
Hari berganti gilska berusaha berdamai dengan keadaan, meskipun matanya masih terlihat sembab, ditatapnya Reza yang sedari pagi sudah mengunjunginya.
"za kalau aku menerima tawaranmu? apakah kamu akan menyiapkan perjanjian pra nikah denganku?" tanya gilska melangkah menuju Reza.
Reza sedikit kaget mendengar apa yang diucapkan gilska padanya, karena dihari sebelumnya gilska dengan tegas menolak tawarannya.
"kamu mau menikah denganku?" tanya Reza meyakinkan apa yang dia dengar.
"iya, jujur aku tidak punya cara lain untuk menjelaskan ke om dan Tante, tapi bagaimana jika mereka tau anak yang aku kandung bukan anak calon suamiku?" gilska menunjukan kegelisahannya.
"kamu tau kan aku masih mencintai Rena, aku hanya ingin menolongmu, untuk masa depan pernikahan kita nanti aku tidak tahu gilska!" Reza menggantungkan jawabannya.
"aku harus jujur kepada om dan Tante apapun itu aku akan berusaha menanggung resikonya! meskipun kamu menikah denganku dan aku gak peduli setelah anak ini lahir Kita harus bercerai, tapi om dan Tante harus tau ini bukan anak kamu?" gilska menatap serius Reza.
"kamu pikirkan dengan tenang, masih ada waktu untuk menenangkan diri dan berpikir matang, kamu yakin kan menerima tawaranku?" Reza memegang kedua pundak gilska.
Gilska hanya mengangguk tak berdaya, setelah berpikir semalaman dia yakin itu satu2 nya pilihan terbaik, jika dihari kemarin gilska merasa tak perlu menikah jika hanya formalitas, tapi kini dia menyadari dia harus mulai berfikir menjadi orangtua yang baik yang tak egois demi kebaikan anaknya kelak.
"tak ada perjanjian di atas kertas untuk pernikahan kita gilska, aku akan tetap menjadi teman yang baik untukmu, dan untuk perpisahan kita nantinya juga tak mematok kapan waktunya, aku akan memberikan waktu untukmu dan anakmu, lagipula Rena juga masih terikat pernikahan, tapi maaf jika hubunganku dan Rena nantinya akan menyakitimu, kamu tau kan aku masih sangat mencintainya!"
"terimakasih Reza!" gilska menyeka air mata yang lagi2 menetes dipipinya.
ponsel gilska berdering membuatnya sontak beranjak mengambilnya dimeja.
"hallo, kenapa? apa tidak bisa diwakilkan, nanti aku kabari lagi ya?" gilska menutup ponselnya.
"siapa?" tanya Reza penasaran.
"mbak Santi, ada pembatalan kontrak yang tak bisa diwakilkan dan aku memang harus terbang ke Jakarta hari ini?" ucap gilska.
"aku akan ambil cuti aku temani kamu?"
"Reza, udah ga perlu aku bisa sendiri" gilska nampak enggan.
"aku yang akan urus tiket, kamu siap2 aja bawa baju seperlunya" gilska mengangguk menerima bantuan Reza.
Dengan cepat reza menyiapkan tiket dan keperluan gilska untuk terbang ke Jakarta, baginya sekarang gilska adalah prioritasnya, entah mengapa hati Reza luluh melihat ujian yang dihadapi gilska.
*****
"udah lama aku gak ke Jakarta gilska, mumpung disini kamu temenin aku jalan2 ya skalian lupain aja masalah kamu, calon suami kamu ini siaga?" ucapnya mengandeng tangan gilska saat tiba di bandara.
"maafkan aku ya za, bikin kamu jadi repot kaya gini tapi terimakasih banget sekarang aku jauh lebih tenang daripada kemarin"
Tanpa disadari gilska beberapa orang mendatanginya, dan sedikit ricuh memegang kamera dan beberapa pertanyaan yang tak dia duga, ada beberapa awak media yang menyadari kedatangannya ke Jakarta. Reza berusaha merangkul gilska untuk melindunginya.
__ADS_1
"siapa gilska?"
"kedatangan domestik berarti selama ini kamu di luar kota?"
"kenapa mundur dari dunia modelling?"
"kenapa tak jadi main film?" berondongan pertanyaan wartawan hanya dijawab senyuman oleh gilska.
"maaf ya, minta jalannya ya?" ucap Reza masih berjalan merangkul gilska.
para pencari berita masih mengikutinya dan semakin banyak. Gilska masih belum mampu menjawab seluruh pertanyaan wartawan, masalah yang dihadapinya saja belum selesai, dia semakin yakin menerima tawaran Reza untuk menikah, jika seluruh orang mengetahui kehamilannya tanpa pernikahan rasanya gilska tak sekuat itu.
Gilska dan Reza hanya senyum tanpa menjawab satupun pertanyaan wartawan sampai keduanya masuk kedalam mobil yang memang sudah dipesan Reza untuk menjemputnya.
gilska sempat melambaikan tangannya sesaat setelah masuk kedalam mobil.
"aku lupa kamu selebriti ya?" tawa Reza sedikit bangga jalan dengan gilska, dan berusaha mencairkan suasana.
"kita langsung ke tempat mbak Santi ya?" tanya gilska.
"kamu juga harus bilang sama mba Santi aku calon suami kamu?"
"iya!" jawab gilska tak melihat Reza tapi sibuk memainkan ponselnya membalas chat dari mbak Santi.
"tinggal dirumah Tante aku aja ya?" tanya Reza kepada gilska.
"ga bisa gitu dong gilska?? kita harus sama-sama!"
"udah nanti dibahas lagi setelah ketemu sama mbak Santi ya?" kali ini Reza mengangguk.
****
Mereka sampai disalah satu gedung tempat gilska janjian sama Santi mantan managernya.
"mbak Santi" Santi memeluk gilska saat mantan artisnya datang.
"kenapa harus Dateng si mba, gak bisa ya diputus kontrak sendiri" ucap gilska sedikit cemberut.
"masalahnya yang ini harus ada ganti rugi gilska, kamu terusin aja ya kontraknya?" mbak Santi justru berusaha meyakinkan untuk gilska kembali menerima tawarannya.
"mbak ga mungkin dong mbak, kan aku udah mundur mbak, mbak Santi apa gak baca kontraknya!" gilska sedikit kecewa.
"maaf ya?" kali ini mbak Santi yang merasa ga enak.
"kenalin mbak ini Reza" ucap gilska mengenalkan Reza.
__ADS_1
mereka berjabatan tangan, Reza memperkenalkan dirinya.
"za aku selesaikan dulu kedalam, kamu tunggu disini gakpapa kan?" tanya gilska merasa tak enak meninggalkan Reza.
"udah santai aja aku selalu ada untuk kamu!" Reza mempersilahkan gilska menyelesaikan urusannya.
*****
"gimana?" tanya Reza sesaat melihat gilska keluar dari ruangan setelah dihadapannya.
"belum beres, masih mengajukan penawaran karena aku memutuskan kontrak sepihak dan ternyata ganti ruginya besar banget" gilska tampak bingung.
"jobnya apa sih?" Reza penasaran.
"liputan harian kegiatan aku di salah satu stasiun tv selama satu bulan?" ucap gilska sambil berjalan keluar beriringan dengan Reza.
"yaudah diambil aja!" Reza menghentikan langkahnya.
"aku udah meninggalkan dunia modeling, buat apa mereka tau kehidupan aku, kan udah ga ada jadwal pemotretan dan lainnya?"
"ya persiapan pernikahan, atau liputan honeymoon kita?"
"Reza jangan gila deh!"
"terima aja tapi mulai bulan depan?"
"maksudnya?" gilska semakin tak paham.
"kita buat ujian kamu berubah jadi kebahagiaan, aku akan urus semuanya dan liputan bulan depan dimulai dengan pernikahan kita?yang nonton pasti juga akan suka, sisi lain kehidupan pribadi valleria gilska bahagia dan menikah!" Reza mengembangkan senyumnya.
"ih, apaan sih?"
"atau kamu takut papa dari baby yang kamu kandung tau kalau itu bukan anak aku!" kini senyum Reza terhenti.
"ga usah bahas itu Reza, dia gak akan tau!"
"kamu terima aja ya tawarannya kita tinggal dijakarta, aku akan ajukan pindah kesini?" Reza lebih bersemangat.
"kamu lupa sama Rena?" gilska mencari tau jawaban atas pertanyaannya.
"inget justru aku pindah biar dia sadar bisa ga tanpa aku, capek juga dinomorduakan sama dia?"
"kita tinggal dirumah mbak Santi aja ya selama dijakarta? banyak kamar disana? aku gak mau tinggal dirumah Tante kamu?" gilska tak mau memperpanjang pertanyaannya tentang Rena.
"oke ayoook!" Reza mengandeng tangan gilska dan kembali berjalan beriringan.
__ADS_1
Perasaan gilska jauh lebih baik, Reza mempu membuatnya tersenyum hari ini.