
Eldira berusaha bersikap biasa meskipun air matanya tadi sempat bergulir disekanya sebelum rasya tau.
Setelah Turun dari mobil, eldira dan rasya masuk kerumah mamanya.
"udah dateng kalian, ayo kita langsung berangkat aja ya?" ucap mama sambil tertawa bahagia, manyambut kedatangan eldira.
Sudah lama mereka tak liburan bersama.
Eldira menatap rasya sesekali, apa iya dia mampu meninggalkan rasya, tapi bagaimana dengan perasaan bang rasya apa benar-benar ingin berpisah, batin eldira kalut.
Mereka berangkat mengendarai mobil masing masing, mama dan papa lebih dulu sedangkan eldira mengekor dibelakang bersama rasya.
***
Sesampainya di penginapan eldira merebahkan diri di sofa, mama nya bilang nanti saja makan malam bersama, sementara eldira disuruh istirahat dulu.
Kebetulan penginapan tepat didepan pantai, eldira membuka gorden dan menatap ombak.
"bang, tolong ambilkan minum?" ucap eldira pada rasya.
Rasya tak menjawab pertanyaan eldira tapi kakinya melangkah mengambil satu botol air mineral dan diberikan pada eldira.
Sebenarnya eldira kecewa melihat sikap rasya yang seolah tak peduli, tak mengajaknya bicara sama sekali.
"terimakasih" jawab eldira mengambil botol.
Jika diteruskan tanpa obrolan rasanya eldira yang tidak betah.
"aku mau bicara bisa?" tanya eldira lagi.
Kali ini rasya menatapnya dan mengangguk.
"sini duduk sebelahku" ucap eldira.
Rasya mendekat masih terdiam tanpa kata, dan duduk disamping eldira, suasana sedikit canggung tapi eldira ingin berusaha membangun komunikasi kembali dengan suaminya.
"selama kita masih menikah sambil menunggu perpisahan, bisakah kita berteman? Tidak ada gunanya saling diam kan?" tanya eldira berusaha memecahkan keheningan.
Batin rasya serasa tertusuk lagi lagi ucapan perpisahan yang diungkapkan eldira, mengajaknya berteman, mana mungkin rasya bisa berteman, sedingin itukah hati eldira, jika harus berteman malah akan membuat rasya sulit melupakan eldira.
"maaf ra, lebih baik seperti ini, agar aku juga mulai terbiasa tanpa kamu" jawab rasya lalu berdiri melangkahkan kaki keluar kamar meninggalkan eldira.
__ADS_1
Lagi lagi eldira harus menelan kekecewaan karena jawaban rasya, bahkan bertemanpun rasya menolak. Apa jangan jangan rasya memang ingin segera mengakiri hubungan ini.
Eldira kembali menatap ombak sambil meneteskan air mata, belum berpisah saja rasanya sudah sesakit ini apalagi jika harus benar benar kehilangan rasya. Eldira kesal dengan hatinya lagi lagi cintanya yang besar seolah menutup logika, semua kesalahan ada pada rasya tapi kenapa batinnya yang tersiksa dengan sikap dingin rasya.
Beberapa menit berlalu eldira melihat rasya yang berjalan menyusuri pantai. Terlihat dari kamar.
"aku kan juga mau bang diajak jalan jalan" gumam eldira, sambil menatap rasya berjalan eldira sengaja membuka pintu kamar yang ada balkonnya untuk menghirup udara segar dan semilir angin menggoyangkan rambuntnya yang tergerai.
Kali ini mata eldira mebelalak, ada perempuan yang terlihat berlari mendekati rasya. Kali ini langkah mereka berjejer. Eldira mengucek kedua matanya, dilihatnya lagi lebih jelas.
"agata, kenapa agata ada disini? Mereka tidak mungkin janjian karena tadi mama mengajak secara mendadak, apalagi bang rasya bersamaku sejak tadi, apa hanya kebetulan, agata yang membuat bang rasya mengakui perbuatannya" eldira jadi mengingat setiap kelicikan agata, untuk mendapatkan hati suaminya.
Eldira seakan tak rela rasya bersama agata, tapi jika mereka bercerai bukankah hak rasya mau menikah dengan siapapun.
Lagi lagi eldira galau dan takut salah langkah, tentang perpisahan yang selalu ia gaungkan sendiri, padahal eldira juga belum yakin apakah mampu melewati perpisahan itu, akan lebih sakit hati atau lega jika memang perceraian terjadi.
****
"rasya" ucap agata girang mendapati rasya dipantai tempatnya berlibur.
"hei, kau disini?" tanya rasya datar, kali ini tidak ada kemarahan sama sekali.
"tumben, ga marah! Sama siapa kamu?" tanya agata menatap rasya
"kok jalan sendiri, mana eldira? Sory sya buat semua kesalahanku, aku tau mungkin tidak pantas dimaafkan, aku lega kamu masih berlibur bersama eldira tandanya rumah tanggamu baik baik saja, sya bagaimanapun sejak kecil kita beteman, aku janji ga akan lagi ganggu rumah tangga kamu, tolong maafkan aku sya, setelah kusadari yang kurasakan padamu bukan cinta, tapi obsesi" ucap agata membuat rasya kaget.
Langkah kaki rasya terhenti dan menatap agata.
"bener" tanya rasya,memastikan perkataan agata.
Agata mengangguk, terlihat ketulusan disana entah apa yang membuat agata bisa berubah.
"kenapa seorang agata bisa mengakui kesalahannya dan minta maaf?" tanya rasya sedikit heran dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"lihat diujung, itu calon suamiku sya"
Terlihat lelaki melambaikan tangan ke rasya.
"mau menikah, secepat itu?" rasya kaget.
"ceritanya panjang nanti kalo ada waktu aku ceritakan ya, ucapkan selamat untuku sya" ucap agata sambil membuka lebar kedua tangannya berharap rasya mau memeluknya.
__ADS_1
"agata, selamat ya" ucap rasya sambil memeluk sahabat kecilnya itu.
"oke aku akan memaafkan kesalahanmu, perbaiki semuanya jangan kecewakan suamimu" jawab rasya
"aku akan balik keluar negri, setelah pernikahan" agata melepaskan pelukan rasya.
"aku pasti datang ke pernikahan kalian"
"kalo diundang? Kalo gak?" agata tertawa menggoda rasya.
"bener ga diundang kado ku pasti termahal nyesel ga undang?" rasya ikut tertawa.
"oke sya aku pergi dulu, selamat berlibur ya bye! Sekali lagi maaf dam terimakasih sudah memaafkan" kemudian agata berlari meninggalkan rasya.
Rasya melambaikan tangannya, hatinya lega perselisihan dengan agata sudah berakhir.
***
Sementara eldira menangis sesegukan melihat suaminya memeluk agata, mereka belum juga bercerai dan rasya sudah bertingkah seperti lelaki lajang.
"dasar tak tau malu kamu bang? Harusnya aku sejak dulu tidak memaafkan setiap kesalahanmu" ucap eldira terisak.
Eldira duduk lemas disofa harapannya akan kembali bersama, sepertinya hilang ditelan bumi.
Eldira belum juga yakin bercerai, haruskah mempertahankan rasya dan menjaga suaminya dari wanita macam agata atau justru mantap bercerai.
Tokk...tokk...
Eldira segera mengelap air matanya dan berjalan ke arah pintu. Dibukanya pintu mamanya sudah ada didepan.
"ma" eldira menyapa
"kamu istrahat aja dikamar kalo capek, rasya mana?" tanya mama.
"tadi jalan jalan ma, kenapa?"
"gak, mama ada perlu sama rasya, mama susul aja, ya sudah lanjutkan istrahat ya, bumil jangan kecapekan" ucap mama.
Eldira hanya mengangguk dan menutup kembali pintu kamar.
Seandainya bisa memeluk mama dan menangis kencang, tapi kan itu juga tak mungkin.
__ADS_1
Eldira benar-benar tak ada teman untuk berbagi cerita, haruskan mencari sisi, tapi dikepalanya ada nama delon. Bagaimana jika eldira bercerita pada delon. Apa bisa menyelesaikan masalah, atau eldira harus ke gilska dan suaminya.
"ah mana mungkin aku ke gilska gimana dengan harga diriku, aku harus mengatasi semua sendiri, besok akan ku telpon delon saja, aku sangat membutuhkannya" ucap eldira dalam kebimbangan.