
Eldira kembali kerumah dengan tawa riang Rasya menemaninya dan mengantarkannya pulang, mereka menuju gazebo didepan kolam renang.
"tadi aku sempet ragu, kalau ketauan Ra ternyata mama kamu pinter juga ya aktingnya" Rasya masih tertawa mengingat surprise yang dihadiahkannya untuk Eldira.
"thankyu banget ya bang, kenapa kasih aku hadiah cafe! gede banget itu hadiahnya besok aku mau ajak temen2 aku reuni?" Eldira tersenyum bahagia.
"suka ga kamu?" tanya rasya memandang calon istrinya.
"suka banget makasih banget"
"banyak hal yang aku lewatkan untuk membuat kamu bahagia ra, kamu selalu sabar menghadapi aku, aku yang terimakasih sama kamu, hadiahku ga ada apa2nya dibanding kesabaran kamu selama ini" Rasya menarik tangan Eldira.
"Abang itu dikirim Tuhan buat bahagiain aku, aku yakin seiring berjalannya waktu Abang ga akan bisa hidup tanpa aku" Eldira tertawa mencairkn suasana.
"aminn, semoga ya sayang" Rasya merangkul Eldira.
"Dira lupa kasih tau, sebelum lamaran kemarin Dira sempet lihat rumah kita sama Tante Nonik sebenarnya dira juga udah reques sama design interior nya, ini udah proses kurang lebih 4bulanan, nanti kalau Abang ada yang ga suka tinggal konsultasi lagi aja"
"aku percaya kok sama kamu"
"hmmm boleh ga Dira request juga nanti kalau honeymoon kita mau kemana?" tanya Eldira manja.
"memangnya kamu mau kemana?"
"mau yang sederhana aja, tapi sebulan kita disana" Eldira membuat Rasya mengernyitkan dahinya.
"kemana memangnya selama satu bulan, emang kamu nggak ngantor, ada2 aja kamu?" Rasya menyentil hidung Eldira lembut.
"Maldives aja, sederhana kan, ditengah laut terus kita menghabiskan hari, hmmm Dira gak sabar" Eldira memeluk Rasya dengan hangat.
Melihat senyum Eldira karena kejutan beberapa jam yang lalu dan mendengar keinginan Eldira Rasya ikut bahagia. Komitmen yang saat ini dia pertahankan, Rasya berharap akan terus dijaganya agar tak melukai Eldira lagi.
"kamu rencanain aja semuanya, selama aku bisa pasti akan aku penuhi semua yang kamu mau!"
"bang, kalau Dira minta Abang setia? bisa ga?" pertanyaan Eldira dibumbui dengan senyum candaan, hanya untuk menggoda Rasya, tapi sayangnya Rasya tak mampu menjawabnya.
__ADS_1
"Eldira, aku akan berjuang dan berusaha membuat kamu bahagia, percaya sama aku !" Rasya menatap Eldira dengan serius.
"aku percaya kok sama Abang!" Eldira membalas tatapan Rasya.
"ya udah Abang balik ya, udah sore kamu istrahat ya?"
"gak mau, masih mau ditemeni!" Eldira manja.
"beneran, bilang sama mama kamu kalau aku mau tidur disini, dikamar kamu berani gak kamu?" kali ini Rasya gantian mengajak Eldira bercanda.
"sabar dong beberapa bulan lagi!" Eldira tersenyum malu.
"itu tau kalau kudu sabar, aku balik ya sayang kamu istirahat" rasa mencium kening Eldira, dan kali ini Eldira mengangguk.
***
Perut gilska sudah agak mendingan, tapi hatinya masih sangat terluka, entah apa rencananya setelah ini.
Tokk...tok...
"gimana kondisi kamu? aku kawatir, kerjaan kantor aku bereskan dengan cepat?" Reza datang membawakan makanan.
"kamu bawa apa za, kan tadi aku udah makan?" gilska menuju sofa dan menyalakan tv.
"buat kamu, aku mau ngomong sama kamu gilska" Reza merebut remot tv dan mematikannya.
"apa yang mau kamu tanyakan? apa yang pengen kamu tau tentang aku, kamu kaget aku hamil? aku cewek ga bener gitu atau apa?" tanya gilska lirih dan putus asa.
"gilska kamu bisa cerita jika kamu mau, tapi aku gak akan mencari tau tentang masa lalu kamu, aku mau kita mencari jalan keluar untuk masalah kamu!" baru kali ini gilska melihat Reza mempedulikannya.
"kenapa kamu peduli sama aku, aku gak nyangka ternyata kamu teman yang perhatian" gilska masih aneh diperhatikan Reza
"aku punya teman, yang hanya dibesarkan oleh mamanya, dia selalu terlihat baik2 saja dan menggambarkan kebahagiaan hingga mamanya pikir sudah memenuhi kasih sayang, tapi saat sendirian dialah orang yang paling terpuruk merindukan kasih sayang seorang ayah, aku peduli dengan bayimu gilska" Reza berusaha mengelus perut gilska dengan reflek gilska mencubit tangan Reza.
"maaf Reza, terima kasih sudah peduli dengan bayi ini" gilska tersenyum sendu.
__ADS_1
"apa rencana kamu gilska?" Reza kembali bertanya.
"membesarkan anak ini, sendiri! ini kesalahanku buka kesalahan siapapun" gilska mencoba menghentikan tangisnya.
"aku bersedia menikah denganmu?" Reza mengucapkan kata tak terduga membuat gilska menatapnya kaget.
"kamu, menikah sama aku, kamu bilang kamu peduli dengan bayi ini, pernikahan seperti apa yang kamu tawarkan?" tanya gilska tak menganggap tawaran Reza.
"aku bersedia menjadi papa dari anak kamu, aku janji akan menyayanginya?" gilska semakin tak mengerti mendengar setiap kata yang diucapkan Reza, begitu aneh baginya.
"terus Rena? mau kamu kemanain? atau kalau aku dan anaku sudah menyayangimu kamu akan meninggalkan kami, tawaran kamu pasti berjangka waktu kan, maaf Reza aku ga mau buat masalah baru!" kali ini gilska mengusap air matanya.
"sampai kapanpun aku akan menganggapnya anak jika kita berpisah, aku akan tetap menjadi papanya hingga dia dewasa!" Reza tetap tak menyerah meyakinkan gilska.
"bukan pernikahan mainan yang aku mau Reza, aku lebih baik menunggu seseorang yang bisa menerimaku dan bayi ini yang benar2 menyayangi kami, dan menjaga kami tulus seumur hidupnya, meskipun aku mendapatkan pernikahan itu diusia anaku sudah beranjak besar, aku akan menunggunya, pernikahan sakral untuku dan aku berharap hanya sekali seumur hidupku, tetaplah menjadi teman yang baik Reza, terimakasih untuk tawaranmu, lebih baik kita berteman seperti ini saja ya?" gilska menolak tawaran konyol Reza.
"kamu ada niat bercerita pada papannya gilska?" Reza masih mencari tau, meskipun enggan menjawab tapi gilska menggeleng.
"aku sudah bilang ini salahku, dan aku akan bertanggung jawab menanggungnya seorang diri"
"tapi perutmu akan semakin membesar bagaimana kamu cerita sama om sandi dan Tante meta?" Reza menatap iba gilska
"entahlah itu yang akan kupikirkan, tapi cepat atau lambat pasti mereka akan tau kan?"
"gilska terima saja tawaranku?" Reza mengenggam tangan gilska .
"Reza, udah kamu pulang aja aku butuh waktu untuk sendiri, aku baik2 aja kok"
"yaudah kalau ada apa2 kabari aku, beneran kamu gak papa2? Reza kawatir meninggalkan gilska.
"serius aku gak papa Reza, terimakasih untuk semua ya?"
"aku balik ya" Reza berpamitan.
Tak terbesit sedikitpun dibenak gilska untuk memberitahu Rasya, Gilska hanya berfikir bagaimana caranya membesarkan bayi yang dititipan Tuhan kepadanya. Bagaimana meyakinkan om dan tantenya untuk menghargai keputusannya membesarkan bayinya tanpa pernikahan, sampai ada yang memang tulus mencintainya dan anaknya, Bagaimana kalau om sandi dan Tante meta Malu. Jika harus terpisah dari om dan Tante nya itu yang akan membuat gilska sedih, sedangkan mereka adalah satu2nya keluarga yang dimiliki saat ini.
__ADS_1
ADUHH GIMANA INI??? APA YANG HARUS DILAKUKAN GILKSA?? TINGGALKAN KOMENTATNYA YA..😉