Menantang Cinta

Menantang Cinta
penyesalan delon


__ADS_3

Siang ini suasana hati gilska telah berubah karena keinginannya untuk menjauhkan Rena dari Reza membuatnya masuk kedalam ruangan Reza dengan senyum yang merekah. Reza yang mendengar bunyi pintu ruangannya terbuka segera menengok dan mendapati gilska disana.


"kenapa gak ketuk pintu?" ucap Reza sedikit meradang.


"maaf pak, boleh saya bicara?" gilska melancarkan aksinya berusaha bersikap manis untuk mengalihkan perhatian Reza dari Rena.


"silakan mau bicara apa, mau mencaci atau memandangku sinis seperti tadi pagi?" kali ini Reza ganti menatap sinis gilska.


"bukan, aku mau minta maaf atas apa yang aku katakan tadi, hmm mungkin aku salah menilai, tapi ada satu hal yang ingin aku tawarkan sama bapak?" gilska masih mengulas senyum membuat Reza curiga.


"kenapa kamu senyum, minta maaf itu bukan sifat kamu?"


"awalnya mungkin aku kaget dengan apa yang aku ketahui kemarin malam, tapi aku hanya mencoba memahami, kapanpun bapak butuh bantuan pasti akan aku bantu asal bapak mau berteman denganku!" kata kata gilska membuat Reza menatapnya dari bawah ke atas berulang kali.


"ada tujuan apa kamu? mau menggodaku atau apa?" tatap Reza penuh kecurigaan.


"jika aku menggoda bapak, pasti kan aku tak akan membantu bapak, ini aku menawarkan bantuan lho sama bapak, tapi kalau ga mau ya sudah setidaknya rahasia bapak ada padaku kan!" gilska membalikan badannya akan melangkah keluar.


"tunggu gilska!!!" dengan cepat Reza menghentikan langkah gilska.


"gimana? bapak setuju?" tanya gilska masih tersenyum agar Reza tak mengetahui rencananya.


"oke, pertemanan macam apa yang kamu mau?" tanya Reza berpikir.


"saat aku butuh teman, bapak harus ada buat aku!! bapak tau sendiri kan aku baru saja pindah dari Jakarta bahkan dari luar negri dan aku tak memiliki teman, setidaknya teman mengobrol atau kalau bapak ada perselisihan dengan Rena aku bisa bantu!" meskipun Reza malas dengan tawaran gilska tapi tak punya pilihan lain selain menerimanya.


"dari kemarin sikapmu sebenarnya tidak sopan, tapi baiklah!" Reza menjabat tangan gilska.


Jika saja bukan keponakan pemilik perusahaan pastilah Reza juga tak mau meminta pertongan gilska kemarin malam ucapnya dalam hati Reza.

__ADS_1


"oke pak Reza, nanti malam aku ingin jalan2 keliling kota dan aku harap kamu bisa temani aku ya, jemput aku dirumah pak sandi jam 7 malam, sepakat!!" gilska mengerlingkan matanya membuat Reza enggan memberikam jawaban.


"tolonglah pak itung2 pengganti malam kemarin?" gilska kembali menunggu jawaban pria didepannya.


"oke!!"


"tidak ada pembatalan janji atau...?"


"atau apa?" Reza sedikit membentak.


"aku tau dimana perusahaan pak Anton?" gilska tertawa mengancam.


"awas kamu ya? aku sudah bilang ok!! jangan coba-coba mengancam ku ya?" gertak Reza.


Gilska keluar ruangan masih dengan senyuman yang membuat Reza marah, menyesal mungkin menyuruh gilska membantunya kemarin malam, tapi apa boleh buat semua sudah terjadi.


Sementara Eldira masih disibukan dengan persiapannya meskipun berada dikantornya, ketukan pintu membuatnya melongok.


"iya masuk!!" jawabnya terdengar menggema.


"hallo Ra selamat pagi" lelaki yang terlihat segar membuat Eldira gugup.


"Delon .. ada perlu apa kamu?" Eldira mempersilahkan Delon masuk.


"urusan rumah Ra, aku pikir ga ada salahnya aku masuk, kamu lagi sibuk ya?" Delon melihat Eldira yang sedang membolak balik kertas dimejanya.


"sebenarnya bukan kesibukan kantor, tapi aku bawa ke kantor, kamu sendiri apa kabar, terimakasih ya tumpangannya waktu itu, dan maaf kemarin aku tidak menghampirimu?" Eldira merasa tak enak tak menyapa Delon saat dicafe kemarin.


"ada calon suami kamu kan! aku paham kok ga usah disapa gak papa, belum dijawab sibuk apa Ra?"

__ADS_1


"persiapan lamaran Minggu depan, kalau kamu mau kamu bisa datang salam buat keluarga ya Delon!" eldira membuat Delon terdiam sesaat.


"jadi Ra? beneran kamu akan menikah? maaf ya Ra, kalau aku masih menyimpan rasa sama kamu?" raut wajah Delon yang tadinya terlibat segar sekarang berganti pucat, rasanya Eldira tak tega menatapnya.


"maaf ya Delon, tapi bukannya kamu juga akan menikah?" Eldira berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"tidak, tidak semudah itu untuku Ra, jika saja apa yang kamu siapkan untuk pernikahan kita, aku pasti akan sangat bahagia Ra? kamu tau kan bagaimana aku mencintai kamu, selalu ada buat kamu, mengusahakan apapun yang kamu mau? tapi takdir tak berpihak padaku? entah apa yang salah dalam diriku yang membuatmu pergi meninggalkan aku Ra?" Delon menunduk lesu.


"Delon aku minta maaf, bukankah kita sudah sepakat untuk berteman?" Eldira mendekati sofa dan duduk tepat disamping Delon karena merasa tak enak hati.


"kamu lupa kita putus itu hanya keputusan kamu Ra, bukan keputusanku, kamu tau aku bahagia saat melihat SK kepindahannku ke kota ini, aku berusaha memberi tahu kamu, dan saat aku naik jabatan aku berusaha mengumpulkan tabungan untuk kita, untuk pernikahan kita kebahagiaan kamu!! tapi semua sia-sia, aku awalnya hanya menganggap kamu hanya marah sesaat tapi ternyata kamu benar-benar pergi!! aku sangat terluka andai kamu tau?? aku gak mau egois Eldira kebahagiaan kamu adalah kebahagiaanku, oleh karena itu aku melepaskan kamu! aku minta maaf jika apa yang barusan kamu katakan masih terlalu sakit buat aku, Eldira aku udah gak bisa bohong lagi, ga ada wanita manapun yang saat ini dekat sama aku, aku belum bisa membuka hati Dira, masih ada kamu disini dihatiku entah sampai kapan? jangan kawatir aku gak akan menganggu hubungan kamu, tapi tolong jangan putuskan pertemanan kita, karena itu yang aku punya sekarang!" wajah Delon memerah dan meneteskan air mata.


Hati Eldira merasa teriris bagaimanapun Delon pernah mengisi harinya begitu lama, dan keadaan saat ini bahkan tak pernah dibayangkan Eldira sebelumnya, bulir bening kini membasahi pipi Eldira, tangisnya tak tertahan ingin rasanya memeluk delon untuk terakhir kalinya, tapi itu tak mungkin. Eldira ingin menjaga kepercayaan Rasya, ada sesak yang merasuki batin Eldira, Eldira merasakan bagaimana besarnya cinta Delon untunya, perjuangan Delon untuknya.


"terimakasih Delon, aku minta maaf jika apa yang aku lakukan melukaimu, aku tak bermaksud, kamu gak perlu kawatir, aku akan selalu menjadi teman kamu!" Eldira mengelus lembut lengan Delon.


"ini bukan rayuan Ra, aku hanya ingin mencurahkan apa yang aku rasakan, aku tau semua salahku, aku tak memberikan jawaban saat kamu ingin menikah aku benar benar menyesal Ra, penyesalan terbesar dalam hidupku dan waktu tidak akan bisa diputar kembali, waktu tidak memberikan kesempatan untuk aku mengubahnya!! aku begitu bodoh menyia-nyiakan kesempatan yang kamu berikan!! bagaimana caranya aku melupakan kamu! bagaimana aku menatap masa depanku tanpa kamu! bagaimana aku menjalani hari-hariku tanpa kamu! apa yang aku miliki sekarang bahkan tak mampu menyembuhkan sakit ini!! saat tidak satu kota kamu justru menemani aku tapi sekarang kita satu kota kamu bahkan bukan milikku lagi, Eldira, aku kira jarang bertemu denganmu semua kenangan kita akan berlalu tapi aku salah?!! sudahlah Ra apapun yang aku katakan tak penting juga buat kamu!"


Ditariknya tangan Eldira, diciumnya sambil menangis Eldira hanya mampu terdiam, membiarkan Delon melakukan apa yang dia mau setidaknya untuk perpisahannya, toh Delon masih dalam batasan wajar. hampir 5 menit Delon meratapi nasibnya,.terus mengenggam erat tangan Eldira, seakan enggan untuk melepaskannya, dikumpulkannya kekuatan untuk bangkit dan melepaskan tangan yang tak mungkin lagi ia genggam dikemudian hari.


"oke Ra, aku harus pergi maaf ya? semoga acaranya lancar, jangan hiraukan apa yang aku katakan bye!" Delon tak mampu menatap Eldira dan pergi tanpa melihat mantan kekasihnya itu.


Eldira hanya mampu mengusap air matanya yang enggan berhenti, tanpa menjawab perkataan Delon.


Ternyata sesakit ini melukai seseorang yang tulus mencintai kita batin Eldira. bahkan Eldira tak menyangka Delon bisa sehancur itu, tangisnya mengartikan segala yang dia rasakan untuk Eldira, Apapun itu Eldira dan Delon harus melanjutkan hidup masing2 Eldira hanya bisa berdoa semoga Delon bisa menemukan kebahagiaannya kelak.


Delon berjalan keluar ruangan Eldira seakan energinya terkuras. Mendengar rencana pernikahan Eldira yang semakin dekat ternyata sangat melukai hatinya. Andai saja saat itu Delon mengiyakan ajakan Eldira untuk menikah pasti keadaan seperti ini tak dilaluinya, Delon menyalahkan dirinya atas nasib yang menimpanya kini.


Penyesalan yang Delon bawa bersama langkahnya keluar dari kantor Eldira, entah usaha apa yang akan dilakukan Delon untuk menghapus Eldira dan segala kenangannya dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2