
Hari selanjutnya Eldira disibukan dengan segala rencana lamarannya dengan Rasya, tidak ada lagi kekawatiran tentang hubungannya yang berangsur membaik dan sesuai dengan harapannya, Rasya selalu meluangkan waktunya untuk Eldira.
"Ra happy banget ya, gimana rasanya mau dilamar?" sisi menanyakan disela-sela kerepotannya.
"happy capek, takut juga kalau ga berjalan lancar rasanya semua campur aduk jadi satu si" Eldira menjawab pertanyaan sahabatnya dengan senyuman.
"aku doakan semua lancar ya Ra! ga kerasa udah hampir 60% juga kan persiapannya, dan kamu tangani semuanya sendiri, keren!!!" ucap sisi kemudian.
"ngeledek kamu si, tapi untung aja ya bang Rasya juga turut andil" Eldira duduk dan meminum air putih didepannya sepertinya tubuhnya mulai membutuhkan cairan.
"haus Bu!!" sisi menatap Eldira sembari tertawa.
"kalian gak capek ya! ayo kita makan siang dulu, mama udah siapin ayo!!" ucap mama Eldira menawarkan makan siang.
***
Disaat Eldira menyiapkan acara lamaran dengan antusias Rasya justru belum merasa yakin.
"Kenapa kamu?" tanya Tante Nonik yang seakan paham anak lelakinya sedang gelisah.
"no!! ga ada masalah, mama ga perlu bingung semua persiapannya udah matang ma, aku dan Eldira yang urus!" Rasya menjelaskan dibalas senyuman Tante Nonik.
"Apa yang bikin anak mama merenung, ini pilihan kamu Rasya, mama gak pernah ingin ikut campur dengan segala yang kamu putuskan, asal kamu bahagia apapun itu mama akan mendukungnya!" Tante Nonik duduk disebelah rasya, Rasya menatapnya sebentar dan kembali menunduk.
"terlihat bahagia atau gak ma?" tanya Rasya membuat Tante Nonik merangkul pundak anaknya.
"akhir-akhir ini kamu banyak merenung, kenapa?? cerita sama mama!"
"Rasya udah berkomitmen, dan Rasya hanya ingin bertanggung jawab atas keputusan yang Rasya ambil!"
"Rasya bahagia atau ga?" tanya Tante Nonik membuat Rasya menatapnya.
__ADS_1
"entahlah ma, Rasya tidak mau mengecewakan banyak orang!"
"tapi kamu mengecewakan dirimu sendiri! apa yang kamu putuskan sudah benar Rasya, lelaki yang baik adalah yang memegang teguh komitmen dan tanggung jawabnya, itu kalau kamu sudah harus bertanggung jawab, artinya kalau kamu sudah menjadi seorang imam yang sah, tidak ada alasan apapun untuk mengingkari komitmen itu, tapi sebenarnya jika kamu bimbang kenapa kamu harus melamar Eldira?" Rasya sedikit kaget dengan ucapan mamanya.
"maksud mama apa?"
"mama tidak bermaksud apapun janganlah menyakiti seseorang karena keegoisanmu, tapi jangan pula menyakiti diri sendiri untuk ketidakjujuranmu, ya udah mama mau nyiapin makan siang buat papa!" mama berlalu meninggalkan Rasya yang kembali termenung.
***
Setelah insiden Rasya memeluk gilska minggu lalu, Rasya sama sekali tak bertemu lagi dengan gilska, karena itulah Rasya mantap memilih eldira, karena sudah tidak ada lagi gangguan dari gilska, tapi justru kini kehampaan menyelimuti batinnya, ada secercah kerinduan yang Rasya rasakan.
Rasya memutuskan untuk menemui gilska dan beranjak pergi dari rumah, setidaknya sebelum dia memiliki tunangan dan istri.
Beberapa menit berlalu kini Rasya berada tepat didepan rumah gilska, rumah terlihat sepi. Rasya berjalan mendekat dan mengetuk pintu belum ada sautan dari sang pemilik rumah, Rasya kembali mengetuk dan pintu terbuka, melihat gilska berdiri didepannya seakan kerinduannya terbayarkan.
"Rasya!!" gilska terlihat kaget melihat orang yang dia cintai berdiri dihadapannya.
"silakan masuk, aku buatkan kamu minum dulu ya?" tanya gilska.
"aku baik Rasya, tapi ragaku!! tidak dengan pikiranku, mama sudah pergi meninggalkan aku meninggalkan kita semua Minggu lalu, sehari setelah aku bertemu denganmu!" gilska meneteskan air matanya.
Rasya hanya bingung menatap orang yang dicintainya bahkan saat gilska membutuhkannya dia tak pernah ada, ada penyesalan dalam diri Rasya kini.
"aku ikut berduka, aku minta maaf aku tidak tau, jika saja aku tau pasti aku akan ada untukmu!" ucap Rasya terbata.
"terimakasih Rasya, aku memang tidak ingin menganggumu, bagaimana kabarmu?" gilska menanyakan kabar Rasya.
"aku baik" Rasya masih menatap gilska.
"bagaimana rencana kamu, aku dengar papa kamu udah pulang, jadi kamu akan menikah?" pertanyaan gilska sebenarnya tak mampu dijawab Rasya.
__ADS_1
Tapi mau bagaimana lagi tak mungkin juga dia menyembunyikan dari gilska. Rasya hanya mengangguk pelan.
"semoga acaranya lancar" sambung gilska membuat Rasya sedikit kaget, gilska mendoakannya.
"kamu ikhlas gilska?" tanya Rasya penasaran.
"manusia hanya berencana kan, Tuhan yang menentukan, selain itu aku sudah berusaha kan? untuk apa aku berusaha jika kamu tidak mau?" gilska mengembalikan pertanyaan pada rasya.
"maafkan aku gilska..." jawab Rasya lirih.
"tidak ada yang perlu dimaafkan kamu tidak bersalah, hanya aku yang terlalu berharap, aku sudah kehilangan segalanya, bahkan sekarang aku juga tak peduli dengan hidupku!" gilska mulai terisak.
"apa yang bisa aku bantu untuk kamu?" tanya Rasya berusaha menghibur mantan kekasihnya.
"tidak perlu, mungkin aku akan mencari calon suami dan segera menikah dan mengabdikan hidupku untuknya, memulai keluarga baru yang bahagia, mengurus anaku, terdengar indah kan?" jawaban gilska seakan mengiris hati rasya, mana mungkin dia bisa melepaskan gilska.
Jika gilska harus melanjutkan hidupnya dan bahagia dengan orang lain, rasanya tidak rela, Rasya masih sangat merasakan besarnya cinta untuk gilska,, dua tahun menjalin asmara, melakukan banyak hal bersama, dan selalu bahagia hampir tidak ada pertengkaran, dan Rasya merasa hanya gilska yang mampu meluluhkan hatinya.
"sebenarnya aku juga tak sanggup melihatmu bersama orang lain?" ucap Rasya lirih.
"bagaimana kita saling melupakan sya, bagaimana caranya?"
"entahlah gilska, mungkin aku akan mengundur pernikahan hingga aku bisa melupakan kamu, sangat tidak adil untuk calon istriku jika aku menikahinya tanpa cinta!"
"pulanglah Rasya, terimakasih untuk semuanya!" gilska menyuruh mantan kekasihnya untuk pulang.
"jika ada apa apa hubungi aku?"
"dan kau akan datang atau tidak?" gilska menunggu jawaban Rasya.
"aku akan datang, aku akan selalu ada untuk kamu, aku balik ya!" Rasya mengelus lembut rambut gilska.
__ADS_1
"hati-hati" gilska mengantarnya sampai pintu depan.
Ketika Rasya sudah ada didalam mobil Rasanya sulit meninggalkan gilska sendirian, pasti masih berduka hingga kehilangan semangatnya. Jika saja dia belum memiliki hubungan baru pasti semua tak akan sesulit ini. Rasya merasa sudah berusaha mencintai Eldira tapi kenapa rasa cintanya untuk gilska seakan menghalangi usahanya.