Menantang Cinta

Menantang Cinta
babak baru


__ADS_3

Rasya sudah memblokir nomor gilska, meski tanpa sepengetahuannya nomer itu bahkan sudah tidak bisa dihubungi, Rasya berjanji pada dirinya untuk menjadi lelaki yang setia hanya pada Eldira. Memang membutuhkan waktu untuk mengembalikan kepercayaan Eldira, tapi Rasya ingin mengubur seluruh masa lalunya. disisi hatinya sebenarnya ada pertanyaan tentang Delon dan Eldira, sejauh mana hubungan mereka?? dan apa yang menyebabkan mereka tidak bersama lagi?? ada beberapa pertanyaan tapi tak mungkin juga ditanyakan pada Eldira.


"Ra bisa kita ketemu setelah ini?" tanya Rasya disambungan telepon dan Eldira mengiyakan ajakan Rasya.


Setelah mengajak Eldira bertemu Rasya keluar dari kantornya menuju tempat janjian dengan Eldira. Tak lama melajukan mobilnya Rasya sampai dicafe dan segera memarkirkan mobilnya.


Berjalan masuk sebelum Eldira datang, Rasya ingin sampai lebih dahulu daripada calon istrinya, matanya menangkap lelaki yang memunculkan tanda tanya beberapa saat lalu.


"bukankah itu mantan Eldira" ucap Rasya lirih.


Melihat Delon duduk sendirian membuat Rasya bertekad mendatangi mejanya.


"permisi, boleh bicara sebentar?" ucap rasya sedikit membuat Delon kaget melihatnya.


"silakan, boleh tau ada urusan apa?" jawab Delon dengan nada datar.


"kamu lelaki yang bersama Eldira beberapa waktu lalu ?" Rasya duduk tepat didepan Delon.


"ya dan anda lelaki yang saat itu bersama wanita lain padahal sudah memiliki calon istri?" Delon membalas pertanyaan Rasya.


"langsung ke intinya saja! apakah kamu masih memiliki perasaan terhadap calon istri saya?" Rasya membuat Delon menelan ludah.


"saya Rasa itu bukan urusan kamu? apa masalahnya buat kamu, harusnya kamu tau Eldira sudah memilih kamu sebagai calon suaminya? tidak ada masalah kan!"


"oh silakan saja jika ingin tetap bersilaturahmi, saya bukan tipe lelaki pengekang, tapi tolong jangan dibelakang saya, dan saya harap kamu juga paham Eldira memilih saya, seperti apa yang kamu katakan! kalau bisa hilangkan saja rasa cinta jika itu masih kamu miliki, daripada sakit?" Rasya menatap tajam Delon yang juga menatapnya secara serius.


"jika tidak ingin kehilangan Eldira, jaga dan jangan membuatnya menangis, jika tidak saya yang akan berusaha membuatnya bahagia!" Delon justru menantang Rasya.


"jangan bermimpi untuk mendapatkannya kembali, permisi!!" kali ini Rasya meninggalkan Delon dan berjalan kemeja yang sudah dia reservasi.


***


Ditempat lain Eldira mengantarkan sisi pulang setelah makan siang dan segera menuju cafe yang ditunjuk rasya untuk pertemuan mereka.


Eldira berjalan cepat agar rasya tak menunggunya lama, langkahnya sempat terhenti saat mengetahui ada Delon dalam cafe tapi akirnya Eldira tetap melangkah dan menuju meja Rasya.


"bang" sapa Eldira kepada Rasya.


"hai Ra, lihat apa kamu? Delon!" Rasya melihat gelagat Eldira yang sedikit salah tingkah.


"hmmm, apa yang ingin Abang katakan?" tanya Eldira sambil duduk.


"kesehatan papa menurun Ra, melihat kondisinya bisa jadi aku yang akan menggantikannya untuk sering keluar negri!" Rasya terlihat resah


"papa kamu dirawat dirumah sakit!! kenapa gak kabarin aku?" tanya Eldira.


"gak kemarin habis cek up cuman kondisinya sedang tidak baik jika dipaksakan mengurus beberapa perusahaan, kamu tau kan aku satu-satunya anak lelaki yang papa punya, kamu gimana Ra?"


"apanya yang gimana?" Eldira jadi bingung dengan pertanyaan Rasya.


"kalau selepas menikah aku ke luar negri kamu mau ikut atau tetap tinggal di Indonesia?" pertanyaan Rasya kali ini membuat Eldira gundah sementara karirnya mulai naik.


"sebenernya Eldira ada promosi naik jabatan, dan sayang banget kalau harus ditinggalkan begitu saja, kalau Abang maunya gimana?"


"maunya kamu ikut sama aku kemanapun aku pergi, aku gakmau kamu kaya mama terpisah jauh sama papa" Rasya seakan ingin Eldira merubah keputusannya.


"gak semua orang dikasih kesempatan sama kaya aku, berkarir sampai diposisi ini, tapi aku akan pikirkan lagi!"


"semoga keputusannya sesuai sama yang aku mau Ra, aku gak mau terpisah dari istri, yang paling penting semoga kondisi papa membaik"

__ADS_1


"ya semoga om segera pulih"


"kamu darimana tadi Ra?" tanya Delon membuat Eldira sedikit gelagapan.


"e... aku hmm habis anter sisi, ya habis anter sisi tadi kita makan siang sama-sama" jawab Eldira menyembunyikan sesuatu.


"oke nanti kita bahas lagi, untuk wedding gimana Ra? kamu kecapekan banget pasti ya urusin semuanya, maaf ya aku ga bisa terjun langsung buat bantuin kamu?"


"it's ok,aku suka kok bisa tangani semua sendiri, wedding pertama dan terakhir buat aku, sekali seumur hidup ga ada kata capek, Abang tenang aja!" Eldira tersenyum simpul membuat Rasya lebih bersemangat.


"yang penting kamu juga harus jaga kesehatan, aku gak mau kamu tumbang Ra, ya udah kamu mau aku anter balik?" tanya Rasya kawatir.


"gak usah, habis ini aku mau pilih model undangan, kecuali Abang mau ikut?" Eldira menunggu jawaban iya dari Rasya.


"sebenernya masih ada satu meeting, tapi aku tunda besok aja aku temeni kamu!" jawaban Rasya membuat Eldira kembali mengembangkan senyumnya.


Sesuai apa yang dikatakan Rasya mengantar Eldira, melihat calon istrinya sigap dalam menyiapkan segala sesuatu untuk lamaran dan wedding mereka Rasya merasa kasihan, terlihat wajah Eldira sedikit kelelahan.


****


Ditempat lain gilska menyelesaikan pekerjaannya meskipun diruangan om sandy, dengan Telaten om sandy mengajari gilska.


"terimakasih ya om, gilska balik ke ruangan dulu" ucapan terimakasih gilksa kepada omnya.


"iya, kalau ada apa-apa tanya aja pasti om ajarin, yang penting kamu rajin gilska" om sandy membuat gilska menatapnya serius.


"pasti om" ucapnya sebelum meninggalkan ruangan.


Sesaat setelah sampai dimeja kerjanya gilska segera memutuskan untuk menyerahkan berkas yang ia kerjakan untuk Reza.


Gilska masuk dan sedikit mengetuk pintu tidak ada sahutan gilska tetap masuk.


"bisa duduk sebentar?" tanya Reza sama sekali tak bernada tinggi seperti beberapa jam yang lalu, membuat gilska sedikit bingung.


"gilska, aku tau kamu baru kan disini dan aku juga tau pasti kamu gak ada teman kan? boleh aku minta tolong sama kamu?" tanya Reza membuat gilksa berfikir.


"menolong untuk apa?"


"untuk hal penting dalam hidupku, gampang kok cuman temeni aku buat makan malam, cuman satu kali, dan tempatnya juga ramai bukan tempat yang menyeramkan?" sorot matanya terlihat memohon, bagaimana bisa yang tadinya kasar berubah menjadi seperti ini batin gilska.


"baik akan aku bantu kamu?" daripada pemuda aneh dihadapannya mengamuk itu justru membuat gilksa semakin takut.


"terimakasih gilska, oh ya lupakan ucapanku pagi tadi ya, setelah ini akan aku cek berkas yang kamu kerjakan, aku lihat kamu ada kegigihan!" gilksa hanya mengangguk dan meninggalkan ruangan.


******


"gilksa kamu mau kemana? emangnya udah punya teman?" tanya Tante meta penasaran.


"cuman mau menikmati malam hari disurabaya Tante, cuman sebentar kok!" jawab gilksa.


"apa kamu mau Tante temeni kamu?"


"gak usah Tante, gilska sendiri aja, Ratih juga buat dirumah?" jawab gilksa merapikan rambutnya.


"Ratih harus ikut, Tante gak mau ya terjadi apa-apa sama kamu?"


"Tante, percaya sama gilska gak akan ada apa-apa!"


Tante meta akirnya mengiyakan keinginan gilska, tidak ada pilihan lain.

__ADS_1


"gilska berangkat ya tan?" gilksa mencium pipi kiri tantenya dan siap-siap pergi.


Om sandy sudah menyiapkan satu mobil untuk digunakan gilska, lebih mudah untuk gilska pergi kemanapun dia mau.


"kamu dimana?" ucap suara diseberang.


"sudah dijalan pak, tunggu sebentar ya?" jawab gilska.


"hei kamu, kalau diluar panggil Reza aja jangan pak, lagian aku belum tua kan?" jawabnya tak terima.


"ok Reza, tunggu sebentar ya? sepuluh menit aku sampai!" gilska menutup sambungan telponnya.


Sebenarnya gilska sedikit bingung dengan ajakan makan malam Reza, tapi gilska penasaran, lelaki angkuh kasar seperti Reza, gilska justru ingin tau tentang kehidupannya.


Gilska sampai lebih cepat dari perkiraan, terlihat Reza sudah menunggunya bahkan diparkiran. Setelah memarkirkan mobilnya, dengan cepat gilksa menghampiri Reza.


"kamu ya lama banget?" Reza terlihat meninggi.


"apanya yang lama pak? sesuai jam ini! satu lagi kalau nadanya tinggi aku gak jadi bantuin ya?" Ancaman gilska sanggup merubah mimik muka Reza.


"oke baik, kamu pegang lengan aku ayo!" kali ini gilska menurut dan menikmati permainan apa yang telah disiapkan Reza.


Mereka berjalan masuk ke rumah makan, gilska masih memegang lengan Reza seakan mereka sepasang kekasih.


"selamat malam" Reza terhenti didepan sepasang lelaki dan perempuan yang juga berpeganga tangan.


"malam Reza silakan duduk?" ucap lelaki kekar itu.


Reza terseyum pada gilksa agar gilska juga duduk.


"jadi ini calon istri kamu? ini bukan setingan kan?" tanyanya kemudian.


Dan wanita disampingnya terlihat tak menyukaiku dan Reza.


"bukan tentu bukan, namanya gilska cantik kan?" Reza seakan bangga dengan kebohongannya.


Jika gilska tau dijadikan kekasih pura-pura pasti sudah menolak ajakan Reza, tapi melihat sikap wanita yang terlihat sinis didepannya justru gilksa kasihan pada Reza, memangnya siapa mereka ini tanyanya dalam hati.


"ya cantik, tapi bagiku istrikulah yang paling cantik" ucapnya mengenggam tangan istrinya.


"gilska kenalkan ini pak Anton dan ini ibu Rena!" Reza mengenalkan gilska dan gilska mengulurkan tangannya.


Setelah perkenalan mereka melanjutkan dengan makan malam sesuai dengan yang dikatakan Reza, semoga saja tidak ada makan malam yang lain batin gilska, karena obrolanyapun sangat membosankan.


"Reza, saya percaya sama kamu! setelah ini saya masih ada sedikit urusan dengan klien, bisakah kamu antar istri saya pulang?" tanya pak Anton yang umurnya mungkin sepantaran dengan om sandy.


"baik akan saya antarkan ibu pak!" ucap Reza sambil melirik istri pak Anton yang justru usianya jauh dibawahnya bahkan terlihat lebih muda daripada gilska.


Selang beberapa lama pak Anton meninggalkan rumah makan.


"thanks gilska aku akan menghabiskan malam dengan Rena, kamu bawa mobil sendiri kan? sekali lagi terimakasih ya?" ucap Reza membuat gilksa berfikir.


"ini karyawan kamu kan sayang! jangan sampai ya kamu tertarik sama dia" ucap Rena bergelayut manja membuat gilska bergidik.


"tidak, mana mungkin aku jatuh cinta padanya?" ucap Reza tersenyum dan menatap gilska.


"kamu bisa pergi gilska!" ucap Reza lagi.


"okey! jangan libatkan aku lagi setelah ini!" gilksa merasa geram dengan ulah Reza, dan buru-buru meninggalkan mereka.

__ADS_1


Tanpa bertanya gilskaa mencium gelagat perselingkuhan dan dia hanya dijadikan alat agar suami Rena tak cemburu pada Reza, "dasar penghianat!!" ucap gilska sangat kesal.


__ADS_2