
Tepat didepan ruangan rasya, seakan nyali dira menciut. Masih bimbang dengan pikiran kacaunya. Setelah menarik nafas dalam2 dira mendorong pintu ruangan.
"krekk..." anggap saja seperti itu bunyinya.
Rasya yang membereskas berkas dimeja terkejut dengan kedatangan eldira. Senyumnya mengembang, Hatinya lega istrinya akhirnya kembali padanya.
"assalamualaikum" ucap eldira.
"waalaikum salam ra" mata rasya berkaca2 langsung berdiri dan berusaha mendekati eldira.
"masuklah" ucapan eldira membuat rasya menghentikan langkahnya.
eldira menyuruh seseorang masuk keruangan rasya dengan santainya.
Rasya tak menyangka eldira membawa delon bersamanya. Satu minggu eldira pergi meninggalkannya dan saat ini ada delon disampingnya, rasya mundur kembali ke kursi duduk, kembali dijatuhkannya tubuhnya.
"maaf ra aku kira, semua bisa kita selesaikan baik2" rasya berusaha mengatur nafasnya.
Ada emosi dalam hatinya, ketidakrelaan melihat dira bersama mantannya, tapi rasya ingin menahan emosi itu, rasya tak ingin dira semakin berpandangan buruk tentangnya.
"iya memang, aku akan menyelesaikan semuanya, aku akan mengajukan gugatan perpisahan" rasya kaget tak menyangka ucapan itu keluar dari mulut dira, istri yang sebelumnya penurut dan sangat mencintainya, bisa mengambil keputusan sepahit ini.
Tapi apa yang harus rasya lakukan, memohon agar eldira memaafkannya. Rasanya sudah tak mungkin. Rasya sangat ingin menekan egonya. Selama ini rasya sudah mengecewakan dira. Mungkin memang sudah saatnya dira mendapatkan kebahagiaannya.
"baik ra, apapun yang kamu mau, maaf untuk semua kesalahanku" jawab rasya tak bertenaga.
Mendengar jawaban rasya entah kenapa eldira merasa marah. Kenapa dengan mudahnya mengiyakan perpisahan. Bukankah seminggu yang lalu suaminya memohon2 agar mereka tetap bersama. Lalu kenapa sekarang pikiran rasya berubah, apa karena ada delon.
"aku akan tinggal dirumah, aku tak ingin mama tau masalah kita" eldira kembali berbicara pada rasya.
"iya ra, nanti aku yang akan tidur dikamar tamu, agar kamu lebih nyaman" jawab rasya.
Lagi2 rasya membuat keputusan sendiri, kenapa tidak bertanya darimana dira dan selama seminggu dimana.
"ok aku pulang, ayo delon antar aku" eldira meninggalkan rasya, selepas mengutarakan niatnya.
Pintu ruangan rasya kembali tertutup karena eldira sudah pergi.
Rasya menggenggam bingkai photo pernikahan mereka. Tangisnya tak bisa dibendung, rumah tanganya telah hancur bahkan sebelum anaknya lahir.
"kenapa ra? Aku sudah sangat menyayangimu, kita bisa bahagia ra, jika saja masih ada kesempatan, tak akan kubuat kau menangis lagi, Tapi jika bersama oranglain kau lebih bahagia, akan aku relakan. Aku sudah tak ingin membuatmu semakin terluka". Sesal rasya.
***
__ADS_1
Sementara didalam mobil eldira berpikir dengan keras.
"ra? Serius kamu mau berpisah?" tanya delon.
"kamu dengar, bang rasya tak ingin mempertahankan rumah tangga" ada bulir2 menetes dari mata eldira.
"bicarakan baik2 ra" meskipun masih cinta, delon tak ingin menjadi orang ketiga.
"aku sudah mengajaknya berpisah, dan dia dengan suka rela mau pindah ke kamar tamu, mungkin dia memang menantikan perpisahan ini, atau mungkin cintanya masih untuk gilska, aku sangat bodoh!"
"seharusnya tadi kamu temui rasya tanpa aku" ucap delon.
"oh jika aku yang bersama pria lain, dia marah, dia tak terima begitu, oh picik sekali suamiku ya?" eldira semakin terisak, dadanya sesak.
Namanya wanita dia yang meminta dia pula yang menangis itulah eldira, eldira ingin rasya kembali meminta maaf tapi hatinya juga masih perih mengingat pernyataan rasya.
"aku antar kamu pulang, jangan emosi ra! Pikirkan anakmu, dia butuh figur seorang ayah"
"sudahlah delon, hidupku sudah berantakan, ntah berapa lama aku sanggup serumah dengan kondisi seperti ini"
"harus kuat ra, coba sederhanakan lagi, jika rasya masih mencintai kamu dan kamu juga sama, bicarakan baik2, gilska tak mungkin akan kembali pada rasya" ucapan delon ada benarnya.
Gilska sudah bahagia dengan reza, apa mungkin masih memendam rasa pada rasya.
"delon, sebaiknya aku pulang sendiri kerumah"
"akan aku antar kamu ra, kamu sedang tak baik2 saja"
"ada yang harus aku urus, terimakasih sudah mengantarku ke kantor bang rasya" eldira pergi tak pedulikan ucapan delon.
Dira melambaikan tangannya pada satu taksi didepanya. Dan segera masuk kedalam saat taksi terhenti.
"antar aku ke alamat ini pak!" ucap dira menunjukan alamat rumahnya.
"baik" jawab supir.
Eldira kembali menangis saat mobil berjalan. Masih tak menyangka setelah seminggu menenangkan diri dan setelah yakin dengan perpisahan. Rasya justru tak menentang keputusannya. Harusnya eldira jadi lebih mudah berpisah tapi entah kenapa justru hatinya lebih sakit.
"kenapa sampai saat ini kau tidak bisa mempertahankan aku sebagai istrimu bang, kenapa kau tak berjuang seperti dulu kau berjuang untuk gilska, bahkan bercinta dibelakangku dengannya" batin dira perih.
***
Sementara rasya seakan tak bertenaga mengingat ucapan eldira, rasya berniat pulang kerumah. Dan melihat situasi siapa tau eldira mau berubah pikiran, dan memaafkannya, demi pernikahannya rasya berniat jujur agar agata tak mengancamnya. Tapi kenapa justru kejujurannya menghancurkan hidupnya.
__ADS_1
"rasya, ada informan yang memberitahuku bahwa kau sedang bertengkar dengan dira?" tanya agata muncul secara tiba2.
"bisakah ketuk pintu sebelum masuk ruangan seseorang"
"seseorang yang nantinya akan jadi suamiku"
Rasya tak mempedulikan ucapan agata, rasya mengambil kopernya dan berjalan keluar ruangan meninggalkan agata.
"sial!!! kau hiraukan aku rasya?" agata kembali kesal.
***
Sesampainya dirumah eldira disambut wati.
"bu, kemana saja? Bapak sangat sedih selama ibu tak dirumah" ucapan wati membuat dira bertanya2.
"wati bantu aku masukan koper ya, ada beberapa baju baru untukmu" ucap eldira seolah telah berlibur.
"ah terimakasih bu, tapi tak lupa belikan bapak oleh2 juga kan?"
"tentu saja wati" ucap dira.
Wati mengambil dua kopee baju eldira dan langsung membawanya naik ke kamar eldira.
Sampai dikamar wati masih beberes memasukan pakaian2 eldira ke dalam almari.
"memangnya bapak sedih ya aku ga dirumah?" tanya eldira ke wati.
"iya bu, malah jarang makan, setiap wati tawarin makan, jawabnya doakan ibu segera pulang ya wati, memangnya ibu ga pamit?" wati melipat beberapa pakaian.
"apa mamaku kerumah wati?"
"tidak bu, tidak ada siapapun yang kemari mencari ibu ataupun bapak"
"apa selama aku pergi bapak pulangnya malam?"
"baru saja dua hari ini bapak kembali kerja, sebelumnya dirumah terus, mengurung diri seolah ada masalah berat, bu ini bajunya sudah dirapikan, saya permisi!"
"iya wati, terimakasih" jawab eldira.
Mendengar jawaban wati entah kenapa hati eldira sedikit lega. Rasya tak memanfaatkan momen kepergiannya, lalu kenapa tadi rasya mengiyakan keputusan perpisahan.
"haruskah aku tanya apa alasanmu mengiyakan perpisahan kita bang?" batin eldira.
__ADS_1
Eldira masuk kekamar mandi dan menyegarkan diri, entah apalagi yang akan dibicarakan nanti saat rasya pulang kerumah.