
gilska masuk kedalam rumah dengan wajah menggerutu mengingat yang terjadi beberapa saat lalu.
"hai sayang, gimana jalan2 kamu happy? gak nyasar kan?" tanya Tante meta mendekat.
"kalau nyasar gilska ga nyampe rumah Dong Tante!" gilska menjatuhkan tubuhnya disofa.
"iya juga ya!" Tante meta tertawa.
"tapi bener Tante deh mendingan ada temennya kalau jalan2 lain kali Tante temeni aja ya?" gilska berkedip manja.
"dibilang juga apa, oh ya kamu gimana kerja Dikantor om ada yang menarik gak, cowok gitu misalnya?" tante meta penasaran.
"yang ada semua tertarik sama gilska Tante, tapi untuk urusan cowok gilska masih ingin sendiri tan!"
"kalau dikantor ga ada yang menarik nanti deh Tante kenalin sama anak temen Tante, tampan orangnya cocok buat kamu?" Tante meta berusaha mencarikan teman sayangnya gilska tak menunjukan ketertarikannya.
"udah Tante, makasih banyak ya! tapi gilska belum minat, udah gilska mau masuk kamar dulu!"
"eh kamu udah makan malam belum, Tante siapin ya buat kamu, tambah kurus ini kamu?" Tante meta beranjak menuju ruang makan.
"udah buncit ini Tan perutnya, udah kenyang ga usah tadi gilska udah makan!" sahut gilska menuju kamarnya.
Tante meta teramat perhatian dengan gilska membuatnya merasa nyaman tinggal dirumah om sandi.
Sesaat setelah masuk kamar gilska menjatuhkan tubuhnya dibalik pintu, tangannya menelungkup ke kedua kakinya, dingin dirasakan karena duduk dilantai. Pilu dirasakan hatinya, biasanya kondisi terpuruk ada Rasya yang mengawatirkannya, tapi kini semua berubah dan Rasya sudah berlalu dalam hidupnya, sejak kepergian mamanya gilska butuh waktu tak pernah dibayangkan sebelumnya mama pergi begitu cepat, keputusannya untuk menyudahi hubungannya dengan Rasya sudah benar, gilska tidak mau menjadi duri dalam suatu hubungan, kepindahannya ke Indonesia tidak sesuai dengan apa yang dia rencanakan.
"aku terlambat, semua sudah terlambat, aku pikir kita akan bahagia sya, tapi aku salah, kamu terlalu cepat memulai hubungan baru! aku akan berusaha melupakan kamu meskipun sulit" ucapnya dengan derai air mata yang membasahi pipinya.
Tak bisa dipungkiri hatinya masih dipenuhi dengan Rasya, dan gilska hanya berharap hatinya yang terluka akan segera sembuh.
****
"kamu masuk sana!" ucap Rasya ketika sampai dirumah eldira.
"makasih ya sayang udah nemenin aku nyiapin persiapan lamaran kita" Eldira tersenyum bahagia meskipun hatinya masih takut jika hati rasya masih belum sepenuhnya untuknya.
"sama-sama aku seneng bisa temeni kamu, kamu jaga kesehatan ya jangan sampai kecapean" Rasya membelai lembut rambut Eldira.
"bang, selain keputusan Abang menggantikan om keluar negri setelah kita menikah, dalam waktu dekat apa ada pekerjaan keluar kota atau keluar negri?" tanya Eldira mengikis pertanyaan yang dilayangkan sisi tadi siang.
Eldira berharap semoga saja Rasya tidak pergi, jangan sampai kekawatiran Eldira kalau Rasya mengetahui dimana gilska sekarang benar adanya, dan jika memang mereka masih berhubungan Eldira sangat tak rela harus dibodohi.
"gak ada, memangnya kenapa? kamu kangen ya kalau jauh dari aku?" goda Rasya membuat Eldira tersenyum lega.
"beneran ga ada?" tanya Eldira meyakinkan.
"no!! kalau masih diindonesia ada kok yang handle walaupun luar kota tapi bukan Abang, yang harus Abang tangani justru yang luar negri itupun ga tahun ini masih tahun depan!" jawaban Rasya membuat Eldira menepis anggapannya yang salah.
"oke, Eldira masuk ya, sampai ketemu besok, besok masih temeni Dira kan?"
"ya pasti" jawaban Rasya membuat Eldira berdiri keluar dan menutup pintu mobil.
Eldira melambaikan tangannya dengan manis sebelum mobil Rasya melesat.
__ADS_1
****
Pagi menjelang Eldira bernyanyi riang sebelum akirnya memakan sanwich yang disiapkan Mak Ijah.
"sayang gimana persiapan lamaran, Minggu depan gak kerasa ya?" tanya mama membuat Eldira tersenyum.
"untuk lamaran beres ma sudah 90% tinggal hari H aja, kalau untuk pernikahan udah 40% semua Dira sendiri yang tangani, Dira masih gak nyangka deh ma akirnya Dira menikah" ucap Eldira bersemangat sambil mengunyah sanwich.
"apa ini pelangkah buat kakak?" tanya kak Adam setengah sewot.
"kakak apa kabar? serumah tapi jarang ketemu? kemana aja sih kak?" Eldira ingin tau apa yang dilakukan kakaknya.
"sering jalan sama Hendi kakak, itu kakaknya sisi, dia patah hati katanya kamu mau nikah sama sahabatnya" kak Adam ikut melahap sanwich buatan Mak Ijah.
"jangan gosip ya kak! kalau nanti Dira lamaran kakak ajak cewek terserah siapa? karena Dira kan tau kakak gak mungkin punya pacar, jadi siapa aja boleh kakak ajak!" Dira menyeruput susu yang disiapkan untuknya.
"oke, nanti pernikahan kamu kakak juga bawa lagi cewek yang berbeda pastinya ahahhahah!" jawab kak Adam seraya terbahak.
"Adam mama jitak kamu ya, sekali-sekali serius dong janganlah mainin cewek ga baik!" mama terlihat melotot.
"oh ya kak Dira bareng sama mobil kakak aja ya, lagian kan kantor kakak lewat kantor Dira, nanti biar bang Rasya yang jemput Dira, daripada bawa mobil!" Dira terlihat bersiap2.
"terserah kamu aja" jawab kak Adam menyelesaikan sarapannya.
****
Dira memutuskan ikut mobil kak adam,.kalau udah pakai jas kak Adam terlihat sangat manis, sayangnya tak begitu ingin serius dengan wanita.
"bukannya ga ingin serius Ra, belum ada yang bikin kakak jatuh cinta, nanti kalau ada cewek secantik valleria gilska baru deh kakak mau jatuh cinta!" canda kak Adam membuat Eldira memukul lirih lengan kakaknya.
"ih kakak ya? hmmm kalau misalnya aku kenalkan sama valleria gilska kakak mau? beneran mau diajak serius?" Eldira membuat kak adam menghentikan mobilnya, mengagetkan Eldira.
"kakak apaan sih?" Eldira meneriaki kak Adam.
"serius kamu, kenal dimana kamu? kakak itu penggemar sejatinya!" jawaban kak Adam membuat Eldira sedikit malas.
"gilska ,ga mungkin sih suka sama kakak, dia itu jatuh cinta sama orang lain, meskipun Dira gak ngefans sama dia, tapi Dira tau banyak tentang kehidupannya!" Eldira membuat kak adam lebih bersemangat mendengar ceritanya.
"ya udah kamu cerita tentang dia, apa yang kamu tau?"
"gilska itu cinta sama calon suami Eldira!" kali ini kak adam terbahak mendengar ucapan Dira.
"ampun deh Ra, kalau ngajak bercanda ga gitu juga kali!" kak Adam tak mempercayai ucapan Eldira membuat Eldira kesal.
"ya emang!!!! gilska itu mantannya Rasya kak, yang bikin Dira galau waktu itu, karena dia balik ke Indonesia, tapi semua udah selesai sekarang gilska udah pergi entah kemana!" ucapan Eldira terdengar serius membuat kak Adam terdiam sejenak seolah menelaah perkataan adiknya.
"kamu gak sedang bercanda Ra?" kali ini nada suara kak Adam juga terdengar serius.
"Dira gak bercanda kak, pertanyaannya kakak suka sama perempuan seperti gilska itu beneran tau ga?"
"beneran kakak suka sama dia meskipun kakak belum ketemu, tapi kakak juga ga tau kalau ternyata mantannya Rasya, sebenarnya sangat beruntung ya si Rasya tapi kamu juga baik Ra!" kak Adam sedikit bingung menjawab pertanyaan Eldira. disisi lain dia sangat mengagumi gilska disisi lain Eldira adiknya.
"maksudnya sayang gitu harus jadi mantan, maksudnya harusnya Rasya pertahanin gilska gitu kak atau bagaimana?"
__ADS_1
"udahlah Ra, yang penting sekarang Rasya sama kamu mungkin itu cara Tuhan agar nantinya kakak yang berjodoh sama gilska, kamu jaga aja itu Rasya, biar gak ganggu gilska lagi!" kak Adam membuat Eldira menarik nafas dalam.
"kakak, jangan kasih harapan ya sama sisi? awas!!" ancam Eldira.
"hahahaha sisi mana ada sih kakak kasih harapan sama sisi, ga usah kawatir kalau itu gak mungkin!"
"tapi Eldira juga ga restu kalau kakak sama gilska, sebel aku sama dia, cantik sih tapi ganggu laki orang mana ada cewek baik begitu tingkahnya!"
"hei kamu jangan cuma dengerin satu sisi dari Rasya aja, jangan dibutakan cinta, siapa tau gilska yang disakiti, lagian kamu gatau kan hubungan mereka sebelumnya, udah ga usah menilai orang yang kita sama2 ga kenal!" kak Adam terlihat seperti membela gilska.
"o juru bicaranya ya kak! atau penggemar tak dianggap!"
"udah deh Ra, kamu kenapa sih! Rasya udah ga ada urusan kan sama gilksa atau kamu mencium bau perselingkuhan gitu?"
"gak!!!! bang rasya mau nikah sama aku mana ada sekingkuh2 gitu, kalau dia ga yakin ga mungkin kan mau nikah sama aku?"
"iya deh iya, udah fokus aja sama nikahan lamaran, dan semua itu, ga usah deh bahas masalalu, tapi kamu juga harus logika jangan menilai segala sesuatu dari satu sisi, oke!!" kak Adam berusaha menenangkan Eldira yang sedikit meninggi.
"bawaan mau nikah mungkin Eldira sensitif, maaf!" ucap Eldira membuat kak Adam mengulum senyum melihat tingkah lucu adiknya
Obrolan mereka terhenti saat tiba dikantor Eldira, waktu yang singkat yang diluangkan Eldira untuk satu mobil dengan kak Adam, mengingat Dira tidak banyak waktu luang, karena saking sibuknya menyiapkan segala ***** bengek urusan pernikahannya.
****
Ditempat lain gilska kali ini tak bersemangat, sampai dimeja kantornya gilska segera mengambil berkas yang kemarin dia tinggalkan dilaci meja untuk kembali dipelajari.
"masuk ruanganku sekarang!!" perintah Reza membuka sedikit pintunya memerintah gilska.
Gilska berjalan dengan rasa dongkol masuk keruangan Reza.
"perlukah aku jelaskan kalau Rena adalah..." belum selesai Reza melanjutkan ucapannya.
"maaf aku tak tertarik tentang masalah pribadimu atau kisah cintamu dengan istri orang!" terlihat nada sinis diucapan gilska membuat Reza sedikit tak terima.
"pernahkan kamu mencintai seseorang!" gilska tak berniat menjawab pertanyaan Reza.
"aku bukan ingin membenarkan apa yang aku lakukan , tapi gilska semua tak seperti yang kamu pikirkan, Rena adalah kekasihku jauh sebelum dia menikah, dia orang yang paling aku cintai, dia menikah dengan pak Anton bukan keinginannya, tapi untuk mempertahankan perusahaan papanya! Rena sudah menolak tapi papanya terkena serangan jantung!!! tidak ada pilihan lain agar papanya tidak kambuh!! apa yang bisa dilakukan seorang anak untuk menyelamatkan orang tuanya sudah dia lakukanl!! aku tidak menyuruhmu untuk memaklumi kami, tapi setidaknya jangan pandang sinis kami!"
"untuk apa kamu menjelaskan sesuatu yang tak aku tanyakan?"
"kamu sudah membatuku kemarin malam, aku berterimakasih untuk itu, kamu harus tau yang sebenarnya aku tak ingin kamu menyimpulkan sesuatu dengan salah!" Reza mempersilahkan gilska Duduk.
"Apapun itu pak Reza, aku tak berselera terlibat lagi kedalam urusan kamu!"
"gilska, jika kamu tau posisiku!!" Reza seolah melakukan pembelaan.
"maaf pak jika tidak ada urusannya dengan pekerjaan boleh aku keluar, permisi!!" gilska meninggalkan ruangan Reza disaat Reza belum menyelesaikan pembicaraannya.
Mendengar apa yang dilakukan Reza seakan gilska tak terima, lalu bagaimana dengan dirinya yang berhubungan dengan Rasya saat Rasya sudah akan menikah, gilska semakin yakin keputusannya paling tepat meninggalkan semuanya. Apapun alasannya sebuah perselingkuhan tidak pantas untuk dibenarkan, jika gilska sempat buta karena cinta. sekarang dia ingin memperbaiki hidupnya.
"aku akan berusaha membuatmu meninggalkan Rena!!! kecuali jika Rena sudah bercerai aku tak akan mengahalangi kisah cintamu, aku hanya ingin kamu memutuskan Rena seperti aku meninggalkan Rasya!!"
Ucap gilska lirih tanpa terdengar siapapun, tangannya mengepal dan menarik nafas dalam.
__ADS_1