
Pagi menjelang segala persiapan untuk segala pernikahan Eldira tunda sejenak mengingat besok tiba acara lamaran yang dinanti akan diselenggarakan. Kalau sebelumnya Eldira selalu disibukan dengan persiapan H-1 ini justru Eldira tinggal bersantai menuju acara esok hari, ada wo yang pastinya sudah dipercaya Eldira untuk mengatur semuanya.
"dekor gedung udah ok kan Ra?" mama menanyai Eldira yang asik merangkai bunga yang sebenarnya tak perlu dia lakukan.
"udah kok ma, ini palingan udah jalan untuk dekorasinya, semoga lancar ya ma!" Eldira tersenyum melihat mamanya.
"ya sudah Ra mama mau siapkan kebayanya, jangan lupa telpon sisi buat ambil kebaya udah siap tinggal pakai!!" justru mamanya Eldira yang hari ini terlihat sibuk menyiapkan kebaya dan dekorasi hantaran.
Sementara kak Adam terlihat rapi, akan berangkat bekerja tak nampak kesibukan yang berarti.
"udah mau berangkat kerja kak?"
"cuma sebentar Ra, setengah hari aja kok, nanti siang kakak pulang, skalian mau cari gandengan Ra buat besok hahahha" Kaka Adam terbahak diikuti tawa Eldira.
"ya udah, bener ya nanti siang pulang!" ancam Eldira manja.
"iya, percaya deh ama kakak" kali ini Eldira membiarkan kakaknya pergi.
Berbeda dengan kak Adam papa terlihat memantau gambar gedung yang dikirim lewat ponselnya, seulas senyuman tersungging diwajahnya yang menua.
Eldira tersenyum dari kejauhan dan seolah tau apa yang sedang papanya lihat.
"gimana pa? lagi lihat dekorasi persiapan gedung ya? udah ditangani sama orang yang tepat, seneng banget banyak yang bantuin Eldira pa, dalam persiapan ini" wajah Eldira sumringah melihat papanya tersenyum.
"papa gak nyangka kamu bisa handle semuanya cuman dengan waktu dua Minggu aja, untuk gedung pernikahan kamu juga udah booking kan Ra, gedung pilihan papa yang papa bilang tempo hari ya?"
"ya papa tenang aja, papa aja sampai cuti 3hari kan! makasih ya pa doain besok acaranya lancar?"
__ADS_1
"pasti papa doakan,cuman papa masih gak nyangka aja secepet ini dan calon menantu papa justru orang yang baru papa kenal, sebenarnya kamu tau kan papa sudah terlanjur sayang sama delon, semoga pilihan kamu adalah orang yang tepat dan tidak mengecewakan kamu ra" papa tersenyum menatap putrinya entah apa yang ada dipikiran papa.
"pesen dari papa kamu nanti kalau jadi seorang istri, harus diurus dengan baik suaminya, terus banyakin sabar, ga boleh mengeluh kalau ada pertengkaran apapun ga boleh meninggalkan rumah, yang paling penting percaya sama suami karena itu pondasi rumah tangga!" papa memberi wejangan untuk Eldira.
"siap pa, nanti kalau udah nikah Dira bakalan kangen pasti sama papa?"
"harus sering-sering kesini Dira" seakan papa enggan melepaskan Eldira.
"gatau ini perasaan Dira campur aduk pa, seneng iya tegang iya jadi satu, padahal cuma lamaran belum juga akad" Eldira menunjukan kecemasannya.
"Udah kamu istrahat aja, ya udah papa mau cari mama biar disiapin makanan, papa lapar padahal tadi juga udah sarapan" papa mengusap perutnya.
"ya udah papa tengok mama aja!" papa Eldira tersenyum mencium kening putrinya sebelum menuju kamar.
Tak selang berapa lama setelah papa berlalu Eldira dikejutkan lagi dengan kedatangan sahabat karibnya.
"hallo Eldira!!!!" sisi mengagetkan Eldira dan membuat senyum Eldira mengembang.
"gimana?? nervous ga kamu Ra? aku aja seneng banget ini akirnya kamu dilamar juga sama Rasya!! ya ampun ga nyangka kamu inget ga setiap pertandingan basket selalu kamu tontonin eh Rasya gak pernah lihat kamu hahahaha" sisi mengenang jaman bahulak.
"aku aja juga ga nyangka sisi, bang Rasya yang tampan idola cewek-cewek sekarang jadi calon suami aku, mau nglamar aku kita akan segera menikah, gak sabar ini sisi!" Eldira menyambut tawa sisi memenuhi ruangan.
"dan 6 bulan lagi kamu akan menikah?" sisi semakin tertawa memeluk Eldira.
"ya kamu doain ya segala persiapan lancar, terus aku sama bang rasya adem ayem ga ada halangan lagi!" Eldira nampak kawatir.
"pasti, lagian siapa sih yang nolak nikah sama Eldira???" sisi menggoda Eldira.
__ADS_1
"kamu bisa aja si, setelah lamaran aku juga akan gencar siapin treatment dong, biar seluruh badan mulus hahhah!" tawa Eldira membuat sisi melotot.
"jangan gitu!! kamu bikin aku juga pengen cepet nikah aja?" sisi akhirnya ikut tertawa.
"tapi nanti kalau udah nikah, jangan lupa sama aku ya, awas kamu!!!" kali ini sisi memonyongkan mulutnya.
"gak akan dong!!! sahabat setianya aku, sini sini?" Eldira memeluk erat sisi. Dan mereka kembali tertawa mewarnai hari yang cerah dan indah untuk Eldira.
****
Ditempat lain berbanding terbalik dengan Eldira yang nampak bahagia menyambut hari lamaran yang akan diselenggarakan esok, Rasya justru menatap lekat satu-satunya photo gilska yang tersisa, masih rapi disebuah pigura. hatinya tidak bisa dibohongi meskipun sekuat tenaga berusaha mencintai Eldira, tapi sepenuhnya hati Rasya masih menjadi milik gilska. Dengan lesu Rasya mengambil korek, setelah mengeluarkan photo dari bingkainya Rasya berusaha membakar habis photo ditangannya. Meskipun segala medsos dan nomor ponsel gilska telah diblokir Rasya tapi semua hanya bentuk dari usahanya melupakan gilska. Hatinya teramat perih karena kenyataan yang dia miliki tidak seperti apa kata hatinya.
"gilska... aku bisa saja setia pada Eldira itu karena kamu yang memilih untuk pergi, dan tidak memperjuangkan cinta kita lagi, tapi bagaimana jika kamu kembali??? bagaimana jika saat aku berumah tangga bertemu denganmu tanpa sengaja? apa yang harus aku lakukan untuk menutupi cinta yang aku miliki, apa kamu pikir aku mampu menolakmu!!semoga kamu tidak pernah kembali datang dalam hidupku agar rumah tanggaku baik-baik saja, Jika kamu tau saat ini aku sangat merindukan kamu, mengingat harapan kita dimasa lalu, mengingat impian kita dimana kamulah yang akan menemmaniku sampai menua, kenapa harus berakhir seperti ini gilska kenapa rasa ini masih sangat dalam, bagimana aku harus menjalani takdir yang tak pernah kusangka ini, aku doakan kamu menemukan cinta baru yang akan membuatmu bahagia tanpa aku, mungkin ini yang terbaik untuk kita, karena tidak adil jika aku meninggalkan Eldira dengan penuh harapan, hatiku masih sangat berharap gilska?? meskipun logika ku menolak untuk mengingatmu, jika saja Tuhan menghapus perasaanku untukmu, pasti aku akan bahagia menjalani hari-hariku dengan Eldira"
Rasya terlalu cepat mencari cinta baru disaat hatinya masih mencintai gilska, dan saat ini sudah terlambat untuk Rasya memperjuangkan hatinya. Bisa dikatakan Eldira hanya sebuah pelarian sesaat dikala Rasya merasa tak mungkin mendapatkan gilska lagi, berusaha menutup rapat masalalu yang kala itu tak selesai. Penyesalan demi penyesalan menyelimuti hatinya. Tidak ada pilihan lain kecuali menatap kedepan dan melamar Eldira Safira Permata. Photo itu telah leleh dan menjadi serpihan kertas tak bergambar.
Tok...tok...tok...
Suara pintu apartemennya membuat Rasya menyeka sedikit airmatanya, kaget dirasakannya jeritan hatinya menginginkan gilska yang menghampirinya, mungkin untuk perpisahan kali terakhir tapi jika memang itu gilska apa mungkin Rasya mampu berjauhan lagi, dengan pelan Rasya membuka pintu tanpa melihat dari lubang siapa yang mengetuknya.
"lama amat bukain pintunya?" Rasya menarik nafas panjang.
"mama, kenapa ke apartemen!" Rasya berusaha menutupi kegundahannya.
"tadi mama lewat sini, ayo sekarang pulang! terserah kalau lain kali, harus ada dirumah dong besok mau lamaran kami malah menyendiri ga jelas, ayooo!!" tarik Tante Nonik.
"ya udah mama duluan ya, Rasya ambil kunci mobil dulu!"
__ADS_1
Tante Nonik berjalan keluar mengikuti apa kata Rasya
IH RASYA NGESELIN BANGET GA SIH???!! ☺️☺️☺️ IKUTIN TERUS YA KISAHNYA....