalam benak rasya pikir eldira.
Tak lama kemudian terdengar Bel rumah berbunyi dengan sigap wati membukakan pintu, selang beberapa detik menghampiri eldira.
"bu, ada yang mau bertemu?" tanya wati.
"bertemu siapa? Aku!" tanya dira.
"iya"
"siapa wati?"
"namanya Pak reza" jawab wati.
Glek!!! keringat dingin mulai mengucur, tidak sekarang dira ingin bertemu dengan reza.
"dia sendiri atau bersama istrinya?" tanya dira menegaskan.
"bersama istri dan anaknya bu" jawab wati pelan.
"wati, kamu suruh dulu mereka menunggu diruang tamu, setelah itu kamu panggil bapak dulu, baru aku akan menemuinya"perintah eldira.
"baik bu" wati menuruti permintasn eldira.
__ADS_1
Sesuai arahan wati menyuruh reza menunggu dan memanggil rasya.
"siapa ra? Wati bilang ada yang mau bertemu denganmu? Kau memanggilku?" tanya rasya mendekati eldira.
"ada ibu dari anakmu dan suaminya di depan, temui mereka" jawab eldira ketus.
"ra, bukankah mereka ingin menemuimu?" tanya rasya.
"aku.." eldira enggan menjawab.
"ayo kita temui sama2" mendengar ajakan rasya eldira melunak dan berjalan dibelakang rasya.
Eldira melihat reza dan gilska menunggu diruang tamu, ini kali pertama mungkin mereka datang bertiga. Karena dira lebih sering mengunjungi nando.
Melihat eldira menemuinya gilska berdiri.
"sayang ada tante eldira" ucapnya sambil mendekatkan nando.
Eldira hanya mematung memandang gilska, tatapannya serius dan kali ini sama sekali tak menatap nando, justru mundur dan duduk dikursi. Melihat reaksi eldira gilksa berhenti tersenyum lalu mundur merasa tak enak hati.
"duduklah, silakan" ucap eldira
Rasya juga duduk disamping dira ada keheningan beberapa saat sampai wati datang membawa sirup.
"pak bu silakan diminum" ucapnya santun sambil meletakan dua cangkir minuman ke atas meja.
Reza dan gilska hanya mengangguk.
"dira, maksud kedatangan kami kesini, kami minta maaf, tidak pernah ada maksud membohongi" reza membuka pembicaraan.
Eldira masih terdiam tak menjawab.
"ra aku merasa rasya hanya masalalu dan aku sudah memiliki kehidupan baru oleh karena itu aku tidak menceritakan semuanya, hubungan kita juga sangat baik bahkan ra, jadi aku tak ingin merusak semuanya, tapi aku minta maaf ra jika membuatmu tidak nyaman" kali ini gilska yang bersuara.
Dalam hati eldira pun bimbang, untuk apa marah pada reza, jika dengan adanya reza gilska bisa melangkah maju tanpa mengingat suaminya, dan dengan gilska bagaimana eldira marah, jika gilska merelakan rasya padal lelaki disampingya sudah menghamilinya.
Kesalahan gilska adalah saat melakukan penghianatan bersama rasya padahal eldira akan bertunangan.
"aku dan bang rasya akan segera berpisah" jawab eldira tegas tanpa menjawab pernyataan reza maupun gilska.
__ADS_1
Nampah wajah kaget dari keduanya menatap eldira.
"maaf ra, jika itu karena nando, aku janji tidak akan mendekatkan nando dengan rasya" gilska tak menyangka masalahnya bisa membuat eldira berfikir tentang peeceraian.
"nando tidak bersalah, ini sudah menjadi keputusanku dan lebih tepatnya keputusan yang disetujui tanpa penolakan oleh suamiku" jawab eldira.
"sya, kenapa kamu menyetujui perpisahan!" reza menatap rasya dengan kesal.
Entah kenapa reza jadi kawatir dengan keputusan rasya, bagaimana kalau memang ternyata rasya masih menyukai gilska.
"nanti akan aku jelaskan za" jawab rasya
"nanti! Ada apa? Ada yang masih disembunyikan dariku? Bahkan kita sudah akan berpisahpun kamu tak menghargai aku?" eldira terlihat kesal memandang rasya.
"reza kita atur pertemuan kita berdua saja sesama lelaki" jawab rasya
Eldira Semakin kesa karena rasya tak menjawabnya justru menjawab reza lagi.
"baiklah gilska terimakasih sudah meluangkan waktumu datang kesini, silakan diminum sirupnya, jika tidak ada lagi yang disampaikan aku akan masuk, agar bang rasya bisa leluasa ngobrol bersama kalian tanpa aku, karena sepertinya dia sudah sangat ingin berpisah!! Permisi" eldira berdiri dan berjalan masuk.
Rasya tak menghentikan eldira hanya terdiam sampai eldira benar2 masuk dan tak terlihat.
"rasya!!! Apa kau gila, berpisah dengan istri yang saat ini mengandung anakmu?" ucap reza kesal.
"za, dengarkan aku, aku sangat mencintai eldira, aku kehilangan arah saat dia tak dirumah, bahkan kutinggalkan pekerjaanku, tak berniat melanjukan hidup jika tanpanya, saat dia datang kekantor aku sangat bahagia, berharap dia memaafkanku, menerimaku"
"sya berusahalah rebut hatinya lagi, berusahalah minta maaf lagi" ucap reza
"itu yang akan kulakukan sebelum aku tau dia kekantorku bersama delon, delon mantan kekasihnya, delon tak pernah sekalipun menyakitinya, dari cerita dira yang meninggalkan delon, dan yang aku tau cinta delon begitu besar, jika dira saat ini tak bahagia bersamaku za?? Apa pantas aku merampas kebahagiaannya??? Jika dia lebih bahagia dengan delon, akan egois jika aku mementingakan perasaanku daripada perasaannya, apalagi aku sering menyakitinya"
Kali ini reza terdiam, untuk reza ucapa rasya ada baiknya, jika kita mencintai orang dititik tertinggi kebahagiaan orang yang kita cintai jauh lebih penting daripada perasaan kita sendiri.
"sya pikirkan baik2, kamu masih punya kesempatan mempertahankan rumah tanggamu, jangan gegabah, pikirkan lagi sebelum menyesal" reza mulai beranjak.
"setau aku dira sangat mencintaimu, bahkan memilih menikahimu daripada delon, perjuangkan kebahagiaan kalian, kebahagiaan dua pihak, bukan sepihak" tambah gilska.
"sya, aku dan gilska pamit, kapanpun kamu maupun mamamu mau bertemu nando datanglah kerumah" reza berpamitan
Rasya mengangguk membiarkan reza dan gilska berlalu pergi
__ADS_1
Perkataan reza ada benarnya jika berjuang mumpung masih ada kesempatan bersama eldira, jika menyerah dan kehilangan selamanya akankah rasya sanggup menjalani hari tanpa eldira.