Menantang Cinta

Menantang Cinta
proses perceraian


__ADS_3

beberapa saat kemudian rasya membuka pintu kamar membuat eldira terhenyak.


"bang aku perlu bicara serius" eldira menatap tajam mata rasya.


rasya mendekat, mencari tau apalagi yang diinginkan istrinya.


"kita harus membicarakan semua dengan mama, tapi tenang! Aku tidak akan menceritakan kenapa kita harus berpisah" ucap eldira dengan tegas.


Hatinya sudah mantap bercerai saja daripada lebih sakit dari ini, entah karena terluka melihat rasya berpelukan, atau tak sanggup dengan sikap cuek rasya.


"bukankah bisa bicarakan ke orangtuamu setelah melahirkan, haruskah sekarang" rasya sedikit kaget dengan kalimat yang dilontarkan eldira.


"aku mau kita segera bercerai, tidak perlu menunggu aku melahirkan" jawab eldira sedikit emosi.


Rasya lebih kaget lagi dengan jawaban eldira, yang dia takutkan selama ini terjadi.


"kenapa berubah pikiran?" tanya rasya sambil duduk disamping eldira.


"untuk apa menunggu, bukankah hasil akirnya memang kita harus berpisah, saat ini saja kita tidak ada komunikasi, hubungan ini sudah tau ujungnya akan kemana" eldira berusaha menahan tangisnya.


"aku akan meninggalkan rumah jika memang itu maumu, tapi tolong tunggu sampai melahirkan, untuk kebaikan anak kita ra, jangan egois" ucap rasya.


"egois, bukankah setidaknya kita masih bisa saling bicara! Demi kebaikan anak, dan kamu mau meninggalkan rumah, kebaikanmu atau anak kita! Jika untuk anak kita bisakah kau lebih peduli apakah aku sudah makan? Apakah aku tertekan? Bukan tentang kita tapi perhatianmu untuk anak ini mana? Apapun perasaanku saat ini, itu sangat berpengaruh pada anak kita" eldira mengeraskan suaranya.


"ra, kamu kenapa? Tenang, kita bicara baik-baik, oke mau kamu apa?" kali ini rasya melunak, tak dingin seperti sebelumnya.


Melihat eldira marah hatinya hancur, apalagi eldira sedang mengandung, beban apa dalam hatinya hingga bisa melantangkan suaranya.


Kini eldira terisak dan terdiam. Rasya bingung mencoba merangkul eldira tapi tangannya dihindari eldira.


"ra, aku akan melakukan apapun yang kamu mau, lihat aku" ucap rasya berusaha meyakinkan eldira.


Kali ini eldira berdiri mengemasi koper.


"ra, mau kemana?" rasya makin panik.


"kita pulang" jawab dira


"mama bagaimana?" tanya rasya


"kita kasih tau mama" jawab eldira singkat


"kamu lagi emosi ra, tolong! Tidak baik untuk bayi kita, aku minta maaf ra, kalau sikapku seolah tidak peduli"


"baru sekarang minta maaf" eldira makin terisak.


"kita komunikasikan baik baik ya?" rasya berusaha meyakinkan eldira.

__ADS_1


Jika harus berpisah sebelum eldira melahirkan rasya tak sanggup, rasya masih ingin menemani eldira sampai melihat anaknya terlahir ke dunia.


"sudah terlambat, bang kita belum bercerai dan kau malah asik berpelukan dengan agata, mungkin aku bisa mengerti, tapi jika sampe kedua orang tuaku melihat bagaimana? Apakah mereka bisa mengerti" eldira tak bisa menahan diri lagi.


"tak bisakah kau sabar sebentar saja!! Kita masih terikat pernikahan? Kamu mebuatku malu" emosi eldira semakin tak teekendali.


"ra, semua tidak seperti yang kamu lihat, tunggu! tolong banget ra, kendalikan emosi dulu, pasti aku akan bilang ke mama, tapi tidak ketika kamu emosi, akan aku jelaskan semua kesalahanku jika itu bisa membuatmu lega"


Kali ini eldira berhenti mengemasi koper.


"oke! Besok aku akan ke pengadilan agama segera saja kita selesaikan" jawab eldira lagi.


"kamu yakin ra?" tanya rasya.


"kenapa jadi kamu yang bertanya, bukankah sejak awal kamu sama sekali tidak menolak perpisahan ini" eldira heran mendengar pertanyaan rasya.


"aku hanya ingin membuatmu bahagia ra dengan melepaskanmu, kamu akan mendapatkan kebahagiaan bersama delon mungkin" jawab rasya.


"apa? Aku jadi makin yakin bercerai, ternyata suamiku sama sekali tak mengenalku, aku bukan kamu bang, komitmen dan pernikahan hal utama".


"maaf ra, aku memang tak pernah berguna, kamu benar, aku akan melakukan apapun yang kamu mau, walaupun harus melepaskanmu" jawab rasya kemudian.


"baik, karena mama kita akan sembunyikan semuanya, mulai besok aku akan pergi dari rumah, aku akan urus perceraian kita"


"ra, aku mohon tunggu sampai anaku lahir" rasya mengiba.


"ra, tolong!" ucap rasya.


"mandilah bersiap untuk makan malam dengan mama" jawab eldira datar


"matamu sembab ra, ayolah urungkan dulu ke pengadilan"


"pergilah mandi" jawab eldira tak bergeming.


Akhirnya rasya menurut apa yang dikatakan istrinya. Berjalan ke kamar mandi dan bersiap makan malam dengan mertua.


***


Malam telah tiba dira dan rasya menghampiri mama yang sudah berada diresto tempat mereka menginap.


"ra, tebal sekali dandanan kamu?"tanya mama kaget melihat putrinya.


Eldira sengaja berdandan tebal untuk menutupi mata sembabnya.


"gak ah mah, biasa aja ini" jawab dira sembari duduk.


"mama ga sabar, lihat cucu mama lahir, dulu pas mama hamil dira, dimanjakan selalu sama papa" mama tertawa riang.

__ADS_1


Eldira hanya mencoba memaksakan senyum tak ingin mama curiga. Melihat senyuman mamanya sekan tak sanggup membawa kabar buruk.


"sya papa lihat kamu sekarang sering murung" ucap papa memperhatikan rasya.


"tidak pa, banyak pekerjaan" jawab rasya kaget.


"jaga kesehatan sya, kamu harus jadi suami siaga" tambah papa.


"baik pa" jawab rasya sambil melirik eldira.


"ra, kamu juga banyakin istirahat, ok kita makan malam" ucap papa kemudian.


"hidangannya semua kesukaan eldira, tenang aman untuk ibu hamil, ayo" mama dengan senyum mengembang mempersilakan kedua anaknya makan.


Sejak kepergian adam hanya eldira yang bisa membuat mama tertawa.


"seandainya adam ada disini" ucap mama membuat keheningan.


"mama, ga boleh sedih, kalo baby dira udah lahir kita yang kesana jenguk ka adam,oke!" ucap dira membuat senyum mama kembali mengembang.


"oke, mama gak sabar" jawab mama kemudian.


Mereka melanjutkan makan malam diselingi degan obrolan ringan, rasya dan edlira kompak berpura pura agar kedua orangtuanya tak merasa curiga.


***


Hari berganti eldira mengemasi barang barang dibantu wati.


"ra, aku yang akan pergi!" ucap rasya.


"dira yang akan pergi, tenang aja" ucap eldira kekeh.


"kenapa harus keras kepala, katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak meninggalkan rumah ini" rasya mencoba mencegah eldira.


"tidak ada, aku hanya ingin membuang semua kenangan kita, itu sebabnya aku harus pergi" tolak eldira.


"ra, beri aku waktu, jangan sekarang!"


"tadi pagi aku sudah dftarkan gugatan ke pengadilan agama bang, abang tinggal tunggu proses panggilan sidang" jawab eldira tak sanggup menahan tangis.


"ra, kamu benar benar ingin kita bercerai?"


"adakah alasan untuk tidak bercerai?" jawab eldira menatap rasya.


Rasya memilih pergi meninggalkan eldira, setelah mendengar perkataan istrinya.


Pernikahan mereka harus berakir, sangat sulit bagi rasya, hanya karena masa lalunya harus kehilangan masa depan bersama eldira.

__ADS_1


__ADS_2